
Pagi sekali Jammer sudah mengendarai mobil menuju perusahaannya, dia melanjutkan pekerjaannya dengan ijin magang dari sekolahnya, dicatat sebagai nilai magang ke perusahaan, sekaligus persyaratan di lembar ijazah nanti ketika lulus. Sebenarnya pada surat resminya ia akan di posisikan pada staff administrasi, tapi selama ini dia sekolah sekaligus Dirut perusahaan, maka posisi itu nantinya hanya untuk formalitas belaka, nantinya juga penandatanganan sertifikat magangnya dari Samuel maka harus menurut diposisi mana saja. Di jalan Jammer bernyanyi diiringi audio mobil.
"Hari ini, hari yang kau tunggu. Bertambah satu tahun usiamu, bahagialah kamu..." lagu selamat ulang tahun dari Jamrud yang ia nyanyikan.
"Fiux selamat ulang tahun." gumamnya di sela-sela lagu.
"Yang kuberi, bukan jam dan cincin. Bukan seikat bunga atau puisi, juga kalung hati. Maaf bukannya pelit atau gak mau ngemodal dikit..." lanjutnya bernyanyi.
Lagu demi lagu dari band kesayangan ia nyanyikan, sampai di parkiran perusahaan, baru ia berhenti bernyanyi. Menenteng tas kerjanya sendiri, di sambut Rendy yang menunggu di lobby seperti kebiasaan Rendy selama ini, bagi Jammer rutinitas perusahaan menjadi kebiasaan yang menyita waktu dan tenaga tapi juga sangat menguntungkannya karena bisa menghindari pikiran tentang Fiux.
"Selamat pagi tuan muda." sapa Rendy di depan lift lobby.
"Hari ini agendanya apa?" tanya Jammer.
"Tuan muda hanya ada dokumen-dokumen yang harus di periksa dan ditandatangani, sedang pertemuan dengan beberapa perusahaan nanti pagi ini dan nanti siang biar saya dan Lenka yang mengurusnya, semua materi sudah disiapkan." jawab Rendy.
"Jam berapa meeting pagi ini?" tanya Jammer lagi.
"Jam sembilan tuan muda." jawab Rendy.
"Lenka dan kamu bawa materi yang kalian siapkan ke ruanganku sekarang, aku mau cek sebelum kalian presentasi." perintah Jammer.
"Baik tuan saya akan panggil Lenka." jawab Rendy.
Mereka berdua segera masuk ketika lift sudah terbuka. Rendy memencet nomor lantai puncak dimana ruangan Jammer berada.
"Ren, apa kamu siapkan hadiah untuknya hari ini?" tanya Jammer.
"Sudah tuan muda, satu buah coklat dengan bunga, nanti ada anak buah yang mengantar ke tempat magangnya." jawab Rendy paham.
"Bagus." sanjungan Jammer mengacungkan jempol.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di tempat magang Fiux, dia menerima hadiah dari Jammer, dengan ucapan selamat ulang tahun tanpa nama pengirim. Bingung dia rasakan, tapi ini sudah kali ke dua setelah setahun lalu.
...----------------©----------------...
POV Fiux...
"Ini dari siapa ya gak ada namanya?" gumamku.
Entah siapa yang mengirimi ini, coklat serta bunga dengan kartu ucapan tanpa nama. Untuk kedua kalinya setelah tahun lalu ada juga yang seperti ini. Aku sisihkan kado itu di samping meja kerja, hari ini ada dokumen dari beberapa senior yang harus aku foto copy.
"Pagi sudah sibuk." gumamku di lorong menuju pantry tempat mesin fotocopy berada.
"Putri." panggil seorang laki-laki di belakang.
"Iya pak Ragil." jawabku.
"Kamu nanti siap-siap, guru pendamping dari sekolah akan datang. Mungkin menilai kamu." ucap pak Ragil.
"Baik pak Ragil." jawabku.
