
Mayat Ganco saat ini sedang diotopsi ditempat kejadian, sedang proyektil peluru yang menembus kepalanya memerlukan waktu khusus untuk mengeluarkannya. Roger datang terlambat dari pada anggota Blade Knife yang lain, ia memilih untuk meeting dengan rekan bisnisnya dari Singapura terlebih dahulu. Hari ini pasti percuma jika ingin mendapatkan informasi dari kepolisian karena pasti ditutupi, apalagi tentang jenis peluru yang ditembakkan ke kepala Ganco.
Yang dapat dilakukan oleh Blade Knife Kali ini adalah mengurusi hal selain informasi dari mayat Ganco itu. Kebanyakan dari mereka berdiri atau berjalan mengelilingi lokasi untuk mencari bukti-bukti, berjaga-jaga untuk antisipasi serangan musuh. Berapa mereka membantu istri Ganco untuk menyiapkan sesuatu atau membantu apapun itu.
Sementara diantara mereka ada seorang kakek dan dua pemuda yang sedang berbincang dengan sedikit berbisik-bisik.
" Nak, kelinci yang kemarin sudah mati kan? " tanya si kakek.
" Sudah disembelih dan dibersihkan kek. " jawab salah satunya.
" Iya kek, kita berdua sudah pastikan. " tambahnya.
" Segera ke rumah nanti kakek masak buat pak Iwan, sudah lama dia memesan kelinci itu. " suruh kakek itu.
Sebenarnya ketiganya adalah anak buah Byan dan Rony. Mereka sudah lama tinggal disekitar tempat tinggal Ganco, mereka mengurusi ternak ayam dan kambing milik seorang tuan tanah didaerah ini. Sedangkan selama mereka berbincang banyak lalu-lalang anggota kepolisian dan Blade Knife yang mencari bukti-bukti tapi tidak menaruh curiga kepada ketiganya. Bahkan ada yang memesan minta dicarikan kelinci hutan untuk teman minum-minum di markas Blade Knife.
Lalu-lalang orang terus silih berganti, Roger baru saja datang. Dia menemui istri dan anak Ganco untuk mengucapkan bela sungkawa, kemudian menemui anak buahnya yang mencari bukti.
" Gimana Cok, ketemu apaan? " tanya Roger.
" Belum ada laporan dari anak-anak bos. " jawab Coki.
" Kerjaan kalian ngapain? " bentak Roger.
" Maaf bos, begitu kita-kita dateng udah ada polisi, gak leluasa jadinya. " jawab Coki lagi.
" Maaf mengganggu... " seorang polisi membuyarkan pembicaraan mereka.
" kami dari kepolisian ingin mencari pak Roger, kata orang sekitar sini pak Roger itu bosnya almarhum. " polisi itu menyambung ucapannya.
" Iya pak saya Roger. Kebetulan sekali saya baru saja datang. " sambut Roger menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
" Begini, seperti nya dari jenis proyektilnya, ini berasal dari senjata jarak pendek sekitar 50-80 meter karena pelurunya jenis kaliber untuk pistol jarak sedang. Dan ditemukan ukiran disekelilingnya, gambar sebuah pisau. " polisi itu menjelaskan.
" Apa pak, ukiran pisau? " tanya Roger terkejut.
" Iya, apa anda tau sesuatu? " polisi itu menaruh curiga dengan kekagetan Roger.
" Saya tidak yakin pak. Tapi pemilik peluru itu hanya beberapa orang dari Blade Knife. " jawab Roger.
" Bukankah anda pemimpinnya? " tanya polisi itu lagi.
" Ya makanya itu, nanti saya akan memberikan informasi pak. Padahal itu produksi baru belum juga ada keperluan untuk berburu di hutan tapi kenapa ada yang bunuh teman sendiri, saya perlu cari tahu pak. " penjelasannya sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
" Kami butuh informasi untuk semua pemilik senpi itu tolong disegerakan. "
" Ya nanti saya ke kantor untuk menyerahkan nama-namanya. " tegas Roger.
