Menikahi Kakak Angkat

Menikahi Kakak Angkat
Hari Terakhir Perusahaan.


__ADS_3

Setelah dua setengah bulan lamanya Jammer mengambil bagian di perusahaan secara langsung, dia sampai pada akhir masa magangnya. Ini adalah hari terakhirnya memimpin perusahan secara langsung, setelah ini Rendy akan kembali menjadi perpanjangan tangannya di perusahaan, sambil menunggu setahun lagi ia lulus dari sekolah. Untuk merayakan hari ini, perusahaan mengadakan makan-makan bersama dan meliburkan kerja karyawan selama tiga hari, yaitu mulai hari ini hingga 17 Agustus.


"Terima kasih, semua rekan kerja saya, selama dua bulan lebih saya disini tidak ada kendala yang begitu berarti, hanya permasalahan harga bahan baku yang harus saya serahkan ke CEO kalian. Rendy masalah harga yang tidak terkendali itu sekarang jadi tugasmu!..." sambutan Jammer di acara itu.


Panjang jika di tulis semua akan menghabiskan banyak kata-kata, singkat cerita setelah sambutan itu sebagian karyawan memilih pulang untuk mengerjakan tugas mereka di rumah atau luar, sebagian lagi masih berbincang di kantor, karena memang bebas dari tugas untuk tiga hari, biarpun kerugian yang tak sedikit juga meliburkan karyawannya tapi tidak apalah bagi Sam dan Jammer itu investasi kinerja. Jika karyawan di beri suatu penghargaan, maka beberapa bulan setelahnya kinerja mereka akan meningkat, itulah sebabnya mengapa libur tiga hari diberikan, menyiasati perubahan harga yang mendadak dan tidak bisa di hindari karena kontrak dengan supplier yang memang telah habis menjadikan perusahaan harus mengikuti pasar. Seusai acara Jammer, Sam, dan Rendy memilih mengobrolkan permasalah yang mendesak itu di ruangan Jammer, masing-masing di temani secangkir kopi sambil menunggu waktu makan siang yang masih lama.


"Wah pekerjaan yang harus di perbaiki lagi, manage supplier and price control kita harus di tata ulang, ini jauh sekali dari perkiraan." ucap Jammer kepada Sam dan Rendy di ruangannya.


"Lah papa sudah bilang kan, tahun ini bisa jadi banyak harga meroket." sahut Sam.


"Ya aku sudah bilang waktu awal masuk magang itu, perkirakan ulang mana-mana saja yang akan berakhir kontrak harganya, tapi ternyata bulan ini jauh dari perkiraan. Terlalu banyak naiknya papa." ucap Jammer.


"Maaf tuan Sam, kebetulan juga di bulan ini cukup banyak kontrak harga dari supplier yang akan berakhir, dan mereka mengaku harus mengajukan harga baru cukup tinggi karena harga pasarannya meroket, jadi beban perusahaan buka karena harganya yang relatif pesat di pasaran, tapi banyaknya kontrak yang meminta peningkatan harga terlalu tinggi. Kebanyakan takut harga ditangan mereka melampaui kontrak di tengah-tengah masa supplying." sahut Rendy menjelaskan.


"Ini berarti diluar perkiraan kalian dan Manajemen?" tanya Sam menegaskan.


"Iya pa. Aku sendiri juga bingung dari bagian Cost Controller gak bisa prediksi masalah ini dari awal, padahal dia juga sudah senior, dan junior dia beberapa dari universitas terkemuka di luar negeri." jawab Jammer.


"Buka catatan mereka, file department mereka bawa ke sini. Yang anak baru di sana ada berapa dan berapa lama?" ucap Sam memastikan dugaannya.


"Tuan, kalau dari Management Supplies And Cost Controller Department, mereka ada delapan dari lulusan beberapa negara, baru lulusan tahun lalu. Mulai kerja dari rentang Januari sampai Mei mereka masuk satu-persatu, sesuai keinginan manajer mereka." ucap Rendy menjelaskan.


"Coba kamu bawa dulu ke sini file tentang mereka, asal-usul mereka dari mana kok bisa sebegitu ceroboh sampai tidak bisa memprediksi keadaan ini!"suruh Sam.


Beberapa waktu kemudian Rendy memanggil manajer department itu serta membawa file CV semua bagian Management Supplies and Cost Controller Department, tapi juga mengajak Lenka yang sebenarnya tidak terlalu diperlukan saat ini.


"Maaf tuan, saya mengajak mereka berdua, supaya lebih jelas dalam mencari titik permasalahannya." ucap Rendy sebelum ditanya oleh Sam dan Jammer.


"Bagus, kamu memang tidak perlu di ragukan, belum juga di perintah sudah tahu harus apa." ucap Sam.


"Bukan begitu tuan Sam. Ini berkat tuan Sam dan tuan Jammer." ucap Rendy.


"Silahkan duduk!" ucap Jammer mempersilahkan.


Kemudian mereka membahas kekeliruan yang menyebabkan terjadinya over budget di beberapa proyek dan pekerjaan itu.


