
Pagi ini Fiux berangkat naik motor dengan kecepatan tinggi karena jam menunjukkan pukul 7 pagi. Dibelakangnya Jammer juga dalam kondisi terlambat sama terlambatnya.
" Motor gua kok gak responsif sih? " batin Jammer.
" Ahh kok bareng lagi sih. Sial? " batin Fiux
Motor mereka berkejaran dengan kendaraan lain. Sampai di gerbang, Fiux harus mendorong motor ke parkiran karena gerbang sudah ditutup jadi siapapun yang terlambat harus mendorong motor masuk parkiran, sementara kuncinya diambil guru BK. Sedangkan Jammer yang parkir diluar harus berjalan jongkok dari gerbang ke lapangan depan ruang BK, beberapa guru terkejut Jammer terlambat karena jarang sekali.
" Ehh kamu kok tumben banget telat " ucap Bu Ratih
" Ehh iya kamu kenapa hari ini telat? " tanya pak Andik
" Salah lihat jam pak " jawab Jammer jelas.
Hari ini hukumannya adalah membersihkan sampah lapangan, sebagai harapan efek jerah atas keterlambatan muridnya.
Setelah hukuman itu anak-anak yang terlambat dibarisan, mereka didata dan diberi surat masuk kelas dengan keterangan terlambat. Sesampainya dikelas Fiux disambut temannya, guru jam itu sedang ada urusan di kantor kepala sekolah jadi Fiux tidak harus menyerahkan surat ijin masuk kelas dari guru BK, dia langsung duduk di depan laptop hari ini dia jam praktek.
" Tadi disuruh ngapain lagi Ux? " tanya Yani
" Bersihin sampah lapangan " jawab Fiux
" Tadi masak Imaduddin dibelakang ku berangkatnya coba " ucap Fiux
" Terus gimana? " tanya Anggun penasaran mendengar ucapan Fiux. Dia yang duduknya didepan bangku Fiux.
" Ya telat bareng lah " jawab Fiux.
" Dihukum bareng? " tanya Yani.
" Ya rame-rame " Jawab Fiux.
Fiux dan Jammer menjalankan sekolah hari dengan kegiatannya masing-masing, hari ini tak begitu berat bagi keduanya, beberapa guru sedang ada urusan diluar kelas. Bagi Jammer hari ini begitu tenang karena gusarnya terobati oleh sebuah tawa dari seorang gadis yang masih dalam hatinya. Sampai di waktu pulang senyum di bibir Jammer masih terlihat, hari ini dia pulang ke rumah Sam dulu, nanti malam dia akan pulang ke rumah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di rumah Sam, sedang ramai, beberapa anak buah yang meminta keluar karena sudah merasa tua, mereka berkunjung untuk melepas rindu dan berbincang tentang berbagai hal, sebagian mereka mendengar kalo Sam Amel turun tangan saat pemusnahan kelompok J Blade Knife. Amel yang tak mau ikut pembicaraan lebih memilih duduk di lantai dua mengobrol dengan para istri tentang anak-anak mereka, shopping, traveling, dan suami mereka.
" Haduh rame bener Dhe " ucap Dinda saat sampai didepan rumah.
" Ahh ya gimana lagi kak. Maklum lah mereka kan terlalu setia sama papah. " ucap Dhean.
" Telpon adik Dhe! " suruh Dinda.
" Kangen kamu? " ledek Dhean.
" Apa jemput aja yok, tapi bawa orang buat motornya " tanyanya.
" Ehh gak kangen yang gitu, wajar kan kangen sama adek sendiri. Ya walaupun baru kemaren lusa ketemu di markas sih " ucap Dinda.
" Loh kok kangen yang gitu kayak apa emang? Aku kan juga mikir kamu kangen sebagai kakak. Waduh tukeran aja gimana? " ledek Dhean lagi
" Aduh gak gitu.. Ahh gak tau ahh, gak usah jemput, aku mau masuk aja lah... " ucap Dinda salah tingkah. Berlalu pergi ke dalam.
" Din, Dinda kok ngambek Din " ucap Dhean berlari mengejarnya.
Tapi Dhean berhenti saat mendengar suara motor yang dia kenali.
" Ada apa kak? " tanya Jammer yang baru saja datang.
" Ehh anu dek. Kamu ikut kakak, tadi Dinda ngambek sama kakak. Tolong dong kamu bujukin. " pinta Dhean.
