
Satu hari setelah kepergian Kiara dan juga Kayla, Aldo datang ke rumah Sinta. Ia belum tahu kalau Kayla sebenarnya sudah pergi ke kota lain.
Sebelum datang ke rumah Sinta, Aldo mengantar Revan lebih dulu ke rumah, karena hari ini dia sudah bisa diperbolehkan pulang.
Sesampainya di sana, Aldo berpapasan dengan Raffa yang juga terlihat datang ke rumah Sinta.
"Ngapain kamu disini?" tanya Aldo.
"Tuan sendiri kenapa ada disini?" tanya balik Raffa.
"Saya tuh bertanya ke kamu. Harusnya kamu jawab, bukan malah balik nanya"
"Saya mau ketemu Kiara, Tuan"
"Ketemu Kiara? Kamu kan sudah punya istri, ngapain nyari perempuan lain?"
"Maaf Tuan. Sepertinya Tuan belum tau kalau saya sudah bercerai"
"Apa? Bercerai? Wah dasar kamu ya. Baru cerai langsung nyari mantan" ledek Aldo.
"Yang penting nggak nyari istri yang lari kayak Tuan" ucap Raffa bergumam, namun masih dapat didengar Aldo.
"Apa kamu bilang?" bentak Aldo.
Tiba-tiba pintu rumah terbuka dan keluarlah Sinta dari dalam rumah.
"Kenapa kalian berdua ribut di depan rumah orang hah?"
"Mama, maaf Ma. Apa aku bisa ketemu Kayla?"
"Maaf Tante, saya bisa bertemu dengan Kiara?"
"Kalian berdua ngapain sih mau nyari anak-anak saya?" sungut Sinta.
"Aku benar-benar minta maaf, Ma. Tapi kasih kesempatan lagi untuk aku menemui Kayla" ucap Aldo.
"Kesempatan kamu banyak dari kemarin-kemarin. Tapi kenapa kamu cuma ngirim bunga aja? Semua sudah terlambat"
"Tapi..."
"Maaf Tante, kalau Kiara bagaimana? Saya ingin bertemu dia Tante" Raffa memotong pembicaraan Aldo dan langsung mendapat tatapan tajam dari bosnya itu.
"Kamu lagi, ngapain nyari Kiara? Kamu kan sudah punya istri"
"Saya sudah bercerai Tante"
"Jadi kamu datang kesini setelah bercerai? Hebat kamu ya. Sudah sana kalian berdua pergi aja. Kayla dan Kiara nggak ada disini" ujar Sinta.
"Mereka dimana?" tanya Aldo dan Raffa, berbarengan.
"Udah pergi mencari hidup baru. Soalnya laki-lakinya pada nggak peduli semua"
"Terus Aurel dimana, Ma?"
"Dibawa lah sama Kayla. Kiara juga udah melahirkan, dia juga bawa anaknya pergi. Pokonya kalau mau cari mereka, silahkan cari sendiri"
__ADS_1
Brak!
Sinta menutup pintu rumah dengan cukup kencang, membuat Aldo dan Raffa kaget.
"Gimana nih? Mereka harus dicari dimana?" tanya Aldo, merasa frustasi.
"Tuan kan orang kaya. Bisa minta tolong orang suruhan Tuan untuk cari keberadaan mereka" kata Raffa.
"Iya, kamu orang suruhan saya. Cepat cari mereka sekarang juga"
"Kalau begitu Tuan juga harus ikut mencari mereka"
"Apa maksud kamu? Saya adalah bos kamu. Harusnya kamu ikuti perintah saya, bukannya malah menyuruh saya" kesal Aldo.
"Tuan mau Nyonya Kayla marah lagi karena bukan Tuan yang nyari sendiri? Saran saya sih sebaiknya Tuan juga ikut"
Aldo mulai memikirkan perkataan Raffa. Perkataannya ada benarnya juga.
"Tapi Revan gimana? Masa saya tinggalin dia sama pembantu di rumah"
Sinta kembali membuka pintu rumah, ternyata dari tadi dia belum pergi dan malah tertawa diam-diam dari balik pintu.
"Revan nanti dititip sama Mama aja. Pokoknya kalian cari mereka berdua sampai dapat dan minta maaf. Ingat itu!"
Setelah mengatakan hal itu, Sinta kembali menutup pintu rumahnya.
"Ayo kita mulai mencari mereka, setelah saya mengantar Revan ke sini" ucap Aldo kepada Raffa.
"Baik Tuan"
Kembali ke Kayla dan juga Kiara, mereka sedang membersihkan ruangan untuk membuka toko roti mereka. Rencananya mereka akan membuka toko roti esok hari.
"Nggak kok, aku udah kasih mainan ke mereka jadi mereka nggak rewel" jawab Kiara.
