Menikahi Kakak Ipar

Menikahi Kakak Ipar
Akhirnya


__ADS_3

"Bu dara, ada titipan." ucap Rian Office boy di kantor dara dan memberikan buket bunga Lily.


"Terima kasih" jawabnya kepada Rian. Dara menerimanya dan membuka kartu yang terselip di dalamnya.


"Bunga yang indah, seindah dirimu di hatiku" Tanpa sadar senyum tipis terbit di bibir Andara.


Dara mencium bunga tersebut. Wangi dan indah, bathinnya. Bunga Lily adalah bunga kesukaannya.


Andara meletakkan bunganya di vas yang ada di mejanya dan melanjutkan pekerjaannya.


"Cie....cie ya g dapat bunga. Dari siapa?" tanya Hanum tersenyum jahil


"nggak penting." jawab dara ketus.


"Hem..aku tahu nih, pasti dari suami tercinta, ya kan. Ih....so sweeet!" ucap Hanum terus mengejek dara.


"Bisa diam nggak sih," Dara sewot, bukannya diam Hanum semakin terus mengejeknya. Dara bangkit dan berjalan menuju pantry. Mungkin minum kopi dapat mendinginkan hatinya yang kesal.


"Dara, tunggu!"


Dara berbalik.


"Pak Arfan" ucap dara pelan.


"Dara, saya sudah tahu semuanya, kamu menikah dengan Pras, karena putranya kan? kamu tidak mencintainya bukan?" ucap Arfan yang coba menarik tangan dara, namun dara segera menarik tangannya.


"Bapak menyelidiki saya?" tanya dara


Arfan terdiam, kalimat dara telak membuatnya kehilangan kata kata. Arfan mendesah dan akhirnya mengangguk.


"Maaf, saya hanya penasaran mengapa kamu tiba tiba menikah, dan itupun dengan pras."


"Maaf pak, saya masih banyak pekerjaan" Dara ingin berlalu meninggalkan Arfan, dirinya kesal, Arfan terlalu ingin tahu tentangnya.


"Maaf kan saya dara, saya tahu saya salah, tapi saya lakukan itu karena saya mencintaimu. Saya akan mengejarmu dara, karena saya tahu kamu tidak mencintai Pras." ucap Arfan.


Kalimat Arfan menyulut emosi yang sejak tadi coba di redam oleh dara. "Tahu apa bapak tentang saya, sejauh mana bapak menyelidiki saya. Asal bapak tahu saya menerima pernikahan ini, dan saya tidak akan bercerai dengan suami saya." ucap dara lantang.


"Kamu tidak bohong, saya tahu kamu tidak bahagia."


"Saya bahagia, terima kasih sudah perhatikan dengan saya, tapi tolong jangan ganggu saya lagi karena saya wanita bersuami. Saya tidak mau ada fitnah tentang kita di kantor ini. Permisi."


Dara berlalu dari hadapan Arfan, dia masuk ke dalam kamar mandi, dan menutup pintunya. Dibalik pintu, dara menangis, meluapkan semua beban dihatinya.


Airmatanya tak mau berhenti walau sudah berulang kali dia menyekanya dengan kasar. Mengapa aku menangis, semua yang dikatakan Arfan benar, dia dan Pras memang tidak saling mencinta, tapi tak sedikitpun pernah terbesit dihatinya untuk berpisah.


Apa aku salah ya Allah, jika aku menerima pernikahan ini walau aku tahu tujuan pernikahan kami salah,


Aku tahu aku bukan istri yang baik untuk suamiku, aku tidak melakukan tugasku sebagai seorang istri tapi setiap aku bisa menjadi ibu yang baik untuk putraku, aku mencintai nya, menyayangi nya dan aku rela melakukan apapun demi dirinya karena dia adalah nyawaku,


aku rasa itu semua lebih dari cukup, sebagai alasan aku bertahan.

__ADS_1


Ampuni aku ya Allah, ampuni aku.


Dara bangkit dan mengusap wajahnya di wetafel. Setelah dirasa cukup, dan data sudah merasa lebih baik, dia kembali keruangannya.


"Dari mana aja?" tanya Hanum


"Handphone loe bunyi terus." ucap Hanum lagi.


"Kamar mandi"


Dara mengambil ponsel nya dan tertulis beberapa panggilan tak terjawab dari Arfan. Ada juga beberapa buah pesan, namun dara enggan membukanya.


Dara mematikan ponselnya dan kembali fokus bekerja.


...****************...


