
Pagi-pagi Jammer sudah berangkat sebelum matahari terbit, hari ini ada rapat dengan dewan pemegang saham perusahaan. Laju mobilnya tak beraturan terhalang kendaraan lain yang tak seperti biasanya ramai-ramai memenuhi jalanan, memang perjalannya juga tetap lebih cepat dengan mobil sport kesayangannya itu, namun bila dibandingkan dengan saat jalan lenggang tetap saja berbeda.
"Kenapa kok ramai sekali ya?" gumam Jammer.
Dreettt dreettt dreettt. Ponsel Jammer bergetar.
Sebuah pesan masuk ke ponsel Jammer, tapi ia tak menghiraukan karena jalan yang padat memaksanya untuk tetap menjaga konsentrasi dan menjaga kecepatan mobilnya, baru setelah memasuki kompleks perkantoran perusahaannya ia buka isi pesan itu.
"Tuan muda wanita yang menyerang waktu rekaman itu sudah saya ketahui berasal dari kelompok mana." pesan dari Gerry.
"Dari mana?" tanya Jammer.
"Pecahan dari Boeggem tuan." jawab Gerry.
"Wow terkejut aku, tapi sudahlah kau urus dia!" balas Jammer.
"Baik tuan." balas Gerry.
Sebenarnya Jammer sudah menduga jika bukan kelompok selain kelompok-kelompok yang pernah berseteru dengan BC, hanya saja ia tak bisa memastikan siapa yang menjadi dalang penyerangan itu sebelum ada penyelidikan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Berpindah ke tempat Gerry berada, di rumahnya ia sedang duduk menyeruput teh seduh tradisional China. Sudah hampir tiga bulan ia tak buru-buru untuk mengawal Jammer setiap pagi tiba, kini tinggal beberapa Minggu lagi sebelum Jammer kembali ke sekolah ia dapat bersantai setiap pagi, baginya ini adalah liburan yang panjang.
"Eehhmm. Enak banget." ucapnya setelah menelan tegukan pertama.
Ia raih kembali ponselnya yang telah diletakkan setelah mengabari Jammer tadi. Dia mencari nomor Donny kemudian mengirim pesan kepdanya.
"Donny, kamu selidiki paman pacarku. Nanti aku kirim informasinya, dia punya tatto yang sama dengan wanita yang menyerang tuan muda, aku tidak mau kecolongan!" isi pesan Gerry.
"Siap. Kamu tenang saja." balas Donny sesaat kemudian.
Gerry menyeruput lagi minumannya, sambil mengirimkan informasi yang diperlukan Donny yang ia ketahui. Dia juga membuka chatting room di nomor Biyan hanya saja ia urungkan karena itu belum cukup serius untuk dilimpahkan ke Biyan.
"Kenapa ada pecahan di Boeggem ya?" gumam Gerry heran.
"Dan aku baru tahu ada kelompok lain dibawah Boeggem." gumamnya lagi.
Ia kemudian bersantai sejenak untuk beberapa saat, sebelum bersiap pergi ke kantor untuk mengontrol kinerja karyawan yang bekerja di kantor, dan melihat daftar kinerja di lapangan tercatat baik atau buruk. Untung bagi dia karena pekerjaannya di kelola CEO di kantor sementara dia berjaga-jaga di sekitar Jammer.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Waktu telah berjalan kini telah sampai pada waktu makan siang. Jammer memojokkan dokumen-dokumen di hadapannya, banyak permasalahan belakang ini, terutama beberapa proyek tersendat oleh perubahan harga bahan baku yang masif ditambah dengan mogoknya beberapa tenaga kerja yang belum diketahui secara pasti penyebabnya. Jammer meninggalkan meja kerjanya dengan wajah letih dan penuh pikiran, beberapa kali iya memijat keningnya sambil berjalan keluar untuk makan siang.
__ADS_1
"Lenka, ajak Rendy makan siang. Aku tunggu di lift, cepat ya!" suruh Jammer ketika melewati meja kerja Galenka.
"Baik pak bos." jawab Galenka kemudian beranjak.
Jammer kemudian menunggu sebentar di depan lift, dan tak begitu lama Rendy datang dengan Galenka di sisinya.
"Maaf tuan, saya baru saja selesai mengecek beberapa file." ucap Rendy tapi tidak dihiraukan oleh Jammer.
Mereka hanya diam menunggu lift terbuka, di bagian lift ini memang tidak mungkin ada pekerja yang menaikinya namun jika lama artinya ada bagian dari stage holder yang menggunakannya.
"Wah siapa ini lama sekali!" keluh Jammer.
"Mungkin pemegang saham tadi masih ada yang perlu dilakukan di bawah." sahut Galenka dengan polosnya.
"Ssshhhttt. Jangan asal bicara." bisik Rendy menyenggol lengan Lenka.
Tiiing. Suara lift terbuka.
"Siang sayang." sapa Dinda sumringah.
