
"Ma...mama....." panggil Pras dari dalam kamar.
Dara yang menyiapkan sarapan berhenti dan meminta Bik Jum melanjutkan nya kemudian dia berjalan menuju kamar Pras.
"Ma, tolong Carikan dasiku." ucap Pras sambil mengenakan kemeja nya.
Dara memang biasanya menyiapkan pakaian kerja Pras. Dia akan meletakkan nya diatas tempat tidur. Dan seingatnya tadi dia sudah memilihkan dasi yang cocok dengan kemeja yang dipakai Pras saat ini.
Dara memalingkan matanya karena Pras memakai pakaian di depannya dan belum mengancingkan seluruh kemejanya.
'Dasinya sudah ada disitu." jawab dara
"Tidak ada, tolong Carikan."
"Bagaimana mungkin nggak ada, aku sudah meletakkan nya disini tadi" guman dara pelan.
Pras tersenyum jahil, Dia akan mengerjai dara. "Ma, dasinya.." Pras sengaja berbalik menghadap kearah dara yang membelakanginya, Pras tahu Dara sedang malu.
Jelas jelas tadi aku meletakkan nya disitu, kemana perginya dasi itu, apa dia sengaja menyembunyikan, tapi untuk apa?
Dara langsung menunduk, wajahnya memerah, ini kali pertama dia melihat tubuh Pras, yang sudah pasti membuat tubuhnya bergetar.
Malas berdebat, dara kembali membuka lemari dan mencari dasi yang cocok untuk dipakai suaminya.
Tanpa menoleh dara mengulurkan tangannya memberikan dasi tersebut kepada Pras. Bukannya menerima Pras justru melangkah maju dan sedikit tunduk dihadapan dara mengisyaratkan agar dara yang memakaikan nya.
"Ma," panggil Pras pelan
Dara mendengus, "modus", ucapnya dalam hati
Dara maju dan mulai memasangkan dasi di leher Pras. Pras diam dan menatap wajah cantik istri nya, jika dipandang sedekat ini, dara terlihat lebih cantik dari biasanya, apalagi dara tak menggunakan make up, kecantikan nya alami berbeda dengan dinda.
Pras merasakan sesuatu yang berbeda. Getaran itu kembali muncul, jujur jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Apakah aku jatuh cinta untuk yang kedua kalinya?
Tangan dara gemetar dan dia menjadi grogi. Sejak menikah ini kali pertama dia berada begitu dekat dengan Pras. Posisi yang begitu intim membuat jantungnya tak berdetak sebagai mana mestinya.
Pras berusaha menahan debaran didadanya, dan sebisa mungkinkah dia bersikap biasa saja. Pras tidak ingin sampai dara mendengar detakan jantungnya.
"Sudah" ucap dara membuyarkan lamunan Pras tentang dara.
__ADS_1
Pras melingkar kan tangannya di pinggang ramping istrinya. Tentu saja bukan senyuman yang dia dapatkan, dara berontak dan menatap tajam kearahnya.
"Lepaskan aku, kak"
"Panggil aku papa, baru aku akan melepaskan mu" ucap Pras tersenyum jahil.
"Tidak akan." jawab dara ketus
"Hahaha...dengan senang hati aku akan terus memeluk mu. Aku tidak keberatan melakukan nya, justru aku..."
"Lepas, jangan pernah berpikiran aku mau menerima mu" Dara berusaha melepaskan dirinya.
"Aku sungguh penasaran, apa sebenarnya yang membuatmu begitu membenci ku!" kali ini Pras bicara serius, matanya menatap tajam netra dara menuntut kejujuran disana.
"Cih, kau selalu berpura pura. Aku membencimu, kau seorang playboy." Dara bicara dengan lantang.
"Playboy? aku tidak pernah selingkuh dari Dinda, dan aku juga tidak dekat dengan wanita lain? mengapa kau mengatakan aku playboy?" Ada nada marah dalam setiap kalimat yang diucapkan Pras dan dia menuntut jawaban.
Lama keduanya terdiam dan saling tatap, namun dara kalah.
"Lupakan, lepaskan aku" dara menunduk dan bicara dengan pelan.
"Aku tidak suka dengan tuduhan mu yang tak beralasan. Aku ingin kejujuran mu, katakan atau aku akan melakukan tugas yang semestinya dilakukan seorang suami kepada istrinya."
Ucapan Pras kembali membuat tubuh dara bereaksi, dia menatap tajam Pras dan kembali berusaha melepaskan diri, namun dia hanyalah gadis lemah yang tak mungkin bisa melawan kekuatan suaminya. Hanya tatapan penuh amarah dan kebencian mewakili perlawanannya saat ini.
