Menikahi Kakak Angkat

Menikahi Kakak Angkat
Menjemput Pulang Yang Tersayang


__ADS_3

Dua hari sudah Dinda terbaring di bangsal rumah sakit tua yang mulai hari ini akan tanda tangan pengalihan kepemilikan dari pemilik lama kepada Jammer. Kemarin Rendy diperintahkan untuk mengurus agar bisa membeli rumah sakit ini untuk mempermudah jika ada yang butuh perawatan, rencananya restauran disampingnya dan sebuah hotel juga akan di dibeli, untuk restauran akan di bongkar total untuk dibangun sebagai peluasan rumah sakit dan hotel akan direnovasi menjadi rumah sakit khusus BC dan karyawan-karyawan dilingkungan perusahaan. Kepala rumah sakit akan dipercayakan pada Stevani dan anak buah BC dari kalangan dokter, seperti biasa keamanan juga dari BC, managerial sebagian dari BC, dan pada bagian IT akan dipercayakan ke anak buah Donny, yang unik adalah dirumah sakit ini memiliki 3 front rider setiap ambulance dengan dipercayakan pada anak buah Gerry.


Dreettt dreettt dreettt. pesan masuk dari ponsel Jammer.


" Wolf kamu dimana, bisa gak ketemu. Aku ingin ngucapin terima kasih. " isi pemesan dari Lenka.


" Aku sedang disekolah mau jalan pulang. " pesan balasan Jammer.


" Bisa ketemu? " tanya Lenka.


" Kalo malam Minggu aku jemput kau saja? " balas Jammer.


" Iya aku akan menunggumu. " balas Lenka.


Jammer berada di outlet Bu Tia menunggu sampai Rendy menjemputnya. Seluruh teman-teman Jammer di sekolah sedang berkumpul mengerjakan tugas atau sekedar ikut nongkrong saja. Tiba-tiba datang berlari mencari Jammer, Gerry yang berjaga di depan outlet tidak bisa mencegah karena Gusman terlanjur berlari tanpa memperdulikan Gerry.


" Tuan Jammer. Tuan " panggil Gusman dari luar hingga menekan Jammer.


" Iya ada apa Gusman. " jawab Jammer datar.


" Maaf mas jangan ribut... " ucapan Gerry mencegah Gusman bicara didepan teman-teman Jammer. Tapi Jammer memberi isyarat kepada Gerry untuk diam.


" Begini tuan, lebih baik kita pergi segera tuan. " ajak Jammer menyadari isyarat dari Jammer untuk Gerry.


" Gangs gua pergi dulu. " pamit Jammer.


Mereka pergi dari lokasi, Gerry juga mengikuti beberapa saat setelahnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Seorang terbaring di bangsal rumah sakit tua, iya menunggu pujaan hatinya datang untuk membawa dirinya pulang. Walaupun pujaan hatinya bukan miliknya, baik raga maupun hatinya semua milik orang lain, tapi setidaknya dia bisa melihat tawa, suka, sedih, dan lukanya didepan matanya, bisa menjadi penyebab tawanya, penyebab sukanya, meski tak mampu mengobati luka hatinya. Seorang yang terbaring itu adalah Dinda dan pujaan hatinya Jammer.



( Sumber : Instagram/Imaduddin.Jammer )


Seperti puisi singkat itu, Dinda ingin bahagia yang dia coba berikan agar dia bahagia melihat tawa dan senyum dari adik angkatnya itu.


Dhean terus memperhatikan Dinda yang diam dalam pemikirannya sendirian. Dhean membiarkan kakak kembarnya itu terus larut dalam lamunannya, dia dapat menerka apa yang dipikirkan oleh Dinda, hanya bisa diam dirinya. Dhean menjadi berpikir kembali keputusannya mempertahan sandiwara keluarga mereka.


" Apa benar yang aku lakukan bertahan di sandiwara ini? Sebenarnya aku belum tau arti perasaanku, sekedar sebagai kakak atau ingin menjadi kekasih. " batin Dhean.


" Apa aku akhiri aja ya? " batinnya mempertanyakan keputusannya sendiri.


" Hai kenapa Din? " panggil Dinda menyenggol badan Dhean menyadarkan dia dari lamunannya.


