Menikahi Kakak Angkat

Menikahi Kakak Angkat
Kejutan.


__ADS_3

Setelah 2 hari koma kini, Supra terbangun dari komanya. Dokter yang melihat itu kemudian memastikan stabilitas kesehatan Supra. Luka yang seperti bara api telah berubah menjadi bekas melepuh yang menghitam, semua dokter di rumah sakit itu menyempatkan diri sekedar melihat luka yang tak biasa itu, dan suster terkadang termenung heran ketika mengganti botol infus yang hanya bisa di tancapkan ke bekas luka Supra, kebetulan ada pasien yang merupakan kolektor barang keramat mendengar kejanggalan yang dialami Supra. Ia kemudian mencoba berhubungan dengan Supra lewat perantara suster.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Galenka baru saja datang ke kantor, sebenarnya ia tidak bersemangat bekerja hari ini dijadwalkan Jammer akan melakukan kunjungan siang nanti, dan semua pekerjaannya sudah selesai dari kemarin, kedua hal itu yang membuatnya tak bersemangat kerja.


"Huufftt, harusnya aku ijin sakit saja." keluh Lenka di kursinya.


"Kamu kenapa Lenka." tanya Luna, teman satu divisinya.


"Aku bingung hari ini kenapa harus datang. Dan harus melakukan apa hari ini." jawab Galenka murung.


"Apa karena kabar di luar divisi kita?" tanya Luna memastikan.


"Kabar apa?" tanya Galenka bingung.


"Kabarnya kau kerumah pak Jammer karena suka dengannya." bisik Luna.


"Oh itu, ya itu hak ku kan?" jawab Galenka.


"Apa pak Jammer itu tua?" tanya Luna penuh rasa penasaran.


"Apa kamu belum pernah lelaki yang seperti idealnya? Kamu tau dia begitu pas." jawab Galenka sedikit tersenyum membayangkan.


"Apa benar, di kantor ini tidak ada yang pernah bertemu dengan pak Jammer jika tidak dia sendiri yang mengundang." Luna meragukan.


"Dari tadi kamu bilang pak, pak, pak. Dia masih SMK." kata Galenka lantang.


"Oh apa kamu yakin, anak SMK bisa memimpin perusahaan yang lebih besar dari perusahaan ini?" ucap Luna terkejut.


"Ya dia bilang begitu. Dan pernah lihat juga." jawab Galenka.


"Memang kamu sebegitunya dekat dengannya." ucap Luna meragukan.


"Ya tidaklah, hanya sering bertemu. Terutama pernah ditolong dan pernah sekali jalan. Segitu saja." balas Galenka.


Luna tak menjawab ia berbalik ke arah komputer dimana pekerjaannya masih menunggu diselesaikan.


"Galenka." panggil Byan.


"Iya." jawab Galenka.


"Byan, kamu disini?" tanya Galenka ketika berbalik.


"Kamu tidak ada pekerjaan?" ucap Byan datar.


"Tidak, tugasku sudah selesai dari kemarin, belum ada tugas baru." jawab Galenka.


"Kamu bisa ikut aku?" ucap Byan.


"Iya mungkin bisa jika sebentar saja."


Byan dengan memasukan kedua tangannya ke saku jaket berjalan didepan, mengajak Galenka ke tangga darurat yang berada di luar ruangan.


"Galenka, apa kamu menyukai tuan muda?" tanya langsung Byan tanpa basa-basi.


" Iya karena itu hak ku. Sedang mendapatkan dia itu sebuah ketetapan Tuhan jika tidak aku dapatkan itu bukan suatu masalah untukku." jawab Galenka.


"Tapi apa kamu disuruh untuk mengawasi ku?" tanya Galenka sebelum Byan mengajukan pertanyaan.


"Bukan, aku kesini atas mau ku sendiri bukan pekerjaan. Lagi pula aku sedang libur kerja setelah dari Amerika, aku dapat liburan seminggu." jawab Byan datar.


"Lalu kenapa kamu kesini?" Galenka.


"Aku merasa sudah waktuku untuk berhenti dengan Silvi, kakakku sudah akan menikah sedang diriku masih seperti ini." Byan memandang awan nanar.


"Memang sekarang apa yang kau ingin aku lakukan?” tanya Galenka.


"Aku ingin belajar mencintai seorang pria, maka jadilah temanku yang mengenalkan cara untuk menjadi normal." pinta Byan masih dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kita kan memang sudah berteman." balas Galenka.


"Baiklah, kita mulai belajar dari nanti malam, beri alamat rumahmu, dan beritahu aku bagaimana caranya di rumahmu."


