Menikahi Kakak Angkat

Menikahi Kakak Angkat
Dibalik Semua Lagu.


__ADS_3

Setelah melakukan pemeriksaan Jammer, pulang ke rumahnya. Sepanjang perjalanan emosional dan pikirannya tak terkontrol, beribu gerutu menyertai lamunannya pada kursi belakang sedan kesayangannya yang dikemudikan Rendy.


"Selalu saja tak cukup kah?" gerutunya.


"Maaf tuan Jammer, ada apa?" tanya Gerry heran.


"Dia seorang pelukis hati. Pelukis dengan goresan lara. Belati kata yang tajam." gerutu Jammer tak memperdulikan Gerry.


"Gerry, Gerry, oh Gerry. Kamu jangan ganggu tuan muda saat ini. Nanti jadi korban mau?" nasihat Rendy yang sudah paham bagaimana tuannya itu.


"Oh maaf tuan." ucap Gerry mulai mengerti.


"Gerry, kau punya kekasih kan?" tanya Jammer.


"Iya tuan." jawab Gerry.


"Pertahankan dan segera nikahi!" perintah Jammer.


"Baik tuan. Besok akan saya kenalkan kepada tuan, kemudian kami akan melakukan lamaran." ucap Gerry sedikit takut.


"Bagus." balas Jammer singkat.


"Maaf tuan Jammer, apa sebaiknya kita ke kantornya nona Dinda dan Dhean?" ucap Rendy ketika tau ada kesempatan untuk menyela kegalauan Jammer.


"Pulang ke rumah saja, nanti kalian pulang dengan taksi!" jawab Rendy.


Rendy dan Gerry kemudian hanya diam membiarkan Jammer dalam perasaanya sendiri. Mereka hanya sesekali saling melirik dan berbisik-bisik, membicarakan hal-hal di sekeliling mobil yang mereka lewati. Tanpa terasa kini mobil telah memasuki halaman rumah Jammer, Rendy memarkirkan mobil tepat di depan rumah, kebetulan juga pak Samad sedang berada di rumah, duduk di kursi halaman depan dengan sebuah buku di meja dan sebuah pena ditangan kanannya.


"Tuan muda." panggil Rendy menyadarkan Jammer yang masih larut di ambang hayal.


"Ah iya, ayo keluar. Kalian kalau mau masuk dulu, kalau pulang ya pamit ke bapakku dulu!" ucap Jammer ketika sadar.


"Baik tuan muda." ucap Gerry.


Mereka bertiga pun keluar bersamaan, kemudian bersalaman dengan pak Samad. Jammer yang terlihat lelah kemudian langsung masuk ke dalam, tanpa mengatakan apapun hanya menoleh sebentar sambil melambaikan tangannya mengisyaratkan untuk dirinya pamit masuk.


"Ren, itu dia kenapa?" tanya pak Samad.


"Saya kurang tau pak. Seharian tadi kan sibuk di tempat kerja, mungkin capek. Tapi saya salut dengan tuan muda." jawab Rendy.


"Kenapa salut?" tanya pak Samad heran dan mengerutkan keningnya.


"Karena diusia ini, tuan muda bisa menjalankan tugas dari tuan besar Samuel dengan baik. Bahkan banyak sekali pembaharuan dari tuan muda yang membuat perusahaan lebih baik." ucap Rendy penuh keyakinan dengan kata-katanya.


"Jangan berlebihan Ren. Pak Samuel jauh lebih hebat, dan pasti dia membantu sehingga Duddin bisa menjalani tugasnya." ucap pak Samad.


"Tidak pak, tuan besar Samuel tidak melakukan apa-apa, semua atas kerja keras tuan muda, mungkin banyak hal yang tuan muda lakukan dan pelajari sebelum menerima tugas ini sehingga tidak mengecewakan." ucap Rendy.


"Ah masak sih?" ucap pak Samad meragukan.


"Baiklah pak, ini kami harus kembali ke pekerjaan. Kami permisi dulu." pamit Rendy.


"Iya, Terima kasih ya sudah mengantarkan Duddin." ucap pak Samad.


"Iya pak, kami permisi." ucap Gerry.


Mereka berdua pun pergi meninggalkan kunci mobil di atas meja. Samad yang melihatnya berusaha untuk menahan Rendy supaya tidak meninggalkan mobil itu, namun Rendy hanya berlalu pergi. Pak Samad pun masuk untuk memberikan kunci mobil itu ke Jammer.


"Din, kamu mau kemana lagi?" tanya Samad melihat anak laki-lakinya itu akan pergi.


"Mau jalan-jalan sama Dinda dan Dhean." jawab Jammer.


"Pakai jaketnya kalau pulang!" ucap pak Samad menginginkan.


"Iya pak. Salaman dulu aku pamit pergi." ucap Jammer menyalami tangan bapaknya itu.


