Menikahi Kakak Ipar

Menikahi Kakak Ipar
Rumah Baru


__ADS_3

Mobil berhenti di halaman rumah Prasetya. "Turun" ucapnya datar.


Dara menatap rumah yang akan menjadi tempat tinggal nya, menghabiskan sisa hidupnya disini.


Jika dulu dia begitu bersemangat datang ke rumah ini untuk menemui kalanya Dinda, kini semua sudah jauh berbeda.


Kini dia hadir sebagai pemilik rumah ini, bukan pemilik tepatnya penghuni baru rumah ini, mengganti kan dinda. Rasa sesak kembali memenuhi hatinya saat teringat akan Dinda.


Pras melihat dara tak juga kunjung turun dari mobil menjadi sangat kesal. Dia mecebik kan bibirnya dan kembali ke mobilnya. Kemudian membuka pintunya dengan keras.


"Turun!" ucapnya setengah berteriak.


"Aku tidak tuli," jawab dara kesal. Dan segera turun lalu melengos pergi.


"Kau memang tidak tuli, tapi kau bodoh." jawab Pras pelan . Dengan langkahnya yang cepat Pria itu berlalu begitu saja meninggalkan dara dengan berjuta kekesalannya.


Akhirnya dara memilih mengalah dan diam, dia berjalan pelan menenteng kopernya. Jangan berpikir jika Pras akan berbaik hati membawakannya, tidak, Pras terus berjalan masuk ke dalam rumah.


Neraka baru di mulai, bathin dara.


Dara berdoa di dalam hatinya.


ya Allah berilah aku kesabaran dan lapangkan serta ikhlaskan lah hatiku menjalani semua ini. Agar aku bisa menjalaninya dengan tulus dan sabar, semua demikian Ega. Aku yakin ada hikmah di balik semua takdir yang kau berikan kepada hamba mu ini. amiiin.


Setelah berdoa, dara melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.


Sementara di dalam terdengar suara Pras memanggil pembantunya.


"Bik, Bik Jum" panggil Pras pada asisten rumah tangga yang dia bawa dari rumah mamanya.


"Ya den" jawabnya sopan dan segera berjalan mendekat.


"Buatkan teh untuk ku, bik" ucapnya.


Setelah bicara Pras masuk ke dalam kamarnya. Lelah dan letih ditubuhnya terasa begitu nyata dan menyakitkan, hari ini sungguh membuatnya lelah dan menghabiskan banyak energi bukan hanya fisik ya tapi juga hatinya.


Pras membaringkan tubuhnya di atas ranjang nya. Berbagai macam pikiran melayang. Antara dara dan Dinda.


Wajahnya hampir sama, aku tak menyangka jika dia bisa secantik itu, bahkan lebih cantik dari Dinda. Tapi mengapa dia begitu membenci ku, apa sebenarnya kesalahanku padanya, sejak awal dia memang sudah tak menyukai ku, aku akan mencari tahu sebabnya dan kita lihat saja sesombong apa dia nanti, hehe.... Pras tersenyum licik.


Pras bangkit dan berlalu ke kamar mandi, setelah bersih dan berganti dengan pakaian rumah, Pras berjalan keluar kamar, dia menuju ruang tamu.


Pras tertegun melihat dara duduk termenung disana.


Apa yang di pikirkan si kepala batu itu, mengapa dia tak langsung masuk ke dalam kamar.


"Apa yang kau lakukan disitu?" tanya Pras.

__ADS_1


Bukan menjawab pertanyaan Pras, dara malah balik bertanya.


"dimana kamar ku?" terdengar dara mengucapkannya dengan ketus.


"Kamar mu? tentu saja di kamar ku, aku tidak mau pisah kamar." ucap Pras


Seketika wajah dara menatapnya dengan tatapan tajam nan menusuk. "Aku tidak mau." jawab dara.


"Kenapa? " tanya Pras dengan senyum mengejek.


"Jangan takut, aku tak akan menyentuh mu, aku hanya tak ingin berpisah dengan putraku, makanya kita satu kamar. Jangan berlebihan." ucap nya masih dengan sikap mengejek.


Wajah dara merah padam, menahan amarah yang sudah mencapai ubun ubun.


apa tadi katanya dia mau menyentuhku, tidak aku pun tak Sudi di sentuh olehnya, aku hanya akan menyerahkan diriku pada orang yang aku cintai, dan orang itu bukanlah dirinya.


"Aku tidak mau!" ucap dara tegas


"Terserah, tapi Ega tetap harus sekamar denganku." ucap Pras lagi.


"Aku akan tidur di kamar tamu." jawab dara


"Tidak, kamar tersebut sudah ditempati oleh Maya. Kau tau kan, dia sekarang babysitter Ega." ucap Pras masih dengan tatapan mengejek.


"Kau tak punya pilihan. Kamar yang diatas, itu adalah ruangan khusus menyimpan barang barang Dinda, sebelah nya adalah ruang kerjaku, dan yang paling pinggir adalah ruang berolahraga. Tidak ada ruangan lagi, jika kau tidak mau sekamar dengan ku kau bisa tidur disini."ucap Pras tanpa perasaan.


