Menikahi Kakak Ipar

Menikahi Kakak Ipar
Menjemput


__ADS_3

Dara memilih berangkat naik taksi menuju kantornya, dia duduk di kursi penumpang masih di penuhi dengan perasaan dongkol.


Bagaimana tidak, bisa bisanya Pras meminta nya untuk mencium tangannya.


Hiiih...dara bergidik mengingat kejadian beberapa menit yang lalu. "Besok apa lagi perintahnya. Awas kalau dia minta macam macam." ucap dara pelan.


Mobil berhenti tepat di depan kantornya. Dara turun dan membayar taksinya lalu dia melangkah masuk ke dalam kantor. Menyapa orang orang yang berpapasan dengannya.


Dara memasuki ruangannya dan duduk, Hanum sudah datang lebih.


"Assalamualaikum pengantin baru, gimana malam pertamanya?" goda Hanum


Dara melorot kearahnya, namun.yang dipelototi hanya tersenyum simpul, untung hanya ada mereka berdua disana karena yang lain belum datang.


"Sialan, nggak terjadi apa apa, dan jangan berharap yang tidak tidak." jawab dara ketus


"Kasihan banget suami loe, hahaha" tawa Hanum semakin membuat dara kesal.


"Bisa nggak diam, aku sibuk nih." ucap dara ke Hanum.


"Cie marah ya.... jangan galak galak neng." ucap Hanum lagi.


Hanum berhenti menggoda dara karena dara sudah memelototi nya.


Dara kembali di sibukkan dengan pekerjaan yang sudah menumpuk di mejanya.


Jam sepuluh dara pergi untuk ngopi, dan Hanum mengikutinya.


"Dara aku minta maaf, tadi aku cuma bercanda." ucap Hanum menyesal.


"Nggak apa apa, aku juga minta maaf. Aku terbawa emosi tadi." jawab dara


"Kau tahu, dia dengan santai meminta ku mencium tangannya sebelum berangkat kerja, ngeselin nggak" ucap dara masih terlihat kesal.


"Hahahaha" Hanum kembali tertawa


"Nggak apa apa juga kali, dia kan suami loe. Wajar sih gitu, istri yang berbakti." ucap Hanum sambil tertawa.


"Susah ah, percuma bicara ma kamu, nggak jelas." ucap dara meninggalkan Hanum yang masih menahan tawanya.


"Dara please, aku cuma becanda." ucap Hanum mengikutinya.


Dara kembali bekerja, hingga jam makan siang tiba. Dara dan hanum bersiap untuk makan siang bersama di luar, tepatnya kafe depan kantor.


Sebelumnya dara sudah menelpon bibik dan juga Maya, menanyakan keadaan Ega. Karena tidak ada masalah, dara tidak pulang ke rumah.


"Dara, mau kemana?" suara seseorang menghentikannya langkahnya. Dara berbalik.


"Pak Arfan, kami mau makan siang." jawab dara


"Kebetulan sekali, saya juga. ikut saya aja, ada kafe baru tidak jauh dari sini, katanya rame banget karena menunya enak enak." ucap Arfan.


"Tapi pak, saya sudah janji sama Hanum." tolak dara

__ADS_1


Arfan menatap Hanum dan mengedipkan matanya, Hanum paham maksud Arfan, dia segera meminta dara menerima ajakan Arfan.


"Dara, kamu bareng pak Arfan aja ya, aku makan siang bareng mas Rangga , dia tadi ngajakin makan bareng tapi aku nggak enak ma kamu." ucap Hanum.


"Lho, kok" ucap dara bingung.


"Udah nggak apa apa, bentar lagi juga mas Rangga sampai." ucapnya.


"Tapi kan, tadi kita..."


Belum selesai dara berbicara, hanum langsung memotong nya. "Tuh, mas Rangga sudah datang, bye..." ucapnya berlari kearah Rangga.


"Yuk" ajak pak Arfan.


Dara mengikutinya me masuki mobil dan mereka pergi makan siang bersama.


"Mas kok kamu bisa kesini sih, padahal kita nggak janjian kan?" tanya Hanum pada Rangga.


"Tadi Rangga telpon, dia minta aku ajak kamu makan siang bareng, biar dia bisa dekat dengan dara." jawab Rangga


"Pak Arfan suka ma dara?" tanya Hanum terkejut


"Nggak usah terkejut gitu, apa kamu suka ma dia?" tanya Rangga sewot.


"Nggak gitu mas, kaget aja, oh...pantes selama ini pak Arfan sering datang ke ruangan kami, ternyata...." ucap Hanum setelah paham dengan situasinya.


"Tapi mas, pak Rangga terlambat deh,. " ucap Hanum lagi.


Rangga menoleh sejenak kemudian dia kembali fokus pada kemudinya.


"Dara sudah menikah mas." jawab Hanum


"Menikah? dengan siapa? kok kita nggak diundang, dan kamu kok nggak ajak aku sih, yang." ucap Rangga.