"Kamu kenapa kesini?" tanya Jammer.
"Aku kan ada proyek pembangunan mall di Jogja, nah hari ini Silvi minta data keuangannya, ya sekalian aku ke ruanganmu lah, mau ngajak makan siang." jawab Dinda penuh semangat.
"Tapi aku ingin berduaan, boleh?" pinta Dinda mengacungkan dua jarinya.
"Gak, aku sedang pusing. Nanti malam saja makan berduaannya." tolak Jammer.
"Yahh kok gak mau." keluh Dinda.
"Tuan tidak apa-apa tuan, nanti kita berdua bisa makan di tempat lain." Sahut Galenka, membuat Rendy melotot tercengang.
"Sudah, aku tahu kalau sedang begini. Dia tidak mau banyak omong, jadi double date saja ya." ujar Dinda mulai bergelayut di lengan Jammer.
"Iya, dari pada kamu nanti aku diamkan." ucap Jammer menyetujui.
Tak bisa ditolak lagi, akhirnya mereka makan berempat di kafe depan perusahaan Jammer. Dengan saling berhadapan dengan pasangannya, mereka memesan beberapa makanan kecil, minum, dan makan besar. Ada perbincangan hangat diluar hal pekerjaan yang mereka bahas, utamanya adalah kedekatan Rendy dan Galenka, yang tidak bisa disangkal keduanya.
"Kamu dan dia sudah resmi jadian?" tanya Dinda langsung tanpa halangan basa-basi.
"Wah saya sih apa adanya saja non Dinda." jawab Galenka.
"Kamu Ren?" desak Dinda karena Rendy terdiam saja.
__ADS_1
"Sama nona." jawab Rendy kemudian setelah beberapa saat terdiam.
"Wah ternyata tidak satu pun yang menolak." ucap Dinda menggoda.
"Rendy setahun lagi ya!" sahut Jammer tersenyum namun seakan mengancam.
"Iya tuan, saya usahakan." jawab Rendy menelan ludahnya.
Hal itu membuat Galenka heran, sedang Dinda tersenyum cengengesan.
...****************...
Setelah mereka mengobrol dan selesai makan, masing-masing kembali pada kesibukannya, namun Dinda tak ingin pulang malah ia duduk di hadapan Jammer membantu memeriksa dokumen-dokumen yang ada di meja kerja Jammer, sesekali juga Dinda memerhatikan kondisi orang dihadapannya itu, tampak lelah dan pusing penuh pikiran.
"Sayang ini di Jogja dan Salatiga bisa kita tekan harganya. Coba kamu lihat, ini bahan bakunya jika kita satukan ke harga terendah yang diberi distributor kita bisa kurangi kerugian, sekitar 20% dari kerugian awal." ujar Dinda setelah melihat laporannya dibandingkan dengan proyek di gedung perkantoran Salatiga.
"Tandai saja, kemudian tulis analisa kamu di kertas ini." jawab Jammer menyerahkan kertas.
"Tunggu." pekik Dinda.
"Kenapa?" tanya Jammer.
"Harus ada hadiahnya kalau aku bantuin." ucap manja Dinda.
"Lah nanti malam itu hadiah kamu. Kita makan malam, tempatnya kamu yang pilih." kata Jammer dengan tetap fokus menganalisis dokumen di tangannya.
"Hadiahnya ditambah dong, kurang kalau cuma itu." pinta Dinda.
"Hhmm. Terserah." Jammer kemudian mengisyaratkan untuk fokus lagi.
Berjam-jam mereka memeriksa dan menganalisis kemungkinan yang ada supaya kerugian yang ditimbulkan dari perubahan harga yang terus meningkat dapat di minimalisir, syukur-syukur bisa mempertahankan laba yang ditargetkan. Hingga jam pulang kantor tiba belum juga selesai pekerjaan mereka berdua, di meja sofa sudah berjejer gelas plastik tempat es kopi yang mereka pesan untuk mengatasi pikiran yang terforsir oleh dokumen-dokumen itu.
"Beb, ayo pulang, lanjutin besok aja." ucap Jammer.
"Wah iya, tapi panggil lagi dong beb." ucap Dinda kesenangan.
"Ayo pulang beb." ulang Jammer. Membuat Dinda cengengesan mengikuti langkah kakinya untuk pulang.
"Aku kan gak bawa mobil jadi kita langsung saja ya ke tempat makan malamnya?" pinta Dinda ketika Jammer baru saja membuka pintu.
"Pulang, mandi, dandan, baru setelah itu kita jalan!" tolak Jammer.
Galenka melihat dan mendengar itu spontan melirik mereka berdua. Kemudian itu dilihat oleh Dinda, ia masih belum bisa melepaskan rasa waspada kepada Galenka yang ia ketahui pasti dari informasi yang dia terima Galenka pernah menyukai Jammer, namun dia menahan untuk tidak melakukan hal yang salah.
__ADS_1