Menikahi Kakak Ipar

Menikahi Kakak Ipar
Saling terbuka


__ADS_3

Deg...


Jantung dara berhenti berdetak.


*A...apa yang dia lakukan? apa dia akan meminta haknya sekarang?" bathin dara.


Wajahnya memucat dan dia terdiam tak bergerak, kakinya terasa berat, dara masih mematung di depan pintu kamar mandi. Dara kehilangan semua keberaniannya.


Pras akhirnya melirik kearah ya. Melihat sang istri diam dan menunduk Pras pun memanggilnya.


"Dara sini!" apa kau tidak capek berdiri disitu." ucap Pras sambil terus menatap layar ponselnya.


Dara tersadar dari lamunannya, perlahan dia mulai berjalan.


Langkah dara berat menuju tempat tidur.


Perlahan duduk ditepi ranjang. Tangannya saring meremas dan berkeringat, dara benar benar gugup dan ketakutan.


"Tidurlah, hari sudah malam. Aku tidak akan melakukan apapun, aku tak kan meminta hak ku sampai kau benar benar siap menjadi istriku." ucap Pras.


Dara terkejut dan mengangkat wajahnya menatap Pras yang masih juga sibuk dengan ponselnya.


Pras menatap dara sejenak lalu kembali fokus kepada layar ponselnya.


"Tidurlah, aku janji kita hanya akan tidur malam ini. Hilangkan semua ketakutan diwajah mu itu." ucap Pras lagi.


Dara jadi merasa malu, Pras yang dia pikir akan meminta haknya sebagai suami, ternyata berhati baik dan berlapang dada. Pras sabar hingga dara yakin Pras benar benar tulus mencintainya. Apa memang aku salah menilainya selama ini? ternyata dia suami yang baik dan pengertian.


"Maafkan aku kak!" akhirnya dara mengakui kesalahannya dan menunduk.


Pras meletakkan ponselnya dan menatap sang istri yang menunduk, bahunya yang berguncang menunjukkan jika sang istri sedang berusaha menahan Isak tangisnya.


"Sayang, mengapa kau menangis? apa aku menyakiti mu?" tanya Pras lagi.

__ADS_1


Dara menggeleng, tangisannya pecah menjadi isakan yang menyayat hati Pras, sungguh Pras merasa ikut sakit melihat sang istri menangis.


Pras menarik tubuh dara dan membenamkan nya didadanya, menyalurkan kehangatan dan ketenangan. Dara tak menolak, dia diam dalam pelukan hangat suaminya yang terasa sangat nyaman dan menenangkan. Tak bisa dia pungkiri dirinya nyaman dengan posisi ini.


"Maafkan aku kak" ucapnya disela tangisnya.


Pras mengusap lembut pucuk kepala istrinya dan menciuminya. "Tak perlu minta maaf, mas mengerti perasaan mu, mas yang salah, mas telah menghilangkan kepercayaan mu, maafkan mas." ucap Pras


Dara masih bersandar dalam pelukan nyaman sang suami. Pras kembali menceritakan semuanya, tentang taruhan yang dara dengar, dan kepergian dara membuat Pras sadar akan cinta yang hadir tanpa dia sadari, Pras mengakui semuanya dengan jujur.


"Jadi kakak tidak mencintai kak Dinda? omong kosong, lalu bagaiman bisa ada Ega?" ucap dara kesal namun justru menurut Pras dara sedang cemburu.


Pras tersenyum lucu. "Mas sayang jangan kakak, atau papa. Mas lebih suka di panggil papa." ucap Pras tertawa kecil.


"Apa istri Ku sedang merasa cemburu?" tanya Pras masih dengan senyuman manis di bibirnya.


Senyuman yang sudah lama tidak pernah muncul di wajah tampannya. Bahkan Pras tergelak, dirinya merasa lucu saat istrinya tersenyum merasa malu dan semakin menyembunyikan wajahnya didadanya.


Dara mencubit pinggangnya.


"Sudahlah, lepas. Aku mau tidur." ucap dara semakin kesal.


"Sayang, dengarkan mas, mas mencintai Dinda dan mas juga mencintaimu mu, cinta mas dengannya berbeda dengan cinta mas padamu. Kau tahu mas harus mati-matian menahan perasaan ini,dan mengubur nya dalam dalam,saat mas memutuskan untuk menikah dengan dinda. Mas pikir, kau tak pernah sedikitpun mencintai mas, kebencian membuat mas menyerah."


Pras mengusap lembut punggung sang istri. "Allah musang maha pembolak balik hati manusia, mas yakin suatu saat kau juga akan mencintai mas, sama seperti mas mencintaimu."


"Mengapa kakak begitu yakin?"


Pras kembali berdecak kesal, dara masih memanggilnya kakak.


"Tidak ada yang tidak mungkin sayang, dan mas selalu berdoa agar istri mas yang cantik ini mau menerima mas dengan segala kelebihan dan kekurangan mas ." jawab Pras mantap


"Memang mas punya kelebihan apa?" tanya dara polos.

__ADS_1


"Mas punya cinta yang sangat besar untukmu dan cinta mas tak akan pernah habis, malah semakin bertambah setiap hari" ucap Pras.


Blush...wajah dara memerah mendengar ucapan suami nya.


"Sayang" Pras memangil dara lembut dan menggenggam tangannya.


"mas mohon, bukalah hatimu untuk mas, cobalah belajar mencintai mas sekali lagi." Pras menatap dara penuh harap dan cinta.


Mendengar penuturan Pras, tanpa sadar dara mengangguk. Pras tersenyum lebar.


"Yes!" Pras mengangakat tangannya tinggi seperti anak kecil yang berhasil mendapatkan mainan kesukaannya.


"Terima kasih sayang. Mas mencintaimu." ucap Pras


Kedua mata mereka kembali saling tatap, dara melihat cinta yang besar yang Pras tunjukkan kepada nya, pelan pelan dia meyakinkan hatinya bahwa Pras sangat mencintaimu nya.


Pras semakin maju dan mengikis jarak diantar mereka. Fokusnya pada bibir mungil sang istri yang begitu menggoda. Kini benda kenyal itu menempel sempurna, sesaat Pras Diam, melihat tak ada penolakan, Pras kembali ******* nya pelan, kali ini dia mencium sang istri dengan perasaan penuh cinta. Dara yang tak pernah berciuman hanya diam dan memejamkan matanya.


"Tidurlah, sebelum mas tak bisa menahan diri mas," ucap Pras setelah melepaskan ciuman panas mereka.


"Mas kau mesum."


"Aku tidak mesum, aku pria normal sayang, apa kau pikir aku tidak tersiksa harus menahan gejolak ini sendiri setiap malam, padahal ada wanita cantik di sampingku dan dia halal untukku." jawab Pras.


"Maafkan aku mas" ucap dara menyesal.


"Apa itu artinya kau sudah siap?" tanya Pras menggoda.


"Mas" teriak dara


Pras tertawa.


"Tidak apa apa. Malam ini mas melepaskan mu, tapi mas nggak janji besok."

__ADS_1


Pras berjalan keluar kamar, sedangkan dara dia lebih memilih membaringkan tubuhnya yang sudah tidak mengantuk.


__ADS_2