
Aroma tak sedap terasa menyengat di Indra penciumannya, udara yang terasa sesak dan penuh debu serta ruangan yang gelap menyambut kesadaran dara. Perlahan dia coba menggerakkan anggota tubuhnya yang terasa sangat lemah dan sakit.
Namun dia seakan tak memiliki kekuatan apapun hingga dia hanya bisa menangis kecewa.
Dimana aku? siapa yang melakukan ini? apa aku diculik?" berbagai macam pertanyaan berkeliaran diatas kepalanya.
Cklek...pintu terbuka bersama cahaya minim yang ikut masuk lewat pintu.
"Kau sudah bangun rupanya, apa kau baik baik saja?"
Suara itu, suara yang begitu dia kenali, suara awas yang sangat dekat dengannya dan selalu bersikap baik padanya. Dara dengan cepat mendongakkan kepalanya berharap dapat melihat siapa yang telah menyekapnya. Lagi lagi dia dibuat terkejut, orang yang selama ini selalu menolongnya dan selalu berada di sampingnya kini berdiri dihadapannya sebagai seorang penjahat.Ya dia penjahat, bisik hati dara.
Lampu menyala, dara dapat melihat dengan jelas wajah dihadapannya.
"Pak Arfan?" ucap dara pelan karena dia begitu terkejut.
"Bagaimana keadaaan mu sayang, apa aku menyakiti mu?" tanya nya dengan lembut
__ADS_1
"Lepaskan aku, apa salahku?" teriak dara
"Melepaskan mu, tidak mungkin. Aku akan membawamu pergi jauh dari sini. Dan aku akan membebaskan mu dari suami yang tak kau cintai itu lalu kita menikah sayang." ucapnya lembut tangannya membelai wajah dara.
"Jangan gila, aku sudah menikah!"
"Hahaha....aku tau tapi aku mencintaimu dan aku juga tau kau terpaksa menikah dengannya, kau tak bahagia, hanya aku yang bisa membahagiakan mu. Hanya aku, Andara!" tiba tiba Arfan berteriak membuat dara ketakutan.
Dara menyadari jika ada yang tidak beres dengan kejiwaan Arfan saat ini.
Aku harus tenang, jangan sampai dia marah dan menyakitiku,
"Jangan menangis sayang, aku tak akan menyakitimu, kau akan bahagia bersama ku." ucapnya.
"Bisakah kau melepaskan ikatan tanganku, aku kesakitan." ucap dara
Arfan tampak berpikir sebentar kemudian dia melepaskan ikatan tangan dara.
__ADS_1
"Jangan coba coba lari, atau aku akan meminta Maya membunuh anakmu."
Dara begitu terkejut. "Maya?" ucapnya dan menatap arfan dengan penuh pertanyaan.
Padahal dara sedang memikirkan cara melepaskan diri dari sini.
"Ya, Maya adalah anak buahku yang aku letakkan di rumahmu untuk mengawasi kau dan suami mu itu. Kau tau sayang, aku tak akan pernah melepaskan mu, aku akan memilikimu, walau aku harus membunuh suamimu yang tak tahu diri itu"
"Kenapa kau jahat?" teriak dara tak bisa menahan kesedihan hatinya.
"Karena kau mencintai mu dan suamimu itu menggagalkan rencana ku untuk memilikimu, aku yang harusnya ada disamping mu bukan dia."
Arfan berbalik dan menutup pintu dengan kencang, dara duduk bersimpuh dan terus saja menangis. Dara takut terjadi sesuatu dengan Ega. Bagaimana caranya aku bisa melepaskan diri dari sini, mas Pras tolong selamatkan aku! dara berteriak dalam hati
Ruangan yang dia tempati begitu sempit, hanya ada satu tempat tidur, tasnya entah dimana mungkin sudah dibuang oleh anak buah Arfan.
Dilain tempat, Pras menunggu dengan rasa cemas. Sejak tadi dia menunggu istrinya pulang, bahkan dia sudah menghubungi nomornya, tapi diluar jangkauan. Pras sudah menelpon Hanum dan Hanum mengatakan jika dara sudah pulang sejak jam sepuluh pagi tadi. Dan ini sudah hampir malam, dara belum juga kembali.
__ADS_1
Pras menelpon mamanya tapi begitu tersambung, mamanya justru menanyakan istrinya, terpaksa Pras berbohong jika dara sedang tidur.
Pras semakin kebingungan, dara dimana kau?"