
Pagi ini Jammer telah tiba di sekolah, semalam dia pulang jam satu malam setelah mengantar Lenka pulang. Senin ini Jammer berada di UKS karena tak enak badan, tak ikut upacara bendera. Sejak semalam dia tidak tidur karena memikirkan cara bicara dengan Dhean, dia takut jika kejujuran dia dan Dinda akan merusak segalanya.
Dari masuk UKS setelah bel masuk tadi, Jammer terus dalam lamunan. Hingga tiba-tiba saja ponselnya berbunyi, dia lupa men-silence ponselnya itu. Buru-buru Jammer menjawab panggilan telepon dari ponselnya, untung saja hanya ada suster UKS yang pro dengannya, tidak ada guru yang berada di sekitar UKS.
" Hallo " Balas Jammer membuka telepon.
" Hallo, sayang tau gak sih, aku seneng banget. Tau gak aku seneng banget karena apa? " Dinda semangat untuk mengutarakan maksud dari teleponnya.
" Gak tau. Cepatlah sayang jangan lama-lama teleponnya, aku masih sekolah untung ini lagi ke UKS. " ucap Jammer Sedikit lirih sambil melihat-lihat kondisi sekitar takut ada guru.
" Oh iya lupa pacarku ini masih sekolah hahaha " Dinda tersadar
" Hhmm " dehem Jammer, matanya memutar kecil.
" Hehe iya sayang iya. Tadi Dhean bilang sekarang dia udah tahu kalau dia gak punya perasaan yang kita sangka selama ini. Dia cuma sayang sebagai kakak kamu. Aku seneng deh kita tinggal bilang ke papa dan mama gak perlu nunggu Dhean lagi. " Dinda semangat menjelaskan.
" Ya udah nanti aku ke rumah jelasin sama papa sama mama. " Jawab Jammer datar.
" Ya hehe aku gak sabar nunggu " balas Dinda.
" Udah dulu upacaranya mau selesai. Ntar ngobrol dirumah aja ya sayang " ucap Jammer mengakhiri telepon sepihak.
Setelah mematikan telepon dari Dinda Jammer segera mematikan nada dering ponselnya agar tidak ketahuan guru dan bisa jadi ponselnya di sita.
" Siapa Mad? Cewek baru ya hehe " Tanya Suster UKS.
" Iya mbak. Tapi jangan ada yang tahu ya, soalnya masih back street dari ortu. " jawab Jammer dengan nada penekanan meminta pengertian.
" Tenang, Aman. " suster mengacungkan jempol tangannya.
" Thanks " balas Jammer mengacungkan jempolnya.
" Ya udah mbak, aku mau ke kelas dulu. " pamit Jammer.
" Ok, have a nice day. " jawab Jammer.
Jammer pun berjalan menuju kelasnya, kelasnya kali ini cukup jauh dari UKS. Sepanjang jalan Jammer masih berpikir tentang bagaimana caranya agar tidak terjadi apa-apa dari keputusannya dengan Dinda. Tak lama setelah sampai di kursi tempat duduknya, pelajaran pun dimulai, Jammer mengikuti dengan fokus pada pelajaran yang diberikan oleh gurunya.
Tanpa sadar bel istirahat berbunyi dan para siswa berhamburan keluar menuju tempat biasa mereka beristirahat. Termasuk Jammer dan kawan-kawannya pergi menuju outlet, saat dari kejauhan terlihat Gerry berada di motornya yang menyala, serta terlihat ada sebuah kontainer yang terparkir didepan outlet. Jammer paham akan hal yang dimaksudkan Gerry. Segera saja dia menghubungi Rendy untuk menyiapkan segara pengamanan.
" Rendy, siapkan keamanan di outlet, Gerry sudah siap didepan outlet. Aku masuk dulu Gerry mengepung diluar, kamu siapkan skenario pengamanan lapis kedua setelah Gerry! " perintah Jammer melalui pesan singkat.
Rendy tak menjawab, tapi miss call sebagai tanda semua akan segera siap.
Dan benar sesaat Jammer melirik ke arah orang-orang yang ada didalam outlet terlihat ada tujuh orang yang janggal, mereka duduk tersebar, tapi saat mereka melihat Jammer sikap mereka menegang secara bersamaan. Namun Jammer terus melangkah ke tempat biasa ia duduk memesan makanan dan minuman.