"Tapi..." ucap Galenka di potong dengan sebuah jari Byan menutupi bibir Galenka.


"Aku tidak ingin ditolak!" larang Byan.


Setelah itu Byan mencatat alamat rumah Galenka di ponselnya, kemudian berlalu ke ruang kerja kakaknya. Galenka yang masih ada di luar berganti melihat awan dengan mata yang nanar memikirkan bayang-bayang angan di kepalanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di rumah Samuel, dari Jammer muncul sebuah suara yang misterius.


Thaktaktktktk. Suara itu terdengar jelas setiap orang yang melewati kamar Jammer.


Samuel yang beru saja diberitahu merasa kurang percaya akan adanya suara misterius itu, ia mengira itu adalah suara tikus atau hewan yang menabrak-nabrak kaca.


"Tuan tapi kami rasa bukan tikus karena rumah ini selalu di sterilisasi dari hewan pengerat, dan kalau burung atau hewan menggunak kaca harusnya hanya sekali atau dua kali. Ini suaranya berulang-ulang." kata kepala ART.


"Memang kalian tidak masuk mengeceknya?" tanya Amel.


"Kami tidak berani nyonya, sesuai permintaan tuan Jammer, jangan masuk kamarnya jika dia tidak ada." ucap kepala ART.


"Memang dia bilang begitu kapan?" tanya Sam.


"Kemarin saat pulang dari Amerika, saya diperintahkan untuk memberikan tahu kepada semua pelayan jangan masuk jika dia tidak ada. Dan sebelum tuan muda datang, tuan Gerry masuk membawa sebuah bungkusan pajang mungkin sejenis pedang atau tongkat." jawab kepala ART.


"Papa lebih baik kita tanya pada Jammer. Mungkin ada hubungannya dengan Gerry yang membawa bungkusan itu." ucap Amel sedikit cemas.

__ADS_1


"Mungkin kamu benar ma, papa juga jadi khawatir ada yang janggal dengan suara di kamar Jammer itu." ucap Samuel setuju.


"Tuan memangnya jam segini tuan Jammer bisa ditelepon?" tanya kepala ART mengingat jam sekolah.


"Dia habis tes mungkin bisa ditelepon." jawab Sam.


Tut... Tut... Tut... Nomor yang an." tidak aktif.


"Tidak aktif ma, apa mungkin dia matikan telepon jam segini masak dia mematikan teleponnya?" ucap Sam.


"Coba Gerry, mungkin saja dia ada di sekitar Jammer." saran Amel dan di setujui Sam.


"Hallo, Gerry." ucap Sam saat mendengar nafas di seberang telepon.


"Iya tuan Sam." jawab Gerry.


"Kamu kemarin bawa bungkusan ke kamar Jammer kan?" tanya Sam langsung karena tidak ingin menunggu lagi jawaban dari Jammer.


"Iya tuan, sebuah pedang yang sangat mematikan tuan. Sepertinya pedang itu sedang haus tuan." jawab Gerry dengan bumbu kata.


"Pedang?"


"Haus?"


"Apa maksudnya pedang mematikan yang sedang haus?" tanya Sam karena bingung.


"Haus darah tuan, kemarin saat bertarung di Markas Los Angeles pedang tuan Kana tidak mempan melukai Supra, sedang pedang tuan Jammer berhasil membuat Supra terkabar hanya dengan dua tebasan kilat, sungguh jika saya bisa melihat lagi kehebatan pedang itu saya sangat bersyukur tuan Sam." ucap Gerry dengan penuh kekaguman.


"Memang seperti apa pegangnya?" Sam penasaran.


"Saya dan tuan Kana tidak bisa melihat pedangnya, karena kata tuan Jammer pedang itu ada penunggunya yang haus darah, sehingga jika kami sampai melihatnya bisa-bisa kami juga dibunuh oleh pedang itu." ucap Gerry membuat Samuel menjadi lebih penasaran.


"Kalo begitu secepatnya suruh Jammer menjelaskan!" perintah Samuel kemudian mematikan teleponnya.


"Ada apa pa, kok kamu terlihat kebingungan seperti itu?" tanya Amel.


Sam menjelaskan apa yang dia dengar dari Garry.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di sekolah, jam sudah menunjukkan pukul 11.45, Jammer sudah bisa pulang. Ia segera berjalan ke outlet untuk makan sebentar kemudian pulang karena hari ini ia akan ke kantor tempat Galenka berkerja.


