Menikahi Om Sendiri

Menikahi Om Sendiri
Tentang Laura (2)


__ADS_3

Aku terbangun di pagi itu, setelah mendengar dering ponselku berbunyi dengan sangat kencang. Saat aku memeriksanya, ternyata itu hanyalah bunyi alarm yang aku pasang sejak tadi malam.


Setelah mematikan alarm, mataku tertuju pada satu pesan masuk dari Faris. Aku mencoba membuka pesan masuk itu yang ternyata telah dikirimnya sejak 2 jam yang lalu.


Isi pesannya seperti ini,


Hai Lau. Ada waktu nggak hari ini?


Aku bingung kenapa dia menanyakan hal seperti itu. Tetapi saat aku ingat kejadian kemarin, dia sempat berbicara akan mengajakku jalan keluar untuk sekedar mengobrol. Aku pun membalasnya dan mengatakan aku punya waktu hari ini.


Aku menunggu balasan pesan darinya namun tidak kunjung dibalas. Karena lelah menunggu, aku memutuskan untuk mandi terlebih dahulu dan menyegarkan pikiran dan tubuhku di pagi hari ini.


Selesai mandi dan berganti pakaian, mataku entah kenapa tidak bisa terlepas dari layar ponsel, sambil sesekali membuka dan menutup pesan obrolanku bersama Faris yang belum juga dibalas sama sekali olehnya.


5 menit kemudian, notifikasi sms pun masuk. Dengan cepat, aku membukanya dan ternyata bemar itu adalah balasan sms dari Faris.


5 menit lagi aku akan sampai ke rumahmu. Bersiaplah.


Mataku membulat sempurna setelah membaca pesan dari Faris. Pria gila, begitu pikirku.


Dalam waktu 5 menit aku harus memilih baju yang tepat dan juga berdandan dengan sempurna. Tentu saja itu waktu yang sangat tidak mungkin akan cukup untukku bersiap-siap.


Aku mulai kelabakan dan bersiap-siap secepat mungkin. Aku tidak lagi melihat jam dan segera bergerak dengan sangat cepat.


Setelah semua selesai, aku mengecek jam dan ternyata aku menyelesaikan semuanya dalam waktu 10 menit.


Aku khawatir Faris sudah menungguku di bawah, sehingga aku mempercepat langkahku saat menuruni tangga. Aku menghentikan langkahku setelah mengecek pesan masuk darinya. Dia mengatakan hanya bercanda dan akan tiba 20 menit lagi.


Seketika kakiku terkulai lemas. Kecewa? Tentu saja. Aku merasa terlalu bodoh melakukan hal ini.


Moodku mulai berantakan dan memutuskan untuk kembali ke kamar, lalu mulai menangis sejadi-jadinya. Aku mengganti pakaianku menjadi pakaian training karena merasa tidak ingin pergi lagi.


20 menit kemudian, ponselku berdering dan itu ternyata adalah Faris. Aku tidak ingin menjawabnya, namun dia terus menghubungiku. Pada akhirnya aku pun mengangkatnya.


Dia mengatakan sudah menunggu di luar. Aku merasa tidak ingin pergi apalagi dengan penampilanku yang sudah kusut dan berantakan sehabis menangis. Tetapi aku sadar, aku tidak berhak marah padanya. Aku sendiri harusnya tidak boleh baper seperti ini.


Aku pun memutuskan untuk menemuinya, walaupun dengan wajah berantakan dan pakaian training berwarna kuning yang aku gunakan saat ini.


Penampilanku hari ini, sungguh bukan seperti diriku yang sebenarnya. Kalau biasanya aku dikenal dengan selera fashion yang baik, tetapi kali ini aku hanya pergi dengan menggunakan pakaian training, sendal rumahan, dan juga rambut yang dikuncir berantakan. Dengan penampilan seperti itulah, aku masuk ke dalam mobilnya.


"Mau kemana sih?" tanyaku, dengan nada cuek.


Dia tidak menjawab. Sepertinya dia sangat syok melihat penampilanku yang tidak seperti biasanya.


"Kenapa bengong? Mau pergi nggak nih?"


"Iya pergi kok. Tapi kamu ada masalah apa? Mata kamu sembab. Habis nangis ya?" tanyanya.

__ADS_1


Aku bingung kenapa dia tidak membahas pakaianku dan malah fokus ke mataku yang baru saja habis menangis.


"Iya, habis nonton drama korea" jawabku, berbohong.


"Ohh gitu. Bisa kita pergi sekarang?"


Aku mengangguk.


Beberapa saat kemudian, kami sudah sampai di sebuah mall besar yang tentunya sangat terkenal di kota ini.


Aku terbelalak dan tidak menyangka dia akan membawaku ke sini dengan penampilanku yang seperti orang gila saat ini.


"Kamu kok nggal bilang sih kalau mau ajak aku kesini? Lihat nih penampilan aku jelek banget. Aku nggak mau turun" kataku, sangat menolak ide gila ini.


"Loh memangnya penampilan kamu kenapa? Masih cantik kok. Ayo turun aja. Masa aku tinggalin kamu sendirian disini"


"Nggak mau. Penampilan kamu udah bagus banget, terus aku jalan disebelah kamu nanti akan jadi bahan ejekan banyak orang. Aku nggak mau pokoknya"


"Nggak, percaya aku. Cepetan turun"


Kali ini, Faris benar-benar memaksaku untuk keluar dari dalam mobil.