" Eh malah ngagetin. " ucap Dhean tersenyum masam.


" Lagi ngapain. Kamu mikirin aku atau adek hayo? " canda Dinda.


" Mikirin mamah aja enak. " jawab bohong Dhean.


" Ohh ya udah sama berarti. " balas Dinda bohong karena tidak mau menyangkal perkataan Dhean.


" Aku WU Jammer dulu. Mungkin udah berangkat kesini. " ucap Dhean dan diiyakan Dinda.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di mobil menuju rumah sakit, Jammer sedang mengirim pesan pada Rendy untuk mempersiapkan segala peralihan kepemilikan dari rumah sakit, restauran, dan hotel. Kemudian ke Lenka, mengundurkan jadwalnya menjadi Minggu selama seharian terserah jam berapapun, ke Gwen untuk mempersiapkan markas besar untuk pertemuan dengan pimpinan wilayah. Kepada Byan untuk mencari informasi dan strategi untuk mengalahkan Blade Knife.


" Gusman, Kau ketahuan saat penyelidikan Blade Knife? " Tanya Jammer.


" Tidak tuan, saya menutup semua akses tentang diri saya, bahkan jika mereka menyadari itu saya sudah tau harus apa. " jawabannya


" Kemudian apa yang membuatmu terburu-buru menemui ku? " tanya Jammer lagi.


" Untuk menumpas mereka cukup mudah, serang saja berdua dengan saya. Tapi ada beberapa teknik yang harus saya ajarkan untuk mengalahkan mereka. " jawab Gusman.


" Besok lagi kau berhati-hati, aku lupa untuk memberitahu jangan membuatku ketahuan didepan teman-temanku. " Perintahnya.


" Maaf tuan salah saya. Sekarang saya paham. " ucap Gusman.


Mereka sampai diparkiran mobil dan segera menuju kamar Dinda, kemudian mengajak Dinda menjenguk Rony. Kebetulan Galuh baru datang dengan bapaknya, ibu, dan kedua adiknya menggunakan mobil Donny pastinya.


" Cie.. cie.. cie... udah teresmikan jadi pacar ya Don. Selamat ya Don udah dapet bidadari cantik ini. " ledek wajan.


" Iya nona. " jawab Donny.


" Aku mau lihat Rony? " ucapnya. Biar Donny pindah di sofa bersama Galuh.


" Iya silahkan nona. " ucap Donny menyingkirkan dari samping Rony pindah ke sofa.


Dinda, Dhean, dan Jammer bicara berempat dengan Rony.


" Pak Rony, apa tidak sebaiknya papahnya Donny ini berhenti saja dari berbagai kegiatan penyelidikan? " tanya Dinda.


" Belum waktunya nona, tuan. " jawab Rony.


" Kamu tidak ingin berhenti kenapa? " tanya Jammer.


" Karena jasa tuan Sam dan keluarga kepada saya, kalau tuan muda kan mempunyai banyak tangan, nanti tuan pasti akan merasakan apa yang dirasakan tuan Sam, dan anak buah tuan yang setia pasti akan setia sampai akhir. " jawabnya panjang.

__ADS_1


" Ya jika kesetiaan sampai sekarang belum ada yang pergi meninggalkan papah dan aku. " ucap Jammer membenarkan adanya.


" Contoh saja calon besan saya. " ucap Rony memberi isyarat mata. Semua mata menoleh pada orang yang ditunjukkan


" Hahahaha. " tawa Jammer memenuhi ruangan. Sontak semua menoleh ke arah Jammer.


" Iya Ron benar. " ucap Jammer dengan menunjukan jempolnya pada Rony.


" Apaan sih dek, udah ah. " ucap Dinda menurunkan tangan Jammer.


" Ron, kurangi kegiatanmu menyelidiki sendiri, apa aku beri anak buahku? " ucapan Jammer Diangguki kedua kakaknya.


" Baik tuan muda. " ucap Rony menyerah.


" Kami pulang dulu, aku masih kurang enak badan, kau rehat lah dulu. "


" Permisi, apa ada yang bernama tuan Imaduddin Jammer? " tanya seorang suster.


" Ada ini. Kenapa? " sahut Dinda.