Setelah dua jam ia sampailah di kantor dengan setelan jas coklat muda, baju putih, fedora hat warna krem, dan kacamata hitam. Ia menggunakan itu setelah membeli di butik milik teman Amel, karena jika berganti baju dirumah Sam akan memakan waktu lebih lama.


"Selamat siang tuan muda." sapa security sedikit membungkukkan tubuhnya.


"Siang, kamu apa kabar?" balas Jammer ramah.


"Baik tuan. Dengan kebaikan tuan muda mana mungkin saya akan sedih." ucap security itu.


"Kamu bisa bantu aku, latih seorang satpam menjadi sepertimu, aku suka sikapmu?" tanya Jammer.


Karyawan yang sedang berada di lobby sedikit heran dengan kedatangan Jammer, memang mereka beberapa sesekali melihat Jammer datang tapi tidak pernah tau apa hubungannya dengan perusahaan ini. Beberapa malah ada yang saling berbisik, seolah heran dengan Jammer.


"Bagus, nanti setelah bekerja kamu pergi ke mall papa, kemudian minta data keamanan bernama Farhan, kalau ada waktu sekalian ke markas ya, berkunjung banyak teman-teman yang merindukanmu." ucap Jammer kemudian masuk menuju lift untuk naik ke ruang meeting.


...****************...


Satu jam setelah rapat, Jammer pun pulang ke rumah Sam, untuk mengecek keadaan pedang bambunya. Saat rapat Galenka memerhatikan penampilan Jammer yang hari ini dipakai, ketika sampai di tempat duduknya ia sengaja memulai pembicaraan dengan Luna.


"Luna." sapa Galenka dengan gembira.


"Apa?" jawab Luna malas.


"Tau gak tadi ada cowok keren banget, dia pakai setelan jas coklat, pakai fedora hat, pakai kacamata hitam, selama rapat hanya diam. Cool banget, tapi kamu tau gak yang lebih keren lagi?" ucap Galenka dengan semangat.


"Apa kamu ketemu cowok, enak sekali kamu baru beberapa Minggu di percaya bos untuk ikut rapat, ketemu cowok keren lagi." keluh Luna kesal.


"Itu hanya keberuntungan. Sekarang tebak dulu, dia lebih keren karena apa." balas Galenka sedikit kesal karena Luna tidak menebak.


"Ah, dia keren karena ganteng?" tebak Luna asal.


"Ppuufftt. Bukan." Galenka menahan tawa.


"Apa sih cepat beritahu saja?" Kata Luna.


"Yang lebih keren dia cuma berdehem saja saat melihat laporan, yang punya laporan langsung ketakutan, dia cuma bilang ' Ini perbaiki ' yang punya laporan sudah menangis dalam diam, dia cuma memainkan jari orang yang sedang prestasi langsung gemetar, begitu dia bilang rapat tadi buruk nona CEO langsung tertunduk takut." penjelasan Galenka.


"Huufftt, begitu ya?" potong Luna sebelum Galenka semakin panjang berbicara.


"Itu pasti si tuan Jammer." batin Luna.


"Memang dia siapa?" tanya Luna sudah menebak dalam benaknya.


"Ya namanya tuan Jammer." ucap Galenka berubah menjadi murung.


"Kamu kenapa berubah murung lagi?" tanya Luna heran sebelumnya Galenka senang berapi-api.


"Ya karena dia. Aku juga harus divisi ini jadi tidak ada perbaikan dari tuan Jammer, kerjaku hari ini sudah selesai, dan saat ini hatiku sedang galau karena dia." ucap Galenka.


"Aahhh, aku kerja dulu, kalau kau baik hati bantu aku." ucap Luna malas.


"Oke aku bantu." jawab Galenka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Rendy baru saja terbangun dari tidurnya, pesawat yang ia tumpangi sedang transit di Singapure, sebentar lagi akan terbang kembali ke Indonesia.


"*Tuan muda sedang apa ya?" batin Rendy bertanya-tanya.

__ADS_1


"Mungkin saat ini dia sedang ada di perusahaan memeriksa laporan, atau sidak ke cabang-cabang." batinnya membuat ia tersenyum membayangkan.


"Aku tidak bisa untuk sekedar libur. Kalau tidak berkerja rasanya ingin sekali dapat tugas dari tuan muda. Walaupun lelah tapi lebih menyenangkan rasanya bisa membantu tuan Jammer." batin Rendy mulai mengenang masa ia pertama kali berkerja*.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di kantor Dinda dan Dhean, pekerjaan yang menumpuk membuat mereka berdua sama-sama diam dalam pekerjaannya masing-masing, Dinda yang memegang tugas pemeriksaan manajerial dan marketing pasti lebih banyak dokumen yang harus ia selesaikan.


