Menikahi Om Sendiri

Menikahi Om Sendiri
Resepsi Pernikahan


__ADS_3

Aldo menyusul Kayla dan juga Revan yang sedang berada di toko es krim. Sesampainya disana, ia menyuruh supir yang membawa Kayla dan juga Revan untuk pulang lebih dulu, karena ia ingin menghabiskan waktunya bersama anak dan istrinya itu.


"Halo cintanya Papa. Ternyata kalian berdua pergi nggak bilang-bilang ya" kata Aldo, mengagetkan Kayla dan Revan yang sedang makan es krim.


"Bee, kok datang tiba-tiba sih. Kan jadi kaget"


"Iya nih, Papa. Bikin kaget aja" sambung Revan.


"Maaf semuanya. Papa cuma pengen kasih suprise kalian. Jadi datang tiba-tiba deh"


"Honey, suapin dong aku mau rasa es krim kamu juga" lanjut Aldo.


"Pesan aja, Bee. Ini kan punya aku" ucap Kayla, menarik es krimnya agar tidak diambil Aldo.


"Tapi aku maunya disuapin kamu" kata Aldo dengan manja.


"Nggak mau, Bee. Kamu pesan aja"


"Nggak mau. Aku nggak mau berdiri kesana untuk pesan, kejauhan" ucap Aldo, bersikeras.


Karena tidak tahan melihat kelakuan orang tuanya yang menurutnya sangat mengganggu. Revan berteriak memanggil pelayan.


"Mbak, tolong buatin es krim buat Papa aku ya. Papa mau pesan apa?"


"Hah? Eh itu, rasa vanila aja" kata Aldo, masih terlihat bingung.


"Es krim vanilanya satu, Mbak. Makan disini ya, terima kasih" ucap Revan, kemudian melanjutkan memakan es krimnya.


"Kamu kok jadi pesanin Papa es krim sih?"


"Papa sih kayak anak kecil aja, mau disuapin Mami Kay. Padahal tinggal panggil pelayanan apa susahnya"


"Kamu kok bicaranya kayak orang dewasa banget"


"Papa aja yang udah tua, bicaranya kayak anak kecil. Malu dong sama aku" balas Revan, membuat Aldo terkejut.


Kayla tidak bisa menahan tawanya lagi dan ia tertawa sangat keras, hingga membuat seisi orang di ruangan itu menatap ke arah mereka.


Untung saja saat itu suasana toko sedang sepi. Jadi, Aldo tidak merasa terlalu malu.


"Han, kamu kok ketawa gitu sih. Diliat orang-orang loh" tegur Aldo.


"Kamu sih, bee. Pakai acara manja segala, kan Revan jadi bilang kayak gitu" ucap Kayla, yang masih tertawa ngakak.


"Udah dong nggak usah dibahas lagi, kan jadi malu"


"Tambah ganteng kamunya kalau malu kayak gitu" kata Kayla sambil mengelus pelan wajah Aldo.


Aldo tersipu malu saat Kayla mengelus pipinya. Diraihnya tangan Kayla yang masih berada dipipinya, kemudian satu tangannya lagi meraih tangan Revan.


"Ada apa?" tanya Kayla dan Revan, berbarengan.


"Papa mau buat pengumuman"

__ADS_1


"Pengumuman apa, bee?" tanya Kayla.


"Minggu depan, Papa dan Mami Kay, akan melangsungkan pernikahan yang dihadiri oleh teman kerja Papa dan juga wartawan"


"Apa? Kenapa nggak bicara ke aku dulu?"


"Kan ini aku bicara, Han. Dulu juga aku udah bilang kan mau nikahin kamu secara resmi dan mau kasih tahu ke orang banyak, kalau kamu adalah istri sah aku"


"Tapi kenapa acaranya seminggu lagi? Bukannya itu terlalu cepat?"


"Aku sudah siapin semuanya kok, kamu tenang saja. Mumpung kehamilan kamu juga belum terlalu kelihatan, jadi lebih baik diadakan sekarang. Nanti kamu susah, Honey kalau lagi hamil besar terus resepsi" ujar Aldo.


"Iya juga sih. Aku ikut kamu aja, Bee. Aku serahin juga semuanya ke kamu" kata Kayla.


"Nah gitu dong. Revan juga siap kan? Harus tampil ganteng ya, biar kayak Papa"


"Siap. Revan akan jadi paling ganteng ngalahin Papa" ucap Revan.


"Waduh kalah saing nih berarti" kata Aldo, bercanda.


Ketiganya tertawa bersama, sambil menikmati es krim mereka masing-masing.