"Baguslah kalau begitu. Ayo kita cepat beresin ruangan ini, biar besok kita bisa buka tokonya"
"Apa nggak terlalu cepat bukanya Kak?"
"Nggak dong. Kan tempat ini strategis di pinggir jalan. Terus nanti malam kita udah mulai belanja berbagai perlengkapannya. Jadi harusnya udah bisa sih" ucap Kayla.
"Kakak yakin kita baik-baik aja? Kalau Kak Aldo cariin Kakak gimana?"
Pertanyaan Kiara membuat Kayla menghentikan aktivitasnya.
"Jangan bahas dia lagi. Buktinya sampai sekarang dia nggak cariin aku dan Aurel kok"
"Maaf ya Kak, aku udah bahas Kak Aldo. Ya sudah ayo kita lanjut beresin" ujar Kiara.
Kedua kakak beradik itu segera membersihkan ruangan yang akan dibangun toko tersebut.
Sore harinya, mereka pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli segala keperluan toko roti mereka.
Mereka berbagi tugas saat berbelanja. Kayla mencari bagian bahan-bahan untuk membuat roti, sedangkan Kiara mencari alat-alat pembuat roti.
Tentu saja keduanya cukup ribet saat berbelanja, dikarenakan harus mendorong stroler bayi mereka masing-masing dan juga mendorong stroler belanjaan mereka.
__ADS_1
Saat sedang asyik memilih bahan-bahannya, Kayla tidak sadar stroler Aurel mundur ke belakang dan mengenai seorang laki-laki yang kebetulan sedang berbelanja juga.
Pria itu terkejut karena melihat seorang bayi perempuan di dalam stroler, sedang tersenyum menatap dirinya.
Anak siapa ini?. Gumamnya.
Ia mengedarkan matanya ke seluruh lorong itu dan hanya mendapati Kayla yang sedang asyik berbelanja dan belum menyadari Aurel sudah berada di bagian belakang.
Apa jangan-jangan ini bayi wanita itu ya? Coba aku tanya deh.
"Permisi Mbak. Ini anaknya ya?"
Kayla menoleh dan melihat ke arah pria yang bisa dibilang masih cukup muda, sedang memegang stroler Aurel.
"Mau apa kamu? Iya dia anak saya. Kamu mau nyulik ya?" teriak Kayla.
Untung saja di lorong tempat bahan makanan itu hanya ada mereka berdua, sehingga orang-orang tidak mengeroyok pria yang sudah menyelamatkan anaknya tadi.
"Bisa nggak sih Mbak jangan nuduh orang sembarangan? Saya itu malah mau ngembaliin anak Mbak. Karena tadi strolernya kena kaki saya sampai ke ujung sana. Mbak ini bisa ngurus anak atau nggak sih?" sungut Pria itu.
"Makasih kalau gitu. Nggak usah marah-marah"
"Mbak duluan yang nuduh saya sembarangan"
"Iya santai aja kali. Kok jadi sewot banget sih" kesal Kayla.
Tiba-tiba pertengkaran mereka terhenti karena ada seorang pria yang memanggil.
"Dirga, ngapain kamu masih disitu? Nanti kita telat buka restorannya"
Ternyata namanya Dirga. Dari namanya aja udah menyebalkan. Batin Kayla.
"Eh Arkan. Ini nih ada perempuan nyolot banget. Udah salah malah nuduh aku ngambil anaknya"
"Maaf ya Mbak. Teman saya ini memang wajahnya tampang-tampang penculik. Jadi jangan salah paham ya, kami permisi" ucap Arkan, menarik lengan Dirga untuk menjauh.
Kayla tertawa mendengar hal itu, apalagi saat melihat Dirga memukul kepala Arkan karena kesal.
Kiara yang baru saja selesai berbelanja, mulai menghampiri Kayla dan terlihat bingung melihat Kakaknya yang tertawa sendiri.
"Kak Kay kenapa? Kesambet?"
"Hah? Nggak kok" kata Kayla, menghentikan tawanya.
"Ohh kirain kesambet. Habisnya ketawa-ketawa sendiri sih. Ayo kita ke kasir, aku udah selesai nih"
"Aku belum hehehe. Kamu duluan ya"
"Tumben banget lama, biasanya gercep. Oke aku bayar duluan ya, nanti aku tunggu di depan Kak" ucap Kiara.
"Oke"
Kenapa aku jadi ketawa ngakak gitu sih liat mereka berdua. Mungkin udah lama nggak ketawa, jadi gini deh. Ada-ada aja.
Kayla menoleh ke arah Aurel yang masih senyum-senyum.
__ADS_1
"Om-om tadi lucu ya sayang? Seandainya Papa kamu bisa selucu itu ya ke kamu"
Kayla tersenyum hambar saat kembali memikirkan Aldo. Dengan cepat ia segera menghilangkan pikiran tentang Aldo dan melanjutkan belanjaannya yang sempat terhenti tadi.