
Matahari mulai bersinar terang, menembus hingga kedalam kamar Aldo dan Kayla yang masih terjaga dari tidurnya.
Merasa sudah semakin silau, Kayla menggeliat dan terbangun dari tidurnya. Ia merasa ada sesuatu yang berat menimpa tubuhnya. Saat ia menoleh, ternyata tangan Aldo sudah dalam keadaan memeluknya.
Kayla pelan-pelan berusaha menyingkirkan tangan Aldo dari tubuhnya, tapi apa daya, Aldo seperti memeluknya sangat erat membuat Kayla kesusahan bergerak.
"Tolong seperti ini, sebentar saja" ucap Aldo, masih memejamkan matanya.
Kayla akhirnya membiarkan Aldo memeluknya. Beberapa saat kemudian, terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar.
"Om, ada yang ngetuk pintu" kata Kayla.
"Palingan si mbak. Udah biarin aja".
Kayla hanya diam, dengan posisi Aldo masih memeluknya. Namun, ketukan itu bukannya berhenti malah semakin keras. Tiba-tiba terdengar suara Revan yang berteriak memanggil nama ayahnya.
"Papa, buka pintu. Revan mau sekolah" teriak anak berumur 7 tahun itu.
Mendengar suara Revan, sontak saja Aldo langsung bangkit dari tidurnya dan melepaskan pelukannya dari tubuh Kayla.
"Ada Revan, Kay".
"Aku sembunyi di kamar mandi aja ya. Nggak enak kalau nanti dia lihat aku tidur disini" ujar Kayla.
"Iya, oke".
Aldo bersiap untuk membuka pintu, sedangkan Kayla sudah bersembunyi di dalam kamar mandi.
"Hai anak Papa. Udah bangun ya? Udah mandi belum?" tanya Aldo, yang berjongkok didepan Revan.
"Sudah, Pa. Oh iya, Kak Kayla tidur disini ya? Kok Kak Kayla nggak ada di kamar sih, Pa" ucap Revan, celingak celinguk mencari keberadaan Kayla di dalam kamar ayahnya.
"Eh, nggak kok. Mungkin Kak Kayla mandi" kata Aldo, mencari alasan.
"Revan udah cari di kamar mandi. Kosong kok".
Duh gimana nih. Kok dia bisa curiga gini sih. Batin Aldo.
"Mungkin lagi kemana gitu, palingan sebentar juga balik. Udah Revan sekarang tunggu dibawah ya. Papa mau siap-siap dulu".
"Oke, Pa. Cepetan ya".
"Iya siap sayang" kata Aldo, langsung menutup pintu kamarnya.
Jantungnya berdebar kencang, seperti sedang ketahuan selingkuh oleh anaknya sendiri. Aldo mengingat Kayla yang masih berada di kamar mandi dan mencoba menghampirinya.
"Kay, kamu boleh keluar".
Pintu kamar mandi terbuka dan Kayla pun keluar.
"Gimana, Om? Revan curiga nggak?" tanya Kayla.
"Iya. Tadi dia cariin kamu ke kamar tapi katanya kamu nggak ada" jawab Aldo.
"Ya ampun, jadi gimana ini, Om?" panik Kayla.
__ADS_1
"Udah nggak apa-apa. Aku sudah suruh dia turun kebawah kok. Kamu bisa langsung ke kamar kamu aja".
"Beneran, Om? Kalau gitu aku pergi ke kamar dulu ya".
"Iya, Kay. Makasih ya sudah mau nemenin".
"Aku yang makasih, Om. Karena Om, aku nggak mual lagi".
"Iya sayang eh maksudnya Kay".
Aldo cepat-cepat memperbaiki ucapannya. Tanpa sadar, ia tadi menyebut Kayla dengan sebutan sayang.
"Eh, iya Om. Aku pamit dulu".
Kayla langsung cepat-cepat keluar dari kamar Aldo, karena merasa canggung. Baru sampai didepan pintu, ia terperanjat karena melihat Revan yang sudah berdiri manis didepan kamar.
"Re..Revan kamu kenapa ada disini? Kakak kira kamu dibawah" kata Kayla, gugup.
Aldo yang mendengar Kayla menyebut nama Revan, membuatnya ikut keluar dari kamar.
"Revan, Papa kan tadi suruh kamu kebawah".
"Jadi benar, Kak Kayla tidur di kamar Papa. Revan sudah curiga" ucap pria kecil itu.
"Revan ini nggak seperti yang kamu pikirin, tadi itu Kak Kayla..".
"Tenang aja, Kak. Revan nggak akan bilang ke Mama kok. Ini rahasia kita bertiga" ucapnya sambil berlari kebawah menuju ke meja makan.