" Ya ayo lah kak. Pasti karena kak Dhean ngeledekin kak Dinda kan? " sindir Jammer.
Jammer menggandeng tangan Dinda berjalan masuk ke rumah. Dia tau hari ini demisioner anak buahnya sedang reuni di rumah papahnya, jadi dia harus menyapa dulu semua anak buahnya yang telah purna itu.
" Selamat sore pah, selamat sore semuanya. " salam Jammer sedikit menundukkan tubuhnya tanda hormat.
" sore tuan muda " ucap semua yang ada kecuali Sam yang diam hanya mengangguk saja.
" pah kak Dinda ke atas apa ke halaman belanga g pah? " tanya Jammer.
" Keatas, nanti kau ikut mengobrol lah. Mungkin mereka semua ingin mendengar suaramu lagi " jawab Sam.
" Baiklah pah. Nanti ya pah, kasihan kak Dhean. Tadi kak Dinda marah diledekin kak Dhean. Aku mau bantuin kakak-kakak ku berbaikan dulu " jawab Jammer kemudian berlalu pergi.
" Hai mah " Jammer hanya melambaikan tangan saat melihat mamahnya sedang ngobrol dengan para istri.
" Hai sayang " balas mamahnya.
Tok tok tok. Jammer mengetuk pintu kamar kakaknya.
" Masuklah Dhe aku gak marah " ucap Jammer
__ADS_1
Ceklek . Pintu dibuka Dhean dan mereka berdua masuk menghampiri Dinda.
" Beneran loh kak. Jangan marah loh, kalo masih marah bilang ya ngambeknya dipuasin terus jangan lama-lama loh " ucap Jammer.
" Ehh kamu Kok udah sampai sayang " sambut Dinda.
" Ya udah kok gak marah. Tadi sih masih, abis diledekin tuh sama dia. " manja Dinda mengadu dan menunjuk Dhean dengan lirikan mata yang mengarah ke Dhean.
" Ya maafin ya kak, aku mewakili kak Dhean minta maaf, walaupun kak Dhean juga bakal minta maaf tapi kan kalo belum aku yang dateng mana mungkin kak Dinda maafin. " sindir Jammer pada Dinda.
" Ahh enggak kok. Aku tetap maafin walaupun kamu gak datang juga kok " sangkal Dinda.
" Ahh aku ledekin marah, giliran dia yang nyindir malah kesenangan. Dasar udah suka. " batin Dhean senyum-senyum sendiri.
" Udah nih kak Dhean. Sekarang aku mau ngobrol sama yang lain. Kalo marah lagi bawa kebawah aja tarik ya kak hahaha " suruh Jammer. Berdiri dan ingin melangkah ke bawah.
" Ehh tunggu, ngapain ke bawah? " ucap Dinda menahan tangan Jammer.
" Mau ngobrol sama bapak-bapak lah kak. Mereka kan juga pernah jadi anak buahku. " jawab Jammer.
" Ehhm sini aja dek ngobrol bertiga. Emang gak bosen ntar ngobrol sama mereka? tanya Dinda.
" Gini kak, mereka kan udah berjasa sama papah, kita anaknya walaupun gak lama harus menemui mereka. " jawab Jammer.
" Iya juga sih Din, mending kita keluar ikut duduk sama mamah ntar kita bertiga taman kebelakang, ya ngobrol sebentar gitu. " ucap Dhean membenarkan Jammer.
" Tapi kan... Ya udah deh ayo, ntar ketemu di halaman belakang. " ucap Dinda ragu.
" Setengah jam ya ngobrolnya. " pinta Jammer.
" Lama bener dek " tolak Dhean.
" Ya enggak lah, kalo ngobrol pasti ntar kerasa cepat kok " bujuk Jammer.
" Iya ok " jawab kedua kakaknya.
Mereka keluar kamar dan mengobrol dengan orang-orang itu. Tepat setengah jam, Dinda mengajak Dhean turun ke halaman belakang, saat melewati sofa tempat bapak-bapak ngobrol dia gak cukup mengajak atau memberi kode agar Jammer ikut ke halaman belakang, tapi langsung ditarik dan ijin ke papahnya ngajak Jammer ke halaman belakang. Saat sampai dibelakang ada beberapa anak dari anak buah papahnya yang ikut ke rumah, beberapa adalah anak buahnya saat ini, juga ada dua teman sekolahnya.
" Ehh Jammer kok disini? " tanya Galuh.