"Ibu mana ya?" imbuhnya.


"Belum pulang, ada makan-makan katanya." jawab pak Samad.


"Ya sudah pak, aku pergi dulu." ucap Jammer.


Jammer mengendari mobil dengan satu tujuan yang lain dari perkataannya saat pamit. Mobil mengarah ke Jl. Anggrek dengan kecepatan tinggi, tatapannya hanya tertuju pada keramaian jalan yang ia tembus. Serta telinganya tertempel earphone yang terhubung dengan ponselnya yang tengah menghubungi seseorang.


"Halo, apa ada sesuatu tuan muda?" sapa orang dari sebrang telepon.


"Carikan aku informasi, dimana posisi dia, Don!" jawab Jammer, memberikan perintah kepada Donny.

__ADS_1


"Baik tuan, saya WA sekarang." balas Donny.


Jammer tak menjawab, hanya mematikan segera. Ketika ponselnya berdering karena WA dari Donny, ia pun membukanya dengan satu tangan, dan menyunting map ke alamat yang di kirim. Seperti sebelumnya ia mengendarai mobilnya itu seperti mengejar musuh yang kabur dari penawanan. Tak butuh waktu lama ia telah memarkirkan mobil di seberang jalan sebuah kafe. Dari tempatnya berada seorang gadis sedang bercanda berdua dengan lelaki, tampak lepas tawa gadis itu.


"Ahhrrrgggghhhh... Kenapa dia Tuhan, kenapa aku yang harus sehancur ini." keluh Jammer memukul-mukul setir yang tak bersalah.


"Tuhan, sampai kapan?" ucapnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dari kantor Dhean mengendarai mobil sebisa mungkin untuk berhati-hati dalam tekanan kembarannya, Dinda menerima share location dari Donny, ditambah tulisan yang membuatnya menjadi gelisah.


"Tuan muda sedang dalam perjalanan ke Fiux, saya khawatir nona. Tolong susul segera." isi WA dari Donny.


Tanpa menjawab itu, Dinda langsung mengajak Dhean untuk menyusul Jammer segera.


"Dhe, cepat dong ah." keluh Dinda.


"Sabar ini juga buru-buru." jawab Dhean.


"Hiks... hiks... hiks... Aku khawatir Dhe." ucap Dinda dengan tangis isakannya.


Tanpa menjawab Dhean terus saja menjalankan mobilnya melewati keramaian, hanya sesekali ia menoleh keadaan Dinda.


...****************...


Setelah 30 menit kemudian mobil sudah berada dibelakang mobil Jammer. Dinda langsung keluar dan segera berlari ke arah Jammer berada, ia menutupi kaca dimana Jammer menatap Fiux dengan tubuhnya. Jammer pun membuka kaca untuk bicara dengan Dinda.


"Sayang kamu kok tau aku ada disini?" tanya Jammer yang sekedar klise, sebelumnya dia sudah menduga ini akan terjadi.


"Keluar. Hiks... hiks... keluar!" sentak Dinda dengan masih terisak-isak.


"Kita cari tempat lain saja." tolak Jammer.


"Argh keluar." sentak Dinda lagi kali ini ia membuka paksa pintu mobil Jammer.


"Iya udah, sini, aku minta maaf." ucap Jammer sambil keluar menuruti Dinda.


"Kenapa... hiks.. hiks... kamu begini?" tanya Dinda dalam tangis yang kian menjadi.


"Maaf, aku belum bisa menghilangkan dia." ucap Jammer sambil memegang kedua bahu Dinda dengan lembutnya.


"Ayo masuk sayang." ajak Jammer.


"Aku mau sama Dhean." tolak Dinda.


"Baiklah kalau begitu." Jammer hanya mematuhinya.


Jammer pun hanya menurut ia mengantar Dinda ke mobil Dhean karena itu yang Dinda mau, sedang ia kembali ke mobilnya dan pergi duluan ke rumah Samuel.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dari dalam kafe, Fiux tertegun sejenak ketika melihat Dinda marah-marah di samping sebuah mobil, ia menduga orang yang ada di dalam mobil itu adalah Jammer.


"Eh itu pacarnya Jammer loh." batin Fiux.


"Kamu kenapa?" tanya laki-laki didepannya.


"Eh gak kok. Itu temanku lagi marahan sama pacarnya." jawab Fiux.


"Gimana kok bisa sih?" tanya laki-laki itu lagi.


"Nanti kalau sudah masuk sekolah aku tanya deh, sekarang biarkan saja." jawab Fiux.