" Ya sudah terima kasih. Saya pamit dulu. " polisi itu pergi meninggalkan mereka.
Roger menghubungi anak buahnya yang memproduksi peluru itu. Mencari informasi tentang pembeli yang menceritakan, atau informasi apapun yang disinyalir sebagai bukti-bukti. Namun hanya nihil yang ditemukan. Selanjutnya yaitu pengumpulan pemilik-pemilik amunisi baru itu untuk berkumpul di markas komando besok pagi.
Dalam keadaaan penuh duka ini asisten Ganco merasakan kekhawatiran bersama anak buah Ganco lainnya. Mereka saling berbisik satu sama lain tentang kemungkinan yang terjadi.
" Ini pasti karena bos Ganco ikut campur waktu penculikan Jammer. Pasti ini buntut dari pembantaian kelompok J. " bisik-bisik yang didengungkan oleh mereka.
" Iya mungkin ini ada mata-mata sehingga bisa jadi kayak gini. " sahut-sahutan mereka yang menduga-duga.
" Tapi kita tidak tau siapa yang melakukannya, bisa jadi BC atau kelompok lain. Tapi juga gak menutup kemungkinan bos Roger tau terus nyuruh bunuh atau gimana gak tau. " sahut asisten Ganco.
" Tapi setahuku asisten lama bis Ganco kesini dan pas bos ditembak sebenernya itu mau nganter dia pulang. " tambah asisten Ganco.
" Apa dia pembunuhnya? " celetuk seorang anak buahnya.
" Gak mungkin, soalnya dia sama sekali gak bawa senjata, lagian juga dia kata bos orangnya setia. " jawab asisten itu.
" Oh iya ngomong-ngomong soal keterlibatan bos Ganco kalian pada khawatir gak? " tanya seorang dari mereka.
" Ya khawatir lah. " sahut mereka serentak dengan suara pelan.
Mereka menunggu otopsi mayat selesai kemudian melakukan penghormatan terakhir dan upacara kematian untuk mayat Ganco. Kesepakatan kelurga, Ganco akan dimakamkan esok hari sekaligus pembuatan nisan yang akan datang malam nanti tapi ditunda esok sekalian. Sebagian anggota Blade Knife tinggal menemani keluarga yang terbalut duka cita, sebagian lagi pergi untuk urusan Blade Knife dan pencarian informasi pembunuhan itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pada tempat lain setelah malam menjelang, Byan sedang berasa di apartemen menunggu Silvi yang sedang ganti baju. Mereka sudah lama tak bertemu karena kesibukan yang padat, Byan yang merupakan salah satu detektif swasta di perusahaan milik Bayusuta Crew sering meninggalkan Silvi setiap kali harus bertugas. Sementara Silvi yang merupakan bagian keuangan memiliki waktu terbatas untuk sekedar ketemu, mereka berdua sebenarnya sekarang sudah jenuh dengan hubungan yang tak normal ini.
" Sayang, cepetan ganti bajunya! " suruh Byan yang tak sabar.
" Sebentar napa sih, ribet tau. " keluh Silvi yang masih berdandan.
" Oke iya sabar. " kekeh Byan.
" Yang tolong nih pegangin! " pinta Silvi kesusahan memakai gaun.
Gubrak, Gubrak. Byan berlari tanpa menjawabi permintaan Silvi. Segera membantu pacarnya mengenakan gaun.
Setelah selesai mereka pergi keluar untuk makan malam berdua. Untuk selebihnya adalah hubungan antara dua wanita pecinta sejenis jadi tidak pantas untuk di ceritakan.
Malam romantis telah terlewat, Byan terbangun karena sebuah telepon yang berbunyi.
" Hallo, Ada apa ganggu aja. " ucap Byan menjawab panggilan telepon.
