
Raffa pulang dari rumah Kiara dengan hampa. Bukannya hubungan mereka bertambah baik, yang ada mereka harus terpaksa putus. Itupun melalui perantara Sinta. Sakit, itulah yang dirasakan Raffa saat ini.
Disaat ia mulai membuka hati kepada seseorang, ada saja rintangan dan masalah yang harus menerpa hubungannya. Dengan perasaan sedih, ia memutuskan untuk pulang ke apartemennya.
Namun saat diperjalanan, Beka menyuruhnya untuk datang ke rumah lagi. Sebenarnya ia tidak ingin bertemu dengan ibunya sekarang. Tetapi karena ibunya sangat ngotot agar dirinya bisa datang, terpaksa Raffa mengiyakannya.
Saat sampai di rumah orang tuanya, Raffa melihat ada mobil yang tidak dikenalinya, terparkir di halaman rumah.
Mama lagi ada tamu ya. Gumamnya.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam. Sini nak masuk. Kenalin loh jeng ini anak saya Raffa. Raffa kenalin ini Tante Tyas, teman Mama dan disampingnya itu anaknya Laura" ucap Beka.
Raffa menatap ke arah Laura, wajah yang tidak asing menurutnya. Namun, ia tidak bisa mengenalinya.
"Raffa"
"Laura"
Mereka berjabat tangan untuk memperkenalkan nama masing-masing.
"Wajah kamu kelihatan nggak asing" ucap Raffa.
"Wajah kamu juga" balas Laura.
"Tunggu, kamu bukannya teman Nyonya Kayla?"
"Iya benar. Kamu asistennya Om Aldo, bukan?"
"Iya benar"
"Ohh pantesan nggak asing" kata Laura.
"Jadi kalian udah saling kenal nih? Baguslah. Mama rencananya mau jodohin kamu dengan Laura" ujar Beka.
"Iya jeng benar sekali" sambung Tyas.
"Apa?" teriak Laura dan Raffa bersamaan.
"Loh kenapa memangnya? Lebih bagus kan kalau dapat pasangan yang udah pasti baik, bukannya malah pasangan yang nggak benar" ejek Beka.
"Aku nggak bisa, Ma. Maaf semuanya" tolak Raffa.
"Aku juga nggak bisa" tambah Laura.
"Kenapa begitu?" tanya Tyas.
"Aku suka seseorang" ucap Raffa dan Laura berbarengan.
__ADS_1
Mereka saling menatap sebentar, kemudian mengalihkan pandangan masing-masing.
"Mama nggak setuju dengan pilihan kamu Raffa" kata Beka.
"Siapa yang kamu sukai Laura? Kamu nggak pernah cerita sebelumnya ke Mama" ucap Tyas.
"Aku suka teman aku yang dari SMA, tapi dia sukanya ke sahabat aku. Makanya aku nggak berani ungkapin, Ma" kata Laura, sambil tertunduk.
"Dengar kan semua? Dia nggak mau, aku juga. Permisi"
Raffa keluar dari rumah orang tuanya dan bergegas untuk pulang ke apartemennya.
Jika suasana hati Raffa saat ini sedang bersedih, berbeda halnya dengan sang bos yaitu Aldo, yang sedang berbahagia.
Ia baru saja menjemput Kayla dari kampus dan sedang menuju ke arah sekolah Revan untuk menjemput anaknya juga.
"Honey, besok ulang tahun Revan yang ke 8 tahun. Kira-kira kita kemana ya bagusnya? Untuk ngerayain gitu"
"Revan ulang tahun besok? Ih bee. Kok kamu nggak kasih tau aku dari jauh-jauh hari sih? Aku kan belum siapin kado apa-apa untuk dia"
"Hehe maaf hon. Aku juga sempat lupa tadi" kata Aldo.
"Hmmm.. Gimana kalau kita ajak dia ke wahana bermain di mall? Kira-kira dia suka atau nggak?" tanya Kayla.
"Kayaknya dia suka sih. Ya sudah, kita pergi ke sana besok. Aku akan cepat pulang besok supaya kita bisa pergi lebih awal" jawab Aldo.
Mobil telah sampai di depan gerbang sekolahan Revan. Terlihat Revan melambaikan tangannya ke arah Aldo dan juga Kayla, lalu berlari menuju mobil.
