Menikahi Kakak Angkat

Menikahi Kakak Angkat
Liburan Sekolah #1


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Jammer dijemput oleh Rendy untuk pergi ke perusahaan, semua direksi PT Sri Manunggal Sejahtera dan managerial sudah di beri pengumuman untuk kegiatan hari ini. Melakukan rapat koordinasi dan pengecekan setiap lini kerja perusahaan, itu agenda yang Jammer ingin jalankan hari ini. Karena direksi perusahaan juga diundang, maka Samuel dan Amel yang juga ada dalam bagian pemegang saham perusahaan akan hadir dalam rapat. Kabar turun tangannya Samuel dan Amel tersebar bagaikan sebuah angin badai menerpa mereka-mereka yang memiliki masalah dan kesalahan.


"Selamat pagi papa, mama." sapa Jammer ketika bertemu dengan kedua orang tua angkatnya di parkiran.


"Pagi juga." balas sapa Samuel dan Amel.


"Kamu kenapa sih harus ada acara begini?" tanya Sam.


"Ya setahuku ini ajaran papa." jawab Jammer singkat.


"Sudahlah ayo masuk!" potong Amel supaya tidak lebih pajang lagi menjadi debat.


Jammer, Amel, dan Samuel berjalan masuk beriringan dengan Sam dan Amel di depan diikuti Jammer dan Rendy di belakang. Ketika melewati security Jammer berhenti sejenak.


"Rendy tolong minta pengamanan di ruangan meeting, minta enam orang ke Gerry." perintah Jammer, kemudian kembali berjalan lagi menuju lift untuk naik ke ruang meeting.


"Baik tuan." jawab Rendy.


Sapa serta salam dari para karyawan yang berpapasan dengan Jammer dan Rendy hanya mereka berdua balas dengan senyum dan anggukan kepala. Seketika saat pintu lift terbuka ke empatnya masuk ke dalam dan memencet lantai tujuh tempat dimana rapat itu diadakan.


"Ren, Silvi sudah siap?" tanya Jammer.


"Selalu siap kapanpun tuan Jammer ingin perintahkan." jawab Rendy.


"Bagus sekali. Kamu urus marketing, aku malas mendengar celotehan mereka yang panjang lebar tapi intinya cuma secuil." ucap Jammer.


"Baik tuan."


"Mama bantu kamu di operasional ya sayang." ucap Amel memegang sebelah bahu Jammer.


"Nanti mama capek, kita santai-santai saja mengawasi tidak usah terlalu jauh mengurusi." ucap Samuel.


"Iya mama gak usah terlalu capek, ini juga tidak menyulitkan bagiku." ucap Jammer memegangi tangan Amel tadi.


"Tapi papa kayaknya mau bantu handle operasional. Hahaha" ucap Sam penuh tawa.


"Ah papa, kalo papa bantu mama harus bantu pokoknya." keluh Amel.


"Iya, mama sama papa aja ya, pokoknya jangan jauh-jauh dari papa." ucap Sam mesra.


"Astaga tuan Sam dan nyonya Amel bucin juga ternyata." gumam Rendy.


"Ah suka-suka mereka sajalah." gumam Jammer.


"Papa, mama jangan terlalu capek ya." pinta Jammer.


Tak lama pintu lift terbuka, mereka segera berjalan menuju ruang meeting. Kondisi diruangan riuh terdengar dari luar, semua orang masih bersenda-gurau.


Kreeett. pintu di buka oleh Rendy.


"Selamat pagi." suara tegas dan lantang Jammer mensunyikan ruangan sejenak.


"Selamat pagi tuan Jammer." ucap Stevani dan Jarot. Mereka berdua pun membungkukkan badan sebentar.


"Selamat pagi tuan dan nyonya." sambung semua yang hadir dengan juga membungkukkan badannya sebentar.


"Sudah duduk kita mulai dari saya dan kedua orang tua angkat saya." suruh Jammer.


