Menikahi Kakak Angkat

Menikahi Kakak Angkat
Dendam Pemecatan #5 Akhir Dari Dendam Ini


__ADS_3

Jammer yang mendengar kematian David akhirnya menunaikan janjinya pada David, memberi kompensasi dan menjamin keluarga David baik keamanan maupun masa depan adik-adiknya. Untuk Blade Knife jammer memerintahkan hanya sepertiga dari setiap kelompok ikut mempertahankan markas Gerry, membawa peralatan camping untuk mengitari markas sehingga dalam waktu dekat akan mengerang. Memanggil setidaknya 40 penembak jitu dari beberapa kelompok BC baik dalam atau luar negeri, penembak jitu ini yang akan membunuh Ganco.


Gusman akan menemui Ganco dan mengajaknya keluar dari rumah, setelah saatnya tepat Ganco akan ditembak dengan peluru kelompoknya sendiri. Sebelum ini Byan sudah mendapat informasi tentang peluru ukir milik Blade Knife dengan itu Jammer dapat meniru peluru milik lawannya itu.


Setelah seluruh pelajaran usai, hari ini jam pelajaran dipotong karena para guru harus pergi ke rumah kepala Dinas pendidikan kota yang akan berangkat berumroh hari ini. Saat ini jam menunjukkan pukul 12.30 semua siswa sudah berhamburan pulang, Jammer yang tak membawa motor harus menunggu Rendy yang menjemputnya.


" Rendy, kau bisa jemput aku sekarang? " pesan Jammer ke Rendy.


cling. Sebuah pesan masuk ke ponsel Jammer.


" Maaf tuan saya sedang dalam perjalanan pulang dari Jogjakarta, saya kira tuan masih nanti pulangnya. " pesan balasan dari Rendy.


" Ya udah kau langsung ke perusahaan saja. Aku pulang dengan Donny atau yang lain. Lagipula aku lupa memberitahumu tadi pagi. " balas Jammer.


Jammer berjalan ke lobby berharap Donny masih menunggu Galuh di sana, tapi ternyata Donny tidak ada artinya Galuh juga sudah pulang. Apa boleh buat, akhirnya Jammer ke outlet menemui Gerry mungkin Gerry belum pergi karena melihat siswa sekolah berhamburan pulang. Jammer berjalan menuju outlet untuk melihat Gerry, tapi sama Gerry juga sudah pergi, hal yang bisa dilakukan Jammer kali ini adalah meminta supir rumah Sam untuk menjemput, lebih baik begitu dari pada meminta Gerry kembali, siang tengah hari begini kan panas dan menunggu Gerry putar balik juga pasti lama, mendingan nungguin supir bawa mobil kan.


Saat Jammer duduk didepan outlet dengan sebuah es jus buah naga menemaninya, dia melihat seseorang yang ada dalam hatinya lewat bersama segerombolan teman sekelasnya. Fiux dan teman-temannya akan pergi ke pantai untuk sekedar refreshing sejenak. Kabar mereka akan ke pantai sudah sampai ke telinga Jammer sejak istirahat ke dua.


^^^Jadi tempat yang kau datangi^^^


^^^Atau mungkin jadi gunung tertinggi^^^


^^^Walau jauh namun puas memandangi^^^


^^^Duhai nona aku ini ada^^^


^^^Kenapa kau malah memilih dia^^^


^^^Yang seorang pujangga penebar kata cinta^^^


^^^Sehingga tak ada sikap sepertiku yang setia^^^


^^^Jangan karena salahmu jadi luka^^^


^^^Ku anggap semua lelaki adalah biaya^^^


^^^Kemari nona biar aku beri ribuan bahagia^^^


^^^Sebagai bukti ada lelaki yang dapat kau percaya^^^


^^^( Sebuah gurindam kalo author tidak salah. 2021 )^^^


Lamunan Jammer melayang membayangkan kata-kata ini sampai pada telinga Fiux, pasti dia akan kecewa karena pasti yang Jammer dapat hanya luka. Tak lama setelah Fiux sudah tidak terlihat lagi, sebuah mobil LP550-2 Valentino Balboni muncul dengan kecepatan rendah, Jammer tersenyum karena tahu pasti siapa yang mengendarai mobil itu, dia adalah Satoshi Yukanaoji anak seorang mantan Yakuza yang menjadi teman Jammer bertanding uji samurai di Jepang, Kana biasa Jammer memanggilnya juga merupakan anggota Bayusuta Crew. Kana adalah pemimpin kelompok BC Jepang dan dia adalah penembak jitu terbaik milik Jammer, tentu ini bukan kali pertama Jammer bertemu tahun ini karena belum lama Kana datang mengikuti pertemuannya bersama ketua-ketua kelompok yang lain.


