Menikahi Kakak Angkat

Menikahi Kakak Angkat
Liburan sekolah #3


__ADS_3

Mereka melanjutkan joging hingga 2 jam lamanya. Kemudian Jammer mengajak Dinda untuk pulang ke rumahnya untuk istirahat sekaligus bersih-bersih diri mereka. Sesampainya di rumah Sahud, karena hanya ada Danar, Dinda tanpa permisi langsung ke kamar mandi di belakang, sementara Jammer membawa Tod bag berisi pakaian Dinda menemui Dinar untuk meminjam kamarnya sebagai tempat Dinda ganti baju nanti. Sesaat kemudian ia menunggu Dinda di ruang makan agar dapat segera mandi ketika Dinda selesai dan keluar kamar mandi, sejam lamanya ia menunggu Dinda masih saja mengguyur air di dalam kamar mandi.


”Sayang aku lupa gak bawa handuk!" teriak Dinda.


"Gak usah teriak, aku ada di meja makan. Tunggu aku ambilkan dulu." jawab Jammer.


"Iya aku tunggu." kata Dinda, dengan sabar ia menunggu Jammer datang lagi.


"Beb, nih handuknya." kata Jammer ketika sampai di depan pintu kamar mandi.


"Mana?" tanya Dinda sambil membuka sedikit pintu kamar mandi.


"Ini." ucap Jammer mengulurkan handuk ke pintu.


"Ya udah mana handuknya sini." ucap Dinda meraih tangan Jammer sehingga ia dapat menariknya ke dalam.


"Eh." pekik Jammer terkejut. Spontan ia menutup matanya.


"Handuknya aja dong kamunya gak usah masuk." canda Dinda sambil menutup kembali pintu kamar mandi.


"Serius ah. Ada Dinar juga loh." keluh Jammer kesal.


"Lihat dulu dong, ini di handukin dulu aku keburu kedinginan." goda Dinda lagi.


"Hmhmhm. Ini loh aku udah pakai handuk ibu." menahan tawanya, Dinda melanjutkan perkataannya.


"Bikin kesel aja." keluh Jammer dan membuka matanya.


"Ini ambil." Jammer menyerahkan handuk kemudian membuka pintu kamar mandi dan mempersilahkan Dinda keluar.


Dinda tersenyum senang mengerjai pacarnya itu, ia pun pergi ke kamar Dinar untuk ganti baju. Setelah selesai membersihkan diri, mereka berdua pergi ke studio untuk melakukan evaluasi sebelum menentukan lagu-lagu yang akan di masukkan ke dalam album pertama Jammer, tentu sepanjang perjalanan Dinda tak melepas lengan Jammer, ia selalu menempel erat. Dengan pengawalan Gusman dan Gerry di bangku depan mobil, mereka melewati jalan-jalan rawan yang di kuasai oleh beberapa geng dan mafia musuh, kini mobil mereka melewati batas wilayah Blade Knife, dimana dari belakang empat buah mobil membuntuti mereka.


"Tuan muda, ada mobil mengikuti kita, tuan." Gerry melaporkan.


"Selesaikan dulu." perintah Jammer.


"Baik tuan, saya akan selesaikan." jawab Gerry.


Gerry segera menghubungi anak buahnya yang dekat dengan tempat itu agar membantu jika terjadi sesuatu. Sedang Gusman menunggu aba-aba dari Gerry untuk menghentikan mobilnya.


"Tuan muda, apa kita bawa mereka ke parkiran studio saja supaya tuan juga bisa segera masuk ke studio?" tanya Gusman.


"Selesaikan dulu Gus." jawab Jammer singkat.


"Baik tuan saya akan selesaikan dengan cepat." kata Gusman.


Ia membelokkan mobil ke sebuah lapangan yang berada di belakang kompleks pemerintahan, tanpa menunggu Gerry ia langsung saja mengeluarkan dua pistol dari pinggangnya, kemudian keluar dari mobil dan menembak mati dua orang di mobil terdepan. Akhirnya Gerry pun juga ikut menyerang dengan brutal, setiap sasarannya hanya di tembak pada titik vital seperti dada dekat paru-paru dan jantung, pipi dekat pipi mengarah gigi, leher, bahu untuk menciptakan siksaan sebelum sasarannya mati.