Jammer mengambil tempat ditengah jajaran direksi perusahaan, dengan Samuel dan Amel di kanannya, serta Stevani pada sisi kirinya. kemudian Silvi ditemani Byan, Rendy dan Jarot di belakang tuannya masing-masing dengan meja berbeda. Setelah sambutan dan pembukaan Jammer membagi setiap lini untuk mengumpulkan dokumen sesuai dengan pembagian Jammer tadi.


"Ini departemen manajemen, siapa yang buat laporan perjalanan bisnis ke Bali?" tanya Jammer ketika mengecek dokumen pertama.


"Saya pak. Eh bos muda." jawab seorang laki-laki sekitar umur 30-an tahun.


"Nama?" seru Rendy.


"Gabriel Batista." jawab Batista.


"Oh tukang gelut Amerika." canda Jammer namun hanya dia yang tertawa.


"Kenapa ada laporan keperluan lain-lain di dalam sini?" sambung Jammer bertanya.


"Itt... Itt... Itu." ucap tergagap Batista.


"Langsung saja tidak usah lama. Ini uang dibuat apa?" ucap Jammer lantang.


"Maaf tuan untuk keperluan pribadi." jawab Batista.


"Kamu perlu mengembalikan atau tidak sekiranya?" tanya Jammer.


"Perlu tuan karena itu bukan urusan kantor." jawab Batista.


"Silvi catat." suruh Jammer, kemudian kembali mengecek dokumen lain.

__ADS_1


"Iya tuan." jawab Silvi.


"Sayang catatkan dong." pinta Silvi pada Byan.


"Operasional perusahaan. Kinerja dimana ini kok sering main turun naik." seru Sam, cenderung membentak.


"Woy jawab woy." bentak Sam.


"Rendy panggil Gusman, biar Gusman yang bentak-bentak, kasih papa!" suruh Jammer.


"Ren, sama ini kamu ngecek gak sih selama tiga bulan ini." ucap Jammer menyerahkan dua map dokumen.


"Kenapa tuan?" tanya Rendy.


"Itu ada beberapa perjalanan mereka yang tidak produktif, tidak menghasilkan juga tidak bisa di tarik biaya yang mereka gunakan." jawab Jammer menunjuk satu-persatu bagian yang dia maksud.


"Itu karena mereka memiliki perencanaan yang di setujui tuan muda juga waktu tiga bulan lalu." sangkal Rendy.


"Oh aku lupa." celetuk Jammer malu.


"Ya sudah siapkan evaluasi seminggu lagi, siapkan semua dokumen lebih lengkap dan terperinci!" suruh Jammer.


"Iya tuan Muda." jawab Rendy mengerti.


"YANG MEMEGANG PENGADAAN PERUSAHAAN DIFATARA GRUP." Teriak Samuel.


"Timnya Eldo." ucap Amel menambahkan.


"Tuan maaf Eldo tidak hadir." ucap manajer operasional.


"Kamu siapa namanya manager operasional kan?" tanya Samuel.


"Kasiran tuan." jawab Manajer itu.


"Kamu sudah tua tidak ingin pensiun?" tanya Jammer.


"Iya saya sesuai arahan tuan Sam dan tuan muda saja, jika masih boleh mengabdi di perusahaan maka saya akan lakukan, jika harus pensiun maka saya akan kembali ke tempat utama saya bersama teman-teman lama saya yang selalu setia pada tuan Samuel." ucap Kasiran.


"Tunggu, aku perlu sekertarisku, Rendy panggil dia." ucap Jammer.


"Kamu Kasiran, siapkan pengganti kamu, jika tidak bisa cari maka bilang ke sekertarisku nanti ya, biar bisa aku carikan dari luar." ucap Jammer.


"Baik tuan."


"Baik, kalian semua bersabarlah. Menunggu beberapa saat ya, dan coba setiap lini diskusikan apa-apa saja yang menjadi kendala kita untuk berkembang!" suruh Jammer.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kantor dimana Lenka berada sedang heboh, banyak karyawan yang terkejut atas kepindahan Galenka ke perusahaan yang diketahui oleh mereka sebagai perusahaan yang sulit untuk dimasuki, sedikit karyawan namun dengan proyek yang cukup padat, memiliki anak perusahaan di berbagai bidang, dan gaji yang lebih dari cukup. Pelepasan tidak dapat dilakukan lama, hanya salam dan senyum yang dapat mereka berikan, terlihat juga langkah Lenka seperti tertahan-tahan para karyawan menganggapnya Lenka tidak ingin pergi karena ingin tetap bersama mereka, tapi yang sebenernya Galenka sebenarnya Galenka tidak mau untuk berada apa perasaan dan pekerjaan.