Mereka mengobrol lagi hal-hal lain, namun setelah mengetahui bahwa mobil yang dari tadi ada di sebrang jalan adalah mobil Jammer, pikirannya tak fokus lagi, meski wajahnya dapat berpura-pura dan mengimbangi pembicaraan tadi matanya sering melirik ke arah dua insan yang sedang berseteru itu. Ketika ia lihat mobil Jammer telah pergi diikuti mobil Dinda, ia pun mengajak pasangannya itu untuk pergi. Mobil mengarah ke mall, ia memberi alasan untuk membeli beberapa perlengkapan sekolah, tapi sebenarnya ia hanya ingin menahan pikirannya yang mulai liar.


...****************...


Ketika diperjalanan, pikiran liar Fiux malah semakin tak teratasi.


"Tadi kalau dia lama di sana, artinya dia memperhatikan aku dari tadi juga dong." batin Fiux.


"Kamu mau beli apa aja?" tanya laki-laki itu.


"Fiux, kok diam aja?" tanyanya lagi karena tak ada jawaban.


"Eh, kenapa?" ganti Fiux menanyakan kata-kata laki-laki itu yang tak ia sadari.

__ADS_1


"Kamu kenapa?" tanya laki-laki itu.


"Mikirin peralatan yang mau aku beli." jawab Fiux.


"Oh kalau gitu dipikirkan dulu." ucap laki-laki itu.


Mereka pun setelahnya tanpa ada pembicaraan sampai mall dan berbelanja. Laki-laki itu sadar dari semenjak pembicaraan di mobil sikap Fiux agak berubah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam telah tiba, dimeja makan rumah Sam semua anggota keluarga sedang menyantap makanan malam bersama. Sejak Jammer dan Twins D datang belum ada satupun obrolan yang mereka lakukan, mereka bertiga datang dan langsung mandi setelah itu duduk di meja makan. Senyap dan sepi kondisi meja makan, tak lebih hanya suara piring yang beradu dengan sendok serta garpu yang meramaikan makan malam itu.


"Papa, mereka lagi marah-marahan kan, papa merasakan gak?" bisik Amel pada Sam.


"Entahlah ma, papa baru merasa setelah mama tanya ke papa. Mungkin sih mereka marahan, terus bagaimana kalau benar?" jawab Sam dengan berbisik pula.


"Ehm. Papa dan mama mau ke bioskop, kalian bertiga mau ikut dengan kita?" tanya Sam untuk mendapatkan suasana.


"Mungkin tidak pa." sahut Jammer.


"Ikut!" bentak Dinda melototi Jammer.


"Eh kok pakai melotot sih." sahut Amel.


"Marah ma." ucap Dhean.


"Jangan marah-marah lah." nasihat Sam.


"Itu yang salah Mama." ucap Dinda menunjuk Jammer dengan telunjuknya.


"Memang dia melakukan apa?" tanya Amel.


"Seperti biasa, memandang dia dari jauh. Tapi Donny beri tahu aku lokasinya. Katanya Donny khawatir, Jammer menyetir kemungkinan buru-buru dan ugal-ugalan." ucap Dinda semangat menjelaskan.


"Bukan begitu." sangkal Jammer.


"Apa yang bukan begitu itu? Bukan salahmu begitu yang kamu maksud? Apa maksudmu itu hanya kebetulan? Apa kamu mau menyangkalnya?" cecar Dinda.


"Benar aku tidak menyangkal bahwa mencari dia, tapi semua karena aku ingin merasakan sakitnya hati yang seperti dulu, supaya besok muncul emosiku saat bernyanyi." jawab Jammer setelah dicecar pertanyaan.


"Kenapa kamu tidak mengajakku?" tanya Dinda.


"Supaya kamu tidak menangis. Tapi malah diberi tahu Donny." jawab Jammer.


"Ah entahlah terserah kamu." ucap kesal Dinda.


"Sudah selesai masalah kalian?" tanya Sam.


"Belum pa." ucap Dhean.


"Belum kenapa lagi? Ada lagi kesalahannya?" tanya Amel.


"Aku belum minta maaf ma." jawab Jammer mengerti.


"Oh begitu. Kalian itu lucu ya." ucap Amel paham.


"Baiklah aku minta maaf ya, aku salah tidak mengajakmu. Besok temani aku rekaman kalau sudah tidak marah." ucap Jammer tulus.


"Tidak besok aku mau meeting." Tolak Dinda.


Semua tau didalam hati Dinda sudah tidak marah, dan pernyataan itu hanya sebuah ungkapan kosong belaka. Setelahnya semua pergi untuk mengerjakan pekerjaannya masing-masing, Dhean dan Dinda ada pekerjaan yang harus di urus di kamar mereka, sedang Jammer pulang ke rumahnya, serta Samuel dan Amel harus pergi ke suatu tempat.


.


.


.


.


* Readers, tunggu apa yang akan terjadi esok harinya ya! Ini perintah kwkwkw. Supaya readers tidak penasaran dengan Dinda.


.


.


.

__ADS_1


.



__ADS_2