
Setelah sarapan, Pras dan dara menunggu Kliennya di lobi hotel. Kliennya bernama tuan Alben Damanik dari Medan, yang juga juga menginap di hotel yang sama dengan mereka.
"Sayang, istri pak Damanik sedang hamil muda dan baru pertama kali ke kota S, walau suaminya sebenarnya melarangnya tetapi sang istri mengatakan dirinya ngidam, mau tak mau suaminya mengikuti kemauan nya.
"Selamat pagi, Pak Prasetyo" sapa pak Alben.
"Selamat pagi, Pak. Apa kabar?" ucap Pras menyambutnya uluran tangan Alben.
"Mari silahkan duduk." Pras menyambut tamunya.
"Oh ya, kenalkan ini istri saya Andara." ucap Pras memperkenalkan istrinya.
"Senang bertemu dengan anda, nyonya. Saya Alben dan ini istri saya Maria." alben mengenalkan istri nya.
Pras dan Alben memesan kopi dan mereka mulai membicarakan bisnis Mereka.
"Mas, aku ajak Maria duduk disana ya" ucap dara pada Pras.
"Oh ya, jangan jauh jauh ya sayang." ucap Pras lagi.
Dara dan Maria duduk mengobrol, Maria orang yang ramah dan mudah berteman, dan dalam waktu singkat keduanya terlihat akrab. Mereka sesekali tertawa bersama.
Satu jam kemudian Pras dan Alben memutuskan untuk melihat proyek langsung ke lapangan.
"Sayang, mas dan pak Alben akan ke proyek. Kalian bisa menunggu disini?" tanya Pras kepada Andara.
"Bisa,"
"Bang, aku mau jalan jalan boleh ya?" tanya Maria kepada suaminya sambil bergelayut manja.
"Ini tempat asing, Abang takut kau akan kesasar." tolak Alben
"Kan ada Andara bang, dia akan menemani ku, ya kan dara?" Maria bertanya kepada Andara.
"Eh..iii..iya." jawab Andara gugup.
"Boleh ya bang, nggak jauh kok, aku cuma mau lihat lihat kota dan ke mall." bujuk Maria lagi.
__ADS_1
"Tidak apa apa, supirku yang akan mengantarkan mereka. Kita bisa naik mobil hotel saja, bagaimana?" tanya Pras menengahi.
"Baiklah kalau begitu, hati hati ya. Ingat kamu sedang hamil, jangan terlalu capek." ucap Alben kepada Maria.
"Iya bang, aku janji." jawab Maria senang.
Alben mencium kening Maria. Begitu juga Pras dia mencium kening dara dan dara mencium tangannya sebelum mereka berdua pergi.
Andara dan Maria juga berangkat diantar oleh pak Mamat. Didalam perjalanan Maria banyak bercerita tentang dirinya.
Tak jauh beda, Maria juga menikah karena di jodohkan, Maria memiliki kekasih tetapi orangtuanya tidak menyetujuinya selain mereka lebih kaya, pacar Maria bukan dari suku Batak. Dan ayahnya sangat menentang hal itu.
"Lalu, apakah kau mencintai suami mu?" tanya Andara penasaran.
"Tentu saja, awalnya aku tidak memperdulikan nya, tetapi ternyata dia pria yang baik, dia tahu aku tidak menyukainya, tapi dia sabar, dia menunggu hingga aku bisa menerimanya. Kesabarannya membuatku luluh dan kini aku hamil anak kedua kami."
"Oh ya, selamat ya kak. Yang pertama sudah besar ya!"
"Sudah berusia dua tahun. Aku sengaja tidak menjaga jarak, aku ingin repotnya sekaligus setelah itu tinggal membesarkan saja. hahaha" Maria geli dengan ucapannya sendiri.
"Iya kami baru beberapa bulan menikah, dan aku, nasib ku tak jauh beda. Aku menikah dengan kakak ipar ku sendiri, kata orang istilahnya ganti tikar. Kakak kembar ku meninggal dihari dia melahirkan putranya dan dia memintaku untuk menjadi ibu sambung anaknya dan menikah dengan suaminya, yaitu mas Pras." ucap dara dengan sedih, tanpa terasa air matanya menetes mengingat saudara kembarnya yang telah tiada.
"Tapi aku bisa lihat suami mu mencintai mu, lalu dimana anak kalian? apakah dia tidak ikut?"
"Tidak, kami tidak membawanya karena usianya masih rentan untuk dibawa bepergian jauh. Aku sangat menyayanginya di tampan dan menggemaskan."
"Semoga kau bahagia dara, cobalah untuk mencintai suami mu, karena aku bisa melihat cinta yang besar dimatanya." ucap Maria.
"Oh ya, alu mau cari batik dan juga beberapa oleh oleh khas dari kota ini, dimana kita membelinya?" tanya Maria bersemangat.
"Pak Mamat antar kami ke tempat penjualan souvernir dan cendramata."
"Baik Bu."
Obrolan mereka berlanjut, dan kini keduanya tengah memilih beberapa buah batik tulis, dan juga kerajinan tangan lainnya seperti tas, kalung, dan hiasan yang sangat cantik dan unik. Maria bahkan memborong banyak.
Setelah lelah berbelanja sovenir mereka mencari makanan tradisional, Andara mengajak Maria mencicipi tiwol, tahu gombal dan mereka makan siang dengan soto babat dan mie kopyok.
__ADS_1
"Wow, benar benar lezat, aku akan mengajak suami ku makan makanan ini nanti, sebelum kamu pulang ke Medan. Rasanya sangat lezat." ucap Maria
"Benarkah? wow.." Andara tersenyum senang.
"Oh ya, dara nanti malam bagaimana kalau kita makan malam bersama. Aku ingin memberimu hadiah kain khas dari kota ku, ulos namanya. Apa kau pernah mendengarnya?"
"Tentu saja kak, terima kasih."
"Aku sudah menganggap mu sebagai adikku, aku harap lain waktu kalian bisa datang ke Medan dan aku akan membawa kalian berkeliling melihat indahnya danau Toba dan aku akan memasak arsik khusus untuk mu, makanan khas orang Batak." Maria penuh semangat bercerita kepada dara.
"Insha Allah kak, jika ada waktu dan kesempatan." jawab dara.
Puas belanja dan makan, mereka kembali ke hotel. Dara segera sholat juhur kemudian dia memilih menelpon ibunya
Sore hari sekitar jam lima sore, Pras kembali. Dia melihat istrinya tertidur di sofa menunggunya.
Pras mengangkat dara dan memindahkannya ke tempat tidur, lalu Pras ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.
"Kamu sudah kembali mas" tanya dara begitu Pras keluar kamar mandi.
"Kamu sudah bangun sayang?" tanya Pras balik.
"besok kita pulang, malam ini kita menginap lagi, mas capek." ucap Pras.
"I.. iya mas." jawab dara
"Sayang, malam ini kita makan malam diluar, kamu bersiaplah, mas mau ajak kamu ke tempat istimewa." ucapnya
"Kemana mas?"
"Ada deh, rahasia. Setelah magrib kita berangkat."
"Tapi mas?"
"Aku tidak suka dibantah. Ingat membantah suami, dosa" jawab Pras cepat.
Aku sudah janji sama kak Maria, Gimana ini???
__ADS_1