Aku melanjutkan pekerjaan yang harus dilakukan segera, karena hari ini sebagian staff di sini akan mengadakan rapat. Pada saat itu aku dan anak magang yang lain bisa leha-leha sejenak, bisa santai pikirku. Tapi dokumen ini masih banyak yang perlu di fotocopy, membuat lelah saja.
"Fiux." panggil seorang.
"Ada apa Luh." jawab Fiux ketika tau itu Galuh.
"Belum selesai?" tanya Galuh.
"Belum ini masih setengahnya." jawabku.
"Aku bantu tata fotocopy nya, tadi mbak Tami tanya kamu bisa cepat gak." ujar Galuh.
"Gimana bisa cepat kalo mesinnya yang lama." keluhku.
"Kamu pulang dengan siapa nanti?" tanya Galuh menyelidik.
"Pacarku pulang kuliah kita sudah janjian bareng pulang. Kalau kamu pasti di jemput kan?" balasku. Perasaan Galuh seperti menyelidikiku.
"Fiux selamat ulang tahun ya. Aku juga di suruh bilang ke kamu, tu..." ucapan Galuh terhenti entah mengapa aku penasaran.
"Bilang tu, itu maksudnya?" tanyaku heran.
"Maksudku, Jammer titip salam selamat ulang tahun buat kamu, hadiahnya hanya do'a." celetuk Galuh.
"Terima kasih buat kalian berdua. Tapi kalau kamu bukan hanya doa kan?" ucapku menoleh ke arah Galuh.
"Hahaha, tenang nanti pulang dari magang aku traktir, kalau yang lain mau ikut juga boleh. Kebetulan pacarku baru transfer untuk jajanku." jawab Galuh tak sedikitpun ragu.
"Wah lagi panjang nih. Memang pacarmu kerja apa kok selalu transfer?" ucapku penasaran.
"Aku kurang tahu kerjanya, yang pasti dia karyawan dari anu... Gimana ya bilangnya, takutnya kamu kira aneh-aneh ke aku." ucap Galuh malah semakin membuatku semakin heran.
__ADS_1
"Apa sih aneh-aneh bagaimana sih?" dikte ku.
"Dia... anak buah dari orang tua non Dinda dan Dhean." jawab Galuh hati-hati.
"Dinda dan Dhean? Maksudnya apa pacar Jammer itu?" tanyaku menerka.
"Iya begitulah. Dan aku bertemu Donny di acara mereka, karena bapakku mantan staffnya." ujar Galuh.
Aku memasang wajah terkejut, mendengar penjelasan Galuh, seperti dilingkari oleh orang-orang yang mengawasiku. Aku baru saja tahu Galuh juga berhubungan sebaik itu dengan Jammer, aku kira hanya teman sekolah. Dan siapa orang itu kenapa banyak sekali orang yang berhubungan dengannya di sekitarku? Terutama pacarku adalah salah satu relawan panti di bawah penguasaan orang tua Dinda dan Dhean, tercengang diriku, hingga berpikir juga sulit.
"Tapi kamu bukan antek kan?" tanyaku.
"Hahaha, bukan aku cuma teman biasa. Dengan tuan dan nyonya juga hanya tahu dari bapak." ucap Galuh seperti tidak bohong, menyebabkan aku termenung menelaah dan waspada.
"Ya sudah ayo selesaikan ini. Sudah jam sembilan, rapat juga sudah mulai." ucap Galuh menyadarkan aku dari lamunan.
...----------------©----------------...
POV Author...
Ditempat berbeda pada sebuah pub Gerry sedang menyelidiki pemukulan terhadap klien yang menyewa pengawalnya. Kasus itu diluar operasional yang disepakati, pada saat klien di pub milik kliennya itu pengawal dari Gerry tidak bisa ikut masuk karena itu sudah peraturan yang disepakati dimana penjaga pub disini yang bertanggung jawab atas keselamatan bosnya itu.
"Pak satpam, pemukulan semalam, anggota ku langsung dipanggil masuk?" tanya Gerry.
"Tidak mas Gerry, setelah semua sudah kabur baru mereka dipanggil." jawab pak satpam yang berjaga.
