
Pras tiba di rumah, dirinya langsung memarkirkan mobilnya sembarangan. Turun dan melangkah masuk ke dalam rumah. Langkahnya cepat dan terburu, ingin rasanya segera bertemu dan bicara dengan Andara.
Pras berjalan menuju kamar Ega, saat dibuka hanya ada Ega dan Maya yang sedang bermain bersama. Pras menutup pintunya kembali.
Tak hanya sampai disitu, dia kembali berjalan ke kamar tidurnya, mungkin istrinya ada di dalam sedang beristirahat, pikirnya. Sayangnya hasilnya juga sama kosong. Andara tidak ada disana.
apa dia berada di dapur? bathinnya
Langkah Pras cepat menuruni tangga dan segera ke belakang. Melihat ke kiri dan kanan,terap sama kosong, Hanya Bik Jum yang dia lihat.
"Bik, apa Andara sudah pulang?"
"Belum den, sejak tadi nyonya belum pulang." jawab Bik Jum.
"Makasih Bik."
Pras baru sadar dengan apa yang dia lakukan.
Mengapa aku jadi seperti orang gila, bukankah mobilnya tidak ada di depan, sudah pasti dirinya belum pulang.
Pras....apa yang terjadi padamu. Mengapa kau jadi bodoh ..
Pras kembali berjalan masuk ke dalam rumah
Berjalan mondar mandir menunggu Andara dengan perasaan resah.
Uring uringan mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi Pras saat ini, dirinya sudah bak setrikaan yang berjalan mondar mandir tak jelas.
Lelah mondar mandir,Pras membanting tubuhnya di sofa, menyalakan televisi berharap mampu mengalihkan perhatian nya.
Beberapa kali mengganti channel tetap tak bisa meredam hatinya yang memikirkan dara.
Kemana dia pergi??
Bukankah dia pulang lebih dulu?
Lalu kemana dia?
Pras mengambil ponselnya, beberapa kali menimang dan berpikir, namun dia kembali meletakkan nya diatas meja, niatnya untuk menghubungi Andara dia urungkan, dan Pras memilih duduk dan menunggu.
...****************...
Taksi yang ditumpangi Andara terjebak macet, terjadi kecelakaan beberapa meter di depannya, sehingga memaksa mereka berhenti dan menunggu dalam waktu yang cukup lama.
Andara sendiri sudah gelisah, karena hari sudah hampir malam, dan dia masih berada diluar rumah. Biasanya dia tak pernah pulang selarut ini, kecuali sedang lembur dan itupun jarang sekali terjadi.
Untung aku tidak membawa mobil sendiri, jika tidak mungkin aku sudah mati ketakutan, bathinnya.
__ADS_1
Andara tadi sempat singgah ke rumah Hanum, dia menceritakan semuanya. Sebagai sahabat Hanum sangat mendukung keputusan dara untuk jujur kepada Arfan. Dan Hanum berharap semoga sahabatnya itu bisa membuka hatinya untuk menerima pernikahan nya.
Karena sudah sore, Andara memilih pulang naik taksi dan meminta Hanum mengambil mobilnya di kafe tadi.
Kini dia duduk gelisah di dalam taksi,
Sempat terbesit ingin menelpon Pras atau sekedar ijin, tapi sebuah keraguan besar menghalangi niatnya, Apakah Pras akan perduli!
Pras bahkan tak bertanya kemana dia pergi.
Pras juga tidak menghubungi nya, menanyakannya keberadaan nya walau hanya melalui chatt.
Apa dia mengkhawatirkan ku? atau justru dia merasa senang karena aku tidak ada dirumah.
Lamunannya buyar saat supir mengatakan mereka sudah sampai. Andara melihat ternyata benar, dia sudah tiba di rumahnya. Andara turun dan membayar taksi lalu berjalan masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum" ucap Andara memasuki pintu rumah.
Pras yang duduk di sofa terbangun dan mendapati Andara sudah berjalan masuk ke dalam, wajah Pras terlihat tidak bersahabat. Tatapan matanya tajam, penuh dengan kemarahan. Diliriknya jam sudah menunjukkan pukul delapan malam.
"Dari mana saja?" tanya Pras dengan ekspresi dingin.