Aldo keluar dari mobil dan menyambut Revan dengan sebuah pelukan.
"Hai anak Papa yang ganteng. Gimana sekolahnya? Lancar?"
"Lancar dong, Pa"
"Ayo masuk. Mami Kay ada di dalam mobil, katanya sih mau kasih kejutan untuk kamu"
Mendengar kata kejutan, membuat Revan sangat penasaran. Dia segera masuk ke dalam mobil dan mulai menunggu kejutan apa yang ingin diberikan ibu tirinya itu.
"Mami mau kasih kejutan apa untuk Revan? Tadi katanya Papa ada kejutan dari Mami" ucap Revan.
"Kejutannya yaitu..... Selamat Revan akan punya adik perempuan"
"Yang benar? Yeaaayyy. Revan akan jadi abang" teriaknya kegirangan.
"Udah nggak sabar pengen jadi abang ya?" tanya Aldo.
"Iya dong, Pa. Revan akan jagain ade bayi dengan sangat baik, tapi kalau Revan bisa jaga ya"
"Loh kok pakai tapi sih? Pasti bisa sayang" kata Kayla.
__ADS_1
"Yah kan Revan cuma bilang siapa tau aja nggak bisa Mami"
"Iya abang yang ganteng" kata Kayla, dengan menirukan suara anak kecil.
Aldo dan Revan tertawa mendengar suara Kayla yang menirukan anak kecil.
Keesokan harinya, di pagi hari, Kayla dan Aldo sudah bersiap dengan sebuah kue ulang tahun di depan pintu kamar Revan.
Kemarin sore Aldo memang menyuruh asisten rumah tangganya untuk membelikan kue ulang tahun secara diam-diam, agar Revan tidak curiga.
Ya, mereka berencana untuk memberikan kejutan di pagi hari saat Revan baru bangun tidur.
"Bee, ayo ketuk pintu kamar Revan. Aku lagi pegangin kue ini"
"Oke. Balon udah aku pegang sekarang. Aku ketuk ya"
Aldo segera mengetuk pintu kamar Revan.
"Revan, ayo bangun sayang udah pagi nih. Mau sekolah loh" teriak Aldo dari luar kamar.
"Iya, Pa" ucap Revan dari dalam kamar.
Terdengar suaranya masih seperti orang yang mengantuk.
"Cepetan keluar, jangan dulu mandi" teriak Aldo lagi.
Revan yang berada di dalam kamar, merasa kesal karena bukannya disuruh mandi, dia malah disuruh keluar kamar dulu.
"Ada apa sih, Pa?"
Revan membuka pintu dan mengucek matanya.
"Selamat ulang tahun Revan sayang" ucap Kayla dan Aldo berbarengan.
Revan terkejut melihat kejutan dari Mami dan Papanya. Ini pertama kalinya dia diberi kejutan dengan orang tua yang lengkap. Biasanya dia selalu diberi kejutan hanya dari Aldo saja, Tasya tidak pernah ikut melakukannya.
"Makasih Mami Kay, Papa. Revan sayang banget sama kalian. Oh iya ade bayi juga aku sayang"
Revan memeluk kedua orang tuanya itu dan tiba-tiba ia mulai menangis sangat kencang, membuat Aldo dan Kayla menjadi panik.
"Loh kenapa menangis sayang?" tanya Kayla, sambil mengusap kepala Revan.
"Revan nggak pernah dikasih kejutan kayak gini. Dari dulu hanya Papa saja yang kasih kejutan untuk Revan dan wajah Papa nggak terlalu senang waktu kasih kejutan. Tapi sekarang saat ada Mami Kay, Papa jadi suka senyum dan dia juga senyum saat kasih kejutan untuk Revan. Makasih Mami Kay, karena Mami, Papa jadi bisa tersenyum dan tertawa seperti sekarang"
Sungguh, Aldo sangat tersentuh mendengar perkataan anaknya itu. Ia tidak menyangka Revan memperhatikan wajahya selama ini.
Memang, selama dengan Tasya, Aldo sangat jarang tersenyum. Tetapi saat Kayla hadir dikehidupanya, entah kenapa hari-harinya menjadi lebih berwarna dari sebelumnya.
Papa sayang banget kamu Revan. Tetap jadi anak Papa yang baik seperti ini. Batin Aldo.
__ADS_1