"Din, kamu mau kerjain di rumah gak?" tanya Dhean.


"Tunggu dikit lagi, kamu pulang duluan aja, suruh pacarku jemput, aku mau kerjain ini dulu." ucap Dinda sambil mengangkat sebagian berkas yang ada di atas mejanya.


"Hhmm. Adik kita belum tentu ada di rumah papa." ucap Dhean.


"Lah kamu kan bisa dimintai tolong nih, jadi tolonglah panggil dia ke sini, kamu pulang di sini begitu loh kak Dheandra." ucap Dinda masih tetap fokus dengan berkasnya.


"Oke kakak Dinda." jawab Dhean.


"Kamu pulang dulu, Bey." ucap Dinda melambaikan tangan.


"Apaan nih ngusir. Hahaha?" ucap Dhean sambil merapikan berkas untuk dibawa pulang.


"Gak ngusir cuma biar kamu cepat-cepat nyuruh orang yang aku maksud ke sini." jawab Dinda.


Kemudian Dhean menghubungi Jammer.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jammer yang baru saja sampai di depan rumah Samuel menerima telepon dari Dhean.


"Hallo kak Dhean." sapa Jammer.


"Hallo. Tolong kamu bawa mobil yang gede, kuat, pengawal empat orang, dan bawa diri kamu dengan pakaian yang keren ke kantor kakak. Aku mau pulang, tapi tuan putri sedang ingin itu semua." kata Dhean bercanda.


"Emang ada apa?" tanya Jammer.


"*Ppffftt, udah sini. Aku udah di parkiran." ucap Dhean.


"Ehh apanya di parkiran." teriak Dinda.


"Ya kan kamu bilang Jammer suruh cepat, gak koorperatif banget. Dibantu juga biar yang jadi keinginan kamu cepat datang..." ucap Dhean*.


Tut. Telpon ditutup oleh Jammer.


"Security!" panggil Jammer.


"Siap tuan muda." ucap security.


"Pimpinan kalian dimana?" tanya Jammer.


"Sedang istirahat tuan, hari ini dia masuk nanti malam." jawab security.


"Nama kamu siapa?" tanya Jammer.


"Saya Umar tuan. Tidak heran jika tuan lupa, terlalu banyak security di BC." jawab Umar.


"Hubungi grup security coba tanya ada yang bisa ikut aku gak!" suruh Jammer.


"Memang mau kemana tuan." tanya Umar.


"Suruh mereka kesini, nanti ikut aku ke kantor kak Dhean. Pokoknya yang siap emapt orang tercepat, aku beri bonus." ucap Jammer.


"Kalo begitu saya saja tuan, berdua dengan itu Satya." kata Umar.


"Dua orang lagi cari ya tolong!" ucap Jammer.


"Baik tuan. Saya bilang ke Satya dan pengganti kami." ucap Umar.


Kemudian Jammer mengeluarkan SUV dan sebuah sedan. Tak berapa lama Umar datang dengan tiga orang bersamanya.


"Tuan muda lapor, semua sudah siap." lapor Umar.


"Kalian pakai sedan. Ada yang bisa nyetir kan!" ucap Jammer.


"Saya tuan muda." ucap Satya.


"Ya sudah berangkat sekarang!" suruh Jammer.


Segera kedua mobil meluncur keluar gerbang menuju kantor Twin D. Dalam sepuluh menit kedua mobil itu sudah berada di parkiran kantor. Dengan demikian tak butuh waktu lama Jammer dan keempat pengawalannya berjalan menuju ruang kerja Twin D, setelah sampai Dhean sudah tidak ada di dalam ruangan hanya tersisa Dinda yang fokus dengan pekerjaannya tak merasakan kehadiran Jammer.


"Eehhhmm, permisi." ucap Jammer. Masih tidak dihiraukan.


"Kalian duduk saja di pantry atau sofa, cari minum di sana." tunjuk Jammer pada kedua tempat itu yang ada di dalam ruangan Twin D yang luas itu.


"Baik tuan."


Karena tidak ada jawaban dari Dinda, Jammer mendekati Dinda. Sampai didepan mejanya Dinda masih saja tidak menyadari kehadiran Jammer.


"Sayang." panggil Jammer.


"Yes I am. Can I get a kiss, please?" tanya Dinda.


"Oke, just one." jawab Jammer mendekat pada Dinda.


.


.


.

__ADS_1


.



__ADS_2