Andara diam sejenak, malas berdebat dengan Pras yang jelas terlihat marah. Lelah hati dan pikiran nya di tambah perjalanan yang tidak menyenangkan tadi membuatnya memilih diam dan terus masuk ke dalam.
Ternyata sikap diam nya Andara membuat emosi Pras semakin menjadi, Pras merasa tidak di hargai dan disepelekan.
Cekalan tangan Pras di lengan Andara begitu kuat, hingga Andara meringis menahan sakit.
"Dari mana kau, Andara?" tidak ada sahutan. Andara hanya menatap nya dengan tatapan tak kalah tajam, dan penuh kebencian.
"Jawab!" kali ini dengan nada tinggi.
"Bukankah aku bebas kemanapun, tidak saling ikut campur urusan pribadi masing masing. Lalu mengapa kau marah?" tanya Andara santai namun dengan nada mengejek.
"Aku suami mu, kau harus ijin dariku sebelum keluar dari rumah ini "
"Tentu, bukankah tadi aku udah ijin. Apa kau lupa kak? aku hanya pergi menemui teman ku. Apa itu salah?" ucap Andara
Pras menggeretakkan giginya menahan amarahnya, bisa bisanya Andara mendebatnya. Terdiam sesaat, sedikit membenarkan ucapan istrinya.
Andara berusaha melepaskan cekalan tangan Pras yang terasa sedikit mengendur.
"Tetap saja salah, sebagai istri ku, kau harus patuh padaku, pergi dengan ijinku dan menuruti semua keinginanku."
"Tapi sepertinya kau lupa kak, apa alasan kita menikah, Ega, hanya Ega alasan aku menerima mu. Jadi..."
Pras yang kesal dan marah karena merasa Andara sudah menghina dirinya, menginjak injak harga dirinya sebagai seorang lelaki.
__ADS_1
Dan belum selesai Andara bicara, Pras menarik rapat tubuh dara dan memeluknya erat.
Dara terbelalak, bibirnya terdiam, tubuhnya kaku dan matanya membesar sempurna saat Pras hanya berjarak dua senti dihadapannya.
"Aku bahkan bisa melakukannya apapun yang aku mau," ucap Pras tepat didepan dara.
"A...apa yang akan kau lakukan? le...lepas!" dara terus berontak dan ingin melepaskan diri.
Pras tersenyum mengejek, senyum devil menghiasi wajah tampannya, sungguh membuat dara semakin membencinya.
"Jika aku tidak mau, bagaimana? Aku rasa kau cukup dewasa dan mengerti, apa yang aku ingin kan?" bisik Pras
Wajah Andara memucat, namun tatapan tajam dan menantang tetap menghiasi wajahnya.
"Kau...kau mau apa?" ucap dara panik.
"Hahaha.... aku mau apa? kau pasti tahu, aku mau hak ku sebagai suami" jawab Pras
Wajah Andara berkaca kaca, sungguh dia tidak mau berada diposisi ini dan dia tidak siap untuk itu. Andara menunduk takut.
"Sekarang jawab aku, katakan kau dari mana?" tanya Pras kali ini sedikit lebih lembut, namun belum melepaskan pelukannya.
"Jawab aku, jangan membuatku lupa diri dan kita akan berakhir di ranjang." bisiknya.
Tubuh dara meremang dan gemetar mendengar kata kata Pras.
"Aku bertemu dengan pak Arfan." jawab dara
Dara tak mampu membendung air matanya yang mengalir deras
"Ada urusan apa dia menemui mu? bukankah ibu diluar jam kerja?"
"A..aku tidak tahu,"
"Jawab yang jujur, Apa dia kekasihmu? kau diam diam berkencan dengan nya,?" terdengar nada suara Pras lebih tinggi, habis sudah kesabaran diuji wanita cantik dihadapan nya ini.
"Tidak, aku tidak berpacaran dengannya dan aku tidak mencintai nya, aku juga tidak tahu kalau dia menyukai ku" jawab dara akhirnya memilih jujur.
"Bagus, aku suka kejujuran mu, ingat, kau adalah istri ku," ucap Pras lembut dan
cup
Pras mencium keningnya, kemudian melepaskan pelukannya, berjalan keluar rumah.
Dara jatuh luruh ke lantai, dia menangis, hatinya sakit dan kesal. Pras pria gila dan menyeramkan,
Pras....... bajingan, aku benci kau, aku benci....
__ADS_1
"