Menikahi Kakak Angkat

Menikahi Kakak Angkat
Masih Menyangkut Kematian Ganco #2


__ADS_3

Setelah mendapat alamat dan waktu untuk bertemu dengan Gerry, Coki langsung pergi meninggalkan markas Gerry yang ada di hutan, bergegas pergi menuju tempat yang disebutkan Gerry yaitu kafe XXX.


Tibalah Coki ditempat yang ditentukan, waktu pertemuan masih ada sejam, ia memilih memesan makan siang karena sedari berangkat dari markas ia melewatkan makan siang, sembari menunggu sampai Gerry datang juga sekalian ia makan. Jadi Coki tidak bosan menunggunya datang.


" Bos Roger, kita bikin janji hari apa ya, saya lupa gak nanya tadi bos?" pesan Coki yang dikirim ke Roger lewat ponselnya.


Dreettt dreettt dreettt. sebuah pesan masuk. Coki segera mengecek pesan itu.


" Segera." balas Roger singkat.


" Balasnya singkat amat bos. Nanti malam aja ya bos?" Balas Coki lagi.


" Lah gak gitu juga g*b**k. Gak nyiapin antisipasi apa gimana caranya supaya kita aman? Pikir dululah." balas kesal Roger.


" Hahaha maaf bos. Nanti saya kabari lagi." Coki kikuk dengan balasannya.


Tak lama pesanan Coki datang, dengan lahap Coki melahap makanannya hingga habis.


" Ah... Kenyang." Gumam Coki setelah selesai makan.


" Wah masih seperempat jam lagi. Mau ngomongnya gimana caranya ya? " tanyanya pada diri sendiri.


Waktu menunggu Coki dihabiskan dengan memikirkan perkataan yang akan diucapkan nanti. Setelah lama menunggu akhirnya Gerry datang bersama seorang anak buahnya.


" Hai Caky. Kau Caky kan?" canda Gerry saat datang. Sebenarnya ia kenal baik dengan Coki, karena Coki adalah anak buah Roger yang paling kuat pada pemikiran, namun lemah dan tidak bisa berkelahi diantara anggota Blade Knife yang lain.


" Wah mentang-mentang berdua berani ngeledek. Gua datang dengan damai, malah mau main keroyokan. Asem." kesal Coki diledek.


" Sorry, cuma bercanda." balas Gerry.


" Sorry juga tuan muda belum bisa ditemui, kalo mau nanti malam datang ke hotel samping rumah sakit Soe-Hat. Tuan muda ada agenda ngecek proyek di hotel itu." tambahnya.


" Wah percuma dong gua bang." keluh Coki.


" Gak juga. Sekarang mau loe ngapain nemuin tuan muda? Jangan bohong jujur lebih indah dan aman untuk hari-harimu kedepan!" Gerry sedikit memberi penekanan pada kata-katanya untuk memberi peringatan.


" Sementara damai. Karena bos Roger gak bisa menyelesaikan masalah kematian Bang Ganco. Jika berkenan ketemu ngobrol dan kasih bantuan ke kita." Coki menjelaskan dengan waspada. Takut dipukuli oleh Gerry.


" Hahaha, masalah sepele kok sampai minta bantuan kita, ada apa ini bos mu? " pertanyaan yang sekaligus bertujuan meledek.


" Sebenarnya bukan itu. Malah aku sebenarnya curiga dengan kalian. Sepertinya ada kemungkinan kelicikan dari kalian pelakunya. " batin Coki


" Gua mohon bang, sementara lupakan perselisihan yang udah lalu. Pegang omongan gua pasti bos Roger juga sepaham sama gua, jadi gak mungkin terjadi hal buruk." Coki menangkupkan tangan memohon dan menunjukkan raut wajah yang berbinar seolah memelas.


" Gua gak bisa begitu aja percaya. Tapi gini aja loe cuma boleh bawa 10 orang pas ketemu, tempat gua yang pilih, waktunya siang, malam atau pagi gua yang tentuin. Harinya kalian yang tentuin sebelum pertengahan bulan, soalnya tuan muda mau ke Amerika jadi gak bisa lama-lama." ujar Gerry sambil mulai berdiri ingin pergi.


" Oke bang." balas Coki.


" Kalo gak ada obrolan lagi gua pergi dulu." Gerry sudah berbalik akan melangkahkan kakinya pergi.