Keesokan harinya, Kayla dan juga Aldo mulai melakukan fitting baju pengantin serta memesan gedung pernikahan yang sangat mewah, dibagian puncak.


"Bee, resepsinya bukannya terlalu mewah ya?"


"Kamu nggak usah khawatir, bee. Uang aku nggak langsung habis hanya untuk resepsi ini. Kita juga kan mau undang wartawan dan para pejabat. Jadi harus mewah dong" ucap Aldo.


"Bee, kalau aku undang Kiara dan orang tuanya boleh nggak?"


"Boleh dong. Kamu undang aja, sekalian ajak juga teman kamu Laura"


"Terima kasih, bee"


Kayla memeluk pria yang terpaut usia 13 tahun itu dengan sangat erat. Ia bersyukur memiliki suami yang sangat perhatian kepadanya. Ia berharap, selamanya Aldo akan seperti ini dan tidak akan pernah berubah.


Setelah beberapa hari keduanya menyiapkan segala keperluan pernikahan, akhirnya semua yang diperlukan telah siap, kini tinggal waktunya untuk menyebarkan undangan pernikahan.


Khusus untuk undangan yang akan diberikan kepada keluarga Kiara, Kayla memutuskan untuk mengantarnya langsung ke rumah. Ia juga sudah beberapa hari ini belum mendengar kabar Kiara, sehingga membuatnya penasaran.


"Assalamualaikum"


Kayla membunyikan bel berulang kali di kediaman Kiara.


Tidak lama kemudian, pintu terbuka dan muncullah Kiara dengan wajah yang sangat bahagia setelah melihat tamu yang datang.


"Ya ampun, Kak. Akhirnya Kakak datang juga, aku pikir Kakak udah lupain aku loh" kata Kiara.


"Ya enggak lah. Aku lagi sibuk urus resep pernikahan aku, jadi baru ada waktu sekarang deh untuk mampir. Aku juga mau kasih undangan pernikahan nih. Nanti datang ya"


Kayla menyodorkan undangan pernikahan kepada Kiara.


"Wah makasih, Kak. Aku pasti datang kok"

__ADS_1


"Siapa itu Kiara?" tanya Sinta, dari dalam rumah.


"Oh ini Kak Kayla datang ngasih undangan resepsinya, Ma" jawab Kiara.


"Ohh Kayla? Ayo masuk"


Setelah mengetahui Kayla adalah anaknya, Sinta memang terlihat tidak jutek lagi.


"Jadi, kamu mau adakan acara resepsi ya?"


"Iya, Tante"


"Kami sekeluarga bisa datang kan?"


"Bisa dong, Tante. Aku memang kesini mau undang Kiara dan sekeluarga untuk hadir"


"Oke kalau begitu. Oh iya kamu mau minum apa? Nanti Tante buatin"


"Eh, nggak usah repot-repot Tante" tolak Kayla.


"Nggak merepotkan kok. Mau minum apa?"


"Terserah Tante aja"


"Ya sudah kalau begitu. Tunggu ya"


Sinta pergi ke dapur dan menyiapkan minuman untuk Kayla.


"Tumben Mama kamu nggak jutek lagi, Kiara" ucap Kayla.


"Iya tumben banget. Aku juga kaget loh" kata Kiara.


"Gimana urusan kamu dan ayah bayinya? Dia mau tanggung jawab?"


"Dianya nggak mau, Kak"


"Loh kok gitu? Dia kan yang berbuat" kata Kayla.


"Iya. Tapi dia cuma pengen buat aja, nggak mau tanggung jawab" ucap Kiara, mulai tertunduk saat membahas hal itu.


"Jadi gimana selanjutnya?"


"Aku tetap mau pertahanin bayinya, Kak. Aku akan jadi ibu tunggal nantinya. Menurutku itu lebih baik, daripada harus menikah dengan dia dan ujung-ujungnya dia nggak serius" ujar Kiara.


"Iya sih kamu benar. Orang tua yang menelantarkan anaknya setelah melahirkan juga nggak baik. Jadi kamu harus rawat bayi kamu, meskipun tanpa figur seorang ayah, ya?"


"Iya, Kak. Itu pasti"


Sinta yang hendak mengantarkan minuman, menghentikan langkahnya saat mendengar obrolan Kayla dan Kiara.


Maafkan Mama, Nak. Mama orang tua yang nggak baik, karena sudah menaruhmu di panti asuhan. Maaf Mama terlambat menjemputmu saat itu, dan ternyata kamu sudah diadopsi oleh keluarga lain. Aku memang tidak pantas disebut seorang Ibu.


Sinta mulai menangis, memikirkan kebodohannya pada waktu itu.

__ADS_1


__ADS_2