
Pras perlahan memajukan wajahnya, refleks dara menutup matanya.
"Aku mencintaimu" bisik Pras
Setelah itu dia bangkit meninggalkan dara yang masih terbaring diatas tempat tidur.
Dara membuka mata secara perlahan, karena dia tidak merasakan sesuatu yang menempel dipipi atau bibirnya.
Tak ada siapapun saat dia membuka mata,
kemana perginya mas Pras?
Aku kira tadi dia mau....
akh ..mengapa aku berpikir dia mau menciumku? dan bodohnya aku, mengapa aku menutup mataku.
Aku berharap dia menciumku! tidak, bodoh...bodoh...bathinnya
Dara meraba jantungnya yang berdetak lebih cepat, sebuah perasaan kecewa hadir saat Pras pergi meninggalkan nya. Kembali percakapan dan kedekatan Maya dengan Pras terbayang, hatinya terasa tercubit dan sakit.
Dara bangun dan melangkah keluar kamar, entah mengapa dia ingin mengetahui keberadaan suaminya sekarang.
Dara berjalan ke kamar Ega, bisa jadi suaminya disana bersama dengan Maya.
Maya tertidur lelap, dan Ega juga terlihat pulas di dalam boks nya. Kembali dara menutup pintu kamar dengan hati hati. Perasaan tenang menyelimuti hatinya, suaminya tidak ada disana. Tapi kemana dia?
Dara melangkah ke dapur dan mengambil air minum, lalu kembali ke kamar, alangkah terkejutnya dia mendapati Pras sudah terlelap di atas ranjang.
Dara mendekat dan menatap wajah tampan suaminya, "Maafkan aku mas, aku masih meragukan ketulusan mu, aku belum yakin jika kau benar mencintai ku, aku hanya takut kecewa untuk yang kedua kalinya. Aku takut mad, aku takut. "
tanpa terasa airmata dara mengalir deras,
Pras yang belum terlelap sepenuhnya mendengar ucapan dara, sontak dia membuka matanya. Netra mereka bertemu, dara terkejut dan memalingkan wajahnya. Tapi terlambat Pras sudah melihatnya dan mendengar semuanya.
__ADS_1
Pras menarik pinggang dara hingga tubuh mereka menempel sempurna, dengan sigap dua membalikkan tubuhnya dan menindih tubuh istrinya.
"A.. apa yang. ehmph...." belum selesai dara berbicara Pras sudah menyatukan bibir mereka. Pras mencium dara dengan lembut dan penuh cinta. Dara terdiam, tubuhnya kembali menegang seperti tersengat aliran listrik, namun dia tak berontak.
Melihat sang istri pasrah, Pras semakin memperdalam ciumannya, Pras melepaskan ciumannya dan mengambil nafas, namun belum sempat dara bicara Pras lagi lagi menyatukan bibir mereka, tangannya juga tak tinggal diam, pelan namun pasti tangan Pras masuk ke dalam piyama dara.
Pras melepaskan ciumannya, tatapan matanya berkabut, penuh dengan hasrat yang membara, "Maafkan aku," ucapnya menunduk masih dengan nafas ngos ngosan. Pras berusaha sekuat tenaga menekan hasratnya yang hampir membuatnya gila.
Dara bukan wanita bodoh, dia tahu apa yang diinginkan suaminya, sebagai seorang istri dia juga berkewajiban melayani suaminya. Jangan sampai suaminya mencari kesenangan dengan wanita lain, bayangan Maya tiba tiba muncul. Dara tak sanggup membayangkan suaminya bersama wanita lain, apalagi jika itu maya. Dara berperang dengan bathinnya.
Melihat dara diam, Pras menarik nafas panjang, kecewa itu yang dia rasakan, Hasratnya harus dia redam, sebelum dia bertindak jauh.
"Maaf" ucap Pras dengan suara serak.