Sedang diluar outlet sebagian anak buah Gerry sudah mengelilingi outlet, Gerry hanya tinggal menanti kode untuk bertindak, sementara anak buah Jammer yang dikoordinir Rendy masih dalam perjalanan menuju tempat itu.
Setelah beberapa saat, semua orang dari komplotan itu menghampiri Jammer. Menyergapnya, mengancam dengan senjata tajam agar semua orang diam, dan menarik Jammer keluar. Tapi mereka terhenti di pintu outlet.
Gerry sudah siap dengan seluruh anak buah yang datang untuk menggagalkan rencana mereka. Mereka belum pernah tau akan adanya Gerry sebagai kaki tangan Jammer disekitar sekolah, informasi yang didapat titik terlemah untuk menangkap Jammer ada di outlet atau gerbang sekolah.
" Masuk, masuk lagi. " teriak seorang diantara komplotan itu.
" Waduh kita dikepung ternyata. " sahut orang yang paling depan.
" Serang " teriak Gerry memberi perintah segala melihat Jammer menganggukkan kepalanya.
Sebagian anak buah Gerry merangsek masuk, namun belum berani menyerang karena Jammer masih ada dalam kondisi terhimpit sehingga khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan. Bel terdengar tanda pelajaran dimulai.
" Bang, biarin temen-temen gua masuk kelas dulu. " pinta Jams
" Iya biarin mereka pergi! " bentak Gerry.
Anak buah Gerry melingkar membentengi komplotan itu. Membiarkan siswa-siswi lain pergi untuk masuk ke sekolah. Sejenak suasana senyap, hanya terdengar nafas yang terengah tegang dan suara kendaraan lewat di depan outlet.
Brak. Jammer mengayunkan kedua tangan yang mengepal jadi satu menghantam orang yang memegangi dirinya. Dibarengi gerakan memutar badan untuk memaksimalkan pukulannya
Aarrgg. orang yang dipukul terkena pukulan.
" Kurang ajar kau bocah. " bentak orang tersebut.
" Serang " seru Gerry memberi aba-aba. CD
Pecahlah perkelahian antar kelompok Gerry berserta Jammer dengan komplotan yang belum diketahui pasti asalnya.
Prak... Bruk... Prak... Suara kursi, meja, yang dilemparkan sebagai senjata atau tertabrak perkelahian itu.
Craakk... Beberapa gelas dan piring pun ikut jadi korban, pecah berhamburan dilantai.
Perkelahian cukup sengit namun singkat, hanya seorang dari komplotan itu yang berhasil ditangkap, selebihnya melarikan diri meninggalkan kontainer yang masih terparkir. Segera sebelum pihak berwenang datang seorang tersebut di bawa ke markas besar, namun sebelumnya iya di lucuti bajunya untuk mencari tahu tato atau tanda kelompok mana ia berasal. Terlihat dengan jelas di punggung kirinya tergambar sebuah tato tribal bertuliskan Boeggem.
Gerry menghampiri Bu Ina, bermaksud untuk mengganti semua kerusakan outlet yang ia dan kelompoknya sebabkan. Bu Ina bingung bercampur haru, keributan tadi mengejutkan dirinya, sedangkan tanggung jawab Gerry bagai penyelamatan yang sesungguhnya.
" Terima ini ya buk. " Gerry menyerahkan semua uang di dompetnya.
" Masya Allah mas. Baik banget ganti ruginya banyak. " Ucapan Bu Ina bersyukur.
" Gak masalah Bu, itung-itung buat biaya tukang juga. " balas Gerry.
__ADS_1
" Terima kasih mas Gerry. " sekali lagi Bu Ina meluapkan rasa terima kasih atas pemberian Gerry.
Jammer setelah perkelahian itu selesai langsung pergi ke kelas lewat belakang sehingga pihak guru yang baru saja datang tidak melihatnya di lokasi. Tak lama polisi datang untuk melakukan penyelidikan, namun pelaku sudah dibawa pergi hanya meninggalkan sebuah kontainer dilokasi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rendy yang mendapat perintah dari Jammer telah sampai di posisi lapis kedua anak buahnya menyebar dan bersembunyi di sekitar jalan yang kiranya akan jadi jalur kabur kelompok tersebut. Rendy sudah mendapatkan foto ke tujuh orang yang dikepung Gerry, salah seorang dari anak buah Gerry memang sudah disuruh untuk mengirim foto ke mereka setelah berhasil dikepung.
