
Sehabis mengantarkan Kiara pulang ke rumahnya, Raffa segera menuju kembali ke kantor.
"Pasti bakal diomelin nih karena lama" kata Raffa, sangat yakin.
"Biarin deh dimarahin, yang penting bisa pacaran dengan Kiara. Gimana ya rasanya pacaran? Mana udah lupa lagi saking lamanya jomblo" lanjutnya lagi masih berbicara sendiri.
Sesampainya di kantor, ia langsung menuju ke ruangan Aldo untuk memberikan salep.
"Permisi Tuan. Ini salepnya"
Raffa menyodorkan salep kepada Aldo, namun dibalas tatapan tatapan raja dari bosnya itu.
"Darimana saja kamu? Masih ngobrol sama Nenek kamu ya makanya lama? Udah dari tadi saya tunggu, lama banget" sungut Aldo.
"Mohon maaf, Tuan. Iya tadi sempat ngobrol dulu, udah lumayan lama nggak mampir soalnya" ujar Raffa, berbohong.
Ia masih takut memberitahukan bosnya itu, kalau ternyata dirinya sudah berpacaran dengan adik dari istri bosnya sendiri.
"Ya sudah lanjut bekerja sana. Makasih salepnya"
"Baik Tuan"
Hari ini Aldo pulang sedikit terlambat karena harus menghadiri beberapa rapat penting. Tentu saja, dia menggunakan masker untuk menutupi bibirnya yang masih sedikit bengkak itu.
Saat sampai di rumah, Aldo bisa melihat raut wajah istrinya yang cemberut, sedang duduk di ruang tamu.
"Honey, kok mukanya cemberut gitu? Ada apa?" tanya Aldo, langsung merangkul pinggang istrinya.
"Kamu kok lama pulang sih bee? Aku nungguin dari tadi loh. Kamu juga nggak kasih kabar ke aku kalau mau pulang telat" jawab Kayla.
"Maafin aku ya istriku. Tadi itu ada beberapa rapat yabg harus aku hadiri dan semuanya penting. Aku juga tadi nggak pegang hp selama rapat, jadi lupa hubunginnya. Maaf ya" ucap Aldo.
"Nggak mau tau. Kamu harus tanggung jawab"
"Tanggung jawab gimana?"
"Anterin aku beli siomay yang dipinggir jalan malam ini juga. Aku ngidam pengen itu"
"Memangnya ada yang jual malam-malam gini?"
"Di pasar malam jualan kok. Temenin ya"
"Oke, tapi tunggu aku mandi dulu ya. Sekalian aku panggil Revan untuk turun ke bawah" kata Aldo.
"Iya bee"
Kayla membaca majalah di ruang TV, sambil menunggu Aldo dan juga Revan bersiap-siap.
Tidak lama kemudian, Revan sudah turun ke lantai bawah.
"Hay anak Mami. Sini duduk" panggil Kayla.
"Mami kita mau kemana?"
"Mami mau beli siomay di dekat pasar malam. Kamu ikut ya?"
"Iya Mami" ucap Revan.
Saat Aldo baru saja menuruni tangga, bel rumah berbunyi.
"Tunggu ya, aku cek dulu siapa yang datang" kata Aldo.
__ADS_1
Kayla dan juga Revan mengangguk.
Siapa sih yang bertamu malam-malam. Gumam Aldo.
Saat membuka pintu, ternyata tamu yang datang adalah Kiara dan juga Raffa yang berada dibelakang.
Aldo mengerti jika Kiara yang datang ke rumahnya, tetapi Raffa yang juga ikut datang, menurutnya sangat aneh.
"Ngapain kamu disini Raffa? Saya kan sudah bilang pekerjaan kantor jangan kamu bawa ke rumah saya"
"Maaf Tuan. Ini bukan soal pekerjaan kantor kok"
"Terus apa?"
"Saya kesini cuma untuk mengantar Kiara, Tuan" kata Raffa.
"Iya benar itu Kak Aldo" tambah Kiara.
"Mengantar? Sejak kapan kalian saling kenal?"
"Siapa yang datang bee?" tanya Kayla, menghampiri Aldo.
"Ini ada Kiara, katanya dia dianterin Raffa tuh"
"Kiara kok datang nggak bilang-bilang? Kamu kenapa bisa dianterin asistennya Mas Aldo? Kalian sudah saling kenal ya?" tanya Kayla bertubi-tubi.
"Hehe iya Kak. Kami baru saja saling kenal kemarin, terus udah pacaran deh" jawab Kiara, malu-malu.
"Apa?" kaget Aldo dan Kayla bersamaan.
"Kamu baru kenal kemarin dan langsung pacaran? Memangnya kalian anak SD? Kenapa cepat banget nggak ada PDKT dulu?"
"Ceritanya agak panjang Kak"
Kayla mengajak Kiara untuk masuk ke dalam dan mengobrol. Kini tinggal Aldo dan juga Raffa yang sedang berada di luar.
"Perasaan baru kemarin dulu saya bilang mau kenalin kamu sama Kiara. Tapi sekarang tiba-tiba udah pacaran? Bagaimana bisa?"
"Maaf Tuan. Kemarin waktu saya ambil salep, sebenarnya saya lama bukan karena ngobrol dengan Nenek saya. Tapi nggak sengaja ketemu Kiara dipinggir jalan dan saya anterin pulang, Tuan" ujar Raffa.