Mobil Pras sudah lima menit terparkir didepan kantor dara, berulang kali dia mencoba menghubungi sang istri, namun tidak bisa. Ponsel istrinya tidak bisa dihubungi.


Pras masih menunggu dengan tidak sabar. Hari ini dia ingin mengajak dara membeli baju untuk ke pernikahan Hanum.


Lima belas menit menunggu Pras memilih masuk dan bertanya kepada resepsionis.


"Bisa panggilkan Bu Andara Ramadhani?" tanya Pras


Resepsionis terpesona dengan ketampanan Pras, dia terdiam dan terus memandang wajah tampan didepannya.


"Mbak," panggil Pras lagi.


"Katakan suaminya sudah menunggu di depan"


Jawaban Pras membuat senyum di wajah resepsionis tersebut hilang.


Suami mbak dara, kapan mbak dara menikah? apa aku salah dengar, ucap resepsionis dalam hati.


Pras yang tidak sabar, memilih masuk dan mencari sendiri ruangan istrinya.


Saat berjalan menuju lift, dara melihat Hanum. "Hanum" panggilnya


Pras mengenal Hanum karena Hanum sering ke rumah dara dan sahabat satu satunya dara.


"Kak Pras?" Hanum terkejut


"Saya datang menjemput dara, dimana ruangannya?" tanya Pras


"Dara..." Hanum menghentikan ucapannya melihat dara keluar dari dalam lift, berjalan kearahnya.


"Hanum ayo" ucap dara mengangkat wajahnya.


Dara terkejut melihat Pras berdiri disamping sahabatnya.


"Kak Pras" ucapnya pelan dan terkejut.

__ADS_1


"Hanum kami pergi dulu." Pras menarik tangan dara, beberapa langkah dara mencoba melepaskan tangannya.


"Aku mau makan siang dengan Hanum" ucapnya


Dengan senyum tipis Pras melirik ke arah Hanum.


"Hanum, aku pinjam dara sebentar, bolehkan?"


Hanum mengangguk, tak percaya dengan sikap manis Pras, yang aneh menurutnya.


"Aku tidak mau" ucap dara dan menghentak kan tangannya.


Pras menarik dara mendekat dan berbisik, "Aku akan mencium mu disini jika kau tidak patuh, apa kau ingin membuat keributan di kantor mu, sayang. Aku tidak keberatan mereka melihat kemesraan kita." bisik Pras


Dara terdiam dan memilih menunduk.


"pintar" bisiknya lagi. Tangannya menggenggam tangan dara dan membawanya keluar kantor.


Banyak mata yang menatap tak percaya, dara yang dikenal pendiam dan tertutup, tiba tiba menikah dengan CEO perusahaan perkasa dan tak lain adalah kakak iparnya, membuat gosip tentangnya segera menyebar.


"Puas, kau sudah mempermalukan aku." ucap dara di dalam mobil.


"Maksudmu?"


"Mereka pasti berpikiran yang tidak tidak tentang ku yang menikah dengan suami kakak ku sendiri, mereka pasti mengira aku...aku...." hiks....hiks....dara menangis.


Pras menepikan mobilnya, dia menatap dara yang masih saja menangis.


"Aku akan jelaskan kepada mereka semua, jika kau tidak merebut ku dari Dinda, mengapa kau menangis?"


"Kau tidak tahu, aku tidak mau dikatakan pelakor?"


"pelakor?" ulang pras


"Sejauh itu? hahaha aneh sekali pikiran mereka, jelas jelas kita menikah karena Ega dan itupun setelah Ega berusia hampir tiga bulan."


Pras mengangkat tangannya membelai kepala Dara lembut. Dara masih sesegukan.


Pras mendesah, "Maaf, aku tak bermaksud demikian,aku bisa jelaskan kepada mereka dan juga semua orang,"


Mereka berdua terdiam, hanya isakan dara yang sesekali masih terdengar. Dengan nafas berat Pras kembali bicara


"seburuk itukah aku Dimata mu, hingga kau takut hanya sekedar jalan denganku? baiklah ini yang pertama dan terakhir aku akan menjemputmu,"


"Percuma, mereka semua sudah tahu" jawab dara ketus.


Pras terkejut dengan jawaban dara.


Percuma, berarti dia masih mau aku jemput.


Pras merasa serba salah, tadi aku jemput marah, bilang nggak jemput lagi marah, pusing kepalaku, ucap Pras dalam hati.

__ADS_1


Susah sekali memahami hati wanita. Senyum manis tercipta lagi dibibir nya, tanpa bicara Pras kembali melajukan mobilnya.


__ADS_2