Menikahi Kakak Ipar

Menikahi Kakak Ipar
Aku suaminya


__ADS_3

"Andara, sebenarnya sudah lama aku ingin mengungkapkan ini semua, aku...aku menyukaimu Andara." ucap Arfan. Akhirnya kalimat itu lolos juga dari bibirnya. Lega tapi juga was was menunggu jawaban Andara.


Pras terkejut dan marah,


Apa aku tidak salah dengar? dia bilang menyukai istriku?


Tangan Pras mengepal keras hingga buku buku tangannya memutih. Wajahnya merah padam. Ingin rasanya dia segera kesana dan menonjok Arfan, karena berani mengatakan cinta kepada istrinya. Dadanya bergemuruh menahan amarah.


Bisa bisanya dia mengatakan cinta kepada istriku. Apa sebenarnya mereka berdua memang memiliki hubungan sebelumnya?


Tidak ini tidak boleh terjadi, aku tak akan membiarkan nya.


Mengapa dulu dia tak berterus terang jika dia memiliki kekasih?


Apa itu sebabnya dia menolak ku?


Pras masih menunggu dengan gelisah, entah apa yang diucapkan Andara, Pras tak mampu mendengarnya. Suara sang istri begitu pelan atau mungkin jarak yang terlalu jauh hingga Pras harus ekstra menajamkan telinganya. Namun sia sia. Hatinya bertambah panas dan pikiran nya di rasuki hal hal buruk dan segala kemungkinan yang jelek jelek.


"Ini minuman anda, Pak. Silahkan dinikmati." ucap pelayan mengalihkan perhatiannya.


Pras berdecak kesal, pelayan mengejutkannya , wajahnya memucat karena dia berpikir dirinya ketahuan.


"Terima kasih." jawab Pras ketus.


Sialan, aku pikir tadi aku ketahuan, jantungku hampir lompat dari tempatnya sangking kagetnya, sudah seperti seorang pencuri saja aku ini, bathinnya.


Sementara di meja disampingnya Andara duduk berhadapan dengan Arfan.


Andara bingung, bagaimana menjelaskan kepada Arfan jika dia tidak mungkin menerima cintanya. Andara tidak mencintainya nya di tambah dia juga sudah menikah, mana mungkin dia menerima lelaki lain.


"Andara, kenapa kamu diam? apa saya salah?" tanya Arfan penuh harap.


Andara menggeleng. "Maaf pak, saya tidak bisa, sebenarnya saya..." dara bingung memilih kata yang tepat untuk menolak Arfan.


"Saya sabar menunggu mu, saya tahu kamu tidak mencintai saya, tapi saya akan berusaha agar kamu bisa cinta dengan saya, saya sabar..."

__ADS_1


"Maaf pak" potong Andara sebelum Arfan berbicara lebih jauh.


"Ada yang perlu saya luruskan, sebenarnya saya sudah menikah " jawab Andara


lega rasanya berhasil mengatakan ini semua,


"Kamu pasti bohong kan? kapan kamu menikah? dengan siapa? saya tidak pernah melihat mu dekat dengan siapapun." ucap Arfan tak terima, dia pikir Andara hanya berbohong karena ingin menolak cintanya.


"Saya tidak bohong, pak. Benar saya sudah menikah, dan pernikahan saya dilangsungkan sederhana karena kami baru saja berduka." ucap Andara beralasan.


"Saya tidak percaya, jika kau sudah menikah, mengapa saya tak pernah melihat suami mu menjemput atau mengantarkan mu." ucap Arfan yang masih belum percaya dengan kata kata Andara.


"Maaf pak, saya sudah bicara jujur, saya sudah menikah, dan ini cincin pernikahan saya, bapak bisa lihatkan!"


Dara menunjukkan cincin pernikahan di jari manisnya.


"Hahaha...sebuah cincin tak bisa dijadikan pegangan Andara, saya tahu kamu hanya ingin menolak saya." ucap arfan penuh dengan kekecewaan.