Bang... Bang... Bang... suara tembak-tembakan diantara mereka.


Tak lama Gerry dan Gusman sudah melumpuhkan mereka yang berjumlah 16 orang itu, hanya menyisakan tiga orang yang patah tulang di bagian bahu karena tertembak oleh Gerry, sedang Gusman yang hanya menghabisi lima nyawa tanpa ampun berdecak kagum melihat keahlian Gerry dalam mengarahkan sasaran tembak sudah berkembang lebih baik lagi, terakhir kali Gusman baku tembak bersama Gerry beberapa tembakannya masih jauh lebih baik dari Gerry tapi kini, tembakan-tembakan Gerry lebih baik darinya hingga titik-titik menyiksa sebelum membunuh musuh pun ia kuasai.


"Siapa kalian?" tanya Gerry.


"Dari mana kalian?" tanyanya kembali karena tidak ada jawaban.


"Gerry ambil telepon mereka kemudian buka dan beritahu bos mereka." ucap Jammer dari dalam mobil.


"Tunggu." tahan Gusman pada langkah Gerry.


"Kenapa om Gusman?" tanya Gerry heran.


"Sepertinya mereka mengunyah sesuatu." kata Gusman menyadari pergerakan mulut mereka.


"Hahaha... Hahaha... Hahaha. Pintar juga kamu." sahut seorang dari ketiganya.


"Kenalkan aku Topan." sambungnya.


"Dari mana kamu?" tanya Gerry.


"Selamat tinggal! Aarrrggghhh." ucap ketiganya bersamaan dan kesakitan.


"Tuan muda, mereka bunuh diri." teriak Gerry.


"Tinggalkan, ayo pergi." perintah Jammer.


"Ayo Gerry pergi." ucap Gusman yang sudah berada di balik kemudi.


"Tapi itu apa om?" tanya Gerry sambil memasang seat belt-nya.


"Entahlah aku juga belum pernah lihat." jawab Gusman.

__ADS_1


Iapun segera melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu, melanjutkan perjalan ke studio yang tinggal menempuh jarang beberapa ratus meter lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di perusahaan PT Sri Manunggal Sejahtera, Rendy sedang memimpin meeting pengembangan perusahaan, dalam waktu dekat ini akan menjadi lebih sibuk untuk Rendy dan beberapa stage holder perusahaan, mulai dari persiapan sampai finishing akan memakan waktu sekitar enam bulan. Menggunakan anak perusahaan dari China yang sudah mampu bersaing dengan kekuatan perusahaan asli China dalam kecepatan dan efisiensi pembangunan gedung, waktu pembangunan dapat di pangkas hingga setengahnya. Namun demikian ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan untuk menyesuaikan kecepatan pembangunan tersebut, seperti sistematis pre-launching, hiring karyawan, sumber daya bahan mentah, dan research segmentasi pasar. Rendy menjelaskan program kerja yang telah di tentukan sebelumnya dalam rapat terbatas pemegang saham, memaparkan keperluan dasar dari persiapan, ploting sistem operasional, research segmentasi pasar, pre-launching, hingga finishing atau launching perusahaan.


"Sekian dari saya, semoga kedepannya projek ini dapat mengikuti projek-projek sebelumnya yang mencapai hasil memuaskan di setiap bidangnya." ucap Rendy pada akhir pemaparannya.


"Aamiin pak Rendy." ucap Stevani.


"Rendy, Jammer dimana." bisik Stevani.


"Sedang evaluasi di studio musik." bisik Rendy menjawabnya.


"Ya sudah." Stevani mengerti.


