
"Haris, apa yang terjadi pada saya tadi malam?" tanya Pras
Haris yang sedang mengemudikan mobilnya menoleh ke belakang, lalu fokus kembali ke jalanan.
"Saya mengantar anda, karena anda mabuk, Pak." jawab Haris.
"Siapa yang membawa saya ke kamar?" tanya Pras lagi
"Saya pak, tapi nyonya juga ada disana, nyonya yang membantu saya. Setelah itu saya permisi pulang." jawab Haris jujur.
Berarti benar tadi malam dia yang aku peluk, aku masih ingat jika aku memeluknya, pantas dia menghindari ku. Aku akan bicara padanya dan meminta maaf.
Sore hari saat jam pulang kantor, dara bersiap untuk segera pulang. Di lobi kantor, Arfan sudah menunggunya.
"Dara, mau saya antar? kebetulan kita kearah yang sama." ucap Arfan.
"maaf pak, tapi saya naik taksi saja, saya nggak mau merepotkan bapak. " jawab dara.
"Nggak ngerepotin kok, kita kan searah. ayo" Arfan coba merayu dara.
"Sekali lagi maaf, tapi saya mau singgah dulu ke suatu tempat, lain kali saja. Sekali lagi maaf" tolak dara secara halus
"Ok, tapi jangan lupa, besok jam 2 siang di kafe bintang, Ok." ucap Arfan.
Dara mengangguk sebagai jawaban. Kemudian dia melangkah keluar dan memanggil taksi.
Dara masuk ke dalam taksi, bersamaan dengan mobil Pras yang tiba di sana, untuk menjemput nya. Pras melihat dara masuk masuk ke dalam taksi.
"Aku terlambat" guman Pras kesal. Dia kembali melajukan mobilnya pulang ke rumah.
Sampai di rumah, Pras tak menemukan jejak istrinya. Dia melihat ke kamar dan dapur. Mencari cari namun tak juga dilihatnya dara.
"Bik." panggil Pras kepada Bik Jum.
"Ya, den."
"Andara mana, Bik?" tanya Pras.
"Non dara belum pulang, den. "
"Belum pulang?" tanya Pras lebih kuat.
"I..iya den " jawab bibi takut takut.
Kemana dia pergi, jelas jelas tadi aku melihatnya masuk ke dalam taksi tersebut. Apa yang dia lakukan diluar sana? Dan ini sudah hampir malam.
Pras kembali keruang tamu dan duduk di kursi. Rasanya tak sabar menunggu sang istri tiba dirumah. Berbagai pikiran buruk hinggap di kepalanya.
"Assalamualaikum" suara merdu Andara membuyarkan lamunan Pras.
Pras melihat ke pintu, dara masuk kedalam rumah, diliriknya jam di tangannya sudah pukul delapan malam. Dan Andara baru pulang.
"Waalaikum salam, dari mana saja kau jam segini baru pulang?" tanya Pras dengan nada dingin sarat kemarahan.
Dara berhenti sejenak, kemudian dia memilih kembali berjalan menuju kamarnya tak menanggapi ucapan Pras.
"Andara Ramadhani, aku bertanya padamu. Darimana saja kau?" tanya Pras dengan nada tinggi.
Dara berbalik dan menatap Pras dengan tatapan jengkel. Tubuhnya lelah seharian dan ini Pras menambah kekesalannya, dengan mengajaknya berdebat.
"Aku dari rumah mama mengambil mobilku, Apa itu salah, tuan Prasetya." tanya dara tersenyum sinis. Kemudian dia berbalik dan kembali melanjutkan langkahnya.
__ADS_1
"Mengapa kau tidak memintaku mengantar mu atau kau bisa ijin dulu dariku.' ucap Pras dengan kesal.
"Maaf, aku tidak mau merepotkan Anda." jawab dara
Merepotkan, tentu saja tidak, aku kan suaminya, wajar saja jika dia memintaku mengantarkan nya.
Pras tak lagi menjawab atau bertanya, dia memilih diam dan membiarkan dara berlalu. Akan panjang ceritanya jika dia kembali bertanya yang ada mereka hanya akan bertengkar.
Pras menarik nafas dalam, dia berjalan keluar rumah dan ternyata benar, dara membawa mobilnya dan kini terparkir di depan garasinya.
Aku sudah salah menduga, dia pasti semakin kesal denganku.
...****************...
Dara menghempaskan tubuhnya di kasur. Lelah rasanya seharian bekerja, apalagi tadi dia harus ke rumah mama yang letaknya lumayan jauh dari sini. Dara menatap langit langit kamar, andai Dinda tidak pergi, mungkin saat ini aku masih bisa hidup tenang dan santai.
Dara bangkit ke kamar mandi, dia membersihkan dirinya dan segera ke kamar Ega putranya.
"Halo jagoan mama, sedang apa nih, sama Mbak Maya." tanya dara gemas dan mengambil Ega dari gendongan Maya.
"Ega sudah minum susu?" tanya dara pada Maya.
"Sudah Bu." jawab Maya sopan.
"Saya akan tidur disini malam ini, kau bisa kembali ke kamarmu." ucap dara.
"Baik Bu "
Maya keluar kamar dan kembali ke kamarnya. Dara memilih tidur bersama Ega dan melewatkan makan malamnya. Dara masih enggan bertemu dengan Pras dalam keadaan marah.
Pras makan malam sendiri. Dia melihat meja makan penuh dengan makanan, tapi dia sendirian, biasanya walau tak saling bicara mereka makan bersama.
