
Dara kembali ke kantor diantar oleh Pras, dara turun dan memilih masuk ke dalam tanpa berpamitan, namun niatnya harus gagal, karena Pras sudah turun terlebih dahulu, menarik pelan tangannya dan tiba tiba mencium keningnya.
Setelah itu Pras pamit dan masuk kedalam mobil, tinggal lah dara yang terdiam mematung.
Dara mengusap kepalanya pelan. Bekas kecupan Pras masih terasa hangat.
A...apa yang dia lakukan, aaaa.....dia lagi lagi mencium ku, suami mesum." bathin dara Setelah menyadari kepergian Pras.
Pras tergelak sendiri, dia yakin saat ini istrinya pasti sedang marah marah dan mengumpat dirinya.
"Tunggu lah dara, aku yakin sebentar lagi kau akan jatuh dalam pesona ku." ucap Pras percaya diri.
Hanum langsung memberondong dara dengan berbagai pertanyaan. Dara menjawabnya acuh tak acuh membuat Hanum menjadi kesal.
"Please, jangan tanya kemana dia membawaku pergi, kami cuma makan siang, nggak lebih." jawab dara sambil mencebikkan bibirnya.
"Aku rasa suami mu mulai menyukai mu. Lihatlah dia perhatian sekali, jangan jangan yang mengirimkan bunga tadi juga dia." ucap Hanum lagi.
Benarkah ini bunga dari kak Pras. Dari mana dia tahu bunga kesukaan ku. Tapi kalau bukan dia, lalu siapa yang mengirim bunga ini! Apa ak Arfan? mengapa aku tidak memikirkan nya sejak tadi. bathin dara.
Dara mengambil kembali kartu nama tanpa pengirim didalamnya. Dibolak balik tetap tak menemukan pengirimnya. Dara menjadi sedih. Apa benar itu dari Pras... dara kehilangan semangat nya.
...****************...
Hari ini Pras pulang lebih sore dari biasanya. Langkahnya cepat memasuki rumah, Pras terlihat begitu bersemangat.
"Assalamualaikum" ucap Pras
"Waalaikum salam" dara menjawab salam Pras, saat ini dia berada di ruang tamu bermain dengan Ega.
Pras berjalan mendekat dan mencium Ega, Kemudian dia mendekat ingin mencium dara, namun dara mengelak, Pras hanya bisa membuang nafas kasar dan berat.
"Ma, sini aku ingin menggendong nya. Jagoan papa, sini main dengan papa ya!" Pras meminta Ega dari gendongan dara.
Dara terkejut dan terdiam beberapa saat. "Ma" Pras memanggil nya mama.
"Ma, Ega main dulu dengan papa." ucap Pras seolah Ega berpamitan padanya.
"Mama?" dara mengulang ucapan Pras pelan, seakan takut salah sebut.
__ADS_1
"Ya, mulai saat ini aku akan memanggil mu mama, dan kamu juga harus membiasakan diri memanggilku papa." ucap Pras
"Papa? aku tidak mau." Dara membantah ucapan Pras.
Pras sudah menduga jika dara akan menolak ucapannya.
"Kita harus membiasakan diri mulai sekarang, papa dan mama", ok sayang! Pras seakan bertanya kepada Ega.
"Ma, aku lapar. Bisa siapkan makanan untukku?" tanpa memandang dara dan fokus bermain dengan putranya.
Dara tak menyahut, hanya diam, tapi dia berjalan ke arah dapur mengerjakan apa yang diminta oleh suaminya. Pras meliriknya dan tersenyum tipis, dia kembali bermain dengan Ega.
Dara mengambil makanan dilemari, menghangatkan makanan dan mulai menyusunnya diatas meja. Kemudian dia mengambil piring dan gelas. Setelah semua siap dan tersusun rapi diatas meja, dara memanggil Pras.
"Makanannya sudah siap?" Dara berdiri di belakang Pras.
"Jagoan papa yang ganteng, papa ma mama mau makan dulu, kamu sama Mbak Maya ya!" ucap Pras kepada Ega. Dia menyerahkan Ega kepada Maya.
Ega patuh dan segera berpindah kepada Maya, dara yang ingin menghindari Pras coba mengambil anaknya.
"Biar aku yang menggendong nya." dara hendak mengambil putranya.
"Aku belum lapar? kamu makan saja duluan."
"Aku tidak mau, temani aku makan, jangan sampai maag mu kambuh karena kau selalu menunda makan." ucap Pras tak mau ditolak.