" Hallo, Bos Byan hari ini konferensi persnya Ganco, dan kemungkinan besar jenis peluru bakal dijelaskan. " lapor anak buahnya.
" Lah terus kenapa laporan kalo belum selesai tugasmu? " tanya Byan kesal.
" Begini bos. Asisten Ganco curiga dengan kematian Ganco ada hubungannya dengan rencana penculikan yang dilakukan Ramon. " jawabannya.
" Ya pantau aja dulu, kalo mereka bertindak diluar perkiraan kita, tinggal basmi aja. " suruh Byan.
" Ya bos. Tapi... " ucapan anak buahnya terpotong. Telepon diputus sepihak.
" Ganggu lagi quality time aja. " gumam Byan.
Byan pun tidur lagi memeluk Silvi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Ditempat lain, Jammer yang berjanji untuk menemui Galenka menyiapkan motornya untuk menjemputnya dirumah. Hari ini pukul 8.30 mereka akan berangkat berjalan-jalan di sebuah taman bermain di Jogja, memang cukup jauh tapi itu adalah permintaan Lenka, dan lagipula Jammer tidak keberatan. Waktu terus berjalan, selesai sarapan Jammer berpamitan pada kedua orangtuanya.
Dalam sebuah hati diwaktu yang sama namun bereda tempat, ada rasa senang karena hari ini akan menghaiskan waktu berdua dengan orang yang dikagumi. Janji yang telah ditunggu akhirnya tiba, sebuah hadiah spesial untuk dia telah dipersiapkan. Galenka sedang menunggu Jammer dengan senyuman yang terus mengembangkan dibibirnya.
Jam menunjukkan 8.15, Jammer sudah berada didepan sebuah rumah yang ditunjukkan oleh map di HP nya. Dia pun mengetuk pintu rumah tersebut.
" Permisi " Tok tok tok. Jammer mengetuk beberapa kali.
" Iya sebentar. " jawab Galenka dari dalam, terdengar suara langkah kakinya mendekat pintu.
Kreeek. pintu terbuka dan nampak lah seorang gadis yang tersenyum manis, tapi tak terlalu dipedulikan oleh Jammer.
" Selamat pagi " sapa Lenka dengan senyum.
" Kau sudah siap? " tanya Jammer.
" Sebentar ada yang harus aku ambil. " katanya menjawab.
" Cepatlah! " perintah Jammer.
Lenka pergi ke kamarnya mengambil ransel, kaca mata, dan jaket. Kemudian segera kembali ke depan.
" Ayo aku sudah siap. " ucapnya ketika sampai.
Tanpa tanggapan Jammer berlalu pergi menuju motornya. Lenka pun mengikutinya dan naik membonceng.
" Ka, rumahmu sepi sekali? " tanya Jammer.
" Em anu... Udah pada ke Gereja, aku sengaja gak ikut karena mau pergi. " Jawab Lenka.
" Kenapa gak minta ganti hari aja? " tanyanya lagi.
" Gak ah takutnya sibuk. " jawab Lenka malu-malu.
Mereka pergi ke tempat tujuan segera, butuh waktu 3 jam untuk sampai di lokasi. Sesampainya di lokasi Jammer membelikan tiket dulu agar mereka bisa masuk taman bermain.
" Aku udah dapet tiketnya. Ayo masuk. " ajak Jammer.
" Iya " Lenka tersenyum manis sambil menggandeng lengan Jammer.
" Gak papa kan aku pegangan takut ilang hehe " ucap Galenka karena sadar Jammer menoleh kearahnya.
" Terserahlah, anggap santai aja. " balas Jammer kembali memandang punggung orang didepannya karena mereka masih mengantri masuk.
Mereka berdua langsung berkeliling mencari wahana untuk dinaiki.
" Kamu mau naik apa? " tanya Jammer.