"Kenapa kamu bawa aku, ini kan tidak ada hubungannya denganku." bisik Galenka dipertengahan obrolan itu.


"Kamu disini untuk mencatat semua yang menjadi poin penting." bisik Rendy.


"Galenka, catat. Jadi dari departemen MSCD kekeliruan dimulai dari perhitungan yang di serahkan staff ternyata tidak dapat memprediksi lonjakan harga." ucap Jammer.


"Kemudian, tidak mengulangi perhitungan di masa kontrak masih panjang, survei pasar juga minim, dan jarang melapor ke departemen setelah keluar mencari informasi di lapangan." imbuh Samuel.


"Kalau papa yang bantu kenapa langsung ketemu titik masalahnya ya?" sanjung Jammer, setengahnya menyinggung manager departemen.


"Dia yang belum sampai level papa, kamu memang belum waktunya untuk sampai hal detail begini, nanti papa ajari di rumah." ucap Sam.


Manajer MSCD itu hanya dapat diam menunduk, hanya menjawab seadanya dan tanpa bisa menutupi bagian kurangnya.


"Kamu perbaiki Rendy. Cek lagi seperti apa di HRD kinerja karyawan perusahaan ini. Ingat ini perusahaan induk, jika kita lengah maka perusahaan di bawah juga terpengaruh!" titah Samuel.


"Kamu Galenka, sebagai sekertarisku di kantor ini, ingat tugasmu selalu berhubungan dengan tangan kananku Rendy. Di dalam pekerjaan jangan campuri dengan perasaan, kamu sudah paham kan dengan tugasmu?" ucap Jammer.


"Siap paham tuan muda." jawab Galenka.


"Ya sudah, kamu kembali sana, pulang juga boleh. Ingat tanggal 18 sudah bukan liburan jadi harus ada progres yang dihasilkan!" suruh Sam kepada manajer departemen itu.


Setelah mereka menemukan ada yang kurang di departemen itu, mereka pun mengobrolkan hal lain seputar BC. Galenka sendiri sudah tidak asing lagi dengan pembahasan itu karena sudah tahu dari Rendy hal-hal yang berkaitan dengan BC.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di tempat lain, Fiux mendapat tugas untuk ke perusahaan PT Sri Manunggal Sejahtera, ia ditugaskan menanyakan kepada perusahaan itu tentang pembangunan kantor pelayanan terpadu satu pintu yang di pegang tender proyeknya oleh perusahaan itu. Dia diberi waktu sehari, karena email dari PT milik Jammer itu juga dirasa tidak menjawab pertanyaan kantor tempat Fiux magang, hanya memberikan keterangan sedang menyiapkan supplier di dalam email yang diterima dari Galenka itu. Dengan memegang surat tugas dari kantor Fiux yang ia bawa dari hari Sabtu lalu, dia yang baru saja sampai itu pun langsung menuju resepsionis PT Sri Manunggal Sejahtera.


"Kok sepi, gak ada orang?" gumam Fiux.


"Selamat sing dek." sapa satpam di lobby yang baru saja datang setelah patroli.

__ADS_1


"Pak ini libur ya?" tanya Fiux.


"Iya, baru saja diliburkan karena ada perayaan." jawab satpam itu.


"Wah, saya telat ya pak." ucap Fiux.


"Memang ada keperluan apa?" tanya satpam itu.


"Ini saya ada tugas dari Kantor saya magang." jawab Fiux menyerahkan berkas tugasnya.


"Coba saya periksa dulu. Di atas masih ada pimpinan perusahaan sih, ada bos besar dan manajer-manajer. Kelihatannya sedang ngobrol santai di ruang bos." ucap satpam itu sambil memeriksa file dari Fiux.


"Bisa minta tolong tanyakan pak. Saya harus dapat jawaban dari sini berupa surat, atau file apapun yang tertulis kata MSDM di sana?" tanyanya.


"Saya telepon ke ruangan bos dulu. Kasihan jauh-jauh kok gak bawa jawaban." ucap satpam merasa iba.


Setelah mendapat persetujuan dari Jammer, si satpam mengantarkan Fiux ke ruangan Jammer. Sampai di depan ruangan Jammer, terdengar gelak tawa dari dalam yang membahas tentang hubungan Rendy dan Galenka. Sebelum masuk Fiux menghela nafas panjang untuk menetralisir kegugupannya.


"Permisi, tuan Sam, tuan muda. Ini orang yang ingin bertemu." ucap satpam menunjuk ke Fiux yang menundukkan kepalanya sehingga belum melihat orang di ruangan itu.


"Oh iya, silahkan disuruh duduk saja, sama tolong ambilkan minuman di lemari ya!" ucap jammer, membuat Fiux mendongak ke arah suara itu.


"Baik tuan muda." ucap si satpam.


"Silahkan mbaknya duduk." bisik si satpam.


"Heh, ambil botol A5, gelas yang set di bawahnya nomor 3 Albert Schenider!" sahut Samuel sebelum satpam itu masuk.


"Jangan lupa minuman buat temanku ini." teriak Jammer kepada satpam yang sudah di mini Bar.


