
Jammer telah siap untuk menjemput Dinda, ia melajukan mobil pelan-pelan keluar dari gang rumah yang masih lengang, hanya ada beberapa orang kompleks yang sebagian adalah anak buahnya. Setiap kali ada yang melihat Jammer lewat selalu saja menganggukkan kepalanya untuk menyapa, dan dibalas oleh Jammer.
"Suasana ini, begitu dingin dan sesak. Sepertiku." gumam Jammer.
Ttrriiinng. Ponsel Jammer berdering.
"Halo, sayang ada apa?" tanya Jammer pada Dinda.
"Kamu sudah di jalan?" balas Dinda di sebrang.
"Aku baru keluar gang rumah." jawaban Jammer.
"Boleh kita tetap seperti ini sampai kamu sampai?" tanya Dinda.
"Maksud kamu seperti ini, apa?" tanya Jammer bingung.
"Tetap terhubung antara kamu dan aku." ujar Dinda.
"Terserah kamu, aku pakai headset dulu." balas Jammer.
"*Aku juga loud speaker ya sayang." Dinda.
"Eh ini Din, baju buat kamu yang mana?" tanya Dhean terdengar karena sudah di loud speaker*.
"Yang penting nyaman kak." sahut Jammer.
"*Hahahaha. Iya adek angkatku. Pacarmu heboh di sini, minta aku pula memilihkan baju." sahut Dhean.
"Jangan dikasih tau." kesal Dinda bersuara seakan merasa malu*.
"Hahaha, sudah-sudah yang penting jangan menyusahkan kamu sayang." ucap Jammer.
"Aduh manis sekali kata-kata ini anak." sahut Dhean.
"Oh iya, terima kasih telah menemani aku selama ini ya. Maaf karena aku masih banyak kesalahan." ucap Jammer spontan.
"Iya aku senang karena bisa berada di sampingmu selama ini, dan maaf aku sering memaksakan hal-hal yang seharusnya menjadi hak kamu untuk melakukannya." ujar Dinda.
"Hai, jangan membuat kalian berdua sedih." sahut Dhean.
"Bukan begitu kak, memang aku masih belum bisa lepas darinya. Jadi aku sangat merasa bersalah, di album ini juga dari seluruh perasaanku yang terpendam kerena si dia." sahut Jammer menjabarkan.
"Sudah sampai mana?" tanya Dinda untuk mengganti topik.
"Sebentar lagi sampai pertigaan beringin." jawab Jammer.
"Tolong, sekaligus beli bunga dan snake ya." pinta Dinda.
"Siap, nanti aku beli kesukaanmu." ucap Jammer.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di kamar Sam dan Amel sedang bersiap, mereka akan membuat kejutan untuk Jammer, bersama dengan Dhean dan keluarga kandung Jammer.
"Papa, baju mama bagusan mana?" tanya Amel menunjuk baju-baju yang ia jajarkan di ranjang.
"Kalo mau elegan yang merah marun itu atau purple. Tapi karena ada ibunya Jammer, lebih baik yang netral mam." jawab Sam.
"Yang mana menurut papa?" tanya Amel lagi.
"Tunggu. Sebentar ya papa pilihkan untuk mama." jawab Sam mencari aman.
"Kalau ini papa suka?" tanya Amel mengangkat setelan baju bunga-bunga dengan hiasan rumbai benang emas di dada.
"Nanti Bu Tri mau di beri baju apa kalau mama pakai ini?" balik tanya Sam.
"Apa ya, kalau di bawakan dari rumah sepertinya kurang baik. Kalau kita ajak ke mall untuk beli sendiri bagaimana?" kembali lagi tanya Amel menimbang.
"Mama pakai putih itu saja, mungkin agak ribet, tapi nanti tidak jauh dengan Bu Tri, kalau tidak salah memperhatikan pasti yang dipilih Bu Tri nanti pakaian semi formal." ujar Sam menjelaskan.
"Iya bos, ide bagus." ucap Amel setuju.