Meeting beralih ke bidang-bidang kerja yang berhubungan dengan persiapan untuk pembangunan perumahan baru itu. Dari akuntansi memaparkan, bahwa 40% pendanaan dari keuangan perusahaan, 30% dari pemilik perusahaan yaitu Imaduddin Jammer dan Tuan Sam Devil, sisanya di buka untuk investor dan pinjaman bank, dari sisi keuangan belum ditemukan kendala berarti. Kemudian pada manajemen operasional dalam pembangunan ini semua peralatan sedang menunggu antrian pengangkutan di pelabuhan Shanghai, pembebasan lahan juga sudah final tinggal menunggu legalisasi dokumen, kontrak kerjasama dengan anak perusahaan dari China akan di lakukan dua hari kedepan. Pada divisi SDM melaporkan bahwa persiapan untuk penerimaan karyawan akan dimulai sebulan kedepan. Terakhir adalah pembagian jabatan pada manajerial tinggi perusahaan, dimulai dari direktur utama akan menjadi wewenang Imaduddin Jammer, kemudian Direktur Operasional dari PT Sri Manunggal Sejahtera, Sekertaris utama akan dijabat Rendy sendiri, Direktur Keuangan Dheandra. Demikian itu gambaran tentang meeting yang di pimpin Rendy hari ini, setelah membubarkan meeting Rendy dan Stevani berjalan keluar bersama untuk makan siang, sekaligus menunggu Jarot menjemput Stevani.


"Eh Rendy, kita udah lama ya tidak dikumpulkan ke markas besar?" celetuk Vani membuka obrolan disela mereka berdua menunggu lift terbuka.


"Ya memang tidak ada yang perlu dilakukan dalam beberapa waktu ini, kalau ancaman dari musuh memang sudah tidak terlalu besar jadi hanya perlu koordinasi seperlunya saja." jawab Rendy.


Cetriingg. suara lift terbuka.


"Silahkan nona." ucap Rendy kepada Vani.


"Kita makan dimana Ren?" tanya Vani.


"Restauran X4 saja bagaimana nona?" tanya Rendy balik.


"Baiklah aku setuju." jawab Vani.


"Tapi bisakah kita panggil nama saja?" tanya Vani.


"Ya maaf Stevani. Saya panggil Vani saja ya?" ucap Rendy menahan grogi.


"Baiklah." ucap Stevani.


Canggung mereka berdua hanya diam, tak saling menatap hanya sekilas melirik tanpa ada temu diantara mata mereka. Diam, diam, dan masih di dalam hening, ditambah dengan lift yang seolah berjalan lambat menuju lantai teratas karena ada yang ingin naik, padahal tidak ada lantai lain yang menunggu tapi gerbong lift itu terasa lama bagi mereka.


Dak, Dig, Dug... Suara detak jantung mereka, hanya mereka sendiri yang tau.


"Kalian sudah selesai?" tanya Silvi yang tak ikut meeting tadi.


"Iya sudah baru saja." jawab Rendy.


"Mau kemana kita?" tanya Silvi lagi.


"Kita berdua mau makan siang. Kalau kamu mau ikut sekalian saja. Silahkan." jawab Stevani dengan menjeda akhir kalimatnya, mengisyaratkan keraguan.


"Maaf kalian saja, Byan mau ke sini." tolak Silvi.


"Oh ya sudah." ucap Stevani lega.


"Kenapa kamu seakan sebegitu leganya Vani?" tanya Silvi heran.


"Aku takut saja mengganggu pekerjaanmu Silvi." jawab Vani tersenyum.


"Ambigu sekali alasanmu." timpal Silvi.


Cetriingg... Pintu lift terbuka di lantai satu.


"Maaf Silvi kami duluan, mobilku ada di depan lobby." pamit Rendy meraih tangan Stevani.


Sepeninggal keduanya, Silvi sedikit heran tapi tidak terlalu mengindahkan pemikirannya, untuk memeriksa dokumen kontrak itu saja dia butuh beberapa hari, tidak sempat untuk memikirkan hal yang membingungkan itu.


...----------------...


Selang beberapa menit saja Rendy sudah memarkir mobilnya di depan restauran X4, dia membukakan pintu mobil untuk Stevani turun.


"Silahkan nona cantik." ucap Rendy menahan diri untuk tidak terkekeh.