" Tuan, kepala rumah sakit ingin bertemu dengan anda, mari saya antar. " ucap suster itu.


" Kak Dhean bawa pulang dulu kak Dinda nanti aku ke rumah. " suruh Jammer. Kemudian berlalu pergi.


Jammer berjalan menuju ruang kepala rumah sakit. Setelah sampai di depan pintu ruang tersebut dia masuk dengan heran dan kesal, bukankah sudah diurus Rendy kenapa harus dia juga yang dipanggilnya. Dan lebih lagi kesalnya seketika bertambah saat membuka pintu tepat di sofa di depannya ada Monika.


" Selamat sore tuan Jammer. Silahkan duduk. " ucap kepala rumah sakit ramah.


" Ada apa Ren? " tanya Jammer.


" Begini tuan, pemilik rumah sakit ini menyerahkan keputusan kepada saya. Jika tuan ingin saya menyetujuinya saya minta tolong tuan untuk menerima anak saya sebagai kekasih anda. " ucap kepala rumah sakit itu.


" Memang siapa anakmu? " tanya Jammer datar.


" Monika " menunjukkan senyumnya dengan aura negatif.


" Memang tak tau menyerah si model ini. " tersenyum seringai Jammer menyiratkan adanya rencana. Dan disitulah Rendy bertanya-tanya.


" Aku tidak suka pemaksaan, tapi untuk rumah sakit ini aku akan memberi kesempatan untuk menarik perhatianku. " ucap Jammer mendatarkan raut wajahnya.


" Bagai mana sayang? " tanya ayah Monika pada Monika.


" Aku setuju ayah. " jawab Monika.


" Kalo kau setuju setelah ini akan ada kesepakatan baru yang harus kau menyetujui, agar pemilik rumah sakit Segera menandatangani. Dan kau Monika, karirmu di perusahaan kosmetik akan berakhir setelah penandatanganan ini. " ucap Jammer tersenyum licik.


" Apa maksudmu? " tanya ayah Monika.


" Udahlah kalo rumah sakit sudah ditanganku kau juga kan punya kesempatan membuatku suka padamu. " ujar Jammer.


" Lama banget mikir. " ucapnya Jammer merasa ayah Monika lama sekali. Tapi tangan ayah Monika belum bertindak menyetujui perjanjian.


" Rendy kalo lama gini pindah rumah sakit aja lah Ren. " ujar Jammer, berdiri seolah ingin pergi.


" Tunggu. Jangan kemana-mana papah cuma ragu. Tunggu sebentar lagi. " ucap Monika menahan gerakan Jammer.


" Sudah, sekarang ayo kesepakatan selanjutnya. " ucap ayah Monika setelah menyetujui perjanjian serah terima.


" Oke aku buatkan dulu. " ucap Jammer dengan seringai.


Jammer menulis perjanjian antara dia dan Monika, sementara ayah Monika hanya sebagai orang yang saksi bersama Rendy dan pemilik rumah sakit. Perjanjian ini menyatakan bahwa waktu terlama dari Jammer adalah 6 bulan, selebihnya adalah hal-hal yang membatasi tindakan-tindakan Monika agar tidak terjadi hal-hal yang tidak pernah diinginkan. Jammer mengajukannya dengan senyuman yang menyeringai, Randy tahu jika senyuman itu amat licik, tapi Rendy tidak tahu rencana apa yang akan diperbuat.


" Apa ini? " tanya Monika.


" Sudahlah baca saja dulu. " Jammer memindahkan surat penyerahan rumah sakit ke tangan Rendy.


" Pak, selamat setelah ini rumah sakit ini akan besar dan lebih baik lagi. " ucap Jammer sambil menyalami mantan pemilik rumah sakit.


" Saya sebenarnya tidak ingin melepas rumah sakit ini tapi keadaannya sekarang saya tidak bisa membiayai kebutuhan rumah sakit. Untuk ini saya mohon jadilah pengganti saya membawa rumah sakit ini menjadi lebih baik. Saya dengar anda juga salah satu orang terkaya, semoga bisa memperbaiki keadaan tempat ini. " ucapan mantan pemilik rumah sakit, dengan mata yang menerawang kenangan rumah sakit ini.