" Hello my leader. " sapa Kana setelah sampai di hadapan Jammer.


"Hey too, head hunter." jawab Jammer.


" Can we go now? " tanya Kana.


" Wait if you don't want a drink, before we go? " jawab Jammer dengan balik bertanya.


" Ok, I agree with you. " jawab Kana


" What do you want to order, let me order it? " Tanya Jammer lagi.


" An orange juice please and a snack. " jawab Kana.


Tak butuh waktu lama Jammer datang membawa pesanan Kana. Mereka minum dan makan cemilan sambil bercerita tentang berbagai hal, banyak teman-teman sekolahnya yang melihat heran Jammer berbicara dengan orang asing banyak pula yang terlihat heran tentang kehadiran mobil sport Lamborghini dihalaman outlet. Beberapa menit mereka berbincang tak terasa sudah pukul setengah satu siang, Jammer pun beranjak pergi dari lokasi outlet menuju rumah Sam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Gusman saat ini sudah berada di rumah Ganco, sedang mengobrol dengan Ganco tentang berbagai hal yang tentunya Gusman menjawab dengan beberapa kebohongan. Cukup lama Gusman mengobrol dengan Ganco dan istrinya, hingga lelah dia membuat cerita. Akhirnya Gusman meminta untuk diantar ke halte bus berpamitan untuk pulang. Ketika Pintu rumah terbuka kembali seluruh penembak jitu yang ada disekeliling rumah Ganco bersiap mengarahkan moncong senjata ke arah Ganco, rata-rata jarak mereka 500 meter dari lokasi sehingga mustahil Ganco menyadari kehadiran mereka.


Di lokasi rumah Ganco ada 10 orang penembak jitu yang disiapkan didepan 3, samping kanan-kiri 4 dan belakang 3, mereka diperintahkan untuk menembak mati Ganco tidak perduli siapapun yang bisa menembak diantara sela-sela dedaunan dan pepohonan disekitar rumah Ganco. Tepat saat Ganco memegang handle pintu mobilnya, kepala Ganco tertembak 3 peluru yang membuatnya seketika mati dalam hitungan detik. Gusman pun memanggil istri Ganco tanpa menyentuh mantan temannya itu.


Gusman membantu pemasangan tenda untuk melayat dan mengambil keranda untuk Ganco, setelah itu dia berpamitan pulang kepada istri Ganco. Setibanya di tempat bertemu dengan para sniper elite milik Bayusuta Crew dia melaporkan kematian Ganco kepada Jammer.


" Tuan Ganco sudah ditembak mati. " pesannya ke Jammer.


" Kau bawa semua sniper itu ke markas besar aku ingin mereka aman dulu sebelum bertarung dengan Blade Knife! " perintah Jammer lewat pesan.


" Baik tuan. " balas Gusman.


Gusman pun pergi melaksanakan perintah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dinda menunggu Jammer untuk segera pergi berempat bersama Dhean, Jammer, dan Kana. Mereka sedang menunggu Jammer ganti baju.


" Ayo sayang lama bener jalannya! " suruh Dinda dari sofa lantai bawah setelah melihat Jammer berjalan menuruni tangga.


" Bentar dong kak, ntar jatuh kan gak enak. " jawab Jammer sedikit berteriak.


" Sabarlah Din, dia juga udah jalan ke sini kan gak diam mematung. " ucap Dhean menasehati.


" Kanojo no kotoba wa totemo yawarakaku, totemo yawarakaku itta toki, kanojo wa sarani kirei ni meimashita " ucap Kana santai karena pasti tidak dimengerti orang-orang disini.


" What do you wanna say? " Tanya Dhean.


" It's nothing Miss Dhean. " jawab Kana.


" Don't talk about all kinds of things. " ucap Dhean memperingatkan.

__ADS_1


" Don't scold me. I'm afraid of Mr Sam and Mr Jammer. " jawab Kana dengan tangan memohon.


" Baguslah. You don't talk that we don't understand anymore. "


" Kenapa kak? " tanya Jammer saat mendekati mereka bertiga.


" Itu dia bicara gak tau apa. " jawab Dinda.


" Lagian Dhean gak tau apa kata-kata dia main sewot aja. " sindir Dinda.


" Ya kan gak tau bahasanya makannya aku kan curiga. Siapa tau tadi mantra santet. " jawab Dhean ngawur karena merasa malu disindir Dinda.