Setelah timbang-menimbang, saling melempar tanya, dan menyita waktu 2 jam lamanya, Sam dan Amel pun berganti kimono mandi mereka dengan baju semi yang mereka pilih.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jammer baru saja sampai di rumah, ia membuka pintu rumah dan di sambut Dhean dan Dinda.
"Sayang." sapa Dinda menghamburkan tubuhnya untuk memeluk Jammer.
"Pagi sayang, pagi juga kak Dhean." sapa Jammer.
"Aku ikutan dong." pinta Dhean.
"Sini." ajak Jammer.
__ADS_1
"Ih ikut-ikutan saja." keluh Dinda.
"Ah sebentar aja loh." ucap Dhean melepas pelukannya.
"Ayo sarapan. Belum makan kan kamu?" ajak Dhean.
"Iya nih belum makan." jawab Jammer.
Mereka bertiga kemudian berjalan menuju ruang makan yang sudah di penuhi oleh hidangan di atas meja. Tanpa menunggu lama mereka bertiga langsung saja melahap makanan itu karena sudah di pesani oleh Sam melalui kepala pembantu untuk tidak menunggu Sam dan Amel ketika sarapan.
...****************...
Setelah perjalanan Jammer dan Dinda sudah sampai di studio rekaman, di susul oleh Gerry, Dhean, Gusman, Byan, Rendy, dan empat anak buah Rendy. Para anak buah itu di tugaskan untuk berjaga di sekeliling studio, sedang Rendy dan Gerry berjaga di dalam sekaligus memenuhi kebutuhan Jammer dan Twin D, kemudian Gusman dan Byan untuk mengkoordinasikan anggota bila diperlukan. Beberapa jam berlalu, tengah hari tepatnya, sebuah mobil sport berhenti di depan keempat anggota BC, seorang wanita keluar dari arah kiri mobil kemudian menembak seorang dari mereka, spontan tiga orang lainnya menembaki wanita dan mobil itu sambil menggeret anggota yang terluka untuk mencari tempat berlindung. Tak lama setelah baku tembak terjadi Gusman keluar dan menembak mati sopir mobil itu, dan melumpuhkan wanita cantik itu dengan menembak kedua kakinya ketika akan melarikan diri.
"Geret pergi mobil itu jauh-jauh mana tau ada bom di dalam mobil itu!" perintah Byan dari balik pintu masuk.
"Saya saja bos Gusman." teriak seorang dari ketiga yang masih selamat.
Dan benar ketika mobil dibawa menjauh, anggota BC melihat puluh selongsong bom menempel di seluruh bagian interior mobil dan sebuah timer digital menunjukkan waktu 42 detik. Untunglah ada danau dan dermaga di depan studio, anggota itu mengendarai mobil ke arah danau dan melompat di ujung dermaga.
Dddhhhwwwweemmm. Ledakan bom dan mobil sport itu di atas perairan danau.
Ledakan itu menyebabkan bagian ujung dermaga terangkat dan rusak, melemparkan anggota BC hingga beberapa meter. Meski sakit dan terluka, anggota itu berusaha bangkit dan tertatih kembali ke studio musik untuk melaporkan bahwa mobil sport itu telah meledak dengan aman.
...****************...
Getaran ledak bom sampai meretakkan kaca depan studio musik, tapi Gusman dan Byan tidak menghiraukan itu, mereka malah mengecek pelaku penyerangan sebelum datangnya polisi.
"Byan itu yang cewek bawa ke markas, ini buang ke depan markas mereka saja." seru Gusman.
"Ini logo Boeggem, mereka amatir atau salah perhitungan ya, kok ledakannya tidak tepat di waktu yang krusial." Seru Byan.
"Mereka kroco yang tidak punya cukup kemampuan untuk menyerang kita." jawab Gusman.
"Aku panggil anggota dulu." ucap Byan.