"Iya tuan." jawab si satpam.


"Fiux, ada apa nih sampai datang kesini?" tanya Jammer.


"Ini." ucap Fiux menyerahkan file dari kantor.


"Oh ini. Galenka jelaskan." ucap Jammer mengoper ke Galenka.


"Ya mana saya tahu. Tapi kantor minta saya untuk minta bukti tertulis dari sini keterangan yang lebih jelas, maka saya minta di buatkan." ucap Fiux.


"Nanti saya buatkan, mumpung ada tuan Samuel juga ada disini. Kamu tunggu sambil minum sekaligus ikut ngobrol saja." sahut Rendy.


"Kamu selesai magang kapan?" tanya Samuel.


"Akhir bulan ini pak." jawab Fiux.


"Masih lama ya." ucap Sam basa-basi.


"Iya pak." jawab Fiux.


"Papa dia juga model amatiran loh pa." sahut Jammer.


"Oh iya?" tanya Sam.


"Belum sampai level model, hanya iseng-iseng." sahut Fiux.


"Jadi BA produk berani?" tanya Sam.


"Ehm, belum berani pak." jawab Fiux.


"Tuan." ucap si satpam.


"Maaf tuan." ucap Galenka membantu meletakkan minuman dari nampan yang di bawa si satpam.


"Ini dek." ucap Rendy memberi botol jus ke Fiux.


"Makasih." kata Fiux.

__ADS_1


"Buka!" suruh Sam ke pada si satpam.


"Saya tidak bisa tuan." jawab satpam bingung.


"Saya saja tuan." sahut Galenka.


"Ini silahkan." ucap Sam.


Jammer hanya diam menyangga kepala di pinggir sofa dengan satu tangannya. Sedang Fiux hanya celingukan melihat kegiatan yang dilakukan mereka, sesekali melirik Jammer yang diam membisu. Sebenarnya Sam, Galenka, dan Rendy hanya mengalihkan perhatian saja, karena mengerti kegelisahan didalam hatinya.


"Kamu boleh keluar." ucap Rendy menunjuk si satpam.


"Ren, buatkan dulu surat dari kita!" sahut Jammer.


...****************...


Tak seberapa lama, Rendy sudah membawa dua lembar kertas berisikan tentang kondisi yang sedang dihadapi perusahaan, disertai permintaan maaf karena kabar yang juga kurang mengenakkan bagi semua pihak. File itu harus ditandatangani oleh Jammer sebagai pemegang tertinggi tampu kepemimpinan.


"Tuan ini file yang diminta." ucap Rendy meletakkan kedua lembar kertas penuh tulis itu ke hadapan Jammer.


"Tolong bacakan." pinta Jammer pada Fiux.


"Aaaahhhhh." ucapnya dengan nada orang menelan arak, padahal itu wine.


"Baunya harum, tapi itu botol minuman keras bukan sih?" gumam Fiux yang tak segera membaca meski file sudah ia pegang.


"Ren, ambil nomor 4F, Javanese Cassavet de vino. Gelas yang agak besar lagi satu, es juga!" suruh Jammer, Sam tidak melarang.


"Jadi dibacain gak?" tanya Fiux.


"Seandainya kamu mau baca, kalau tidak tunggu ada yang baca." jawab Jammer.


"Ini tuan muda." sela Rendy meletakkan pesanan Jammer di atas mejanya.


"Jadi gak dari tadi disela terus!" keluh Fiux.


"Silahkan." ucap Jammer sambil membuka botol minuman itu.


Fiux pun membaca isi dari dua lembar teks tersebut hingga di akhir lembar kedua, ia terhenti di jabatan Jammer. Selama membaca ia berusaha menahan mual karena bau minum yang baru dibuka Jammer sangat pekat.


"Sudah bacanya, nanti bisa dong jelasin ke kantor magang kamu?" tanya Jammer dengan mata sayu.


"Kalau cuma bacainnya bisa sih." jawab Fiux.


"Yaudah, mana ditandatangani dulu." ucap Jammer meminta kembali file itu.


"Ini, kalau tidak ada kerjaan pulang nanti saja setelah makan siang." ucap Jammer menyerahkan kembali file yang sudah ditandatanganinya, Rendy, dan Galenka.


"Terima kasih sebelumnya. Tapi aku harus pulang untuk siap-siap ke kostan nanti sore." tolak Fiux.


"Benar tidak mau makan siang dulu?" tanya Sam.


Kkkrrruuu Kkkrrruuu kkrruu. Suara perut laparnya.


"Nah itu lapar kan?" goda Sam.


"Ayo makan!" ajak Jammer berdiri duluan.


Kemudian mereka pergi ke restauran di pusat kota, dengan hidangan serba daging dan hanya sedikit sayur. Memuaskan perut merupakan salah satu hal yang penting bagi mereka kecuali Jammer yang hanya diam makan dan minum di ruang VVIP milik Sam di kafe ini. Disaat yang lain mengobrol ia hanya minum-minum,


.


.


.


.

__ADS_1


.



__ADS_2