Jam menunjukkan pukul 11.30, belum terlihat orang-orang yang dicari, belum ada orang yang melapor telah melihat perginya para komplotan penculik itu. Sebuah pesan masuk ke ponsel Rendy.
”Mundur, biar mereka terpancing keluar!” peringatan Jammer.
”Baik tuan.” balas Rendy.
Segera Rendy membubarkan anak buahnya, hanya saja menyuruh mereka standby jika ada keadaan yang mendesak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara di rumah sakit Soe-Hat Stevani mendapat laporan dari asistennya ada beberapa desas-desus yang kurang sedap dari para pegawai rumah sakit. Setelah pengambil alihan Beberapa hari terakhir, ia di tuding dengan berbagai omongan miring dari gosip-gosip yang terus disebar oleh orang tak bertanggungjawab. Atas laporan itu, Stevani tak terlalu ambil pusing, baginya lebih baik memperbaiki sistem pelayanan dan operasional rumah sakit. Dalam waktu beberapa bulan ini perusahaan Jammer akan mengeluarkan dana cukup besar untuk perbaikan berbagai aspek yang diperlukan, tapi Stevani sadar setelah dirasa cukup maka dana dari Jammer akan di alokasikan ke hal lain jadi hanya operasional dasar yang akan ditopang Jammer.
”Nona Vani, saya dengar dari beberapa staff bahwa dia yang meracik opini ini.” ucap asistennya mengambang.
”Dia siapa? kamu yang jelas ngomongnya Jarot!” ucap Vani menegur ketidak jelasan Jarot.
"Itu pemimpin lama, Nona.” jawab Jarot.
"Awasi saja desas-desusnya, suatu saat kita akan tahu apa sebenarnya tujuan dari penyebarannya.” perintah Vani.
”Baik nona saya laksanakan.” jawab Jarot mengerti
”Kalo begitu saya pergi dulu.” pamitnya.
sepeninggal Jarot Vani langsung melamun memikirkan laporan yang diterimanya.
"Kalo beneran dia orangnya, berarti dia gak terima diturunkan pangkatnya. Tapi kalo bener, jahat sekali caranya.” batin Stevani.
Stevani hari ini ada jadwal pemeriksaan pasien dari jam 10 pagi untuk itu ia segera bersiap-siap untuk melaksanakan tugas sebagaimana dokter. Sepanjang perjalanan banyak staff medis maupun non medis yang terlihat menghindarinya, kecuali orang-orang BC yang baru hari kedua masuk kerja. Ia terus melaksanakan tugasnya sesuai SOP dengan berusaha tak memperdulikan keadaan itu, walupun sebenarnya tidak nyaman untuk lingkungan kerjanya.
Waktu terus berjalan hingga tak terasa waktu makan siang telah datang, Stevani dan dua asistennya pun memilih makan di restoran samping rumah sakit. Iya, restoran itu adalah yang akan di bongkar, tapi sebelum ada kontraktor yang memenangkan tender maka pemilik lama diperbolehkan untuk menjalankan usahanya sembari mencari tempat baru.
"Non, sikap mereka terhadap nona kelihatan sekali tidak sukanya ya?" ucap Jarot
"Tak usah dipikirin. Mereka tak tau apa-apa soal aku." balas santai Stevani.
"Selamat siang, bisa saya catat pesanannya?" sapa pelayan restoran yang baru saja datang.
"Es teh dua, jus strawberry satu, dan makanannya special barbecue tiga." ucap Jarot mewakili Stevani dan rekannya.
"Nona Vani, untuk tender proyek ini kapan kita laksanakan?" tanya Jarot.
"Tunggu bos aja, paling juga bentar lagi udah ada meeting." jawab Stevani santai.
"Memangnya tuan Jammer belum menghubungi nona?” tanya asistennya yang satu.
"Belum Han, mungkin tunggu beberapa hari dulu." Stevani ragu.