Setelah bicara Pras ingin bangkit dan meninggalkan istrinya, walau hasratnya sudah di ubun ubun, Pras tak ingin memaksa istrinya, dia ingin dara menyerahkan dirinya dengan ikhlas bukan karena terpaksa.
Dara tersadar dari lamunannya, tangannya refleks memeluk punggung suaminya, Pras terkejut melihat sikap sang istri.
Senyum lebar menghiasi wajah tampannya,
"Apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan? aku tidak akan berpikir dua kali lagi, dan aku tidak akan mundur." ucap Pras masih dengan tersenyum manis.
Dara menatap netra Pras, detik berikutnya dia menunduk, entah apa yang dia rasakan kini. Melihat dara menunduk, kembali Pras merasa kecewa.
"Sudahlah, aku tidak akan memaksamu. Sekarang tidurlah." ucapnya lembut.
Mungkin memang belum saatnya, aku tak ingin dia terpaksa.
Pras mengangkat tangannya, berusaha melepaskan tangan dara yang masih memeluknya.
Dara tersadar dan kembali diserang rasa panik, dia mendongak menatap wajah Pras, entah kekuatan dari mana dara mengecup bibir Pras, tentu saja Pras terkejut tapi juga bahagia.
Perlahan Pras kembali mendaratkan ciuman hangat dan dalam, dari bibir ke wajah, pipi, dan leher hingga membuat dara mendesah.
__ADS_1
Pras mulai melakukan tugasnya, setelah sebelumnya dia membaca doa.
Dengan lembut dan penuh cinta, Pras mulai menjamah tubuh sang istri. Sentuhan Pras membuat dara melayang, ini yang pertama untuknya. Dan Pras memperlakukan nya dengan begitu lembut. Hingga penyatuan keduanya, walau dara sempat menangis, namun Pras dengan sabar membuat nya menjadi tenang dan nyaman, hingga dia ikut menikmati indahnya surga dunia. Pras mencium kening dara dan mengatakan terima kasih diakhir penyatuan mereka.
Dara menangis dalam pelukan suaminya. Pras tentu saja bingung dan dengan berat hati dia bertanya.
"Apa kau menyesal?" ucapnya pelan dengan suara serak.
Rasanya lidahnya kelu dan bibirnya enggan bicara tapi kenyataan melihat sang istri menangis membuat Pras berpikiran negatif.
Dara menggeleng lemah, membuat Pras merasa begitu lega. Dia pikir dara menyesal setelah apa yang mereka lakukan. Pras sangat bahagia.
"Maafkan aku, selama ini aku bukan istri yang baik Aku....Hiks...hiks..."
"Shuuut! jangan menangis. Aku mencintaimu tulus dengan apa adanya dirimu, karena aku yakin satu hati nanti kau pasti juga akan mencintai ku." ucap Pras
Dia memeluk dan membenamkan dara didadanya. Membuat dara merasa tenang dan nyaman.
"Maafkan aku mas" ucap dara pelan.
"Coba ulang, apa tadi aku nggak salah dengar kau panggil aku apa?"
Tentu saja Dara enggan menjawab, pipinya merah menahan malu. Pras terkekeh, Dara kesal dan mencubit pinggang Pras. "Auw...sakit sayang." ucapnya sambil tertawa
"Aku mencintaimu," Pras mencium pucuk kepala dara dan semakin mengeratkan pelukannya. Menyalurkan rasa cintanya yang begitu dalam pada wanita yang selama ini dia cintai.
Malam ini dirinya dan dara menyatu, Dara sudah menjadi istrinya yang sesungguhnya. Cinta mampu menghapus rasa benci dara dan merubahnya menjadi cinta
Pras masih duduk bersandar ditepi ranjang, setelah pergulatan panasnya dengan dara. Pras masih tak menyangka, jika dara akhirnya bisa menerimanya dan menjadi istri nya yang seutuhnya.
Pras kembali tersenyum mengingat moment indahnya tadi.
Dipandanginya wajah damai dara yabg tertidur pulas, "aku mencintaimu." bisiknya.
__ADS_1