" Gak bang." jawab Coki.


Coki segera menghubungi Roger memberitahu kelanjutan rencananya.


" Hallo Cok. Gimana?" tanya Roger dari sebrang telepon.


" Lancar bos. Tinggal bilang mau hari apa aja. Tempat dan waktu sana yang tentuin." balas Coki


" Urus sampai pertemuan. Setelah itu kita berdua aja yang nemui. Abis ini uang yang kau minta aku transfer." perintah Roger. Kemudian iya menutup telepon sepihak.


" Ah sialan malah dimatiin dulu, padahal mau minta tambah bayaran." gumam Coki sedikit keras sehingga membuat beberapa orang didekatnya menoleh ke arahnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Saat ini Jammer sedang berganti pakaian setelah pulang sekolah ia harus segera berangkat ke kantor Dinda dan Dhean, mereka bertiga akan menuju rumah sakit untuk mengecek proyek yang belum juga menentukan tender. Setelah ganti baju Jammer berniat makan sekaligus wudhu untuk sholat Ashar, sebentar lagi akan masuk waktu Ashar tiba.


" Mas kok rapi mau pergi lagi?" tanya Dinar.


" Ya mau ketemu mbak." jawab Jammer.


" Ikut dong mas. Boleh ya?" pinta Dinar.


" Gak. Besok lagi aja tak ajak. Aku mau ke rumah sakit kok ikut segala." jawab Jammer.


" Loh emang masih bisa jam segini mau jenguk orang? Lagian siapa sih yang sakit?" tanya Dinar heran.


" Gak ada yang sakit. Mau kontrol dia abis sakit." Jammer.


" Ih kok gak ngomong kalo mbak Dhean sakit." Keluh Dinar lagi.


" Waduh lupa belum bilang kalo ganti pacaran sama Dinda aku." Batin Jammer. Ia menggaruk tekuknya yang tidak benar-benar gatal.


" Kenapa mas?" heran melihat kakaknya tiba-tiba aneh dan tidak menjawabnya.


" Ya pokoknya besok lagi tak ajak." jawab Jammer.


" Udah ya. Aku mau berangkat udah telat. Ntar bilangin ke bapak sama ibu." ucap Jammer melangkah pergi.


" Eh mas, tunggu. Jajanin ya ntar!" pinta Dinar.


Jammer pergi menggunakan motornya secepat-cepatnya perjalanan menuju kantor kedua kakak angkatnya itu ditempuh. Lebih kurang dua puluh menit kemudian Jammer sampai di sebuah kompleks perkantoran, sepanjang jalan dari pintu masuk kompleks setiap satpam yang berjaga di setiap depan kantor pasti menyapa Jammer yang melewati mereka, mereka adalah anggota Bayusuta Crew yang dipekerjakan di kantor-kantor itu.


Setelah beberapa saat melajukan motornya pelan dan membalas sapaan pada anggotanya, kini Jammer memasuki halaman sebuah kantor yang paling tinggi dan megah diantara kantor yang lain. Itu adalah kantor pusat milik Dinda dan Dhean yang sekaligus merupakan kantor pengelolaan beberapa property dibawah naungan PT Sri Manunggal Sejahtera. Ia memanggil dua orang satpam yang berjaga untuk membantunya menaikan motor ke anhang mobil yang dibawa kakaknya, mobil yang dibawa untuk menarik anhang bukan mobil biasanya yang dibawa Dhean, melainkan mobil Ford Ranger milik Jammer.

__ADS_1


" Nah gini kan bagus dilihat, GA... GAH." Jammer memberi penekanan pada perkataannya, melihat mobil yang lama tak pernah dikendarai olehnya itu hari ini dibawa keluar garasi.


" Mardani, gimana bagus gak mobil gini narik anhang?" tanya Jammer pada satpam yang membantunya.


" Bagus tuan muda. Kelihatan gagahnya." jawab Mardani.


" Tapi Dan... Nanti susah beloknya, ini mobil udah 3 meter sendiri, tambah anhang 3,5 meteran. Gak bisa mundur juga aku." ucap Jammer mengerakkan tangannya seperti mengira-ngira memberi gambaran pada hayalan.


" Ya gimana lagi tuan, harus dibisa-bisakan tuan. Hahaha." jawab Mardani.