"Ada yang tertinggal di dalam? Mungkin bisa jadi petunjuk-petunjuk atau ada yang kenal?" tanya Gerry semakin dalam menyelidik.
"Mereka cuma bilang, disuruh bayar keamanan sebulan sekali Rp. 12 juta." ucap pak satpam.
"Ada ciri-ciri tubuhnya?" tanya Gerry lagi.
"Sekilas ada tatto tengkorak api di ketiga pelakunya mas Gerry." jawab satpam.
"Oh itu. Terima kasih, saya pamit dulu, ada gadis yang perlu saya temui." pamit Gerry.
"Siap mas, terima kasih kembali mas. Monggo hati-hati di jalan." jawab pak satpam.
Gerry melajukan motor menuju kekasihnya, ia ingat ada logo itu di tangan pamannya. Dimana kelompok ini belum pernah BC ketahui sebelumnya, apakah kuat atau lemah BC belum tahu keadaan kelompok itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di kantor Jammer sedang istirahat makan siang pada saat yang lain sudah melewatinya, di jam dua siang ini pekerjaannya baru usai. Keluh dan peluhnya melelahkan diri, tak ada keringat keluar membasahi tubuh karena ruangan ini ber-AC dingin, tak mungkin kan ruang Dirut kok panas, sebagai penulis juga harus baik hati ke tokohnya. Jammer menumpuk dokumen ke pojok meja kerjanya, ia berpindah duduk di sofa dan merentangkan tubuhnya merasakan lelah duduk dan mondar-mandir di sekeliling meja kerjanya seharian.
Toktoktok. Suara pintu di ketuk.
"Permisi tuan muda." suara Lenka.
"Masuk Len." ucap Jammer mempersilahkan.
"Maaf tuan muda, ada guru tuan yang mencari, kami harus bilang apa?" ucap Lenka.
"Suruh tunggu Rendy rapat, atau suruh temui Manajer HRD, dan bisikan ke HRD aku ikut Rendy rapat." perintah Jammer.
"Baik tuan, saya akan bilang untuk menemui HRD, sekarang mari saya antar ke ruang rapat." jawab Lenka.
"Memang ruang rapatnya dimana?" tanya Jammer.
"Di ruang rapat marketing tuan muda." jawab Lenka.
"Ganti rencana, kamu bilang aku disuruh Rendy merapikan berkas di ruang Dirut, kemudian Rendy di beritahu juga supaya bisa akting." ujar Jammer.
"Baik tuan, sekarang saya permisi." pamit Lenka.
"Eh Lenka, kalian berdua sudah makan siang?" tanya Jammer.
"Belum tuan, dari pihak klien belum mau untuk makan siang, mereka ingin problem yang dibahas untuk diselesaikan terlebih dahulu." jawab Lenka.
"Sekalian kalau kesini lagi bawa makan untuk aku, kalian berdua dan guruku." ucap Jammer.
"Baik." ucap Lenka mengangguk.
Beberapa menit berlalu, ada ketukan lagi dan suara seorang OB membawakan makanan panas untuk tujuh orang.
"Guruku ada empat orang?" tanya Jammer melihat jumlah hidangan itu.
"Iya tuan muda." jawab Si OB.
Setengah jam kemudian Rendy mengetuk pintu ruangan, dan bertanya kepada Jammer di dalam sudahkah selesai.
"Sudah pak Rendy." jawab Jammer atas pernyataan Rendy.
"Coba saya lihat ya." ucap Rendy sambil masuk ruangan diikuti oleh guru Jammer dan Lenka.
"Eh tunggu, laci itu kenapa masih berantakan tatanannya." ucap Rendy, sambil mengkode Jammer ada fotonya dengan keluarga Sam di meja samping sofa.
__ADS_1
Segera Jammer menyembunyikannya di selipkan ke bawah bantal sofa, yang nanti akan ia duduki.