"Terus kamu langsung nembak dia dan diterima?" tanya Aldo.
"Iya Tuan"
"Luar biasa kamu. Lama jomblo tapi langsung diterima sekali nembak. Ya sudah ayo masuk dulu"
Aldo masuk ke dalam rumah, disusul Raffa dibelakangnya.
"Ohh jadi gitu ceritanya" ucap Kayla manggut-manggut, setelah mendengar penjelasan Kiara.
"Raffa, kamu serius kan dengan adik saya?" tanya Kayla.
"Iya serius, Nyonya. Saat ini saya juga lagi tahap ingin mengenal lebih dekat Kiara"
"Bagus kalau begitu. Kiara, Kakak doakan yang terbaik untuk kamu ya. Semoga Raffa memang jodoh kamu"
"Terima kasih Kak" ucap Kiara, sambil tersenyum.
"Mami aku disini aja bareng Kak Kiara dan Om Raffa. Mami pergi aja dengan Papa"
"Kok panggilnya Om Raffa?" tanya Kayla.
__ADS_1
"Om Raffa kan udah tua" jawab Revan, dengan polosnya.
"Dengerin tuh. Segera lamar kalau udah cocok. Anak kecil aja tau kamu udah tua" ucap Aldo.
"Baik Tuan"
"Kiara, Raffa, aku titip Revan sebentar ya. Aku dan Mas Aldo mau keluar beli siomay. Kalian mau titip apa?"
"Siomay juga boleh kok. Kamu mau juga kan sayang?" tanya Kiara kepada Raffa.
"Eh..i..iya" ucap Raffa tergagap.
"Jangan gugup dong Raffa. Mentang-mentang lama jomblo, jadi gugup aja" ledek Aldo.
"Sudah lah bee. Kasihan Raffa jadi tambah gugup. Kami pergi dulu ya. Revan jagain Kak Kiara dan Om Raffa disini ya, jangan sampai mereka berbuat macan-macam"
"Siap Mami"
Kini Kayla dan Aldo bisa pergi berduaan saja. Mereka berjalan bergandengan tangan, di sebuah pasar malam.
"Bee, aku nggak nyangka loh kalau mereka berpacaran. Aku harap Raffa beneran serius sama Kiara"
"Dia pasti serius, hon. Aku sudah mengenal Raffa cukup lama, aku yakin dia tidak akan main-main"
"Iya semoga saja"
Mereka singgah ke tukang siomay kesukaan Kayla, kemudian mulai memesan.
Selesai membeli, mereka hendak balik ke dalam mobil yang cukup jauh terparkir. Kayla tidak sengaja melihat Tasya dari kejauhan dan tatapan mereka bertemu.
"Bee, itu disana bukannya Tante Tasya? Siapa ya yang disampingnya itu? Kayak udah tua" kata Kayla mencoba memperhatikan sekali lagi wajah yang dikiranya Tasya itu.
"Memang itu dia. Dia lagi sama aki-aki. Paling dia udah nggak punya uang jadi kayak gitu" kata Aldo, dengan santai.
"Bee, dia lagi lihat ke arah kita"
"Ngapain kamu juga harus lihat dia, hon? Pasti dia mau rusuh lagi itu"
"Maaf bee. Tapi dia udah jalan kesini sekarang"
Tasya mendekat ke arah Aldo dan juga Kayla, kemudian mulai menyapa mantan suaminya itu.
"Hai Mas. Kita ketemu disini ternyata. Kamu ngapain, Mas?" tanya Tasya, sambil menatap Aldo.
Dia sama sekali tidak menatap ke arah Kayla, seakan-akan Kayla tidak ada disana.
"Kamu tidak lihat aku lagi sama istriku? Sudah lah aku dan Kayla mau balik"
"Tunggu Mas. Bagaimana kabar Revan?" tahan Tasya.
"Baik, kamu nggak usah khawatirin dia"
Aldo menggenggam tangan Kayla, kemudian mengajaknya untuk pergi dari tempat itu. Baru saja berjalan beberapa langkah, Tasya kembali berbicara.
"Bagus ya kehidupan kita sebelum adanya pelakor Mas. Kita biasanya kan selalu pergi bertiga, aku, kamu dan Revan. Kita seperti keluarga yang sangat bahagia"
Aldo kembali geram kepada Tasya, ia menatap ke arah Kayla yang seperti sedang berusaha menahan tangisnya saat ini. Kemudian ia berbalik menatap ek arah Tasya.
"Sebaiknya kamu urus aki-aki kamu. Udah nunggu tuh disana. Janga bahas masa lalu yang bahkan tidak pernah ingin aku ingat lagi. Ayo honey, kita pergi sekarang"
Aldo sengaja membuat Tasya jengkel dengan mencium pipi kiri Kayla tepat dihadapannya, sebelum akhirnya mereka berlalu pergi.
__ADS_1
"Kurang ajar kamu Kayla. Gara-gara kamu aku benar-benar jadi miskin sekarang dan terpaksa harus bersama kakek-kakek bau tanah. Kalau aku tidak bisa mendapatkan Aldo kembali, aku pastikan kamu juga tidak bisa mendapatkannya"