"Terserah bapak percaya atau tidak, saya sudah menjelaskan semuanya, dan saya bicara jujur." ucap dara santai


Suaranya yang sedikit lebih tinggi membuat beberapa orang melirik kearah mereka.


Dara menghembuskan nafasnya kasar, dia tahu Arfan marah dan kecewa tapi dia tidak mau.berbohong atau memberikan harapan palsu untuk Arfan.


"Suami saya dirumah, jika tidak ada lagi yang ingin dibicarakan saya permisi " ucap dara.


Dara berdiri dan ingin berlalu pergi, lagi lagi Arfan menghentikan nya.


"Apa aku mengenal suami mu?" tanya Arfan lagi, Kali ini dengan nada rendah yang sarat dengan kesedihan, terlihat kekecewaan diwajah tampannya.


."Iya, dia mantan kakak ipar saya, suami Dinda, Prasetya." jawab dara


Setelah itu dara berlalu tanpa menoleh lagi ke belakang. Dia terus berjalan meninggalkan Arfan dengan perasaan terluka.


Sedih, kecewa dan sakit hati, inilah yang dirasakan oleh Arfan. Cintanya ditolak, dan terhempas jauh ke dasar jurang yang teramat dalam. Sakit, sudah pasti, gadis yang selama ini diam diam dia cintai sudah menikah. Dan itu membuat nya patah hati.

__ADS_1


Andara bicara jujur, dia tak mau memberi harapan kepada Arfan, Andara hanya menganggap Arfan sebagai seorang bos. Tak ada cinta dihatinya, Andara takut membuka hati untuk orang lain. Biarlah kekecewaan yang dulu, dia pendam dan tutup rapat rapat. Hanya menjadi kenangan pahit di dalam hidupnya.


Pras yang mendengar jawaban Andara tersenyum, setidaknya apa yang dia takutkan tidak terjadi. Andara menolak pernyataan cinta Arfan. Dan Andara jujur, dia jujur mengatakan jika dia sudah memiliki seorang suami.


Dia menolaknya, dia tidak memberikan cintanya Arfan.


Suami...Pras mengulang kata itu. Dia menganggap aku suaminya. Bisik hati Pras.


Sebuah rasa hangat dan nyaman menjalar masuk ke dalam relung hatinya. Aku suaminya...gumannya pelan.


Pras juga segera bangkit tanpa menyesap kopi pesanannya. Dia terus melangkah keluar untuk mencari dara istrinya.


Didepan dia kebingungan, Pras tak menemukan dara dimana pun..


Apa dia sudah pulang? tapi kapan, mengapa cepat sekali.


Pras langsung menuju mobilnya yang terparkir. Dia masuk ke dalam mobil dan langsung mengemudikannya pelan berharap masih bisa melihat dara yang mungkin belum terlalu jauh.


...****************...


Di dalam kafe Arfan masih duduk tak bergeming. Kecewa sungguh, sakit dan perih sudah pasti.


Apa benar dia menikah dengan Pras? Aku akan mencari tau, tapi Andara tak mungkin berbohong.


Apa alasannya dia mau menikah dengan nya, karena yang aku tahu dia tidak menyukai kakak iparnya itu.


Aku tidak akan menyerah, jika dia terpaksa dan tidak mencintai Pras, aku akan merebutnya dan aku akan menikahinya.


Andara hanya diam di dalam taksi yang membawanya pulang. Pikirannya kosong, sungguh pernyataan cinta Arfan tak pernah terpikirkan olehnya.


Arfan pemuda yang baik, Soleh, tampan dan mapan. Semua wanita pasti tertarik kepadanya, mengapa dia bisa memilihku? Andai saja dia datang sebelum nya, mungkin dengan senang hati aku akan menerima nya.


Mengapa dia baru datang sekarang, bukan dulu sebelum aku memutuskan untuk menikah dengan kak Pras. Saat aku berusaha mencari alasan untuk menolak permintaan papa dan mama.


Mengapa takdir ku seperti ini ya Allah.

__ADS_1


__ADS_2