Menikahi Om Sendiri

Menikahi Om Sendiri
Meminta Restu


__ADS_3

Aldo terus kepikiran dengan ide yang diutarakan Raffa saat di kantor tadi. Karena merasa tidak ada ide lain, ia memutuskan untuk mengikuti saran dari asistennya itu.


Sesampainya ia di rumah, Aldo sama sekali tidak menyapa Kayla dan terlihat sangat cuek. Kayla yang merasa ada yang berbeda dengan Aldo pun menjadi curiga.


"Kamu kenapa bee?" tanya Kayla.


"Nggak" jawab Aldo dengan singkat.


Kenapa dia? Apa dia marah padaku karena tidak memberinya jatah?. Batin Kayla.


"Istirahat aja bee kalau capek"


"Iya"


Lagi-lagi Aldo menjawab dengan datar dan singkat.


"Tadi Faris datang ke rumah"


"Apa?" teriak Aldo.


"Ih jangan teriak-teriak dong. Nanti Aurel bangun" kata Kayla.


"Ngapain dia kemari? Terus kamu izinin dia masuk?"


Aldo sudah melupakan keinginannya untuk bersikap cuek. Kali ini perasaannya sangat kesal karena mengetahui hal itu.


"Janji dulu jangan cuek kayak tadi lagi. Nanti aku cerita tujuan dia kemari"


"Iya aku nggak akan cuek lagi. Sekarang ayo cerita" kata Aldo.


Kayla menggenggam tangan Aldo begitu erat, lalu mengajaknya duduk di atas ranjang.


"Jadi gini, tadi tuh sebenarnya bukan cuma Faris doang yang datang, tapi Laura juga datang"


"Mau ngapain mereka berdua datang bersamaan? Apa jangan-jangan?"


"Iya bee. Mereka memutuskan untuk menikah dalam waktu 3 bulan lagi. Aku nggak nyangka sih mereka akan berjodoh seperti ini. Tapi aku senang dengarnya" ucap Kayla, kemudian tersenyum.


"Aku pikir jodoh mereka akan terbaik, ternyata tetap kembali ke tempat masing-masing ya. Semoga kita juga seperti itu ya honey. Selalu berjodoh sampai maut memisahkan"


"Amiiinnnnn" kata Kayla, mengaminkan doa Aldo.


Aldo menarik tubuh Kayla, hingga membuat Kayla tersandar di dadanya.


"Udah bisa atau belum? Aku nggak tahan lagi honey. Di bawah sini udah memberontak pengen keluar" tunjuk Aldo ke arah miliknya yang sudah menegang.


"Ya ampun bee, kamu mesum banget sih"


Kayla memukul pelan dada Aldo, kemudian tertawa dengan wajah yang mulai memerah.


"Boleh ya aku minta sekarang? Kamu nggak keberatan kan, bee? Plis" mohon Aldo.


Karena tidak tega dengan Aldo yang terus-terusa memohon, akhirnya Kayla pun mengiyakan.


"Iya tapi 1 ronde aja. Jangan lebih" kata Kayla, mengingatkan.

__ADS_1


Mana bisa aku 1 ronde kalau udah lama nggak menjamah tubuhnya. Batin Aldo, di dalam hati.


"Iya nanti aku pertimbangkan"


Aldo langsung menjalankan aksinya dengan cepat, sebelum Kayla berubah pikiran dengan nantinya.


Alhasil, bukan hanya 1 ronde melainkan mereka menghabiskan 3 ronde di malam itu. Kalau bukan karena Kayla yang memohon karena sudah kelelahan, mungkin Aldo belum mau berhenti.


"Kamu keterlaluan bee. Aku kan bilang 1 ronde aja. Capek banget ini"


"Hehe maaf ya istriku. Kan sudah lama nggak disalurkan. Jadi kebablasan deh. Ayo kita tidur. I love you honey"


"I love you too, bee"


Aldo menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka, kemudian mencium kening Kayla dan tertidur dengan memeluknya.


.


.


.


Berbeda dengan Raffa, pada malam itu ia menjemput Kiara serta Kenzo, untuk pergi ke rumahnya dalam rangka makan malam bersama sesuai permintaan ayahnya.


Sesampainya di sana, mereka langsung disambut oleh Bagas. Sedangkan Beka, dia sama sekali tidak menyambut kedatangan Kiara dan juga Raffa.


"Mama mana, Pa?" tanya Raffa.