"Selamat ya Galenka." ucap seorang karyawan ketika menghampiri Galenka yang sedang membereskan tempatnya.


"Jangan lupakan kita ya." ucap teman sebelah meja.


Tapi selain ada yang senang, juga ada yang iri hati dengannya, begitu kabar penarikan dari PT Sri Manunggal Sejahtera di terima Galenka menjadi pusat gosip mereka, terutama mereka-mereka yang mendengar bahwa Galenka pernah jalan dengan bos perusahaan itu. Ibarat buah adalah buah salak dimana rasanya yang enak harus melewati barisan kelitnya yang tidak halus malah lebih mirip gerigi-gerigi, karena ia bisa merasakan keindahan berada di perusahaan bonafit itu namun harus melewati barisan ketidak nyamanan di sekelilingnya dulu.


Anak buah Rendy kini sudah berada di ruangan tempat Galenka sebelumnya berkerja, mereka melihat banyak karyawan yang berkerumun untuk melepas Galenka pergi. Segera mereka menyingkap menyingkirkan para karyawan itu untuk menemui Galenka, mereka yang berjumlah dua orang berbaju hitam-hitam dengan topi Fedora hitam, keduanya dengan ramah mengucap kata permisi meminta jalan untuk masuk ke tengah kerumunan.


"Maaf permisi kita berdua mau lewat mas, mbak, pak, ibu." ucap ke duanya hingga bisa mencapai hadapan Galenka.


"Maaf nona Galenka kami ditugaskan tuan muda Jammer untuk menjemput anda, karena sekarang nona ditunggu di rapat perusahaan." Ucap salah satunya.


"Baik tunggu sedikit lagi pak, ini belum selesai dirapikan." ucap Galenka tanpa harus menelaah siapa orang di hadapannya.


"Bisa kami berdua bantu.?" tanya orang itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dikantor Dinda dan Dhean, mereka berdua baru saja menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk, jam dinding menampakkan jarum panjang dan pendek menunjuk pada angka yang sama yaitu angka dua belas. Waktu bagi mereka berdua untuk pergi makan siang.


"Dhean, mau makan ke mana nih?" tanya Dinda.


"Aku tahu kamu mau ke kantornya yayang bebeb kan?" ledek Dhean.


"Bukan begitu, pekerjaan kita kan sudah selesai, disana juga ada mama dan papa. Ajak mereka makan siang ya, sebelum jam makan siang selesai. Dan semoga aja mereka belum makan siang." ucap Dinda.


"Oke kita kesana. Aku hubungi mama." Ucap Dhean meraih ponsel di samping telepon kantor.


"Hallo, Why are you call me?" tanya Amel.


"Mama udah makan siang?" balas Dhean.


"Oh, kalian kesini. setengah jam lagi kita makan sing. Bawa cake coklat dua, milk shake extra creamer satu, dan tolong bilang ke Dinda, coba tanya ke Donny untuk si Fiux itu ada pengawasan tidak!" perintah Amel.

__ADS_1


Tanpa salam pamit Amel memutus hubungan telepon sehingga Dhean hanya termenung sejenak tak berkutik.


"Kenapa Dhean?" tanya Dinda menyadarkan saudarinya itu.


"Kamu disuruh mama untuk hubungi Donny tanya siapa yang mengawasi si rambut pendek sebahu itu." jawab Dhean.


"Buat apa sih?" tanya Dinda.