" Tapi bener juga kenapa aku yang sewot kan gak tau juga dia ngomong apaan. " batin Dhean kemudian.


" Ya udahlah. Don't mind, let's go right away. " Jammer mengajak.


Mereka pergi ke rumah Jammer dulu untuk berpamitan. Kemudian ke sebuah pantai. Sepanjang perjalanan Kana hanya diam saja dan dibiarkan saja oleh Jammer, Dinda dan Dhean juga tidak mengajaknya berbicara. Sesampainya di pantai Jammer, Dinda dan Dhean terkejut melihat dari kejauhan ada Fiux dan teman-temannya berada di pantai ya sama.


" Dek mau pindah aja apa tetep disini aja? " tanya Dhean.


Jammer tidak menjawab malah turun dari mobil dan berjalan menuju gerbang masuk pantai. Melihat itu Kana ikut keluar tanpa sepatah katapun. Alhasil Dinda dan Dhean hanya mengikuti Jammer saja.


" Kak ayo jalan-jalan dulu, kita ngobrol sambil main air. " ajak Jammer sambil tersenyum dengan matanya terus melihat Fiux dari kejauhan.


" Dek udahlah kalo kamu gak enak lihat dia kita pergi aja. " saran Dinda.


" Maju " seru Jammer seperti memberi aba-aba pasukan.


Dinda yang melihat semangat Jammer merasa sedihnya terlalu dangkal bila dibandingkan dengan adik angkatnya itu. Sementara Dhean merasa risih pada Kana, yang padahal Kana sedang berdiam saja kebingungan oleh tingkah ketiga orang itu. Mereka berempat berjalan berlahan-lahan di tepian pantai menyusuri garis ombak. Dinda menggandeng erat Jammer mereka hanya diam tanpa kata dengan tatapan yang bermakna luka, sedang Dhean bingung dengan pikiran dan perasaannya, dia sekarang menyadari jika saat melihat Dinda dengan Jammer dia bukan merasa kehilangan Jammer tapi takut jika saat mereka berdua menikah akan berkurang waktunya untuk Dhean.


Fiux dan teman-temannya yang sedang berfoto-foto melihat Jammer berjalan kearah mereka. Ari yang ikut dalam rombongan mereka pun melambangkan tangannya untuk menyapa, Jammer yang melihatnya pun membalas lambaian tangan Ari. Dinda yang sudah tak kuat tenggelam dalam pedih yang dia rasakan akhirnya mengubah gandengan tangannya dengan memeluk Jammer dari samping, ditambah lagi menghadapkan wajahnya ke dada Jammer sambil menangis meluapkan kesedihannya.


Jammer sebenarnya tak menyangka kakaknya akan menangis di pelukannya. Dalam kondisi ini mengharuskan Jammer menghentikan langkahnya.


" Kak. Kok nangis sih. " tanya Jammer yang masih menatap ke arah kumpulan teman-teman Fiux.


" Aku gak kuat. Hiks hiks hiks. " jawab Dinda mulai nangis.


" Kak Dhean. " panggil Jammer.


Bruk. Dhean tak sengaja menabrak Jammer yang mendadak berhenti didepannya. Dia sedang fokus pada pikirannya sendiri sehingga tak melihat kejadian didepannya.


" Aduh. Dek kok berhenti gak bilang-bilang. " seru Dhean kesakitan menabrak Jammer.


" Udah manggil kakak. Tapi keburu nabrak aku duluan! " seru Jammer.


" Tapi ya udahlah ini ijinin kak Dinda gini dulu, ntar pulangnya gantian. " ucap Jammer sambil menunjuk Dinda di pelukannya.


" Eh kamu kenapa kak nangis? " tanya Dhean khawatir melihat kakaknya di pelukan Jammer.


" Ya udahlah. Lanjutin aja lah aku lagi males juga, ada yang mau tak omongin tapi ntar aja kalo pulang ke rumah aku cerita sesuatu. " jawab Dhean


" Kamu mau gantian? hiks hiks " ucap Dinda sambil masih terdengar tangisannya.


" Enggak, udah kamu puas-puasin aja. Aku ntar gampang kok. " ucap Dhean lembut mengerti keadaan Dinda.


" Ya udah makasih Dhe. " balas Dinda.


Dinda menarik Jammer menghadap lautan lepas kemudian beralih tepat didepan Jammer menenggelamkan wajahnya semakin keras menangis dalam pelukan Jammer. Fiux, Ari, Yani, dan semua orang yang berada di pantai itu melihat heran adegan yang dipertontonkan Jammer. Ari pun mendekati mereka berempat.