" Sudahlah, aku setuju malas sekali baca tulisanmu. Aku malah pusing tidak paham. " ucap Monika.


" Ya sudah cepat tanda tangan lah. Aku sudah terlambat untuk urusan yang lain. " desak Jammer.


" Rendy tolong siapkan mobil dulu. " suruh Jammer.


" Baik tuan. " Rendy menelepon anak buahnya yang standby di parkiran untuk mengeluarkan seluruh mobil dari parkiran dan berbaris bersiap pergi dari rumah sakit.


" Ayah. Udahlah setuju aja. " suruh Monika sambil menyerahkan surat perjanjiannya


" Rendy tanda tangan. Pak minta tolong ya jadi saksi sekaligus sebagai penyambung silahturahmi.


Sudah lengkap semuanya, sekarang Jammer berpamitan pergi dengan seluruh anak buah yang berjaga. Kedua surat sudah ditangan Rendy, serta bukti pelunasan dari keuangan perusahaan, Jammer dan Bayusuta Crew semua lengkap, seandainya ada protes pun kemenangan ada ditangan Jammer. Mobil rombongan Jammer melaju cepat menuju markas untuk pertemuan pemberitahuan mandat dan lain-lain.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Lenka yang tidak sabar bertemu Jammer sedang tersenyum-senyum sendiri dan menghayal.


" Apa saja kerjamu, ini beresin! " bentak Risma melempar ke meja berkas lamaran kerja yang diperiksa Lenka, Risma adalah senior Lenka di perusahaan property milik Jammer.


" Maaf mbak Risma, salahnya dimana? " tanya Lenka.

__ADS_1


" Banyak yang gak masuk kriteria. " tegasnya.


" Maaf mbak. " ujar Lenka lagi


" Ya udah benerin. Cepetan bos mau lihat laporannya nanti malam. " perintah tegas Risma.


" Aku gak mau ya ke rumah bos Jams kelewat malem! " bentak Risma lagi.


" Bos Jammer mbak? " tanya Lenka.


" Ya. Aku harus nganterin ke kamarnya paling telat jam 8. Ini udah jam 4, CEO sini cuma nunggu ACC. " jawab Risma.


Mendengar itu dia segera membetulkan laporannya. Dengan semangat dia mensortir ulang lamaran kerja yang ada, yang sudah masuk kriteria dikelompokkan, yang belum masuk di ganti dengan teliti. Risma yang melihatnya tidak mengerti kenapa setelah mendengar nama Jammer Lenka langsung semangat.


Risma yang merupakan adik dari Biyan, menuruni sifat keras dan tegas dari ibu mereka Malinda, yang merupakan CEO pabrik kosmetik milik Amel dan sekaligus sahabat Amel sejak SMA. Sebenarnya Risma itu baik hanya saja sifatnya keras sekali, dan tidak seperti Biyan yang lesbian, Risma sudah punya calon suami. Risma terus memperhatikan pekerjaan Lenka yang terlihat semangat dan selektif.


" Tumpukan nya masih banyak banget, kau ini niat gak sebenarnya tadi? " bentak Risma lagi.


" Tadi kurang selektif mbak Risma. " jawab Lenka masih seriusnya mengerjakan.


" Apa dia suka sama bos Jammer? " batin Risma ragu.


" Udah berkurang 10 nih mbak. " laporan Lenka sambil mendorong 10 map pelamar yang tidak sesuai.


" Tinggal 12 ya mbak tunggu. " lapornya lagi.


" Berapa lama lagi? " tanya Risma santai.


" Sabar mbak. baru juga buka dua map. " jawab Lenka.


15 menit kemudian Lenka merapikan seluruh berkas, membuang berkas yang salah ke kardus samping mejanya. Berdiri dan menenteng berkas laporan yang sudah diperbaiki.


" Udah mbak, ayo cek sambil jalan ke ruang CEO. " ujar Lenka.


Risma berjalan duluan, kemudian Lenka mengikuti dengan terus mengulurkan berkas yang belum di periksa Risma, sementara yang sudah diperiksa dibawa Risma sendiri. Sampai tepat didepan pintu CEO semua berkas selesai diperiksa.