"Biasa lagi di kamarnya. Ayo langsung masuk ke ruang makan aja. Papa panggil Mama kamu dulu ya"


"Iya, Papa"


"Papa kamu baik banget ya Raffa"


"Iya. Dia memang baik banget. Beda banget sama Mamaku"


"Jujur saja itu memang benar. Tapi semoga Mama kamu bisa menerima kehadiranku dengan lebih baik lagi sekarang, daripada sebelumnya"


"Iya aku yakin dia pasti akan lebih baik" kata Raffa, meyakinkan.


Tidak lama kemudian, muncul Bagas dan Beka di ruang makan.


"Malam Tante"


Kiara berusaha terlihat ramah di depan Beka. Namun, Beka tetap berekspresi datar dan hanya sedikit mengangguk.


"Ayo silahkan di makan makannya. Jangan sungkan ya Kiara" ucap Bagas.


"Iya Om. Terima kasih"


Di tengah-tengah saat mereka sedang menyantap makanan, tiba-tiba Beka mulai bersuara.


"Siapa nama anak kamu?"


Kiara yang terkejut, karena Beka tiba-tiba mulai bertanya padanya pun menjawab dengan gugup.

__ADS_1


"Namanya Kenzo, Tante"


"Bagaimana dengan Ayah kandungnya? Apa dia tidak mencoba datang dan mengambil anak itu?"


Raffa yang merasa pertanyaan Ibunya mulai kelewatan, akhirnya menegurnya.


"Mama, jangan bertanya seperti itu"


"Mama cuma ingin tahu saja" kata Beka.


"Ayahnya tidak mencarinya. Dari awal dia memang tidak menyukai kehadiran anakku"


"Ohh begitu. Pertanyaan terakhir, apakah kamu menyukai Raffa?"


Pertanyaan terkahir dari Beka, membuat Kiara menghentikan makanannya. Dirinya melihat ke arah Raffa dan kini keduanya sudah saling bertatapan.


Kemudian Kiara pun menjawab dengan sebuah anggukkan kepala.


"Saya menyukainya Tante"


Raffa menyunggingkan senyumnya setelah Kiara mengungkapkan perasaannya.


"Kalian boleh menikah, tetapi ada satu syarat"


"Syaratnya apa Tante?" tanya Kiara.


"Jangan macam-macam, Ma" kata Bagas.


"Kalian harus tinggal di rumah ini setelah menikah"


"Apa? Tapi aku punya apartemen, Ma. Kenapa harus tinggal disini?"


"Mama hanya sendirian disini. Papa kamu sibuk kerja, Kakak-kakak kamu tinggal di luar kota semuanya, ikut suami mereka. Jadi hanya kamu satu-satunya yang Mama miliki sekarang. Jadi kalian tinggal disini atau jangan menikah" ancam Beka.


Raffa terlihat sangat stres. Pasalnya, ia tidak ingin serumah dengan Ibunya agar menghindari pertengkaran. Tetapi sekarang, Ibunya malah memanfaatkan situasi dan berusaha untuk membuatnya kembali tinggal di rumah itu.


"Saya terserah Raffa aja, Tante" kata Kiara.


"Nah itu, Kiara aja nggak keberatan. Kamu mau kan Raffa? Permintaan Mama hanya ini loh nggak lebih"


Raffa menatap ke arah Ayahnya untuk meminta bantuan, tetapi tidak berhasil.


"Baiklah aku akan tinggal di sini saat sudah menikah nanti. Tapi hanya untuk 1 bulan, nggak lebih. Aku mau hidup mandiri, Ma. Jadi tolong jangan paksa aku tinggal lama disini" ujar Raffa.


"Baiklah. Jadi kapan rencananya kalian akan menikah?"


"Aku akan bicara dengan orang tua Kiara lebih dulu, Ma"


"Oke. Sebaiknya jangan dalam waktu dekat, karena kamu kan baru saja bercerai Raffa"


"Iya, Ma"


Dari bawah meja, perlahan Raffa mulai mengambil tangan Kiara dan mulai menggenggamnya dengan erat. Keduanya saling bertatapan dan tersenyum lega.


Ya, mereka merasa lega karena hambatan terbesar mereka selama ini akhirnya luluh juga. Meskipun Beka masih dengan ekspresi datar, tetapi setidaknya dia sudah memberikan jalan untuk keduanya menikah.

__ADS_1


Tidak semudah itu kalian bisa menikah. Aku harus mencari tau keberadaan Ayah kandung anak itu dan mencoba membujuknya untuk mengambilnya. Kita lihat ekspresi Kiara dan siapa yang akan dipilihnya nanti.


Beka ternyata telah merencanakan semuanya dan tersenyum penuh arti.


__ADS_2