" Ehh ternyata Jammer, kamu ngapain disini? " tanya juga Instan.
" Main aja sih. " jawab Jammer.
" Hai saya Galuh dan ini Intan " perkenalan Galuh dengan mengajukan tangan untuk bersalaman diikuti Intan juga.
" Selamat sore tuan muda Jammer " para anak buahnya yang ikut datang menghampiri untuk memberi salam.
" Selamat sore. Kembalilah mengobrol, aku ingin ke gazebo kalo mau ikut ngobrol dengan ku, kalian bergantian atur sendiri pembagiannya. " ucap Jammer.
" Tidak tuan, kami tidak ingin mengganggu tuan dengan nona Dinda dan nona Dhean. " jawab anak buahnya serentak.
" Gerry dan Kevan datang atau tidak? " tanya Dinda.
" Datang nona, mereka sedang di gazebo nona. " jawab salah satunya.
" Terimakasih, kalian boleh lanjutkan mengobrol. " suruh Dhean.
" Kita pergi dulu ya Galuh dan Intan. " pamit Dinda.
Mereka bertiga menuju gazebo yang hanya satu-satunya, dimana ada Gerry dan Kevan. Sedangkan Galuh dan Intan memerhatikan Jammer dengan heran, mereka pernah melihat Jammer bersama dengan si kembar tapi tidak tahu apa hubungannya. Mereka melihat kedua wanita itu terus menggandeng Jammer, dan lagi mereka menyandarkan kepala pada Jammer.
" Ternyata mereka anak pak Samuel " batin Galuh.
" Besok tanya ke Jammer Luh, biar gak penasaran! " saran Intan.
" Iya, sekaligus beritahu Fiux kalo sudah tahu apa hubungan mereka semua. " jawaban Galuh di pahami Intan.
" Luh bapak kita kan satpam kantor ya, kenapa bisa dekat dengan pak Samuel ya? " tanya Intan heran.
" Iya kok bisa ya? " heran Galuh juga.
" Kata bapak sih pak Samuel itu baik hati jadi gak memandang derajat orang gitu. " Ucap Donny.
" Oh gitu toh mas, emang bapak mas siapa? " tanya Galuh.
" Syahroni Alamsyah. " jawab Donny.
" Oh, belum pernah kenal hehe " ucap Galuh.
" Kenalkan aku Donny, anak buah tuan Jammer. " perkenalan Donny.
" Galuh " balas Galuh mengulurkan tangannya.
__ADS_1
" Aku Intan " balas Intan juga memperkenalkan diri.
" Kalian tau tuan Sam siapa? " tanya Donny.
" Bos perusahaan Sri Manunggal kan? " jawab Intan
" Oh kalian kenal sama tuan Jammer? " tanya Donny lagi.
" Iya. Dia teman kami di sekolah. " jawab Galuh.
" Ngomong-ngomong, Galuh kamu kesini sama siapa? " tanya Donny penasaran.
" Sama bapak ibu. " Jawab Galuh.
" Kalo ngobrol gini gak papa kan? " tanyanya sambil tersenyum.
" Gak papa santai aja dia gak punya cowok. " goda Intan spontan.
Kemudian mereka mengobrol sampai tiba waktu pulang, keluarga Galuh diantar pulang oleh Donny karena mereka tidak punya mobil jadi berangkat menggunakan taksi online. Sedangkan Intan diantar supir Sam. Dari rumah itu Galuh dan Intan memikirkan hal yang serupa.
" Kenapa Jammer ada di sana dan sebagai dari mereka memberi hormat pada Jammer? Apa dia adalah pacar dari salah satu kembaran tadi? " kurang lebih batin mereka menerka hal yang sama
Rumah yang sudah ditinggalkan tamu-tamu tadi kini mulai normal kembali. Sam mengajak anak-anak dan istrinya untuk mengobrol di ruang keluarga, ada sesuatu yang ingin dia bicarakan. Dia dan Amel sudah berunding untuk hal penting ini.
" Baik anak-anak papah dan mamah, hari ini kita akan membahas hal yang penting yang menentukan keluarga kedepannya. " ucap Sam membuka pembicaraan.
" Ada apa sih pah, mah? " tanya Dinda.
" Kenapa muka papah mamah kayak tegang ya? " batin Dhean
" Papah dan mamah sudah berunding untuk masa depan kalian dan keluarga kita. " jawab Sam atas pertanyaan Dinda.