"Kok jadi mas yang sewot, dara menikah dengan mantan kakak iparnya, suami Dinda. Karena wasiat Dinda padanya untuk menjaga anaknya dan menikah dengan suaminya." ucap Hanum sedih.


"Dan dara menerimanya?" tanya Rangga lagi.


"Tidak ada pilihan mas, Ega tidak mau di asuh oleh oranglain. Dan tidak mungkin mereka tinggal bersama tanpa ada ikatan pernikahan."


"Kasihan sekali dara," ucap Rangga ikut sedih.


"Kita doakan saja, mereka berdua bisa saling terbuka, mas tau kan dara sangat membenci kakak iparnya." ucap Hanum.


"Pras memang seperti itu, tapi sebenarnya hatinya baik dan dia orang yang hangat. Semoga saja mereka berdua bahagia." jawab Rangga.


"Amiiin."


Mobil Rangga berbelok ke sebuah restoran dan mereka makan siang bersama.


...****************...


Dara dan Arfan sudah memesan makanan, dan kini mereka mulai menikmati nya.

__ADS_1


" dara, sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan," ucap Arfan pelan.


Sejak tadi dia sudah berusaha memilih kata yang tepat untuk mengungkapkan isi hati nya.


"Ada apa pak?" tanya dara menatap Arfan


"Ini diluar kantor, jangan panggil saya bapak, panggil Arfan saja." ucapnya.


"Bagaimana jika nanti malam kita dinner?"


"maaf pak, tapi saya tidak bisa. Tidak bisakah kita bicarakan disini saja?" tanya dara lagi.


"Ehm... ini bersifat pribadi, kapan kamu ada waktu?" tanya Arfan.


Setelah menimang beberapa saat, akhirnya dara berucap. "Minggu siang, bagaimana? maaf, jika malam hari tidak bisa." ucapnya.


"Baiklah, hari Minggu saya jemput." jawab Arfan bersemangat.


"Tidak pak, kita bertemu langsung ditempat saja, bapak tak perlu repot menjemput saya." ucap dara menghilang kan senyum di wajah Arfan.


sulit sekali mendapatkan hatinya, untuk sekedar mengajaknya jalan saja sudah serumit ini, tapi aku tidak menyerah, aku mencintai mu Andara.


Setelah makan siang, dara dan Arfan kembali ke kantor dan melanjutkan pekerjaan mereka.


Pukul lima Andara bersiap untuk pulang. Langkah nya cepat, agar tak terkena macet. Andara berjalan keluar gedung, langkahnya terhenti saat melihat mobil Pras sudah terparkir disana.


Andara ingin berbalik, namun panggilan Pras menghentikan langkahnya.


"Mau kemana? cepat masuk." ucap Pras terdengar tegas.


Andara masuk dengan langkah pelan. Sementara Arfan datang ke ruangan nya untuk mengajak nya pulang bersama, Arfan bergegas keluar saat tak mendapati Andara disana. Arfan sempat melihat Andara masuk ke dalam sebuah mobil yang dia tak tahu milik siapa. Langkah Arfan lambat, *aku terlambat. bathinnya.


Disepanjang jalan kembali keduanya membisu*. Hingga di lampu merah, mobil berhenti, suara Pras memecah kesunyian.


"Mengapa kau ingin kabur?" tanya nya ketus.


"Tidak, aku tidak kabur." jawab dara


"Cih, jelas jelas kau mau lari jika aku tak memanggil mu tadi " ejek Pras.


"Untuk apa menjemput ku, aku bisa pulang sendiri."jawab dara ketus.


"Aku hanya tak mau disebut suami yang menelantarkan istri, kebetulan tadi aku meeting di dekat sini. Nggak usah kegeeran "ucap Pras telak


Dara memilih diam dan tidak membantah nya.


Mobil kembali melaju, keduanya kembali diam. Sampai didepan rumah mereka. Andara langsung membuka pintu dan masuk ke dalam rumah.


Pras menarik nafas kasar, kekesalan kembali menghinggapi hatinya, Pras bingung, dia coba membangun komunikasi dengan dara tapi sepertinya dara menjaga jarak dan membuat batasan yang tinggi antara dirinya dan Pras.


Setelah merasa lebih baik, Pras turun dan masuk ke dalam rumah.


Pemandangan yang manis terlihat dimatanya, Andara mengendong Ega dan bercerita dengan bayi kecilnya, terlihat interaksi keduanya yang begitu dekat, dara menimang sang buah hati dengan tulus, sesekali dia tertawa. Bahkan dara belum mengganti pakaian kerjanya.

__ADS_1


Entah kemana perginya semua kekesalan nya tadi berganti rasa haru dan bahagia, senyum tipis terbit di bibir Pras, namun dengan cepat dia berjalan ke kamar, takut Andara menyadari nya.


__ADS_2