" Apa ya, bingung. Kita jalan aja lah dulu gimana? " balas Lenka Bertanya bingung.
" Oke lah. " jawab Jammer.
Mereka berkeliling melihat-lihat wahana yang ada, hari ini suasana tak terlalu ramai pengunjung. Mungkin karena terlalu luasnya, walaupun tempat ini berada di pusat kota Jogja tapi euforia launching tempat ini mungkin sudah luntur atau keberuntungan ada ditangan Jammer dan Lenka. Setelah beberapa menit mencari Lenka menghentikan langkahnya pada sebuah wahana dan menarik Jammer.
" Jammer, kalo naik itu bisa? " Lenka menunjuk wahananya dengan tatapan mata. Mengucapkannya dengan malu-malu.
" Makasih. " Lenka terus tersenyum merasa dirinya bahagia dengan Jammer.
Mereka terus menaiki wahana satu persatu dari yang menantang, menarik gelak tawa gembira, horor, hingga berfoto bersama pada sebuah stan foto. Setelah melewatkan makan siang, akhirnya terdengar perut Lenka berbunyi.
Kruuk kruuk. Bunyi perut Lenka yang lapar.
" Len, kamu lapar? " tanya Jammer.
" Iya nih hahaha. Emang perut gak bisa diajak seneng-seneng, belum puas juga mainnya malah udah laper aja. " jawab Lenka memegangi perutnya dengan perasaan malu.
" Ya udahlah. Udah dulu mainnya, kita makan dulu! " perintah yang terdengar seakan ajakan dari Jammer.
" Tempat makannya dimana ya? " Lenka bingung.
" Gak tau dimana nih. " jawab Jammer sama-sama bingung.
" Lah kita cari kemana? " tanya Lenka memandangi wajah Jammer yang bingung. Ada senyum yang ditujukan Lenka karena merasa lucu melihat ekspresi Jammer.
" Kita makan keluar aja yuk, sekalian jalan ke Malioboro, gak puas rasanya kalo ke Jogja gak mampir ke Malioboro. " usul Jammer.
" Boleh deh. " jawab Lenka.
Mereka pergi ke sebuah rumah makan di jalan Magelang. Setelah selesai makan Jammer mengajak Lenka berbelanja di Malioboro, menghabiskan sore hari berdua. Lenka membeli barang sesuka hati dan Jammer membantu membawakannya, bagi Jammer tidak masalah karena mereka pulang dengan mobil Van, sedang motornya dinaikkan ke anhang trailer.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pada tempat lain, Dinda dan Dhean sedang mencari alasan untuk mengutarakan pikiran mereka masing-masing. Dinda merasa tidak nyaman untuk mengatakan dirinya dan Jammer telah pacaran apalagi Jammer sedang pergi dengan temannya ke Jogja, Jammer janji hari Senin nanti akan berterus terang. Sedangkan Dhean memikirkan cara untuk mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya.
" Dhean, lo gak turun? " tanya Dinda basa-basi.
" Baru mau nanya lo. " jawab Dhean salah tingkahnya.
" Ah hahaha iya udah ayo turun Dhe. " ajak Dinda ikut salah tingkah.
" Din. Sebenarnya aku pengen ngomong sesuatu. " ucap Dhean yang belum beranjak dari duduknya.
" Ngomongin soal apa Dhe? " tanya Dinda yang sudah berdiri namun tak melangkahkan kakinya.
" Nanti aja nunggu kalo ada adik aja deh. Kita turun aja sekarang. " jawabannya sambil mendahului keluar kamar.
" Ah ngerjain, ditunggu mau ngomong apa, ternyata malah ninggalin aku. " teriak kesal Dinda.
Mereka turun untuk makan malam, di meja makan belum ada Amel dan Samuel. Kedua orang tua tersebut sedang berada di dalam ruang kerja Sam bersama Kenan dan anak buahnya. Mereka membahas sebuah temuan tentang kejadian di pantai.
