
Ditengah kebingungan nya, bel rumahnya berbunyi, dengan cepat Pras membuka pintu. Namun dia harus kecewa karena yang datang bukanlah istrinya melainkan sebuah paket. Jelas tertulis disana jika paket itu ditujukan padanya. Pras sempat terdiam sejenak. kemudian dia melangkah masuk dan membuka paket tersebut dengan cepat.
Matanya membulat sempurna, dadanya bergemuruh, jantungnya terasa ditarik paksa dari tempatnya, sakit. Pras melihat photo istrinya bersama dengan Arfan. Jelas terlihat Arfan memeluk istrinya. Pras membuang photo tersebut.
"Aa...." Pras berteriak dan mengusap rambutnya dengan kasar. Pras marah dan kecewa. Istrinya selama ini mengkhianati nya.
apa mungkin dia berselingkuh dariku selama ini? tapi apa mungkin? aku mengenal nya, dia bukan gadis yang mudah jatuh cinta lagipula dia seseorang yang menjunjung tinggi kesetiaan, tapi ini!!!! aaaaa.....aku pusing. bathin Pras
Pras kembali menatap kotak tersebut, dan tak sengaja melihat secarik kertas. Dengan cepat dia meraihnya dan membaca pesannya.
***Mas, jangan cari aku, aku sudah memilih kebahagiaan ku, dan aku minta kita cerai.
Dara***
Kembali Pras meremas surat tersebut dan membuangnya. Hatinya terasa bagai diremas, kecewa dan sakit yang teramat dalam. Rasanya lebih sakit dari saat Dinda meninggalkannya. Pras menunduk dan kecewa tanpa dia sadari airmatanya jatuh membasahi pipinya.
Mengapa kau lakukan ini dara? mengapa mau mengkhianati ku dan meninggalkan aku, kenapa??? Pras terus berpikir dan meremas rambutnya.
Tiba tiba dia tersadar, dengan cepat dia mengambil ponselnya dan menghubungi dara, tetap tak tersambung.
Aku tidak yakin jika dia meninggalkan ku, apa jangan jangan dia diculik? tapi siapa pelakunya?
__ADS_1
Pras menelpon Haris dan memintanya untuk menyelidiki ini semua, Pras ke kamar dan mengganti pakaiannya. Dia bersiap untuk mencari istrinya.
"Bapak mau kemana?" sebuah pertanyaan membuat Pras berhenti dan menoleh. Pras terkekeh karena yang bertanya adalah Maya. Tidak biasanya dia ramah pada Pras dan sebaliknya, lagipula apa urusannya dia menanyakan kemana Pras akan pergi.
"Apa urusannya denganmu?" tanya Pras balik.
" Maaf pak, saya hanya ingin tahu karena nyonya juga belum pulang."
"tugasmu hanya merawat putraku, dan nyonya tidak pulang karena dia menginap di rumah orangtuanya. Lakukan saja tugasmu dengan benar, jangan sampai putraku sakit lagi "
Setelah bicara Pras segera berbalik dan pergi. Maya hanya bisa mengepalkan tangannya menahan emosi.
Lihat saja, sebentar lagi kau akan menjadi milikku, dan setelah itu kau tidak akan bisa berpaling dariku. Aku pasti akan menjadi nyonya di rumah ini. bathin Maya.
Dengan perlahan Pras menyusuri jalanan mencoba mencari keberadaan istrinya, hingga tengah malam, dara tak juga dia temukan. Haris juga memberikan laporan yang sama. Dia dan anak buahnya sudah mencari dara di beberapa tempat, namun dara belum juga di temukan.
Dilain tempat, dara memikirkan cara agar bisa lepas dan keluar dari penjara yang dibuat oleh Arfan. Tak ada jendela, hanya sebuah pintu yang terkunci dari luar akses satu satunya jika dia ingin lolos.
Suara pintu dibuka, dengan cepat dara bersembunyi didekat pintu, begitu pelayan yang membawakan makanan masuk, dara segera berlari keluar, namun baru beberapa langkah dia kembali tertangkap. Di depan ada dua orang bodyguard yang berjaga. Hingga akhirnya dia kembali dijebloskan kedalam kamar.
Dara menangis, usahanya untuk kabur sia sia, yang bisa dia lakukan hanya berdoa semoga suaminya segera menemukan nya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian pintu kembali terbuka, kali ini yang masuk ke dalam adalah Arfan.
"Malam cantik, mengapa kau menangis? diam lah, aku tak suka melihat airmata mu itu. Aku tak tega melihat nya," ucap Arfan yang kini sudah berdiri didepannya.
"Mengapa kau lakukan ini padaku?"
"Aku melakukan ini karena aku mencintaimu dan aku akan membahagiakan mu." ucap Pras berjongkok di depan dara
Tangannya perlahan menarik dagu dara agar melihatnya.
"sayang, sebaiknya kau lupakan saja suamimu itu, karena aku akan membuatmu bahagia."
"kau gila, psikopat!" teriak dara lantang.
Amarah Arfan tersulut, tangannya mencengkram kuat dagu dara, "dengar, aku akan membuat suami mu menceraikan mu jika dia tidak mau, aku akan membunuhnya"
Dara menatap tajam, jelas dia menentang ucapan Arfan. Arfan terkekeh melihatnya.
"Apa kau tau, aku sudah mengirimkan photo kita berdua, kau dan aku jalan berpelukan dan aku juga sudah mengirimkan pesan agar suami mu tak mencarimu karena kau sudah bahagia denganku dan minta cerai darinya."
Dara menatap tak percaya, "suamimu tak akan mencarimu, jadi menurutlah, jika tidak aku akan membunuhnya."
__ADS_1
Arfan tertawa dan bangkit lalu keluar meninggalkan dara.