Pras tersenyum tipis, *ini baru permulaan, kau tidak bisa membantah atau mengaturku.


Dengan* langkah berat dara masuk ke dalam kamar Pras, nuansa biru menyambutnya, sungguh tenang dan terasa nyaman.


Dara membuka kopernya dan memasukkan bajunya di lemari , dara hanya membawa beberapa buah bajunya, karena dia akan sering pulang kerumah lamanya.


Dara mengambil baju tidurnya dan masuk ke dalam.kamar mandi. Lima belas menit kemudian dia keluar dengan memakai baju tidurnya. Baju panjang lengkap dengan hijabnya. Dara tak mau membuka jilbanya, walau kini Pras sudah menjadi suaminya dan mereka halal bersentuhan.


Tok....tok...yok...


"non, non.... dara" terdengar suara bik Jum mamanggil di depan pintu.


"Ya bik" jawab dara dan membuka pintunya.


"Den Pras sudah menunggu di meja makan." ucap bik Jum.


"iya bik, dara akan segera kesana" jawabnya.


Dara merapikan dirinya dan turun ke bawah. Dilihatnya Pras sudah duduk di meja makan. Dara berjalan mendekat dan duduk disebelahnya.


"Ambilkan makanan untuk ku," ucap Pras

__ADS_1


Dengan bibir manyun dan sejuta kekesalan, dara mengambilkan makanan untuk Pras. Dara juga tahu itu, dia mengambilkan nasi sayur dan ikan untuk Pras. Setelah itu mereka berdua makan dalam diam. Hingga makan malam selesai.


Setelah selesai makan malam, Pras menghilang mungkin dia berada di ruang kerjanya.


Dara memilih masuk ke dalam kamar, dia ingin tidur, tapi tak mungkin dia akan satu ranjang dengan Pras, dara mengambil bantal dan bed cover dari dalam lemari dan memilih tidur di sofa.


Tengah malam Pras kembali ke kamarnya, dia sengaja menyibukkan dirinya dengan bekerja. Pras melihat kosong di tempat tidur, dan mengedarkan pandangannya, matanya tertegun pada sosok yang tengah tertidur di sofa.


Dasar keras kepala. batinnya.


Namun Pras tak berniat memindahkannya, Pras memilih naik keatas ranjang dan tertidur pulas.


Hingga pagi menjelang, ditandai suara burung yang bernyanyi merdu di ranting pohon yang masih terdengar jelas di telinga.


Dara sudah bangun pagi dan sholat subuh, suaminya masih terlelap dibalik selimut hangatnya. Dara tak berniat membangunkannya, dia memilih ke dapur membantu bik Jum membuat sarapan.


"Pagi bik" sapa data pada bik Jum.


"Pagi non." jawab bik Jum tersenyum.


"Biasanya bapak minum apa ya bik?" tanya dara. Walau dia membenci Pras, tapi dia tahu dan paham tugasnya sebagai seorang istri.


"Teh non, den Bagas tidak suka minum kopi di pagi hari.


Dara segera membuatkan teh untuk Pras. Kemudian dia membuat sarapan. Setelah selesai dia meletakkan nya diatas meja. Dan dara dia memilih sarapan terlebih dahulu.


Setelah selesai dia berjalan ke ruang tamu dan menonton televisi. Pras bangun dengan wajah bantalnya, terlihat urakan tapi keren. Dara yang pertama kali melihatnya dengan penampilan nya ini terkejut, bukan karena urakan tapi dengan begini, Pras justru terlihat tampan.


Dara segera memalingkan wajahnya saat dia sadar telah mengagumi ketampanan suaminya.


Pras tak kuasa menahan senyum di bibirnya, teh panas dan sarapan sudah terhidang. "Siapa yang membuatnya, darakah?" bathinhya


Pras mendudukkan dirinya di kursi dan mulai menyiapkan makanan ke mulutnya, sejenak kunyahan terhenti. "Enak" bathinnya.


Melihat Pras memakan sarapannya, dara kembali ke dalam kamar dan merapikannya. Ini bukanlah kamarnya dengan Dinda, Pras baru saja merenovasinya dan mempersiapkan kamar ini untuknya dan dara.


Selesai membersihkan kamarnya, dara keluar dan kembali menoton televisi.


Pras berjalan ke kamar dan segera mandi, dia tak menegur atau melihat dara.


"Bik" panggil Pras dari kamarnya.


"Ya den"


"Dara adalah istri saya, tolong bibi perlakukan dia sama seperti nyonya dulu, laporkan semua aktivitas nya. Terutama saat bersama Ega, aku tidak mencurigai nya, tapi aku juga harus waspada." ucap Pras


Maafkan aku dara, bukan aku tidak mempercayainya mu, tapi aku harus tetap waspada, sama seperti Maya.

__ADS_1


"Baik den" jawab Bik Jum.


__ADS_2