Menikahi Om Sendiri

Menikahi Om Sendiri
Harus Memilih


__ADS_3

Kayla sangat kecewa dengan sikap Aldo. Saat mereka sudah mempunyai anak seperti ini, Aldo malah menjadi sangat berubah kepadanya.


"Apa ini adalah karma karena aku sudah menghancurkan rumah tangga mereka sebelumnya? Tapi kan semua ini terjadi karena Mas Aldo sendiri. Aku benar-benar tidak habis pikir sikap dia seperti ini" gerutu Kayla.


Saat sedang menggerutu sendirian, Sinta kembali datang ke rumah sakit, setelah tadi dia mengantarkan Kiara lebih dulu untuk pulang ke rumah.


"Akhirnya Mama datang lagi. Aku pikir Mama nggak mau datang. Aku bosan cuma berdua dengan Aurel disini" ucap Kayla, terlihat sedih.


"Loh kok sedih gitu sih mukanya? Memangnya Aldo kemana? Dia masih marah?" tanya Sinta.


"Sepertinya begitu dan sekarang Revan sedang di rawat di rumah sakit lain. Dia kena luka tembak dari Om Andre" jawab Kayla.


"Apa? Benar-benar Andre keterlaluan. Padahal kan itu cucunya sendiri. Nanti kalau kamu udah bisa pulang besok, kita ke rumah sakit temuin Revan ya"


"Nggak usah, Ma"


"Kok nggak usah? Kamu jangan seperti itu dong Kayla"


"Mas Aldo sendiri yang nggak mau aku ke sana, Ma. Katanya kehadiran aku dan Aurel nanti hanya akan membuat fokus dia terganggu pada Revan. Jadi sebaiknya tidak usah"


"Kenapa suami kamu jadi ngomong kaya gitu? Benar-benar nggak punya hati. Nanti Mama yang bicara sama dia"


"Nggak usah, Ma. Aku udah terlanjur kecewa sama Mas Aldo. Biarkan dia mengurus Revan untuk saat ini. Nanti aku tinggal di rumah Mama sementara boleh nggak? Aku nggak mau tinggal berdua aja dengan Aurel di rumah"


"Boleh dong sayang. Dengan senang hati Mama menerima kamu di rumah"


"Makasih, Ma. Untung aja aku masih punya Mama. Kalau nggak ada Mama, aku mungkin nggak tau akan jadi bagaimana" ucap Kayla, sambil memeluk Sinta.


"Sama-sama sayang" kata Sinta, membalas pelukan Kayla.


Di tempat lain, Aldo masih fokus mengurus Revan. Operasinya kali ini berjalan dengan lancar. Peluru yang menembus bahu pria kecil itu bisa dikeluarkan. Sayangnya, Revan harus mengalami koma karena hal ini.


Aldo menyuruh Raffa untuk mengurus semua keperluan yang ada di kantor. Ia benar-benar ingin fokus terhadap Revan saat ini, menunggunya hingga sadar dari koma.

__ADS_1


Raffa yang sangat kelewahan karena harus mengurus semua keperluan bosnya itu, dengan sangat terpaksa harus kerja lembur di kantor.


Tidak lama kemudian, hp nya bergetar. Dilihatnya pesan masuk di layar hp nya yang ternyata dari Laura, istrinya yang sudah dinikahinya kurang lebih 4 bulan ini.


Kamu dimana Mas? Belum pulang?


Begitu lah pesan yang dikirimkan Laura. Raffa pun membalas dengan singkat.


Lembur.


Ya, Raffa memang belum bisa membukakan hatinya kepada Laura. Tetapi bukan berarti ia akan terus-terusan seperti ini. Menurutnya, semua butuh proses. Meskipun sebenarnya, Laura sudah mulai membukakan hatinya kepada suaminya itu.


Merasa sangat lelah mengurus berkas-berkas kantor yang masih lumayan banyak, Raffa memutuskan untuk beristirahat sebentar.


Ia melihat-lihat sosial media miliknya dan menemukan postingan terbaru Kiara yang sedang berpose tersenyum sambil memegang perutnya yang sudah semakin membesar, karena akan melahirkan dalam hitungan hari.


