Menikahi Om Sendiri

Menikahi Om Sendiri
Kehilangan Jejak


__ADS_3

Kiara berjalan keluar dari ruangan inap Kayla. Ia memutuskan untuk pergi ke taman yang ada di rumah sakit, untuk menenangkan hatinya.


Sinta yang baru saja kembali dari kamar mandi, merasa bingung dengan suasana di ruangan itu yang terlihat mencekam.


"Ada apa ini? Kenapa kalian semua diam? Kiara dimana?" tanya Sinta bertubi-tubi.


"Sepertinya dia marah ke aku, Ma" jawab Kayla, tertunduk lemah.


"Marah kenapa?"


"Aku bahas tentang Faris. Padahal maksud aku baik kok. Aku cuma berharap dia bisa membukakan hatinya untuk Faris, apalagi dia lagi hamil. Aku kasihan melihatnya harus berjuang sendiri tanpa figur seorang suami, Ma" ucap Kayla.


"Ohh jadi begitu. Menurut Mama sih Kiara belum bisa melupakan Raffa"


"Ap" kaget Kayla.


"Mama pernah dengar dia mengigau saat tidur, lalu memanggil nama Raffa. Dia berusaha terlihat kuat di depan semua orang dan mencoba untuk melupakan Raffa, tapi sepertinya semua percuma" ujar Sinta.


"Aku harap dia benar-benar bisa melupakan Raffa sepenuhnya, Ma. Aku memang belum pernah mendengar kabar dari Laura setelah mereka menikah. Tapi aku yakin tidak semudah itu mereka harus bercerai, meskipun mereka berdua belum saling menyukai satu sama lain"


"Iya, Mama juga yakin seperti itu. Semoga saja dia benar-benar bisa melupakan Raffa sepenuhnya. Mama hubungi Kiara dulu ya"


"Iya, Ma"


Sinta mulai menghubungi Kiara, sedangkan Kayla kembali fokus kepada bayi mungilnya.


Setelah mengetahui keberadaan Kiara, Sinta memutuskan untuk menggampiri Kiara agar anaknya itu tidak bersedih lagi.


"Mama pergi dulu ke tempat Kiara ya. Nanti Mama balik ke sini"


"Iya, Ma. Bilang ke Kiara aku minta maaf ya, Ma"


"Iya sayang, pasti dia maafin kok. Dia cuma lagi emosi aja. Tau kan, dia juga masih sangat muda, sifatnya masih labil"


"Sayang, kamu mau kemana?" tanya Rian, saat melihat istrinya hendak berjalan ke luar ruangan.


"Mau ke taman dekat sini, lagi mau bicara dengan Kiara. Kenapa Mas?"


"Aku mau langsung ke kantor sekarang"


"Oh iya Mas. Ayo kita sama-sama jalan keluar aja"


"Oke. Papa pamit ya Aldo, Kayla. Selamat atas kelahiran putri kalian" ucap Rian.


"Terima kasih, Pa. Nanti mampir lagi ya" kata Kayla.


"Iya pastinya"

__ADS_1


Kini tersisa Kayla, Aldo, Revan dan juga Aurel di dalam ruangan itu.


Revan masih sibuk dengan gamenya, jadi dia tidak memperhatikan suasana ruangan yang sudah mulai terlihat sepi.


"Honey, kamu mau makan apa? Kamu kan belum makan dari tadi malam karena harus berpuasa sebelum lahiran" ucap Aldo.


Aldo duduk di kursi yang berada dekat ranjang, sambil mengusap lengan Kayla yang sedang menggendong Aurel.


"Iya aku lapar banget, bee. Terserah mau beliin makanan apa aja untuk aku, yang penting banyak ya"


"Siap istriku. Kamu nggak capek gendong Aurel dari tadi? Taruh aja dia di tempat tidurnya, hon"


"Nggak apa-apa kok. Aku mau sekalian kasih dia asi dulu. Kamu beli aja makanannya, nanti aku ditemani Revan disini" ujar Kayla.


"Baiklah kalau begitu"


Aldo beranjak dari duduknya dan mencium kening Kayla dan juga mencium pipi gembul milik putrinya. Selanjutnya, ia menoleh ke arah Revan yang masih asyik dengan dunia game yang sedang dimainkannya.


"Revan, jaga Mami Kay dan Aurel ya. Papa mau beli makanan dulu. Kamu mau makan apa?" tanya Aldo kepada putranya.


"Ayam goreng" jawab Revan sangat bersemangat.


"Ya sudah. Tunggu disini ya. Jangan kemana-mana"


"Iya, Pa"


Setelah beberapa menit berlalu, Revan mulai bosan bermain hp. Ia meletakkan hp di atas meja dan melihat ke arah jendela. Kolam ikan yang berada tepat di depan kamar, telah menarik perhatiannya.


"Mami, Revan boleh ke tempat kolam ikan di depan ruangan ini nggak?" tanya Revan.