" Jammer sombong banget gak ke sana basa-basi gitu kek apa cuma say hello. " tegur Ari menepuk punggung Jammer.


" Gak gitu juga. Ini ribet dijelasin, lihat aja sendiri. " balas Jammer menepuk punggung Ari namun dengan nada kesal.


" Wait, What is this? " tanya Ari melihat ada yang Dinda memeluk Jammer.


" The problem is with your friends who are there, guys. " Jawab Dhean melirik ke arah kumpulan Fiux.


" Oh. " respon Ari paham.


" Apa kamu gak papa kesini mas? " tanya Dhean.


" Gak papa lagian juga kita udah dari tadi disini, aku malah lebih suka sama Jammer. " jawab Ari tersenyum kecil.


" Kenalin aku Dhean, dan yang diperlukan Jammer kembaran ku Dinda. " ujar Dhean memperkenalkan diri.


" Aku Ari, sahabatnya di sekolah. " balas Ari memperkenalkan diri.


" Bisa ngobrol bertiga sama temen ku aja, biar mereka berdua menikmati waktu. " pinta Dhean.


" Of course I am approved. " jawab Ari.


" Kana, follow me. Came on. " ajak Dhean.


Dhean mengajak Ari dan Kana menyusuri garis pantai sambil mengobrol. Sementara Jammer terus mengikuti kemauan Dinda yang malah semakin erat memeluknya, seperti tanpa niatan melepaskannya. Jammer balik memeluk Dinda dan membisikkan kata-kata untuk menghentikan tangis Dinda.


" Kak, udah jangan nangis. Kakak kenapa harus nangis? " tanyanya.


" Aku tau kamu pasti sakit dari masuk gerbang pantai pandanganmu gak lepas dari dia. " jawab Dinda.


" Aku gak papa kak, kita kesini mau senang-senang kok kakak malah nangis. Udah ya aku beneran gak kenapa-kenapa lihat dia. " ujar Jammer berusaha meyakinkan.


" Gak. Aku mau nangis dulu. " seri Dinda lumayan keras.

__ADS_1


" Ya udah kita pergi dulu. Mau kemana mobil apa ke dermaga? " tanya Jammer lagi.


" Gak kemana-mana, kita disini. Kamu jangan lihat dia. " jawab Dinda.


" Iya kak enggak lihat ke sana. " balas Jammer.


" Dibilangin jangan lihatin malah ngelirik. " bentak Dinda masih keras menangis.


" Lah enggak kak. " ujar Jammer bohong.


" Kenapa tahu aku ngelirik. " batin Jammer.


" Jammer jangan lihat. Kalo masih lihatin aku cium loh! " ancam Dinda.


" Janganlah, ini di pantai gila kali ah. " jawab Jammer menyerah.


Akhirnya Jammer benar-benar mengikuti kemauan Dinda. Dia memeluk erat-erat Dinda, mengatur nafasnya, menenangkan diri sendiri dan hatinya. Lambat namun pasti debar jantungnya menjadi lebih tenang, akhirnya Dinda juga merenggangkan pelukannya dan perlahan menenangkan dirinya.


Di tempat Fiux. Yani mempertanyakan sikap yang dipertontonkan Jammer dengan Dinda pada Ari.


" Ar, tuh temen lo ngapain malah pamer pelukan didepan Fiux, katanya dia cinta sama Fiux? " tanya Yani kesal.


" Tuh cewek nangis, ada hal yang sulit di terjemahkan buat lo yang gak kenal dia. " jawab Ari.


" Alah bilang aja dia buaya. " celetuk Lidya.


" Heh jangan asal ngomong ya. " Bentak Dhean tak terima.


" Lah apa namanya kalo bilang suka Fiux tapi jalan sama yang lain? " bentak Lidya.


" Wow, wow, wow. Wait, don't fight? " ucap Kana berusaha melerai menyadari ketegangan itu.


" Eh apaan sih. " bentak Yani menyingkirkan Kana.


" Eh jangan kasar ya. Dia tamu bisnis gua dari Jepang. Lo berdua kelihatan nyolot ya! " seru Dhean penuh kesal. Tangannya meraba masuk ke jas Kana mencari pistol bersiap-siap jika ribut.


" Heh udah dong. Gak usah ribut malu-maluin. " ucap Ari melerai.


" Gini kalian berdua gak tau apa yang dilihat berbeda dengan apa yang didalam hati dia. Fiux juga gak masalahkan kalo orang yang dia tolak punya calon istri lebih dari dia? " ujar Dhean.