"Maaf pak saya rasa begitu sudah rapi, mungkin nanti saya perbaiki meniru tatanan bapak Rendy." ucap Jammer.
"Ya sudah kita makan dulu." ucap Rendy mengalihkan topik. Sambil menyembunyikan wajah takutnya jika Jammer tersinggung bisa dicincang seperti tubuh-tubuh musuh BC.
"Wah sampai repot-repot pak Rendy." ucap pak Adi, guru teknik Jammer.
"Tidak repot pak, hanya menakutkan jika bapak dan ibu terlantar di perusahaan maka akan ada hal yang tidak mengenakkan." sahut Lenka polos.
"Hahaha, becanda saja kamu Lenka.
"Silahkan pak duduk." ucap Jammer mendahului duduk di tempat ia menyembunyikan bingkai.
"Benar silahkan pak, Bu guru makan sambil mengobrol." ajak Rendy.
"Iya silahkan pak Rendy duluan duduk." ucap pak Adi.
"Bagaimana perjalanan ke sini lancar?" tanya Rendy.
"Alhamdulillah lancar, tadi mampir dulu di Du/Di lain yang searah sini." jawab Bu Anik guru kimia Jammer.
"Wah jauh artinya nih pak, sampai-sampai jam dua siang baru sampai perusahaan ini?" canda Rendy.
"Iya cukup jauh ke PT Putra Agikma Selenders." ucap Pak Adi.
"Wah itu jauh loh pak, dua jam lamanya ke sana, belum ada toll, ya jalannya masih bagus semua sih sehabis lebaran masih mulus belum berlubang, nanti kalau sudah berlubang-lubang tiga jam lebih ke sana." ucap Rendy basa-basi.
"Ya betul sekali." sahut pak Yonggi, guru elekto.
"Ya sudah lebih baik kita makan." ucap Lenka menyela sebelum ada pembicaraan lain.
Satu jam lamanya perbincangan mereka, setelah pamitnya para guru, Jammer langsung mengambil tas kerja sekaligus seluruh barang bawaannya, pergi meninggalkan ruangan. Karena Rendy juga sudah selesai bekerja, ia menarik Lenka untuk mengikuti Jammer mengendarai mobil Rendy.
"Lenka ayo cepat, ikut tuan muda." ucap Rendy sambil memegang tangan Lenka.
"Kenapa aku juga?" tanya Lenka.
"Karena kamu sekertaris." jawab Rendy asal.
"Baik aku merapikan barangku." tahan Lenka.
"Aku tahan tuan Jammer dulu sebelum liftnya terbuka, kamu susul ya." ucap Rendy berjalan cepat.
"Aku sudah siap." teriak Lenka tapi tidak dihiraukan oleh Rendy.
Pada akhirnya, Galenka dapat menyusul dan turun ke lobby bersama kedua orang itu. Sesampainya di lobby kantor, ada dua orang asing dan seorang wanita berjas duduk di sofa tunggu memperhatikan jalannya Rendy, Galenka, dan Jammer.
"Pak Rendy, pak." panggil resepsionis cantik bernama Bella.
"Maaf tuan muda, Bella panggil saya." ucap Rendy membuat langkah Jammer terhenti.
"Sana, sana, sana cepat kalau mau ikut aku." ucap Jammer berwajah malas.
"Tuan muda mereka seperti memperhatikan kita." ucap Lenka memberi kode dengan matanya.
"Tunggu Rendy, nanti biar Rendy yang temui." bisik Jammer.
"Tuan, mereka dari Amerika mau meminta kerjasama dengan perusahaan dan BC." bisik Rendy.
"Temui mereka, aku tunggu di kantin." suruh Jammer.
"Lenka kamu ikut tuan muda." bisik Rendy.
Jammer pun melenggang diikuti Galenka menuju kantin di sebelah kiri gedung.
.
.
.
.
Sampai sini dulu, ada acara makan-makan Fiux, penyelidikan Gerry, dan big misteri tentang Jammer di episode selanjutnya yang harus readers nanti.
.
.
.
.
__ADS_1