Dara hanya bisa mengomel di dalam hati, tak akan ada habisnya jika berdebat dengan suaminya. Dara jadi heran, mengapa sekarang Pras menjadi sangat cerewet dan tentu saja menyebalkan.
Akhirnya dengan berat hati dara ikut menemani Pras makan malam bersama, padahal dia sangat menghindari makan malam, dara lebih suka makan buah, untuk menjaga bentuk tubuhnya. Walau pun sebenarnya dia sudah sangat langsing.
Pras menarik kursi dan mempersilahkan istrinya duduk. Sikap manis ini lagi lagi membuat dara tertegun, sejak kemarin sikapnya sangat aneh, apa dia terbentur pintu dan otaknya sedikit miring, hingga dia menjadi perhatian dan sangat menyebalkan. pikir dara
"Ma, Papa mau makan, ambilin donk."
Dara menganga tak percaya, Pras bersikap manis seolah mereka benar benar pasangan yang sangat bahagia dan saling mencintai.
"Stop, aku tidak suka semua sikap sok baik mu itu, tolong bersikaplah sewajarnya." ucap dara pelan tapi sangat menusuk dihati Pras.
"Apa salahnya aku bersikap manis kepada istri ku sendiri?"
__ADS_1
"Maaf, tapi ini begitu aneh, aku...aku jadi merasa..."
Pras memotong ucapan dara. "Apa mama merasa sangat tersanjung dan terharu?"
"Tersanjung?" dara tak percaya dengan apa yang dia dengar. Pras begitu percaya diri mengatakan itu semua. Dara mencebik kesal dan tak tahu harus berkata apalagi.
Pras hanya menunjukkan deretan giginya yang putih. Namun dia tetap menyodorkan piringnya untuk diambil kan makanan oleh dara.
Dara mengambil makanan untuknya, sedikit karena dia memang diet. Perlahan dia mulai menyuapkan ke mulutnya.
"Makan yang banyak, aku nggak mau orang bilang kamu kurus karena makan hati hidup denganku."
"Bisa nggak, tidak menggangu ku?" tanya dara dengan kesal.
"Tidak, aku tidak menggangu, aku hanya ingin mama terlihat lebih berisi, jadi akan mudah di peluk."
"Kak!!" Dara menggeram marah.
"Maaf, aku cuma bercanda. Habiskan makanan mu, jika tidak aku akan menyuapi mu. Kali ini aku tidak bercanda, mau coba?" Pras menatap serius.
Dara menggeleng dan mulai memasukkan makanan kedalam mulutnya hingga habis.
Setelah makan malam, dara masuk ke dalam kamar, adzan isya sudah berkumandang. Dara bersiap untuk melaksanakan sholat.
"Tunggu, kita akan sholat berjamaah, aku ambil wudhu dulu." ucap Pras berlalu ke kamar mandi.
Dara tertegun, hatinya merasa senang, suaminya mau menjadi imam sholatnya tanpa harus dia minta.
Mereka berdua sholat ishya bersama, diakhiri dengan dara mencium tangan suaminya. Kali ini dara merasakan sesuatu yang berbeda. Ada rasa nyaman dan ikhlas saat mencium tangan pria yang sudah menjadi imam nya itu.
"Istirahat lah aku tahu kau pasti lelah." ucap Pras kemudian.
Dara keluar kamar dan melihat Ega. Putranya itu sudah tidur sejak tadi. Dara mencium keningnya dan keluar kamar. Dara kembali tidur dikamar nya bersama Pras. Dia sudah berjanji kepada suaminya, untuk coba memulai semua sejak awal. Dan itu artinya dia harus terbiasa tidur dengan Pras.
Pukul sepuluh Pras masuk ke dalam kamar, dilihatnya dara sudah tidur, masih mengenakan jilbabnya. Pras duduk di tepi ranjang dan menatap wajah damai sang istri.
"Kamu tetap cantik dan unik, aku jadi merasa kembali ke masa masa SMA dulu, saat pertama kali mengenalmu. Kau berbeda dari kebanyakan wanita yang aku kenal, aku kira kau berubah sesuai dengan penampilan mu sekarang tapi tetap saja kau gadis manis, polos, jutek dan yang pasti kau istimewa." ucap Pras pelan. Kemudian dia mencium kening dara dan menyelimutinya.
Pras ikut berbaring di samping dan memejamkan matanya.
__ADS_1