Pras tertawa mengejek. Seringai jahat sudah menghiasi wajah tampannya, awalnya dia hanya ingin menggoda istri nya ,tapi kata kata playboy yang diucapkan dara sungguh menyinggung hatinya. Pras sudah berubahnya, sejak peristiwa itu dia tak lagi jadi seorang playboy.
Melhat dara tak juga mau bicara, Pras kembali terkekeh pelan.
"Apa kau sudah siap menjadi istriku seutuhnya?" tanya Pras dengan tatapan mengintimidasi.
Dara sungguh benci situasi ini, dia benci karena tak mampu melawan kekuatan Pras, jujur tentu saja dia tidak mau.
Ucapan Pras kembali bergema, menjadi istri yang sesungguhnya, tentu dara tak mau itu terjadi, dia tak mau menyerahkan dirinya kepada Pras, walau dia tahu itu salah karena Pras adalah suaminya dan berhak akan dirinya.
Pras memajukan wajahnya, entah mengapa matanya hanya fokus pada bibir merah muda yang terlihat gemetar. Sungguh menggoda, naluri kelelakiannya muncul tanpa bisa dia bendung.
Cup, dara mengelak dan Pras hanya bisa mencium pipinya.
__ADS_1
Pras tak kehabisan akal, dia kembali memajukan wajahnya, dan ingin mencium dara, membuat tubuh dara gemetar ketakutan.
Mata dara berkaca kaca, keberanian dan keangkuhannya hilang, lenyap seketika. Tubuhnya gemetar dan takut.
"Le..lepaskan aku, kak!"hanya kata itu yang mampu terucap dari bibirnya.
"Katakan, apa yang membuatmu begitu membenciku?" ulang pras
"Lihat aku dara dan jawab dengan jujur!" Pras bicara dengan nada tinggi.
"Aku benci kamu, kau playboy murahan, kau bajingan, kau jahat, kau kejam..... kau jahat..." dara akhirnya mengatakan apa yang selama ini terpendam didalam hatinya.
Penuturan sang istri membuat Pras terdiam, dirinya mematung. "Playboy? bajingan"
Mengapa hanya kata itu yang dia ucapkan, padahal aku tidak pernah selingkuh dari Dinda, dan aku sangat setia.
"Aku tidak pernah menduakan Dinda, Dan saat ini aku juga tidak dekat dengan siapapun, jangan menuduhku tanpa bukti?" Pras mengguncang tubuh dara menunggu jawaban, membuat dara semakin ketakutan.
"Aku tahu siapa dirimu" dara berteriak dengan lantang. Merasa terintimidasi dara memilih jujur.
"sejak dulu kau memang seorang playboy, kau mempermainkan perasaan gadis gadis, dan kau juga sering jalan dengan wanita lain di belakang Dinda, tak perlu mengelak karena aku melihat dengan mata kepala ku sendiri. kau jahat kak, kau jahat."
Setelah bicara tubuh dara jatuh merosot dan terduduk dilantai. Kesakitan hatinya yang selama ini dia pendam sendirian akhirnya keluar, dia mengungkapkan nya semua. Ada rasa lega di dalam hati dara. Setidaknya beban nya selama ini sedikit berkurang. Dan Pras tidak perlu lagi bersikap sok baik dengannya.
"Apa hanya itu!" tanya Pras dengan nada pelan.Pras coba memahami perasaan dara. Menurutnya dara hanya salah paham.
"Aku bisa jelaskan semuanya. Aku bisa buktikan jika semua tuduhan mu salah."
Dara menggeleng , "Karena kau aku jadi takut menjalin sebuah hubungan."
"Dan karena kau, aku jadi membenci semua pria, bagiku semua pria sama, mereka mendekati ku karena ada niatan buruk, kau penyebab aku trauma."
"Kenapa aku?" tanya Pras bingung. Saat ini pikirannya benar benar kosong dan dia tak tahu harus senang atau sedih, Pras belum mampu berpikir jernih.
"Apa dulu kau menyukai ku?"
Pertanyaan Pras membuat dara terkejut, wajahnya pucat, mengungkapkan kan kebenaran dan kesakitan nya justru membongkar rahasia hatinya yang selama ini dia pendam. Menutup rasa cinta yang dia kubur dalam dalam di dasar hatinya yang paling dalam. Bahkan dia tidak pernah mengatakan nya kepada siapapun termasuk Dinda.
Gimana kelanjutannya? Dara jujur g ya? terus gimana reaksi babang Pras!!
__ADS_1
Kencengin like, vote dan koinnya ya. Terima kasih.