" Kalo sudah selesai saya mau pamit bertugas lagi tuan." Mardani menunggu jawaban.


" Sekalian ke resepsionis sana bilang kakak suruh cepetan, aku ingin mengagumi keindahan motorku dulu. Tolong ya Mar." suruh Jammer.


Mardani segera berjalan meninggalkan Jammer sendirian di parkiran. Tak butuh waktu lama Dinda dan Dhean sudah muncul di pintu keluar kantor, melambaikan tangan mereka pada Jammer, sementara Jammer hanya menyilangkan tangannya di dada tanpa membalas apapun, membuat keduanya kesal.


Dinda yang gemas dengan kelakuan pacarnya sekaligus adik angkatnya itu pun berlari ke arah Jammer dengan muka jengkelnya.


Bruk. Dinda menabrak Jammer pelan.


" Aduh sakit..." keluh Jammer pura-pura jatuh.


" Kasihan tuh kesakitan." sahut Dhean dari belakang.


" Ya ya ya. Sini bangun, mana yang sakit?" tanya Dinda sambil menolong Jammer berdiri.


" Gak ada, aku cuma bercanda. Hahaha" jawab Jammer.


" Entar kita ngobrol sama Stevani di restauran aja ya. Aku laper nih." pinta Dhean.


" Ya udah ayo buruan berangkat, sebelum pada dateng kontraktor-kontraktornya." ajak Dinda.


Mereka bertiga segera menaiki mobil dengan Dinda yang kini mulai berada didepan, duduk di samping Jammer. Sepanjang perjalanan Jammer melaju dengan kecepatan rendah, sepasang mata sesekali melirik kepadanya, ia memberi tatapan heran pada Jammer. Setiap tikungan Jammer selalu tengak-tengok kebingungan, beberapa kali anhangnya menyerempet pinggir trotoar.


" Oh, dari tadi kamu bingung to bawa anhangnya. Kenapa minta tadi pagi?" tanya Dinda memerhatikan laki-laki disisinya itu kesulitan membawa mobilnya.


" Gak kok, cuma gak biasa bawa anhang. Bawa ini aja jarang kok. Agak kesusahan aja menyesuaikannya." Jawab Jammer sambil terus fokus pada jalan.


Beberapa saat hening, kedua orang didepan kaget saat tiba-tiba Dhean membuka suara.


" Don't keep calling me! Looking for your death, bothering me?" Bentak Dhean.


" Siapa kak?" tanya Jammer.


" Kana." jawab Dhean lirih. Ia memutar mata mengalihkan pandangannya ke samping mobil.


" Emang dia ngapain?" tanya Dinda.


" Sayang kalo Kana lenyap, kira-kira Jepang masih aman gak?" ganti Dinda menanyai Jammer.


" Kalo pengganti dia sih banyak, tapi dia kan sahabatku di Jepang, dia juga dititipkan ke aku sama orang tuanya. Kemungkinan berpengaruh ke Yakuza juga lah sayang." jawab Jammer santai.


" Gak jangan diapa-apain, dia cuma ngedeketin aku. Kalian bantu kalo dia udah kelewatan aja, sekarang gak perlu bertindak apapun." celetuk Dhean tetap menatap jalan.


" Oh." Dinda dan Jammer ber-oh berbarengan sambil saling pandang mengetahui hal itu.


Sampailah mereka bertiga di depan gerbang masuk rumah sakit, Jammer menghentikan mobilnya di depan seorang satpam. Mereka bertiga membuka kaca mobilnya untuk menyapa satpam yang berjaga dengan senyum.


" Selamat sore tuan muda, nona Dinda, nona Dhean." sapa sang satpam.


" Selamat sore juga. Tolong carikan parkiran, kira-kira mobilku sembilan meter dan aku gak bisa mundur jadi carikan yang muat!" balas Jammer sekaligus memberi perintah.


" Maaf tuan muda tapi di parkir rumah sakit tidak ada tuan. Kalo tuan mau, saya bukakan pintu gerbang hotel atau parkir di restauran semua bisa saya atur dengan satpam di sana." jawab sang satpam.


" Ya sudah sana yang mana saja!" ucap Jammer menyetujui.


" Sebentar tuan." pamit satpam ingin pergi.


" Tunggu pak. Tunggu." Dhean menghentikannya.