" Jadi mereka sudah berpacaran? " tanya Amel bingung harus berekspresi. Setelah mendapat penjelasan dari Pandu, dia adalah anak buah Kenan
" Iya nyonya, nanti tuan Jammer yang akan bicara kejelasannya. Saya dengar dia siap untuk menjelaskan saat kondisinya sudah tepat. " jawab Pandu.
" Pah, gimana Dhean nanti pah. Apa dia bisa menerima ini? " tanya Amel kebingungan.
" Tunggu sampai beberapa hari ini, nanti kita paksa mereka berdua bicara jika beberapa hari lagi tidak ada penjelasan. " ucap Sam memutuskan.
__ADS_1
" Sebelum itu awasi mereka bertiga. Cari informasi bagaimana bisa kedua putriku suka pada adik mereka sendiri. " suruh Sam pada Kenan dan anak buahnya.
" Baik tuan, kami pamit pergi dulu tuan Sam, nyonya Amel. " ucap Kenan mewakili anak buahnya.
Mereka keluarga disusul Sam dan Amel yang akan menuju ruang makan.
Kret. Suara pintu ruangan terbuka. Namun betapa terkejutnya Kenan melihat Dhean ada dibalik pintu.
" Sore nona, Kam... Kami... Mau pergi. Permisi " sapa Kenan terbata-bata, dikuasai kegugupan.
" Sore. Kalian mau kemana? " tanya Dhean cepat.
" Bukankah itu orang di pantai ya? " tanyanya lagi menunjuk Pandu.
Pandu dan Kenan pun semakin gugup dan ketakutan.
" Ehem, sayang mereka papah undang untuk mengawasi si itu cewek yang bikin sakit hati adikmu, siapa tadi itu Kenan? " kata sarat kode dari Sam agar Kenan tidak ketahuan.
" Oh ya udah. Kemaren kita bertiga sama Kana ketemu di gak sengaja di pantai. " ucap Dhean berusaha mengikuti papahnya mengalihkan pembicaraan.
" Lanjutkan aja, kerja kalian di pantai juga bagus kemaren. Awasi Fiux dengan baik untukku. " ucap Dhean malas.
" Sayang kamu kenapa kok berdiri di depan pintu gini sih? " tanya Amel merangkul Dhean.
" Mau nanya mamah dan papah makan kapan, soalnya kita berdua udah lapar. " jawab Dhean
" Oh kalo gitu ayo kita makan sekarang. " ajak Amel membalik badan Dhean.
" Hati-hati, jangan ketahuan. " bisik Sam pada Kenan mengingatkan.
Sam kemudian menyusul Amel dan Dhean yang sudah berjalan ke meja makan. Sementara Kenan dan anak buahnya segera pergi dari rumah Sam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kembali lagi ke Jogja. Lenka sedang memilih baju batik untuk oleh-oleh orang dirumah, ia membolak-balik deretan baju ukuran dirinya, kemudian setelah dapat berganti memilihkan untuk adiknya dan kedua orang tuanya. Sementara Jammer hanya berdiri disampingnya membawa belanjaan Lenka sambil sesekali melihat sekeliling, seharusnya anak buahnya sudah sampai dari sore tadi untuk membantunya, tapi hingga jam 8 malam ini belum ada terlihat satupun.
" Lenka, aku mau telpon seseorang, aku ke dekat kasir ya, nanti kamu kalo udah selesai ke sana aja ya Len. " pamit Jammer,
" Iya sebenarnya bentar lagi aku selesai " balas Lenka
" Ya udah aku ke sana duluan. " Jammer pun menuju dekat kasir dan meletakkan belanja-belanjaan ditangannya.
" Hallo, Tuan muda. Maaf kalo tunggu sebentar lagi bisa tuan? " tanya orang yang menjawab telepon.
" Siapkan saja semua saat aku ingin pulang. Selesaikan dengan baik urusanmu. " jawab Jammer.