Raffa menatap cukup lama postingan Kiara. Tapi setelahnya, ia tersadar apa yang diperbuatnya salah dan langsung menaruh kembali hp nya di atas meja.


"Kerja, kerja, jangan pikir dia lagi. Semua sudah masa lalu. Ingat kamu sudah mempunyai istri Raffa" ucapnya menyadarkan dirinya sendiri.


Saat rumah Kiara semakin dekat untuk dilewatinya, ia melihat sosok perempuan yang persis seperti Kiara sedang berdiri di balkon rumahnya.


Entah kenapa, Raffa tiba-tiba menghentikan mobilnya tepat di seberang rumah Kiara. Ternyata benar, orang yang sedang berdiri di balkon rumah itu adalah Kiara. Mata mereka sempat bertemu sesaat, tetapi Kiara memutuskan untuk masuk ke dalam rumah dan menutup rapat semua gordennya.


Raffa tertunduk, ia tidak mengerti kenapa dia bisa seperti ini. Hatinya seakan-akan masih berat untuk melupakan Kiara.


Sesampainya di rumah, Raffa terlihat sangat lesuh memasuki rumah. Laura yang sudah menunggunya sedaru tadi, merasa bingung melihat wajah Raffa.


"Kamu kenapa Mas? Kok kelihatan sedih?"


"Ngga apa-apa. Aku cuma lelah saja. Aku mandi dulu ya"


Laura merasa pasti ada sesuatu yang disembunyikan Raffa. Tetapi dia tidak berani bertanya lebih lanjut lagi.

__ADS_1


Setelah mandi dan mengganti pakaian, Raffa langsung berbaring di atas kasur dan tidur membelakangi Laura. Tentu saja Laura merasa sedih. Sudah 4 bulan kehidupan rumah tangga mereka berjalan seperti layaknya orang asing.


"Mas, aku boleh tanya?"


"Tanya apa?"


Raffa masih dalam keadaan membelakangi Laura, begitu pun dengan Laura yang membelakangi Raffa.


"Apa perasaan kamu ke aku sama sekali belum ada sedikit pun?"


"Maaf Laura"


Hanya dengan kata Maaf, Laura sudah bisa tahu kalau jawabannya tentu saja belum.


"Sampai kapan aku harus menunggu Mas? Padahal aku sudah berusaha merelakan Kak Faris. Tapi kenapa kamu belum juga merelakan Kiara? Bahkan selama 4 bulan ini kita belum melakukan hubungan suami istri. Kamu tau kan Mas? Orang tua kamu dan aku terus bertanya kapan bisa memberikan mereka cucu, dan aku selalu saja terpaksa harus berbohong"


"Aku sudah berusaha Laura. Aku berusaha melupakannya. Tapi entah kenapa aku belum bisa melupakannya sampai saat ini. Aku juga bingung pada diriku sendiri Laura"


Air mata Laura yang sedari tadi ditahannya, tidak kuasa lagi untuk keluar.


Laura bangkit dari tidurnya dan duduk menghadap Raffa yang masih membelakanginya.


"Mari kita cerai" ucap Laura.


Deg


Kata cerai dari mulut Laura, entah kenapa membuat hati Raffa sedikit sakit. Raffa ikut bangkit dari tidurnya dan duduk menghadap Laura. Kini mereka saling menatap satu sama lain.


"Jangan bicara sembarangan. Aku sudah bilang aku tidak akan berbuat seperti itu dengan mudahnya"


"Lalu untuk apa kita bertahan kalau kamu bahkan masih mencintai orang lain? Sampai kapan aku harus berbohong dan terlihat bahagia di depan orang-orang? Aku lelah Mas"


"Tunggu sebentar lagi. Aku mohon. Tolong kasih aku kesempatan untuk benar-benar melupakan Kiara sekali lagi"

__ADS_1


"Baiklah. Tapi hanya sekali lagi saja. Jangan buat aku menunggu terlalu lama. Gara-gara hal ini, aku belum berani menghubungi Kayla maupun Kiara. Jadi pastikan memang perasaan kamu Mas"


Laura kembali tidur dengan posisi membelakangi Raffa. Raffa yang masih dengan posisi duduk hanya bisa menghela napasnya kasar. Ternyata ada di posisi harus memilih, memanglah sangat berat, begitu pikirnya.


__ADS_2