Kayla dan Aldo saling bertukar pandangan. Ternyata Revan tidak marah. Malahan dia ingin menyimpan rahasia itu. Keduanya tertawa karena merasa lucu mengingat ucapan Revan tadi.
Ternyata mereka berdua selesai bersamaan dan terlihat berpapasan saat ingin menuruni tangga.
"Silahkan duluan turun bumilku".
Aldo mempersilahkan Kayla turun lebih dulu, membuat Kayla tertawa kecil.
Di ruang makan, keadaan semua aman dan tenteram. Tidak ada perdebatan di pagi hari, membuat para asisten rumah tangga mereka merasa heran.
Biasanya saat ada Tasya di dalam rumah, mereka selalu melihat kedua majikannya berdebat. Entah itu masalah kecil maupun masalah besar. Namun, disaat tidak ada istri dari majikannya itu, Aldo terlihat sumringah dan seperti bahagia.
Selesai makan. Aldo mengantarkan Revan ke sekolahnya dan Kayla ke kampusnya.
Saat menurunkan Kayla, Aldo sempat berbicara.
"Kay, pulangnya nanti jam berapa?".
"Sepertinya nanti sore jam 3. Kenapa Om?".
"Om jemput ya".
Kayla sempat berpikir sebentar, kemudian mengiyakannya.
"Iya Om".
"Ya sudah. Belajar yang rajin ya. Jagain juga anak kita. Dadah" kata Aldo, sebelum pamit.
__ADS_1
Kayla tersipu malu kemudian melambaikan tangannya. Dari kejauhan, sahabatnya Laura melihat kejadian itu, kemudian dia menghampiri Kayla.
"Wah ada apa ini? Sepertinya hubungan kalian jadi romantis ya. Cie Kayla sukanya sama om-om juga" ledek Laura.
"Apa sih. Ayo masuk" kata Kayla yang tersipu malu.
"Cerita dong. Gimana hubungan kalian? Terus si nenek lampir itu gimana?".
Laura memang menyebut Tasya dengan sebutan nenek lampir, karena kerjaannya yang selalu marah-marah.
"Tante Tasya lagi ke Jepang. Hubungan kita baik kok".
"Ke Jepang? Ngapain? Dasar ya nenek lampir, sukanya foya-foya doang" kesal Laura.
"Ya begitu lah".
"Pasti kamu senang ya. Karena jadi lebih leluasa dekat sama Om Aldo. Ciee, aku setuju banget loh Kay. Walaupun kalian masih saudara sih, tapi entah kenapa kalian kayak cocok aja gitu".
"Doakan saja yang terbaik ya. Aku juga maunya semua bisa baik-baik saja nanti" ujar Kayla.
"Pastinya".
Kayla dan Laura memasuki ruangan kelas karena pelajaran akan segera dimulai.
Setelah menyelesaikan 3 mata kuliah yang membuat otak penat. Akhirnya, Kayla bisa pulang juga. Ia menghubungi Aldo untuk memberitahukan bahwa perkuliahannya telah selesai. Aldo pun langsung meluncur untuk menjemput Kayla di kampusnya.
Saat sedang menunggu jemputan, Kayla melihat mobil yang dikenalinya berhenti didepannya. Bukan mobil milik Aldo, melainkan milik Faris.
Faris turun dari mobilnya dan menghampiri Kayla.
"Halo, Kay. Kamu lagi nungguin apa? Ayo aku anterin".
"Nggak usah, Ris. Aku lagi nunggu Om Aldo jemput" tolak Kayla.
"Kok kamu sering dijemput Om kamu sih. Biasanya juga nggak".
"Iya, soalnya dia juga baru pulang kantor, jadi dia nawarin untuk jemput aku. Jadi aku terima" kata Kayla, beralasan.
"Kalau gitu bilang aja ke Om kamu, kalau kamu pulangnya bareng aku" ucap Faris.
"Nggak usah, Ris. Makasih".
Faris terus membujuk Kayla agar mau pulang bersamanya. Namun, Kayla tetap menolak.
Beberapa saat kemudian, muncullah Aldo. Ia merasa tidak senang saat melihat Faris yang mengganggu Kayla.
"Kay, ayo masuk. Kita pulang" kata Aldo.
"Maaf, Om. Biar Kayla pulang bareng aku aja".
"Kamu nggak lihat saya sudah datang? Berarti dia harus pulang bersama saya. Sebaiknya kamu jauhi Kayla. Dia itu tidak pernah menyukai kamu dan kamu juga tidak berhak menyukai Kayla!" bentak Aldo.
"Jadi siapa yang berhak menyukai Kayla? Apakah Om orangnya?" tanya Faris.
Kayla dan Aldo terkejut mendengar pertanyaan Faris. Namun, dengan cepat Aldo menjawab.
__ADS_1
"Iya. Akulah orangnya. Cepat masuk Kayla" perintah Aldo.