" Iya tuan, saya lakukan dengan baik. " jawab anak buahnya.
" Jam 9 harus sampai parkiran mall xxx " tanpa menunggu jawaban Jammer menutup teleponnya.
Lenka yang sudah selesai akhirnya menghampiri Jammer.
" Eh Jams. Aku udah selesai. " Lenka melapor.
" Taruh kasih dulu aku tak beresin ini. " Jammer menunjukkan tangannya membereskan belanjaan yang tadi ia bawa.
" Hehehe, maaf ya ngerepotin. " tawa Lenka renyah seperti kripik singkong.
" Gak masalah. " balas Jammer ikut tersenyum.
" Nanti kalau sudah selesai kita ke Deket rel situ dulu ya, aku mau ngopi dulu sambil nunggu mobil jemputan buat kita pulang. " pinta Jammer saat berjalan menuju kasir.
Mereka pergi ke tempat yang diinginkan Jammer setelah Jammer membayar belanjaan Lenka di toko oleh-oleh. Sesampainya di tempat yang diinginkan Jammer memesan kopi Joss dan Lenka memesan kopi late sasetan. Lenka yang sudah merasa percaya diri memberanikan diri bertanya pada Jammer tentang apa yang iya rasakan.
" Jams ngomong-ngomong kamu dari tadi pagi kelihatan gak pernah megang hp. Emang gak ngabarin orang yang mungkin nungguin? tanya Lenka.
" Gak usah, udah pada tahu aku pergi. " jawab Jammer.
" Ah kok banyak ya. " celetuk Lenka spontan.
" Apa yang banyak? " tanya Jammer bingung.
" Yang nungguin kamu kok banyak, play boy nih hahaha " Lenka meledeknya.
" Hahaha lawak kamu. Yang nunggu tuh ortuku, kakak, adek. " balas Jammer ikut tertawa.
" Oh kirain kan kamu punya. " Lenka tersipu tak karuan.
" Ya gimana ya caranya jelasin. " celetuk Jammer kebingungan, menggaruk kepalanya yang terasa gatal mendadak.
" Emangnya gimana? " Lenka berubah bingung
" Kamu sendiri sampe malem gini gak papa kan? " tanya Jammer membalikkan obrolan.
" Ih malah balik nanya. Gak mau jawab mesti! " Lenka kesal merasa pertanyaannya diabaikan.
" Ya enggak gitu. Aku sih gak ada yang marah soalnya kan yang nunggu aku udah tak kasih tahu semua. Lah kamu gimana ada gak yang marah? " jelas Jammer tak mau kembali ditanya tentang hal yang sama.
" Aku gak ada kok. Malah jadi seneng banget bisa jalan-jalan sampe malem. " jawabnya.
" Ya baguslah. " celetuk Jammer basi.
" Bagus gimana maksudnya? " Lenka semakin penasaran dengan pembahasan yang tercipta.
" Lah gak ada maksud apa-apa. " datar yang dimunculkan Jammer.
" Kalo gak ada yang nunggu, ada yang suka gitu kamu gimana? " tanya pelan Lenka malu-malu.
" Kalo suka sih ada, cuma aku udah suka orang lain. Jadi aku gak bisa merespon mereka buat jadi pacarku Len. " jelas Jammer lagi.
" Kalo aku gitu suka kamu gimana Jams? " Lenka dengan mantap.
Cukup lama Jammer terdiam, memandang Lenka sejenak kemudian menghela nafas.
" Maaf Lenka, aku gak bisa. " ucap Jammer takut-takut.
" Oh iya gak papa. Aku kira kamu ngerespon aku, sampai kita bisa berdua ada di Jogja gini. " ucap Lenka.
__ADS_1
Setelah pembahasan itu tak lama jemputan mereka telah tiba, segera mereka pulang dan beristirahat di mobil. Sementara motor diletakkan di trailer.