"Terima kasih tuan tampan." balas Stevani menyunggingkan senyuman.


"Mari mencari meja untuk kita makan." ajak Stevani, meraih lengan Rendy untuk menggandengnya.


"Dengan senang hati nona." balas Rendy menjawabnya.


Mereka pun menuju meja kosong yang tak ada reservasi di atasnya, mengobrol hal-hal tentang pekerjaan mereka masing-masing, tentang pekerjaan mereka yang berhubungan, tentang keluar tuan mereka Jammer dan Sam Devil, tentang prospek bisnis kedepan, dan membuka obrolan tentang keinginan mereka menjalin hubungan yang terlupakan dari agenda mereka selama beberapa tahun kebelakang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Kini Dinda dan Jammer telah selesai melakukan evaluasi, mereka di ikuti oleh Gusman dan Gerry sedang berjalan keluar dari studio musik. Di ambang pintu mereka bertemu dengan Nicky Tazkiana.


"Selamat sore mbak Nicky." sapa Jammer.


"So.. sor... soore juga." balas Nicky terbata.


"Kenapa mbak?" tanya Jammer.


"Anu." kata Nicky terlihat cemas.


"Gerry kamu urus kalau ada apa-apa suruh cerita saja. Aku tunggu lima menit di mobil." ucap Jammer.


"Kami permisi dulu ya mbak. Bilang saja dengan orang ganteng satu ini." ucap Dinda menunjuk wajah Gerry.


"Udah ayo sayang." bisik Jammer.


"Permisi nona." pamit Gusman.


Sesampainya di mobil hingga menunggu selama lima menit lamanya, Gerry akhirnya datang masuk ke mobil, dengan wajah cukup cemas.


"Tuan maaf tadi itu nona Nicky cerita dia dihadang seseorang dari Boeggem. Orang itu bilang titip salam dari mereka jangan sampai perusahaan tempat nona Nicky bekerja di rusak. Mereka menginginkan kita putus kontrak dengan perusahaan nona Nicky." ucap Gerry.


"Kapan?" tanya Jammer.


"Tadi pagi tuan. Jadi kan jadwal kita ada di perusahaannya, nah nona Nicky ke sini untuk bilang itu, tapi takut." jawab Gerry.


"Perjanjian kita kan sampai rekaman saja, kenapa mereka mengusik kesepakatan yang tidak berhubungan dengan mereka. Apa mau mereka sebenarnya?" ucap Jammer dengan amarah.


"Apa yang harus kami lakukan tuan?" tanya Gusman.


"Cari!" tegas Jammer.


"Baik tuan kami cari." ucap Gerry.


"Sayang kamu jangan berantem dulu, ini masih beberapa hari sebelum rekaman." nasihat Dinda.


"Enggak sayang, itu om yang lagi nyupir saja yang maju. Aku tenang saja duduk-duduk di sisimu." balas Jammer.


"Jalan-jalan ya sayang?" pinta Dinda.


"Jalan-jalan kemana lagi?" tanya Jammer.


"Terserah." jawab Dinda.


"Kok terserah sih. Bagaimana kalau kita ke pantai, kamu mau?" tanya Jammer menawarkan.


"Pantai?" heran Dinda.


"Iya pantai kalau mau." jawab Jammer menyakinkan.


"Boleh deh aku mau." jawab Dinda.


"Ehh, tapi beli Boba dulu ya, aku kepingin minum Boba." sambung Dinda.


"Iya siap nona cantik." goda Jammer.


"Nona, tempat beli Boba dimana ya?" tanya Gusman dengan sedikit takut salah.


"Astaga, aku lupa supirnya om detektif, hahaha." balas Dinda.


"Kafe X4 saja om Gusman." sahut Jammer.


"Baik tuan muda." jawab Gusman.


......................................


...****************...


......................................


Maaf karena para pembaca semua mengalami penundaan update selama beberapa bulan. Saya PENGRAJIN KATA, beberapa bulan ini mengalami mental pressure. Tetap disenyumkan disetiap hari kalian. Good luck, readers.


.


.


.


.


__ADS_1


__ADS_2