"Kan Papa bilang kamu jangan kemana-mana. Kenapa nggak main hp aja sayang?"


"Aku bosan Mami" ucapnya dengan wajah cemberut.


"Aurel bisa diajak main nggak?" tanya Revan lagi.


"Nggak bisa sayang. Dia udah bobo ini" jawab Kayla.


"Yaah. Bisa ya Mami Kay, Revan cuma main di depan kok. Plisss" ucapnya memohon.


Tidak tega melihat Revan yang sudah memohon, akhirnya Kayla pun mengizinkannya.


"Ya sudah, Revan boleh main di luar. Tapi syaratnya, Revan nggak boleh kemana-mana selain di luar ruangan ini ya, dan juga pintunya harus dibuka biar Mami bisa awasi dari dalam kamar"


"Siap Mami. Makasih ya"


Revan mencium pipi Kayla secara bergantian di kiri dan juga kanan, kemudian berlari ke luar ruangan dan melihat ikan-ikan yang sedang berenang.

__ADS_1


Kayla terus memantau Revan yang sedang berada di luar. Terlihat anaknya itu sangat senang bermain. Kemudian, ia beralih melihat Aurel yang sudah tertidur saat ia memberikan asi.


Dengan perlahan, Kayla berjalan ke arah tempat tidur Aurel dan menaruh putri kecilnya itu ke dalamnya dengan sangat hati-hati, agar anaknya tidak terbangun.


Saat ia menoleh melihat ke arah Revan, ternyata Revan sudah tidak ada disana.


Dengan wajah panik, Kayla langsung berlari ke luar ruangan dan mendapati Andre telah membawa Revan sambil menggendongnya dan di belakang Andre, ada Tasya yang juga ikut dan berjalan pergi entah kemana.


Ingin rasanya Kayla mengejar Andre dan Tasya saya ini juga. Namun, karena mengingat ada Aurel yang sedang tidur dan bagian bawah perutnya yang masih sakit karena baru saja melahirkan, membuatnya tidak mungkin untuk mengejar. Alhasil ia hanya bisa meneriaki nama Revan.


"Revan kamu mau kemana?" teriak Kayla.


"Mami Kay, to..."


Belum selesai Revan berbicara, mulutnya langsung dibungkam oleh Andre. Mereka semakin mempercepat langkah mereka untuk pergi.


"Tolong, anak saya diculik. Tolong" teriak Kayla sangat histeris.


Orang-orang semuanya berkumpul ke arah Kayla dan mulai mengejar Andre dan juga Tasya.


Aldo yang baru saja pulang dari membeli makanan, melihat ada beberapa orang yang sedang kejar-kejaran.


"Siapa itu? Kenapa mereka lari-lari?"


Aldo masih memperhatikan secara seksama orang yang sedang berlari-larian itu dan alangkah terkejutnya dia saat melihat Revan yang menangis sedang digendong Andre dengan Tasya yang ikut berlari di belakang.


"Brengsek! Anakku mereka mau bawa kemana" teriak Aldo.


Tanpa menunggu lama, Aldo langsung mengejar Tasya dan juga Andre dengan kecepatan penuh. Ia takut mereka akan segera pergi membawa Revan pergi dengan mobil dan akan kehilangan jejak mereka.


Tasya yang merasakan ada sesuatu yang tidak mengenakkan langsung menoleh ke arah belakang. Dari kejauhan dirinya bisa melihat Aldo yang tengah mengejar mereka dengan mata yang berapi-api.


"Papa, Mas Aldo ngejar kita. Cepetan bawa masuk Revan lebih dulu ke dalam mobil" ucap Tasya.


"Oke. Kamu cepat nyusul" kata Andre.


Andre mempercepat larinya, sedangkan Tasya ketinggalan jauh di belakang karena sudah merasa sangat lelah berlari. Apalagi tadi banyak orang yang sedang mengejar mereka ditambah dengan Aldo yang ikut mengejar saat ini.


Saat di depan jalan raya, Tasya tidak melihat lampu lalu lintas berwarna merah ataupun hijau dengan terburu-buru dia berlari, hendak menyeberang jalan. Alhasil, tubuhnya di tabrak oleh sebuah mobil yang melaju kencang dari kejauhan.


Aldo yang sudah dekat dengan tempat kejadian Tasya ditabrak, ikut kaget melihat mantan istrinya itu sudah bersimbah darah di jalanan.


Semua orang sudah berkumpul melingkari Tasya. Aldo yang teringat akan anaknya yang masih dibawa perg oleh Andre, memutuskan untuk mengejar mereka daripada harus menolong Tasya.


Namun sangat disayangkan, Mobil Andre sudah melaju pergi dengan membawa Revan di dalamnya. Kini, ia sudah kehilangan jejak anaknya.


"Revan jangan tinggalin Papa Revan. Andre dan Tasya *******!" teriak Aldo, begitu histeris.

__ADS_1


__ADS_2