Menikahi Kakak Ipar

Menikahi Kakak Ipar
Bakso


__ADS_3

Dara dengan telaten mengurus putranya, dia tidak pulang selama Ega sakit. Pras juga menemaninya selama dia menjaga Ega.


Hasil lab menjelaskan jika Ega hanya terkena demam biasa, dan Dara merasa sangat bersyukur kepada Allah.


Rasa bersalah di dalam hatinya membuat dara enggan meninggalkan Ega walau hanya sekedar ke kamar mandi. Pras sudah berulangkali mengingatkannya agar tak perlu merasa bersalah, namun tetap saja rasa itu tak mau hilang. Melihat putranya terbaring dengan selang infus di tangannya, membuat hatinya bagai ditusuk ribuan jarum. Sakit, sedih dan merasa kasihan.


Andai saja dia mematuhi permintaan suaminya untuk dirumah menjaga Ega, mungkin hal ini tak akan terjadi, kembali cairan bening itu lolos tanpa bisa ditahan.


"Sayang, sudahlah jangan lagi kau sesali semua ini, yang terpenting adalah Ega tidak apa apa dan dia akan segera sembuh."


"Tetap saja mas aku merasa lalai, aku bukan ibu yang baik, aku malu, aku ibu yang lalai."


"Mas tidak menyalahkan mu sayang, semua memang sudah takdir Allah. Kita jadikan ini sebagai peringatan, agar kita lebih memperhatikan Ega." ucap Pras mengusap lembut kepala dara.


"Sekarang kamu makan ya, mas sudah beli makanan tadi dibawah." ucap Pras. Dia bangkit dan mengambil makanan yang tadi dia letakkan diatas meja.


Pras membawanya kehadapan istrinya, "kita makan ya, mas juga belum makan sejak tadi." ucap Pras.


Dara membuka kotak makanan yang dibawa suaminya, namun tiba tiba dia berlari ke kamar mandi. Pras terkejut dan menutup kembali makanannya kemudian dia segera menyusul dara di kamar mandi.

__ADS_1


Dara merasa sangat mual, perutnya tiba tiba bergejolak dan memaksa mengeluarkan isinya.


"Kamu kenapa?" Pras bertanya sambil memijit punggung dara.


"Sudah mas," dara menolak tangan Pras


Pras memapahnya kembali duduk di sofa. "Kamu sakit, ayo kita periksa ke dokter."


"Tidak mas, aku tidak apa apa. Mungkin asam lambungku kumat." ucap dara


"Kamu yakin, mas takut kamu juga sakit karena merawat Ega, ayo kita periksa " Pras setengah memaksa.


"tapi"


Dara menatap Pras dengan tatapan memohon, Pras terpaksa mengalah. "Baiklah kali ini mas ikut, tapi jika nanti kamu kembali mual dan muntah, mas akan bawa kamu ke dokter. Mas takut sesuatu terjadi padamu."


Dara hanya bisa mengangguk setuju.


"Sekarang kamu makan makanan mu, sini mas suapin." Pras mengambil kotak makanan dan ingin menyuapi dara lagi dara menutup mulutnya, aroma makanan yang dibawa Pras sungguh membuat perutnya terasa diaduk aduk dan minta di keluarkan.

__ADS_1


"Kita ke dokter" ucap Pras


"Nggak usah mas, aku nggak apa apa. Perutku lagi nggak enak aja, aku mau makan yang seger. Aku pengennya bakso mas."


Pras terdiam sejenak, apa jangan jangan dara hamil? setitik rasa hangat menjalar masuk ke dalam relung hatinya. Tapi Pras dengan cepat menghilangkan dugaannya, Pras tak berani berharap takut jika nantinya dia akan kecewa.


"Mas, kok malah bengong?"


"Eh i.iya..." jawab Pras


Dia segera bangkit dan berjalan keluar kamar, turun ke bawah dan menuju kantin.


Aku akan memastikannya nanti, tapi bisa jadi aku salah dan dia hanya sakit mag seperti yang dia katakan.


Pras kembali ke ruangan dengan menenteng dua bungkus bakso. Dibukanya pintu, dilihatnya dara sedang duduk membaca Alquran. Senyum sumringah menghiasi bibirnya.


"Sayang, ini baksonya, yuk kita makan."


Pras membuka bungkusannya dan menuangkannya di mangkok dan membawanya ke hadapan dara. Lalu mereka makan bersama.

__ADS_1


__ADS_2