" Iya non. Ada apa lagi?" jawab satpam menghentikan langkahnya.


" Kosongkan lobby hotel, kita parkir di sana saja. Lagi pula meeting kita nanti di sana!" suruh Dhean.


" Iya benar juga." tambah Dinda.


" Baik nona, tuan muda, mari saya bukakan gerbang hotel." jawab sang satpam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Didalam rumah sakit, Stevani sedang menyelesaikan pemeriksaan untuk jam kontrol sore. Ditemani dua asistennya dan dua suster rumah sakit, ia mendapat jadwal hingga jam 6 sore, pasien rumah sakit sudah mulai meningkat setelah tersebarnya kabar dia yang memegang rumah sakit saat ini. Lelah terasa karena tenaga medis di rumah sakit ini belum mencukupi walaupun sudah ditambah beberapa orang anggota Bayusuta Crew lain yang berkerja di bidang medis, seleksi penerimaan baru akan di adakan dua Minggu lagi, dan dokter yang terbatas membuat pelayanan sangat melelahkan. Meski kwalitas pelayanan bisa ia tingkatkan dengan sumber daya yang ada, namun itu membuat jam kerja terlalu padat dan berlebihan dari jam normal.


Waktu terus berjalan, kini tinggal seorang ibu paruh baya yang merupakan pasien terakhir yang iya tangani.


" Sore ibu. Periksa dulu ya." sapa Vani dengan senyum.


" Sore dokter Vani." balas sapa ibu itu.


" Matanya gak buram lagi Bu Desi?" tanya Vani.


" Enggak dok. Buktinya cantiknya dokter Vani kelihatan jelas dimata saya." jawab Desi.


" Eh ibu kebiasaan ini. Masih semangat aja mau jodohinnya." celetuk Jarot.

__ADS_1


" Belum ada cincin melingkar, belum berhenti dong mas." Desi membalas celetuk Jarot.


" Sudah. Sudah kita lanjutkan pemeriksaan dulu." Vani memotong pembahasan yang biasa di perbincangkan dengan Desi itu.


Ia melanjutkan memeriksa hingga selesai kemudian berpamitan dan berjalan menuju ruang kerjanya. Ketiga orang yang tadi datang telah menunggu di ruang kerjanya.


" Hai tuan dan nona-nona." sapa Vani saat masuk ruangan.


" Hai Vani." balas Dinda dan Dhean berbarengan. Sementara Jammer hanya mendehem.


" Masih satu jam kan ketemu kontraktornya?" tanya Vani.


" Ya masih lama. Kenapa?" tanya Dhean.


" Kita ke sana sekarang aja. Ayo." ajak Vani.


" Kenapa buru-buru?" tanya Dinda.


" Aku capek nona Dinda. Pengen tiduran bentar." jawab Vani tersenyum lebar.


" Halah mending di kamar VVIP aja, ada fasilitas lengkap, dan lagi pula kita bisa tiduran semua kalo disana atau sauna." celetuk Jammer.


" Iya pinter juga, capek kita mayan buat refresh tubuh, pegel kan kerja Dhe." Celetuk Dinda.


" Mau apa Din? Aku kurang jelas nih, gak paham. Kamu mau sauna bareng ya?" jawab Dhean menanggapinya dengan kesal.


" Ya kali aja kamu mau." balas Dinda.


" Siapa aja yang sauna bareng?" tanya Dhean.


" Semua dong kita semua. Kecuali kontraktornya." jawab Dinda.


" Gak, gak usah. Kita tiduran aja di sana, ayo. Gak ada sauna rame-rame." ucap Dhean memutuskan.


Mereka akhirnya pergi ke hotel bersama-sama. Semua kamar hotel tidak terkunci hanya tertutup saja, sehingga mereka bebas melihat-lihat kamar mana yang cukup untuk meeting dengan para kontraktor. Ada 6 kamar VVIP di sini, satu persatu mereka melihat ruangan didalamnya, serta mengira-ngira mana yang dapat di atur ulang sehingga dapat dijadikan tempat pertemuan, setelah melihat semua mereka sepakat menggunakan kamar nomor 11D.


" Aku bilang dulu ke Rendi biar dia bawa orang untuk menata ini kita sekarang tiduran dulu." ucap Jammer.