Anggota yang baru saja membuang mobil tadi datang, segera anggota lain yang masih ada membawa kedua orang rekan yang terluka itu kerumah sakit. Kemudian tak lama sirine polisi sudah terdengar berhenti di pinggir danau melihat kobaran api sisa bahan bakar di air danau, sedang dibelakangnya empat buah mobil dengan satu buah mobil di paling depan berlogo Bayusuta Crew, tiga mobil lain menghalangi gerak polisi dengan berbagai pengalihan, dan yang berlogo BC masuk mengambil musuh yang telah terkapar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Waktu terus berlalu, sore telah menjelang dengan langit sudah mulai menguning, Sam dan Amel berserta keluarga Samad sedang dalam mobil Limousine yang Sam punya untuk menuju tempat diadakannya syukur dan kejutan untuk Jammer. Mereka berbincang dengan hangat seolah sudah menjadi satu keluarga besar, Dinar juga seakan sudah menjadi anak Amel karena terus-menerus menempel di samping Amel.
"Omong-omong pak Samad, saya sudah tidak sabar kita semua akan menjadi keluarga besar, kapan kita bisa bicara lebih serius dengan anak-anak kita?" tanya Amel membuat canda tawa semuanya terhenti.
"Saya dengan ibunya belum bisa memastikan, karena anak saya yang masih sekolah juga akan memerlukan waktu untuk menyelesaikan pendidikannya." jawab Samad dengan serius.
"Kami akan mengusahakan Insya Allah untuk selalu ikut berkumpul." sahut Samad.
Tak disadari mobil telah sampai di depan lobby sebuah hotel, pelayan hotel membukakan pintu mobil dadi ke dua sisi mobil, semua orang didalam mobil keluar menyisakan supir dan berjalan memasuki lobby hotel.
"Selamat sore tuan Samuel, nyonya Amelia." sapa seseorang paruh baya bersetelan jas hitam.
"Sore Yaqub, sudah selesai persiapan yang kami minta?" balas Amel.
"Sudah siap nyonya." jawab Yaqub.
"Perkenalkan ini orang tua Jammer, dan ini adiknya Dinar." ucap Sam dengan menunjukkan Keluarga Samad.
"Selamat sore keluarga tuan muda." sapa Yaqub.
"Tolong antar mereka dulu ke meja!" suruh Amel.
Keluarga Samad pun diantar menuju ballroom hotel dimana juga sudah ada beberapa orang dengan selempang relawan di tubuh mereka dan orang-orang yang ikut serta bersama relawan itu. Beberapa saat duduk di meja terdepan dengan sebuah penanda bertuliskan ”Tamu Keluarga." ditengah meja, mereka bertiga menengok ke kanan-kiri kagum oleh kemewahan hotel ini.
"Selamat sore nyonya, tuan, nona." sapa pelayanan.
"Selamat sore juga." Jawab Samad.
"Ini adalah minuman terbaik kami, Green Chivasca, 35% alkohol dengan dicampur daun mint, daun sirsak, dan daun semak di wilayah Dieng yang bermanfaat untuk meningkatkan metabolisme, seksual, antibodi, dan kekebalan tubuh." penjelasan Yaqub.
"Maaf kami tidak minum alkohol." tolak Bu Tri.
"Maaf saya sungguh minta maaf, nanti kami berikan minuman lain untuk pengganti." ucap Yaqub.
"Air putih atau teh saja yang halal." sahut Dinar.
Tak lama Sam dan Amel datang diikuti anak-anak berpakaian muslim yang bertuliskan Panti Asuhan Kasih Bunda, Sam dan Amel duduk di depan keluarga Samad, di belakang mereka berjajar anak-anak panti duduk dengan rapi, sementara di sisi kiri dan kanan duduk para relawan dari lembaga sosial bentukan Samuel dan Amel, para keluarga dan pendamping relawan, serta CEO-CEO perusahaan PT Sri Manunggal Sejahtera yang baru berdatangan.
"Banyak sekali ya Bu." ucap Dinar.
"Iya banyak sekali nak tamu undangan pak Samuel." jawab Bu Tri.
"Sudah pesan minum?" tanya Amel.
"Tadi ada minuman tapi ada alkoholnya, jadinya minta untuk diganti." Sahut Dinar.
__ADS_1
"Waduh, memang pesan menu apa?" tanya Amel.
"Kami belum ada yang pesan." sahut pak Samad.
"Wah dasar Yaqub, maaf ya itu pesanan saya untuk para CEO." sahut Sam.