Mereka pun mengalihkan pembicaraan ke hal lain sambil menunggu makanan datang, kedekatan mereka memang seperti seorang teman dekat dari pada atasan dan bawahan.
"Mungkin lusa aku bisa ngomong sama Jammer.” batin Stevani
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Beberapa hari terakhir Roger memikirkan temuan yang janggal dari kematian Ganco, selama dia memimpin dunia mafia ini tak pernah ada masalah serumit ini dalam kelompoknya. Ia mengingat kembali kejadian beberapa tahun lalu saat Ganco dan anak buahnya bergabung dengan Blade Knife.
.......... Flashback On ..........
Roger baru pulang perjalanan bisnis dari luar negeri, waktu itu sudah larut malam tapi ayahnya belum tidur, membuatnya sedikit heran.
"Malam ayah. Kok belum tidur?” sapa Roger
"Malam nak. Ayah nunggu kamu pulang.” jawab Matius.
"Kenapa pah?" tanya Roger heran. Tak biasanya dia ditunggu oleh ayahnya yang jarang perduli dengannya.
"Ayah ada permintaan." ucap Matius.
"Apa ayah mau minta apa?" tanya Roger sembari tersenyum berlutut di hadapan Matius. Ia merasa senang sudah lama ia tak pernah diajak bicara Matius sepeninggal mamanya.
”Tolong bantu teman lama ayah. Besok dia bakalan ke sini untuk perkenalan sama kamu.” jelas Matius singkat.
"Siap yah. Pokoknya apapun mau ayah bakal aku turutin.” ucap Roger begitu bahagia.
Dan mulai keesokan harinya Ganco dan anak buahnya resmi menjadi anggota Blade Knife, serta begitu dihormati disetiap momen yang dijalani Blade Knife sebagai kelompok mafia yang belum lama berdiri. Banyak pengaruh yang dilakukan oleh Ganco dan lagi Roger merasa keberadaan mereka memperkuat Blade Knife. Karena semua yang ikut bergabung bersama Ganco adalah anak buah yang setia dan berkemampuan cukup tinggi dibandingkan anak buahnya sendiri.
....... Flashback Off.......
Selama tiga tahun ini ia merasa seperti banyak perkembangan di segi bisnis setelah diajari oleh Ganco, banyak hal yang diberikan oleh Ganco. Namun satu hal yang jadi syarat dari Ganco atas pemberiannya, yaitu merebut Bayusuta Crew untuk membalaskan dendamnya. Yang jadi titik berat dalam hatinya adalah saat ada masalah pasti Ganco ikut campur, sedikit tak nyaman tapi ya sudahlah baginya Ganco banyak membantu, alhasil kematiannya juga jadi kehilangan yang berat.
Toktoktok. suara ketukan pintu ruangannya.
__ADS_1
"Siapa?” tanya Roger dari dalam.
"Coki bos. Boleh masuk kah?” Balas Coki dari luar.
"Masuk Cok.” Jawab Roger.
"Bos... Mau ngomong sesuatu bos." sapanya saat membuka pintu.
"Apa Cok?" tanya heran Roger.
"Kematian pak Ganco itu beneran karena orang dalam bos?" balas Coki penuh penasaran.
"Kamu tahu dari mana?" balik tanya Roger sedikit tak nyaman.
"Denger pembicaraan asistennya dan asisten bos kemaren." jawab Coki.
"Belum bisa dipastikan, tapi dari peluru yang disebutkan polisi kemungkin yang punya cuma beberapa orang itupun sebagian besar temen-temennya bang Ganco." jelasnya tegas.
"Saya curiga ada penyusup bos. Soalnya peluru yang dipakai oleh pelaku itu versi terbaru, itu cuma bos, pak Ganco, dan keamanan markas.” balas Coki menduga-duga.
"Emang kau lihat pelurunya?" tanya Roger lagi.
"Sempet lihat bos waktu nyari bukti didamping mobil ada satu bos." jawab Coki.
"Kenapa gak bilang waktu itu?” Tanya Roger kesal.
"Ma... Maaf bos." Coki menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sebenarnya saya ragu kalo pembunuhnya orang kita juga bos. Sepertinya ada sesuatu di belakang ini. Mungkin bos lebih baik mencoba untuk ke Bayusuta, menemui bos mereka siapa tau dari situ ada titik terang." tambahnya.