"Maaf den, tadi non dara bilang dia tidak lapar."
"Apa dia sudah makan?"
"Kurang tahu, den."
"Baik Bik, makasih." jawab Pras.
Pras kehilangan nafsu makannya mendengar ucapan Bik Jum. Dia pasti menghindari ku, aku harus bicara padanya saat ini juga.
Pras bangkit menuju kamarnya, namun saat membuka pintu kosong dia tak bisa menemukan Andara disana.
"Kemana dia? apa dia tidur di kamar Ega, aku akan melihatnya, dan masalah ini harus selesai secepatnya." ucap Pras pelan.
Pras sudah di depan pintu kamar Ega. Dia belum mengetuk pintu tampaknya Pras masih ragu dan berpikir, apa yang dia lakukan, masuk atau tidak.
Setelah lama berpikir Pras memutuskan untuk membuka pintu tanpa mengetuknya. Dia melihat kedalam kamar, dara tidur berdua dengan Ega. Nyaman diatas kasur.
Pras mendekat, dia menyaksikan kehangatan keduanya, terlihat jelas sekali Ega tertidur pulas dalam dekapan hangat ibunya. Hati Pras ikut hangat melihatnya. Tanpa dia sadari sudut bibirnya tertarik kebelakang, Pras tersenyum tipis.
Dia sungguh menyesal membentak dan mencurigai istrinya.
"Aku minta maaf dara, aku minta maaf" gumannya pelan.
Tangannya terulur ingin mengusap lembut pipi dara, namun dia urungkan kembali takut dara terbangun dan salah paham dengannya. Puas memandangi keduanya, Pras berdiri.
Pras memilih keluar kamar dan menutup pintunya, dia kembali ke kamarnya dan ikut membaringkan tubuhnya. Pras mengantuk, namun matanya enggan terpejam, bayangan dara dan Ega yang tidur bersama, begitu membuatnya bahagia. Rasanya Pras ingin ikut bergabung dengan mereka disana.
Tentu saja itu tidak mungkin terjadi, mengingat hubungannya dengan dara semakin memburuk.
__ADS_1
...****************...
Sama seperti kemarin, dara menyiapkan makanan untuk suaminya, namun dia enggan untuk makan bersama dengannya. Dara menyibukkan dirinya bermain dengan Ega.
Kebetulan ini hari Minggu, dan mereka berdua libur bekerja.
Pras sudah coba mendekati nya dan ingin bicara, tapi Andara selalu menghindar. Dan kini dia membiarkan Pras menggendong Ega.
Dara sudah terlihat rapi dengan gamis berwarna pink soft plus hijab senada. Dia bersiap untuk pergi menemui Arfan.
Pras menatap takjub penampilan dara. tak bisa dia pungkiri, jika sebenarnya dara cantik, jauh lebih cantik dari istrinya Dinda.
"Mau kemana?" tanya Pras saat dara sudah berada tak jauh darinya.
"Aku ada janji dengan seorang teman, aku tidak akan lama." jawab dara
"Teman? pria atau wanita?" tanya Pras menyelidik.
"Aku permisi dulu, assalamualaikum." ucap dara, dia melangkah menuju pintu.
"Kau melupakan sesuatu?" tanya Pras.
Dara menghembuskan nafas berat. Dia berbalik kebelakang dan berjalan menuju Pras, kemudian meraih tangannya dan menciumnya.
Setelah itu dia berbalik dan terus melangkah menuju mobilnya.
Pras begitu penasarann siapa teman yang akan ditemui oleh dara. Menimang beberapa saat, akhirnya Pras mengambil kunci mobilnya dan mengikutinya dari kejauhan.
Awalnya Pras kehilangan jejak, namun akhirnya dia bisa mengejar dara. Pras menggunakan topi untuk menutupi wajahnya
agar tak terlihat eh istrinya. Mobil dara berbelok ke sebuah kafe, Pras berhenti di pinggir jalan. lima menit kemudian dia turun dan ikut masuk kedalam menggunakan topi dan kacamata.
Pras mencari cari dimana dara berada dan dengan siapa dia bertemu, tak terduga dia melihat dara duduk di sudut bersama Arfan, bosnya.
Apa yang mereka bicara kan? hingga diluar kantor dan ini, di kafe berduaan. bathin Pras tak terima.
Pras berjalan dan duduk tidak jauh dari meja dara, agar dia bisa mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
Dia memesan kopi dan mulai menguping.
Sayup sayup dia mendengar suara Arfan berbicara.
"Andara, sebenarnya sudah lama aku ingin mengungkapkan ini semua, aku...aku menyukaimu Andara." ucap Arfan.
Pras marah, tangannya mengepal keras hingga buku buku tangannya memutih. Ingin rasanya dia segera kesana dan menonjok Arfan, karena berani mengatakan cinta kepada istrinya. Dadanya bergemuruh menahan amarah.
Bisa bisanya dia mengatakan cinta kepada istriku. Apa sebenarnya mereka berdua memang memiliki hubungan sebelumnya?
Tidak ini tidak boleh terjadi, aku tak akan membiarkan nya.
Mengapa dulu dia tak berterus terang jika dia memiliki kekasih?
Apa itu sebabnya dia menolak ku?
Pras masih menunggu, apa yang akan di ucapkan dara kepada Arfan. Jawaban dara sangat menentukan sikap apa yang akan dia ambil.
Kira kira apa ya jawaban dara pada Arfan??
Kencengin like, vote dan poinnya.
Ntar malam kita lanjut.
__ADS_1