Aku mengikutinya sambil terus menunduk karena malu mendapat tatapan dari pengunjung mall. Karena aku terus menunduk dan berjalan dengan lambat, akhirnya Faris menarik tanganku dan menggenggamnya lalu mengajakku masuk ke dalam sebuah toko perhiasan.


"Kenapa kamu ajak aku ke sini?"


Jantungku kali ini benar-benar berdebar dengan sangat kencang. Pikiran tentang dia akan melamarku, mulai menghantui kepalaku saat ini. Aku pun jadi senyum-senyum sendiri memikirkan hal itu.


"Laura kamu kenapa senyum-senyum sendiri gitu?


"Hah? Nggak kok. Perasaan kamu aja" kataku, mulai memperbaiki ekspresiku yang tidak terkontrol.


"Coba pilih cincin mana yang bagus menurut kamu"


"Memangnya untuk apa sih? Kenapa aku milih?"


"Udah pilih aja dulu"


Aku mulai melihat-lihat cincinnya dan salah satu cincin dengan berlian kecil berwarna biru, menarik perhatian mataku. Aku mengambil cincin itu dan mulai memasang di jari manisku, ternyata cincin itu sangat pas.


"Yang ini bagus"


"Yang ini? Oke. Mbak saya pesan yang ini ya"


Pegawai toko pun mulai menyiapkan pesanan Faris.


"Memangnya untuk siapa sih cincinnya?"

__ADS_1


"Untuk seorang wanita. Makasih ya udah temenin aku untuk milihin cincinnya. Aku nggak bisa milih sendiri soalnya"


Ucapan Faris bagaikan sebuah sambaran petir. Ternyata dia mengajakku ke mall hanya untuk membantunya memilihkan cincin untuk pasangannya. Hidupku benar-benar sangat menyedihkan. Pantas saja dia tidak merasa malu mengajakku ke mall dengan penampilan seperti ini.


Selama di dalam mobil, aku berusaha untuk menahan tangisku sekuat mungkin.


"Antar aku pulang. Mau kemana lagi sih?"


Aku mulai membentaknya karena tidak tahan lagi dengan sikapnya yang seperti ini.


"Aku akan mengajakmu untuk bertemu wanita itu"


"Apa? Kamu sudah gila? Ngapain? Aku nggal perlu lihat keromantisan kalian. Wah sungguh menyedihkan kenapa hidupku harus seperti ini"


Kali ini air mataku tidak dapat ditahan lagi. Hatiku benar-benar sakit dan kecewa setelah dia mengatakan seperti itu.


Faris tetap tidak bergeming dan melajukan mobilnya menuju ke sebuah taman di dekat sungai.


"Kenapa berhenti disini? Pacar kamu mau kesini? Aku pergi naik taksi aja"


Saat aku hendak keluar dari dalam mobil, dia menahan tanganku.


"Ada yang mau aku bicarakan"


Aku kembali duduk dan merasa bingung.


Perlahan, dia mulai membuka cincin yang tadi dibelinya itu dan menmmberikannya padaku.


"Apa maksudnya ini?"


"Maaf aku baru mengatakannya sekarang. Tapi cincin itu untuk kamu"


"Maksudnya?"


"Jujur Laura. Sejak aku tau kamu menikah dengan pria lain, hatiku sedikit sakit. Aku seperti mulai menyukaimu, meskipun perasaanku masih lebih besar untuk Kayla. Tetapi sejak aku tau dia sudah menikah, aku mencoba berhenti menyukainya agar tidak merusak rumah tangganya. Selepas aku dari luar negeri, aku berniat mengunjungi kamu. Tapi ternyata saat itu juga aku tau, kamu sudah menikah. Pada malam hari dimana kamu menikah, aku bertemu Kiara. Wanita itu mirip sekali dengan Kayla. Disitu aku berpikir, aku mulai menyukainya. Tetapi ternyata dia tidak suka padaku, persis seperti Kayla. Aku terus mencoba untuk mendapatkan hatinya tapi saat itu juga aku mulai berpikir, mengejar orang yang tidak menyukai kita itu adalah hal yang sia-sia dan malah akan semakin membuat hati ini lebih sakit lagi. Lalu setelah bertemu kamu lagi dan ternyata kamu sudah bercerai, aku pun jadi sadar. Apa memang kita ditakdirkan untuk berjodoh?"


Bibirku bergetar dan air mata mulai mengalir lebih deras lagi, membasahi pipiku.


"Kenapa baru sekarang kamu sadar Faris? Kenapa nanti saat aku sudah menjadi janda seperti saat ini, kamu baru menyadari semuanya? Kamu kemana selama ini hah?"


Aku terus menumpahkan kekesalanku selama ini padanya dan mulai menangis tersedu-sedu.


Dia langsung menarik tubuhku kedalam dekapannya dan mengelus kepalaku dengan sangat lembut.


"Maafkan aku. Aku janji tidak akan menyia-nyiakan kamu lagi Laura. Sekali lagi maafkan aku"


Aku mengangguk dan memeluk tubuhnya dengan erat. Semoga, kamu benar-benar jodoh yang dikirim Tuhan untukku Faris.

__ADS_1


__ADS_2