
"Suami sinting"
"Mas dengar, sayang. Dosa ngatain suami sendiri." ucap Pras yang masih mengatur nafasnya.
"Bodo amat." jawab dara
Kemudian dara keluar kamar. Menemui Bik Jum dan memberikan Ega padanya. Dara masih enggan menemui Maya.
Dara kembali menaiki tangga dan masuk ke kamarnya, dia merapikan pakaian dan hijabnya. Kemudian mengambil tas dan ponselnya. Dara bersiap berangkat ke kantor, tapi Sebuah suara mengagetkan nya.
"Mau kemana?" tanya Pras yang ternyata sejak tadi memperhatikan dara dari balkon kamar.
Dara berbalik dan menatap suaminya. Jelas dia terkejut, dia pikir Pras berada diruang kerjanya atau di tempat lain.
"Aku mau berangkat kerja" jawab dara coba sedatar mungkin, padahal jelas dia merasa takut.
"Andara ramadhan, aku sudah bilang jika kita akan keluar kota, dan kamu tidak boleh bekeja." ucap Pras tegas.
Dara menatap protes, bibirnya menggerutu, tak jelas apa yang dia ucapkan.
Pras tersenyum kecil melihat wajah istrinya yang sedang marah. Dara terlihat semakin menggemaskan.
"Kita akan berangkat keluar kota, atau mas akan kurung kamu selama tiga hari ini di kamar, dan kita buat adek untuk Ega, gimana?" tanya Pras, dengan senyum yang sangat dibenci dara.
__ADS_1
"Mas," dara menghentakkan kakinya menunjukkan jika dia protes dan kesal.
"Kamu tinggal pilih, keluar kota bersama ku atau kita bulan madu di kamar ini?" tanya Pras dengan wajah serius.
"Nggak bisa gitu donk, aku juga berhak.."
"Berhak apa?" potong Pras.
"Aku berhak menolak, dan"
"Dan malaikat akan melaknat mu, apa kau tahu dosa menolak ajakan suami?" lagi Pras menekan dara, hingga dara kehabisan kata kata.
"Sebagai suami, mas cukup sabar menunggunya kesiapan mu, mas tahu kau merasa tidak nyaman, karena kita menikah secara tiba tiba, tapi mas mau kamu belajar mencinta mas, bukan malah menuduh mas yang bukan bukan." ucap Pras dengan nada lebih kekecewaan.
"Jangan ngaco, dan jangan mengalihkan pembicaraan." ucap Pras
"Aku nggak ngaco. Apa yang mas bicarakan dengan Maya di dekat tangga. Mengapa harus disana? takut ada yang melihat?" tanya dara sinis
"Mas cuma bilang, agar dia menginap di rumah mama selama kita pergi, itu Ja" jaqba Pras
"Bohong, mas nggak tahu kan. Jika diam diam Maya sering memandang mas, aku tahu mas dia sering perhatiin kamu"
"Itu hanya perasaan mu saja"
__ADS_1
"Tidak, itu benar. Dia menyukai mu,"
"Benarkah? Terus! apa hubungannya ma mas? mas nggak punya perasaan apapun sama dia, mas cuma sayang sama kamu"
"Ya ada, mas. Aku nggak suka mas. Aku nggak suka kalau dia mandang mas, aku nggak suka kalau dia dekat dekat sama mas, apalagi dia.."
"Kenapa kamu harus marah?" potong Pras sengaja memancing dara,
"Ya jelas marah, karena aku istri mu, dan aku..." dara berhenti bicara dan matanya melotot kearah Pras dan tangannya refleks menutup mulutnya.
Hampir saja aku keceplosan, bathinnya
"Kenapa berhenti? apa kamu bilang kamu tidak suka karena kamu mencintai mas?" tanya Pras dengan nada lembut, tangannya menarik dara dan memerangkap tubuhnya. Netra mereka bertemu dan saling bicara lewat tatapan. Pras dapat melihat cinta Dimata dara yang coba dia tutupi dengan amarah. Dan dara dapat melihat begitu besar cinta dan harapan Dimata Pras untuknya.
"Katakan sayang, sekali saja. Jika kau juga mencintai mas. Kau juga menyayangi mas," ucap Pras lembut dan penuh harap.
Dara menunduk, bulir bening menetes tanpa bisa dia bendung lagi. Perasaan nya benar benar kacau dan dara tidak sanggup lagi membohongi hati nya jika dia benar benar mencintai suaminya.
"Katakan sayang, sekali saja, jika kau juga mencintaimu mas" bisik Pras ditelinga nya.
Dara tak menjawab, hanya isakan yang terdengar. Pras menariknya dan memeluknya erat.
"Maafkan mas, mas tak akan memaksamu. Satu hal yang harus kamu tahu, mas sangat mencintaimu. Tidak ada wanita lain di hati mas, hanya kamu." ucap Pras mencium pucuk kepala istrinya.
__ADS_1
Pras mendesah kecewa, tampaknya dia harus lebih bersabar untuk mendengar kata cinta dari bibir sang istri. Dara memang keras kepala.