" Iya sana." sambung Dinda.


Jammer menelepon Rendi.


" Hallo Ren. Udah sampe mana?" tanya Jammer saat telponnya dijawab Rendi.


" Lobby hotel tuan." jawab Rendi.


" Bawa orang sekalian, sebanyak muatan lift. Aku di lantai 11, di ruang 11D kita pertemuan di sini saja!" perintah Jammer.


" Baik tuan." jawab Rendi.


" Cepat ya." Jammer memutus teleponnya kemudian.


Tak sampai 10 menit Rendi dan orang-orang yang dibawanya sudah ada di depan kamar hotel. Segera saja Jammer menyuruh mereka menata ruangan dengan kursi-kursi dan meja yang ada di lantai tersebut.


" Rendi. Tolong hubungi pihak kontraktor yang luar BC dan bagian satpam bawah mereka memberitahu kamarnya di sini." suruh Dhean.


" Baik nona Dhean." Rendi segera melaksanakan perintah dan menyesuaikan ruangan, termasuk menata projektor, layar viewer, dan roll untuk sumber listrik.


Selama Rendi dan anak buah sedang berkerja, Jammer dan ketiga wanita tadi sempat-sempatnya untuk tidur dulu. Secara jadwal meeting dimuali jam 19.30, secara pasti beberapa kontraktor sudah datang beberapa saat sebelumnya. Rendi yang melihat ini merasa heran, tidak biasanya Jammer berleha-leha dan saat tidur Dinda dan Jammer bergandengan tangan, beberapa kali Rendi mengusap matanya memastikan penglihatannya tidak salah.


" Tuan muda. Maaf waktunya meeting." Rendi membangunkan Jammer yang sudah tidur sepuluh menitan.


" Nona Dinda maaf sudah waktunya meeting non. Semua sudah siap." giliran ia membangunkan Dinda. Begitu juga pada Dhean dan Stevani.


Setelah mereka berempat bangun, segera saja pembahasan tentang proyek rumah sakit dimulai dengan santai, tidak ada formalitas sama sekali kadang juga bercanda di beberapa pembahasan. Dari kelima perusahaan konstruksi, dua diantaranya adalah orang luar Bayusuta Crew, namun untuk ketiga perusahaan yang merupakan orang-orang dari BC jika tidak menang tander akan mendapat ganti proyek di pekerjaan yang lain.


Lama pembahasan berlangsung hingga jam satu baru selesai semua pembahasan, penentuannya akan diumumkan seminggu kedepan melalui surat yang akan dikirim ke perusahaan masing-masing, baik diterima atau ditolak konsep perencanaannya semua perusahaan akan mendapat uang transport dan uang saku untuk yang mewakili meeting. Kebijakan PT Sri Manunggal Sejahtera seperti ini sudah dikenal luas oleh perusahaan-perusahaan kontraktor, sehingga banyak pegawai perusahaan kontraktor yang mengincar meeting untuk income tambahan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di lobby. Gerry berjaga beberapa anak buahnya dan Kana yang membawa seluruh penembak jitu menyebar di sekeliling gedung. Menunggu dari awal meeting sampai akhir meeting, dalam pikiran Gerry merasa waspada jika anak buah Roger tiba-tiba menyerang, walaupun pesan dari Coki Blade Knife meminta bertemu esok hari. Sampai Jammer dan seluruh orang yang meeting turun untuk pulang tidak terdengar kabar ada anggota Blade Knife yang terdeteksi datang atau sekedar mendekat.


" Syukurlah tidak ada hal buruk." batin Gerry.


" Hai Gerry. Ngapain?" tanya Dinda.


" Pengawalan nona. Protokol standard seperti biasa untuk pertemuan resmi." jawab Gerry.


" Oh. Ya sudah sempurnakan dan jangan sampai ada celah." ucap Dinda.


Gerry segera mengomando anak buahnya untuk melakukan pengawalan hingga mengantar Jammer dan si kembar pulang. Terpaksa malam ini Jammer pulang tanpa ke rumah Sam karena waktu yang tidak tepat, terutama besok ada ulangan harian sehingga tidak mungkin ia pulang ke rumah Sam. Jammer harus cepat-cepat pulang dan tidur sebelum ia harus berangkat ulangan di sekolah.


.


.


.


.


.


__ADS_1


__ADS_2