Menikahi Om Sendiri

Menikahi Om Sendiri
Ketemu Lagi


__ADS_3

Aldo terus menghubungi nomor Kayla. Namun, nomornya sudah tidak aktif dalam beberapa hari ini. Saat ia mencoba mengecek nomor Kayla, ternyata Kayla sudah mengganti nomornya.


Segitunya kamu ingin menjauh dari aku Kayla? Sampai-sampai nomor kamu pun kamu ganti seperti ini. Gumam Aldo.


Seharian ia mencari keberadaan Kayla, tetapi tidak membuahkan hasil. Nomor Kayla yang sudah tidak aktif, membuat Aldo kesusahan melacal keberadaan istrinya itu.


Ia dan Raffa memutuskan untuk melanjutkan pencaharian mereka esok harinya.


Saat ini Aldo sedang berada di kamarnya bersama Kayla dulu. Ia sangat merindukan Kayla dan juga putrinya Aurel. Rasa penyesalan masih terus terasa dihatinya, karena selama ini sudah tidak memperdulikan anak dan istrinya.


Revan terlihat mengintip dari balik pintu kamar Aldo dan mulai mengetuk pintu kamar dengan pelan.


"Pa, Revan boleh masuk?"


"Eh Revan. Iya boleh. Sini masuk" panggil Aldo.


Revan masuk ke dalam kamar Aldo dan duduk tepat disebelahnya.


"Papa, kenapa Mami Kay dan Aurel nggak ada di rumah? Waktu Revan di rumah sakit juga mereka nggak ada. Apa jangan-jangan Mami Kay seperti Mama Tasya ya?"


Aldo kaget mendengar perkataan Revan. Ia tidak menyangka anaknya itu akan membandingkan Kayla dan Tasya seperti saat ini. Apalagi Revan juga belum tahu kebenaran tentang Tasya yang sebenarnya sudah meninggal karena kecelakaan.


"Tidak sayang. Mami Kay tidak seperti Mama Tasya. Mami Kay dan Aurel pergi dari rumah karena kesalahan Papa" ujar Aldo.


"Memangnya Papa salah apa ke Mami Kay?" tanya Revan.


"Banyak. Makanya Mami Kay marah" jawab Aldo.


"Ohh. Papa sih kayaknya nakal ke Mami kay, makanya Mami marah. Terus Aurel jadi ikut-ikutan deh. Padahal kan Revan mau main bareng Aurel"


"Maaf ya sayang. Papa janji akan bawa Mami dan Adik kamu pulang ke rumah ini lagi. Besok kamu Papa titip ke Oma Sinta ya"


"Terus, sekolah aku gimana, Pa?"


"Sekolah kamu pasti ngerti kok. Kan kamu baru keluar dari rumah sakit"


"Siap Papa. Janji ya Mami Kay dan Aurel harus balik ke sini lagi"


"Iya janji" kata Aldo.


"Yeyy makasih Papa" ucap Revan, lalu pergi kembali ke kamarnya.


Semoga kamu benar-benar bisa maafin aku, Kay. Aku harap kita berempat bisa berkumpul lagi sebagai keluarga yang utuh.


.


.


.


Pagi harinya, setelah memandikan Aurel dan Kenzo serta memberi asi kepada kedua anak mereka, Kayla dan Kiara bersiap untuk membuka toko roti mereka untuk pertama kalinya.


"Kamu siap kan, Dek?"


"Siap dong Kak"


Setelah semua roti telah selesai dibuat, Kayla dan Kiara mulai membuka toko roti mereka.

__ADS_1


Bau harum dari roti yang baru saja dibuat, menyerbak hingga tercium ke para pejalan kaki yang lewat dan ke rumah-rumah yang berada di sekitar toko mereka.


Karena bau harum itu, membuat semua orang yang berlalu lalang dijalan, menjadi tertarik untuk mampir.


Para pelanggan mulai berdatangan silih berganti untuk mencoba roti buatan Kayla dan juga Kiara, hingga membuat kedua kakak beradik itu kewalahan menyiapkan pesanannya sambil menjaga anak.


Setelah keadaan mulai sepi, kesempatan itu dimanfaatkan mereka untuk beristirahat.


Saat sedang beristirahat, tiba-tiba datang seorang nenek yang pernah dilihat oleh Kayla.


Nenek itu terlihat seperti sedang mencari sesuatu di toko mereka, membuat Kayla dan Kiara menjadi bingung.


"Maaf Nek. Nenek mau beli roti?" tanya Kayla.


"Apa? Siapa kamu hah? Saya lagi cari ikan saya kok" jawab Nenek itu, mulai marah-marah.


"Maaf Nek. Di sini nggak ada ikan, yang ada cuma roti, Nek" ucap Kiara.


"Diam kalian berdua. Ribut sekali. Heran deh"


Kayla dan Kiara saling berpandangan, tidak mengerti dengan maksud sang nenek.


"Apa nenek ini pikun ya, Kak?" bisik Kiara kepada Kayla.