" Nah mbak, karena aku berhasil menyelesaikan ini cepat, boleh dong ikut ke rumah tuan Jammer? " tanya Lenka. Sebelum Risma membuka pintu ruangan pimpinan perusahaan itu.


" Buat apa? " tanya Risma kaget.


" To the point Aja, pengen banget ketemu udah lama gak ketemu. " ucap Lenka polos.


" Ehm tunggu aku mikir. Masuk dulu. " balasnya, sambil melangkah ke meja CEO.


" Selamat sore pak bos CEO. " sapa Risma.


" Mana biar saya tandai kalo salah. " jawab CEO itu.


" Udahlah basa-basi amat, tinggal tanda tangan aja susah amat sih. Bikin capek aja, aku pusing cepat dan yang bagus tanda tangannya! " ucap Risma marah, suasana seperti berubah dingin, sepi, suara detak jantung seakan terlalu keras untuk diabadikan. CEO tidak terkejut karena biasa, untuk Lenka iya baru pertama melihat manajer HRD sekeras itu, bahkan CEO pun hanya diam setelah Risma marah.


" Udah nih laporannya. Besok lagi jangan marah kalo salah. " ucapan CEO itu bagai angin lalu, Risma berjalan pergi menarik Lenka dibelakangnya.


" Selamat malam, kelamaan nunggu selesai ngomong kamu. " ucap Risma sambil terus berjalan.


" Lenka kamu ikut aku ke tuan Devils. Tapi jangan macam-macam di sana kamu duduk bila disuruh, ngomong bila diajak bicara, dan lakukan sesuai perintah saja. Ingat lakukan sesuai perintah. " penjelasan syarat Risma bila ingin ikut.


" Iya mbak. " balas anggukan Lenka.


Mereka menuju rumah Sam menggunakan mobil CEO, sedang CEO ditinggali kunci moge milik Risma di pos satpam. Dijalan Lenka bingung tapi takut untuk bertanya, karena perintah harus menunggu ditanya atau diajak bicara kan. Lenka terus celingukan melihat jalan dan kendaraan dari kaca pintu mobil, dia memilih itu biar tidak terasa saja perjalanan itu.


Mobil memasuki kompleks rumah Sam, Lenka memerhatikan keindahan rumah dan lingkungan depan rumah Sam dengan raut wajah takjub. Risma menyuruh Lenka membawa berkasnya, dia berjalan didepan diikuti Lenka, kemudian memencet tombol bel pintu rumah. Setelah dibuka oleh pelayan rumah Risma langsung masuk dan duduk di sofa ruang tamu menunggu pemilik rumah ada yang datang menemui.


" Risma, naik bawa laporan mu! " teriak Jammer dari lantai atas.


" Baik tuan muda. " jawab Risma.


" Lenka duduk dan diamlah! " perintah Risma dan mengambil berkas ditangan Lenka.


Tap... tap.... tap... Risma berlari dari lantai bawah ke lantai kedua.


" Ini tuan, berkasnya sebelumnya yang salah sudah Lenka betulkan. " ucap Risma saat sampai depan Jammer.


" Aku tak ingin menemuinya. Kau ucapkan terimakasih untuknya! " suruh Jammer. Diangguki Risma.


" Galenka. " teriak Jammer dari tempatnya berdiri, sambil melambaikan tangan dengan senyuman yang manis namun sebenarnya menutupi kesedihannya.


" Kau bawa Lenka kesini, maka kau tanggung jawab. Urus dia hari ini. Aku akan ke kamar memeriksa pekerjaan kalian, dan tolong pacarmu kalo ngusulin kesini jangan bawa motormu! " perintah Jammer dan dia pun pergi.


.


.


.


.


.


Sekian untuk hari ini reader, selaku author mengucapkan terima kasih atas partisipasi anda membara episode ini. Mohon tinggalkan like, komentar, vote, dan lakukan share untuk mengajak teman-teman anda membicarakan novel ini, serta klik favorit untuk memastikan hari anda tidak ketinggalan dari novel ini.


Semoga disenyumkan di setiap waktu anda, dan semangat pagi selalu. Salam dari saya Imaduddin Jammer.

__ADS_1


__ADS_2