" Iya, biarin lah Yani, Lidya. Dia juga gak ganggu kalian kan. Ntar kalo aku bisa jelasin kapan-kapan lah aku jelasin kalo gak ya mungkin dia bisa ditanyai kapan-kapan. " ujar Ari membenarkan Dhean.


" Ar kenapa lo belain dia, temen lo kita apa dia? " seru Lidya.


" Gua gak memihak, cuma setahu gua ini akan jadi problem kalo diterus-terusin. " jawab Ari.


" Kita pergi dulu, biar gak ribut. " pamit Ari mengajak Dhean dan Kana pergi.


" Came on mbak Dhean and Mr Japanese. " ajak Ari menarik jangan Dhean.


" Hahaha, you don't call me Mr Japanese. Only you are can call me Kana. " suruh Kana pada Ari sambil melangkah mengikuti Ari.


Mereka bertiga ngobrol dengan bahasa Inggris, sesekali Kana mencuri pandang kepada Dhean. Ini untuk kali pertama dia melihat Dhean dan Dinda secara langsung, selama ini dia hanya mendengar nama mereka berdua di beberapa pertemuannya. Selama empat tahun ini mengikuti Jammer belum pernah ada kesempatan untuk bertemu Dhean dan Dinda karena ini kali pertama Kana memilik kesempatan berlibur sekalian melakukan hobby berburu kepala musuh.


Masih berdiri dalam posisi yang sama Jammer dan Dinda berada. Dinda perlahan mendongakkan kepalanya, memandang langsung mata adik angkatnya yang seakan mengatakan ' Aku baik-baik saja kak '. Segera Dinda mengambil kesempatan untuk dirinya, karena mungkin kepastian atas perasaannya masih lama diputuskan, Dinda mencium kedua pipi Jammer singkat.


" Sayang udah aku gak papa. Mau jalan sekarang apa peluk lagi. hehehe " goda Dinda terkekeh.


" Hahaha. Kamu yang kesenangan dong peluk mulu. " balas Jammer menggoda.


" Kamu tau aja. Dasar adek nakal godain kakaknya " jawab Dinda mencubit perut Jammer.


" Aduh sakit. " keluh Jammer kesakitan.


" Kita disini aja, kita nikmati pemandangan lautan luas. " ucap Jammer, sambil membalikkan badan Dinda menghadap lautan. Dia memeluk Dinda dari belakang dan meletakkan dagunya di pundak Dinda.


" Kak. Mulai hari ini kita pacaran yuk kak Dinda. Kak Dinda gantiin posisi kak Dhean. Aku rasa kakak yang bisa kontrol emosiku. " bisik Jammer.


" Tapi aku takut papa dan mama kecewa baru beberapa Minggu udah berubah lagi keputusan kamu. Terus Dhean gimana? " ucap Dinda.


" Nanti kita usahakan agar gak ada masalah yang terjadi di keluarga kita. " jawab Jammer.


" Ya udah. Kita pacaran. " Dinda mengangguk, tersenyum senang, namun masih bercampur bingung dan takut akan terjadi suatu hal yang tidak diinginkan.


Fiux terus memalingkan pandangannya tak perduli. Meski beberapa teman-temannya mengompori berbagai macam kata-kata untuk membuat Fiux melihat adegan yang cukup jauh didengar suaranya, namun masih dekat untuk dilihat jelas kemesraan di antara Jammer dan Dinda. Sesekali Fiux mengajak teman-temannya mengabaikan Jammer.


Sore semakin menunjukkan kesenjaannya, langit mulai menunjukkan gurat-gurat jingga dan mentari sedang merangkak menuju peraduannya, Fiux dan teman-temannya sudah lama pergi meninggalkan Jammer dan gerombolannya. Ari, Dhean dan Kana menemani Jammer yang masih bersama dengan Dinda diperlukannya, saat ini mereka berlima duduk bersama memandangi matahari yang akan tenggelam. Jammer dan Dinda belum berkata sepatah katapun tentang kejadian tadi, dan ketiga orang yang disisi mereka juga enggan menanyakan hal tersebut.


Setelah malam telah sampai menghitamkan langit, Jammer mengajak semua makan malam bersama. Ari juga sengaja tidak ikut pulang bersama gerombolan tadi, lagi pula saat nanti pulang Jammer akan melewati rumahnya.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Semoga disenyumkan di setiap waktu dan aktivitas kita ya reader. Semangat pagi, salam dari saya pengrajin kata. Imaduddin Jammer.


__ADS_2