"Mungkin. Apa kita kasih tau keluarganya aja? Rumahnya kan hanya di depan rumah kita"


"Iya boleh juga"


Saat Kayla baru saja ingin pergi, tiba-tiba Aurel menangis dengan sangat kencang, membuat Kayla menghentikan langkahnya.


Kayla mencoba menenangkan Aurel dengan cara menggendong putrinya itu.


"Ikan, itu ikanku. Kenapa kamu peluk ikanku?"


"Apa? Ikan? Ini anak saya, Nek"


"Nggak. Itu ikan saya" teriak sang nenek tidak mau kalah.


Perdebatan mulai terjadi diantara mereka. Kiara tidak tau harus berbuat apa dan bingung cara melerainya.


Tiba-tiba ada seorang pria yang datang menghentikan keributan diantara sang nenek dan Kayla.


"Mohon maaf Nenek saya sudah berbuat kekacauan. Dia pikun, jadi kadang-kadang bertingkah seperti ini. Sekali lagi mohon maaf"


Kayla menatap pria yang sedang menunduk itu. Ia merasa tidak asing mendengar suara dari sang pria. Saat pria itu mendongakkan kepalanya, ia sangat terkejut, karena melihat pria di depannya ternyata adalah orang yang membuatnya emosi saat berada di supermarket kemarin.


"Kamu...Yang nyebelin di supermarket itu kan?" tanya Kayla.


"Kamu juga yang nuduh aku kemarin kan?" tanya balik Dirga.


"Cucuku, perempuan ini mau ambil ikan Nenek. Itu dia lagi gendong ikan Nenek, nak"


"Nek, kita pulang ya. Di rumah udah disiapin kok ikannya. Yang digendong perempuan itu bukan ikan, Nek. Ayo pulang"


"Nggak mau, nggak mau" si Nenek terus merengek tidak mau pergi.


Dirga menghela napas dan mulai menatap serius ke arah neneknya.

__ADS_1


"Kalau Nenek mau pulang, Dirga akan belikan ikan paus"


Perkataan Dirga, membuat Kayla dan Kiara hampir tertawa lepas. Namun, keduanya mencoba menahan tawa mereka.


"Janji ya? Kamu harus janji sama Nenek. Siapa dulu nama kamu?"


"Dirga Nek" jawab Dirga dengan malas.


Neneknya selalu lupa dengan namanya seperti saat ini.


"Oke Dirga. Ayo pulang"


"Ayo. Jangan keluyuran lagi. Ini jalan raya loh. Gimana bisa nyebrang sih, jadi heran" kesal Dirga.


"Masalah kita belum selesai. Aku akan balik lagi setelah ini" lanjut Dirga, kepada Kayla.


"Dih, sok banget" ucap Kayla, langsung membuang muka.


"Kak, dia itu yang Kakak ceritain kemarin? Ganteng juga ya" kata Kiara.


"Ganteng kamu bilang? Masih gantengan suamiku ya daripada dia"


"Ciee masih ingat Kak Aldo juga ternyata? Kirain udah lupa" goda Kiara.


"Ya nggak mungkin lah. Aurel aja wajahnya mirip Papanya, gimana mau lupain" ucap Kayla, dengan wajah sendu.


"Kok malah sedih lagi sih. Udah jangan diingat lagi. Kan Kakak sendiri yang bilang, kalau Kak Aldo niatnya benar-benar mau minta maaf yang tulus, dia pasti cariin. Iya kan?"


"Iya. Makasih ya udah menghibur aku. Oh iya aku masuk dulu ya Dek, kayaknya popok Aurel udah penuh nih harus diganti popoknya"


"Iya Kak. Tapi kalau laki-laki tadi nyariin Kakak gimana?"


"Usir aja, nggak penting" ucap Kayla.


"Oke siap"


Benar saja, beberapa menit setelah Kayla masuk ke dalam kamar, Dirga nampak datang dan mulai memasang wajah angkuhnya.


"Mana perempuan tadi?"


"Perempuan apa? Bicara yang jelas. Aku juga perempuan di sini" kata Kiara.


"Itu perempuan yang disamping kamu tadi"


"Ohh itu. Katanya dia nggak mau ketemu sama kamu. Usir aja kalau datang. Gitu katanya"


"Apa?" teriak Dirga, tidak percaya.


"Jangan teriak-teriak dong, anak aku nanti nangis. Mau tanggung jawab hah? Udah pergi sana. Ganggu aja" ucap Kiara, mulai emosi.


"Tapi aku..."


"Pergi atau garpu ini aku colok ke mata kamu" ancam Kiara dengan garpu di tangannya.


"Dasar psikopat" teriak Dirga, sambil berlalu pergi.


Kiara cuma tertawa melihat ekspresi Dirga yang terlihat ketakutan.

__ADS_1


"Dasar gila, mirip banget sama temannya yang kemarin. Ihh kok aku jadi kepikiran temannya sih, aneh banget"


Kiara bergidik ngeri dan cepat-cepat membuang pikirannya tentang teman Dirga, yaitu Arkan.


__ADS_2