" Tentang apa pah? " tanya Dinda lagi, seakan mewakili perasaan kedua adiknya.
" Anak-anak papah dan mamah, kita sudah berkumpul disini untuk membicarakan hal yang penting menyangkut kedepannya kelurga kita akan tetap menjalankan sandiwara atau mengakhiri sandiwara itu dan menutupnya rapat-rapat. Untuk itu papah dan mamah sudah berunding untuk mengakhiri sandiwara itu kita akan mengubah sandiwara menjadi perjodohan yang sebenarnya, mengingat Jammer juga dalam keadaan patah hati atas seorang gadis dan ada kakaknya yang menaruh hati, serta untuk mengesahkan secara penuh menjadi anak papah dan mamah. Maka kami memutuskan untuk menjodohkan Jammer dengan Dinda. Untuk itu kita disini membahas apa ketiga anak papah dan mamah setuju atau menolaknya? " penjelasan Sam.
" Apa pah, kalian mau aku dan Jammer menikah? " karena kaget Dinda pun bertanya dengan nada keras.
" Iya kalo kalian setuju dengan keputusan kami berdua. " ucap Amel menegaskan.
" Bagaimana denganmu Dhean, apa kau bersedia jika Jammer jadi suami kakakmu? " tanya Amel.
" Sebenarnya aku juga ingin sandiwara ini diwujudkan saja, karena aku juga seperti Dinda sudah jatuh hati padanya. " Dhean pun meneteskan air matanya.
" Dhe, maafin aku Dhe. Aku gak akan merusak kebahagiaanmu, kamu yang selama ini berperan menjadi kekasih adek, jadi kau juga punya hak untuk menolak keputusan ini. Biar aku yang mengalah untukmu. " ucap Dinda meneteskan air matanya. Dia berdiri dari sofa sebelah Jammer berpindah ke samping Dhean.
" Aku belum bisa memastikan ini benar-benar seperti perasaanmu atau aku sayang sebagai saudaranya, tapi aku minta untuk beberapa waktu ini jangan akhiri sandiwara ini dulu. Biarkan aku mengetahui perasaanku yang sesungguhnya. "
" Bagaimana pendapatmu Jammer. Kau laki-laki yang mereka cintai saat ini, dan selama ini kita semua baru tahu soal itu. Apa kau punya pendapat? " tanya Sam.
" Menurutku kita sementara melakukan sandiwara ini dulu karena resikonya lebih sedikit, sampai kita tau perasaan kak Dhean yang pasti seperti apa. Dan mungkin suatu hari kedua kakakku ini punya pacar dan melupakan perasaan padaku, aku tak ingin ada yang kecewa, bukan aku menolak jika ada yang mencintaiku, tapi aku rasa masih mencintai dia " penjelasan Jammer.
" Bagaimana Dinda apa kau bersedia dengan pendapat Jammer. " tanya Amel.
" Sebelumnya aku ingin melakukan yang diputuskan papah dan mamah. Tapi karena keadaannya begini aku mengikuti keputusan saja, lagi pula aku bersedia mengalah untuk Dhean. " jawab Dinda.
" Aku bersedia mengalah untuk Dhean. " tambahnya.
qa w
" Ya sudah kita tetap jalankan sandiwara ini. Sampai kelulusan Jammer. " tegas Sam.
" Iya pah. " balas Dinda dan Dhean menyetujui.
" Maaf pah mungkin lebih baik sampai dua tahun kedepan. Beri aku waktu untuk melupakan Fiux, meski aku rasa tak yakin. " pinta Jammer.
" Baiklah " ucap Sam mengiyakan.
Mereka kemudian makan malam, Jammer yang jarang sekali sholat meminta ijin untuk shalat magrib dan berdoa di kamarnya dia tidak ikut berkumpul setelah makan malam. Dinda juga memilih keluar menuju Gereja. Malam ini begitu sepi di keluarga ini, suasana seakan tak bersahabat pada seluruh anggota keluarga, pikiran mereka berputar pada hal yang serupa namun berada di prespektif yang berbeda-beda.
.
.
.
.
.
.
Selamat beribadah jika menjalankan, semoga disenyumkan di setiap langkah kaki dan waktunya.
__ADS_1
Mohon dukungan like, komentar, share, following, Dan Favoritnya. Silakan jika ingin menceritakan suatu hal bisa DM ke ig @imaduddin.jammer. Atau platform chat lainnya bisa PC author. Thanks for watching an reading.