
Pras dan dara sudah berada di pelataran parkir. Hotel bintang lima dimana pesta ulangtahun putri Aditya diadakan. Pras menggandeng mesra tangan dara memasuki gedung yang sudah dipenuhi tamu undangan.
"Selamat malam pak Prasetya, terima kasih sudah mau datang ke acara saya." sambut pa Aditya
"Malam, senang bisa hadir pada acara ini, oh ya kenalkan ini istri saya, Andara" ucap Pras memperkenalkan dara.
"Oh ya, kenalkan saya Aditya dan ini istri saya, Mery." mereka saling berjabat tangan.
"Silahkan nikmati pestanya,saya tinggal dulu." ucap pak Aditya.
Pras dan dara berjalan memasuki gedung dan mencari tempat duduk yang nyaman. Pras menyapa beberapa rekan kerjanya yang kebetulan juga ada disana tak lupa dia memperkenalkan dara sebagai istrinya.
"Sayang kamu lelah, kota duduk disana yuk" ucapnya mengajak dara duduk disebuah kursi tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"mas, aku ke toilet bentar ya," ucap dara
Dara berjalan kearah toilet, tanpa dia sadari sejak tadi ada sepasang mata yang terus memperhatikan nya. Ya dialah Arfan, Arfan segera menyusul dara ke kamar mandi.
Dia memberi kode pada bawahan nya untuk mengikutinya. Di depan pintu kamar mandi, dia sengaja menunggu Andara. Saat pintu terbuka, Arfan berpura pura mengaduh kesakitan sambil memegangi kepalanya, dan dara yang melihatnya langsung mendekat. Arfan memegang tangan dara memintanya pertolongan. Dara tak melihat seorang pun berada disana, mau tak mau dia menolong Arfan.
"Pak, bapak kenapa?" tanya dara panik dan memegang tangan Arfan yang memegang kuat lengannya.
__ADS_1
"Ke...kepala saya sakiiiit, tolong....tolong saya" ucap Arfan memelas.
"Bapak tunggu disini ya, saya akan minta bantuan" ucap dara
"Tidak usah, bantu saya duduk disana, saya hanya perlu berisi sebentar, dan rasa sakit ini akan hilang, tolong bantu saya kesana." ucap Arfan.
Dara membawa Arfan duduk di bangku tak jauh dari tempat mereka berdiri, Arfan mengambil kesempatan dengan memeluk pundak dara. Sebenernya dara merasa risih tapi mau bagaimana lagi, saat ini Arfan sedang kesakitan.
Tanpa dia sadari seseorang bersembunyi dan mengambil kesempatan, dia mengambil banyak gambar dara yang sedang dipeluk oleh Arfan.
"Gimana pak sudah merasa lebih baik?" tanya dara
"Saya panggilkan pelayan" dara bersiap berdiri, lagi Arfan mencegahnya.
"Tidak usah, aku tak mau semua orang tahu akan penyakit ku ini, sebentar lagi juga akan baikan. Terima kasih." ucap Arfan masih dengan pura pura memelas.
"Anda yakin pak?" tanya dara khawatir.
Arfan menganguk, "pergilah, nanti suami mu mencari mu, dan tolong jangan katakan pada siapapun. Aku tak mau dikasihani apalagi sampai mengacaukan pesta tuan Aditya."
Dengan berat hati dara meninggalkan Arfan. Di dalam hatinya dia merasa tidak tega, Arfan bukan hanya bosnya tapi Arfan juga pernah menjadi sahabatnya, walau tidak terlalu dekat tapi Arfan adalah teman yang baik. Dan dia merasa kasihan dengan Arfan.
__ADS_1
"Sayang, mengapa lama sekali? kamu nggak apa apa kan?" tanya Pras yang sudah menunggu dara dengan gelisah.
"Eh aku nggak apa pa mas."
"Ya sudah, ayo kita makan. Setelah itu kita kan pulang."
Dara mengikuti Pras mengambil makanan dan mereka makan bersama. Setelah itu mereka berdua berpamitan pulang.
"Ada apa sayang, mas lihat sejak tadi kamu melamun?" tanya Pras
"Eh...enggak apa apa mas." ucap dara
Sebenernya dia ingin cerita pada suaminya, tapi tadi dia sudah berjanji untuk merahasiakan penyakit Arfan, dan dara akan memegang janjinya.
"Mungkin karena aku ngantuk mas"
"Ya sudah kamu tidur aja, nanti mas bangunin jika sudah sampai." ucap Pras mengusap lembut kepala istrinya.
Dilain tempat argan tersenyum puas, rencananya berjalan lancar, dan ini baru rencana awal dia akan membuat banyak kesalahpahaman antara Pras dan dara hingga akhirnya mereka berpisah.
Tunggu rencana Arfan selanjutnya..
__ADS_1