"Sudah-sudah, itu kesalahan kecil. Sekarang kita telepon Dhean saja, supaya tahu Jammer sudah selesai belum." sela Amel mengalihkan.
"Biar Dinar saja tante yang telepon." usul Dinar.
"Tunggu sebentar Dinar." halang Amel.
"Ada apa tante?" tanya Dinar bingung.
"Sebentar Dinar." jawab Amel.
"Papa, itu di samping relawan kok ada Fiux." ucap Amel menunjuk seorang laki-laki muda, mahasiswa yang baru saja bergabung menjadi relawan.
"Mana mam?" Tanya Sam.
"Itu di meja dekat anak panti." tunjuk Amel lagi.
"Dinar biar Om Sam ya yang telepon kak Dhean." ucap Sam setelah sadar keberadaan Fiux.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jammer baru keluar dari ruang rekaman setelah sejak pagi ia mulai rekaman, hingga akhirnya di jam 17.10 WIB ini ia menyelesaikan pekerjaannya. Dengan di sambut Dinda dan Dhean serta sebuah air mineral yang di beri Dinda, senyum di wajahnya tidak ada beban yang menahan.
"Sini duduk dulu." ajak Dinda menggandeng Jammer.
"Iya nih, akhirnya selesai setelah banyak banget ulang-ulang rekaman dari pagi." ucap Jammer.
"Kita nanti makan malem di hotel yuk?" ajak Dhean.
"Hotel papa?" tanya Dinda.
"Iya hotel papa, kita kan lama gak ke sana." jawab Dhean.
"Boleh, sekalian nanti ajak papa." ucap Jammer.
"Aku sudah bilang ke papa. Mungkin ini sedang siap-siap untuk ke hotel." ujar Dhean.
"Ya sudah ayo berangkat kasihan kalau papa dan mama nunggu lama."
Mereka pun pergi dengan pengawalan tiga mobil anggota BC, dan dua mobil bantuan dari Blade Knife. Di sekitar studio dan danau masih banyak kepolisian yang mengidentifikasi TKP di dermaga danau, Jammer sedikit dibuat bingung karena tidak ada penjelasan dari seorangpun saat ia di dalam studio.
...****************...
Waktu pun berlalu, Rombongan Jammer sudah di sambut oleh para pelayan hotel, di antara juga CEO hotel yaitu Yaqub.
"Selamat malam tuan muda, nona Dinda dan nona Dhean." sapa Yaqub.
"Malam pak Yaqub." jawab sapa Dinda dan Dhean.
"Sudah ditunggu tuan besar dan nyonya di dalam, mari saya antar." ucap Yaqub, kemudian terlebih dahulu berjalan di depan menuju ballroom.
"Silahkan tuan muda." ucap Yaqub ketika sampai depan ballroom.
Begitu pintu di buka oleh Jammer, riuh tepuk tangan dari orang-orang di dalam ruangan, terdengar pula seorang menyambut kedatangan Jammer dan Twins D dari atas panggung. Sekejap raut dingin Jammer berubah melihat puluhan orang di dalam menyambutnya, ia kemudian di gandeng Dinda dan Dhean untuk menuju panggung.
"Wah kalian ngerjain aku ya hahaha?" canda Jammer.
"Kalau kamu tahu dari awal namanya bukan surprise dong dek. Hehehaha." jawab Dhean.
"Kalau aku sayang, baru tahu tadi jam limaan pas Dhean ditelepon papa." ujar Dinda.
Ketiganya tertawa lepas sambil terus berjalan ke arah panggung. Begitu di atas panggung Jammer langsung mengutarakan sambutan hangat kepada semua hadirin. Hingga ia melihat seorang yang menjadi objek utama dalam album rekaman hari ini, sejenak ia menghentikan sambutannya, dan ketika tersadar ia mengakhiri sambutan itu kemudian duduk membelakangi Fiux, menghadap arah kiri panggung.
.
.
.
.
Readers, if you are interested to see hard feeling in the value of this story. Please coba untuk mendalami, karena author sendiri juga butuh pawang emosional buat nulis satu episode ini. Jadi gak mau author hard feel sendiri hahaha.
.
.
.
.
__ADS_1