"Ya mungkin supaya tidak menggangu pikiran kekasihmu itu. Wahai kakak Dinda, kau itu kekasihnya pasti tahu seperti apa khawatir dan dorongan hati kekasihmu itu kepada gadis yang begitu ia cintai itu. Aku saja kakak angkatnya ini tahu harus apa hanya lebih tepat jika kamu sendiri yang harus menjaga pikiran adikku itu tetap tenang, jangan sampai dia mendatangi gadis itu untuk melihat keadaannya sendiri, tau kan dia akan seperti apa jika dia melakukan itu?" penjelasan Dhean yang langsung paham maksud mamanya itu.


"Oh iya, aku harus segera telepon Donny." ucap Dinda baru menyadarinya.


"Aku jalan ke mobil dulu, kamu selesai urusanmu." ucap Dhean pergi duluan.


...****************...


Sesampainya di mobil Dhean merenung di belakang setir mobil, berpeganggan pada setir, kedua tangannya menggenggam erat setir itu, dengan pandangan kosong dia bergumam.


"Kana, are you okay there.?" gumamnya.


"Kenapa aku?" batinnya.


"Aku tak tau apa yang terjadi, yang ku tau pasti, aku benci untuk mencintai dirimu." ucapannya menyadarkan diri.


"Aarrgghh, kesal." ucapnya memukul setir dengan kedua tangannya.


"Dinda, ayo." teriak Dhean ketika melihat Dinda keluar dari lift parkiran. Segera ia memacu mobil menjemput Dinda supaya segera meninggalkan tempat itu.


...****************...


Tak perlu waktu lama, Dhean memacu mobil dengan kecepatan maksimum sehingga jarak dapat dilalui dengan cepat. Kini keduanya tengah menaiki lift menuju lantai dimana Jammer berada.


"Dhean, kamu mau dengar gak kalau aku sedang cemburu?" tanya Dinda.


"Tidak karena kamu sudah pasti selalu begitu." jawab Dhean.


"Ya sih. Lagipula cuma bilang saja aku sedang cemburu buta." ucap Dinda.


"Aku mau ke Yokohama. Kamu mau temani aku atau tidak?" tanya Dhean.


"Oh kamu mau ke sana?" Dinda sedikit terkejut.


"Ya." jawab dengan anggukan kepala juga.


"Hati-hati, aku gak bisa ikut, setiap sore harus menemani dia latihan." ucap Dinda menepuk pundak Dhean.


"Ya gak masalah, aku akan ke sana sendiri." ucap Dhean.


Mereka tetap diam kemudian hingga ruangan rapat.


"Semuanya, kita jeda sampai jam dua, kalian nanti siapkan evaluasi triwulan kebelakang dan perencanaan step by step langkah kalian menghadapi triwulan kedepan." teriak Gusman mewakili Samuel sesuai dengan perintah.


"Kami permisi dulu." ucap Jammer.


"Mama, papa, sayang." sapa Dinda melambaikan tangannya.


"Sayang, itu saudara kembar kamu kenapa kok seperti murung wajahnya? Tanya Amel menghampiri Twin D.


"Oh mungkin dia galau sih mah, katanya mau ke Jepang tapi aku belum tahu kapan dia berangkat." jawab Dinda.


"Kalau begitu papa suruh Kana jemput kamu ke sini ya Dhean, kami waktu dekat ini kan membantu Jammer, jadi belum bisa menemani kamu." ucap Sam berusaha bijak berbicara.


"Iya pa, Sabtu ini aku berangkat ke Yokohama." jawab Dhean mengerti.


"Oke kita makan dulu, mana pesanan mama Dinda?" ucap Amel.


"Aku lupa mama. Maaf." mohon Dinda manja mendekati Amel


"Aku juga lupa. Wah mama maaf ya." ucap Dhean juga manja seperti kembarannya.


"Dasar kalian berdua." pekik Amel.


"Ya sudah ayo kita segera makan ke luar." ajak Jammer.


Jammer berjalan duluan di ikuti oleh Rendi dan Gusman, kemudian Dinda menyusul merangkul lengan Jammer erat. Sedangkan Stevani dan Jarot mengikuti langkah Samuel dan Amel. Mereka makan di Kafe milik salah seorang anggota BC di dekat kantor.


.


.


.


__ADS_1


__ADS_2