"Jangan gila kau menyuruhku ke kandang musuh." Roger semakin kesal.
"Musuh utama kita kan dia semenjak Ganco datang, bahkan kelompok Naga Emas, Noxxen, Alpha Wolf, dan Tanah Utara semua itu kita abaikan karena fokus kita pada Bayusuta Crew. Mungkin dari kedatangan bos kesana kita bisa berubah sikap sementara untuk keamanan dan juga mungkin mereka sebenarnya yang membunuh dengan bantuan penyusup." penjelasan Coki
"Tunggu maksudmu?" Roger tak paham.
"Gini loh bos. kita secara level juga gak sepadan dengan mereka, kenapa kita cari masalah sama mereka terus mending kita berunding biar sama enak, sama senang. Mungkin dengan itu kita bisa berkembang." jelasnya.
"Oh kau mau kita takluk pada mereka?" tanya Roger ketus
"Bukan begitu bos. Tapi kita realistis aja gitu." jawab
"Ah diamlah. Pusing aku denger suaramu." keluh Roger.
"Satu lagi yang mau saya tanyakan, mau kas bon 1.500.000 bisa bos? Ada perlu soalnya." Coki.
"Gak. Gajimu aja udah gak sisa minta bon lagi." Roger tegas.
"Yaelah bos kok gak boleh sih.” keluh coki.
"Sana pergi kalo gak ada lagi urusanmu!" usir Roger keras.
"Yaelah bos. Tolong dong bos." Keluh Coki menangkupkan tangan memohon dengan sangat.
Beberapa menit Roger berpikir, megosok bagian bawah mulutnya menunjukkan memikirkan hal yang berat.
"Cok. Kau atur pertemuan ku dengan bos besar mereka, jangan sampai ada orang lain yang tahu, ini hanya kita berdua yang tau aku menemui dia. Untuk itu bayaranmu 1.500.000 gak usah bon, itu buat bayaran membahayakan nyawamu." tawaran Roger.
"Oke bos, saya tidak akan mengecewakan.” jawab Coki dengan senyum.
"Kalo begitu pergilah, uangnya aku transfer setelah kau bisa membuatku bertemu dengannya!” ucap Roger mengusir Coki.
Coki pun segera pergi meninggalkan markasnya menuju hutan tempat markas Bayusuta Crew yang sebenarnya itu markas kelompok Gerry. perjalanan menempuh waktu satu jam dari markas Blade Knife yang merupakan kompleks pergudangan di pesisir pantai Utara, melewati tengah kota kemudian menuju selatan menaiki perbukitan, dan setelah itu memasuki sebuah hutan yang masih sangat lebat. Sesampainya coki di lokasi ia tidak takut atau ragu untuk memasuki tempat itu.
"Hay kau bukannya anak buah Roger?" tanya penjaga di pintu masuk.
"Iya aku anggota Blake Knife datang dengan damai." jawab coki.
"Ada urusan penting yang harus aku sampaikan pada tuan besar kalian. Tolong pertemukan aku dengan dia!" tambahnya.
"Tunggu. Sebentar aku hubungi tuan Gerry biar nanti dia yang bilang ke tuan muda." balas salah seorang penjaga pintu masuk markas.
"Oh iya aku lupa tuan kalian anak SMK jam segini mana ada dimarkas. Hahaha" ucap Coki tertawa-tawa.
"Ya sudah minta kontaknya saja. Aku ingin bertemu penting. Kalian tenang saja aku sendirian dan damai tidak ada niatan buruk dari kedatanganku." imbuhnya.
"Nih catatlah sendiri." ucap penjaga tadi sembari menyerahkan ponselnya untuk dicatat nomor telepon Gerry.
Segara Coki mencatat dan menghubungi Gerry untuk membuat janji bertemu. Tak lama kemudian Coki pergi dari lokasi markas menuju tengah kota, menuju tempat pertemuan dengan Gerry. Gerry yang dihubungi oleh Coki membuat antisipasi mungkin Coki berniat buruk sehingga dia tidak mempertemukan dengan Jammer dulu, lebih baik ia menemui untuk mencari tau apa tujuan Coki sebenarnya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.