Menikahi Om Sendiri

Menikahi Om Sendiri
Melepaskanmu


__ADS_3

Sekarang tentang kisah cinta Raffa yang terlalu rumit dulu ya yang diceritain 😂😂


Selamat Membaca 😍


...****************...


Raffa hari ini meminta cuti kepada Aldo, karena ingin menyelesaikan masalah keluarganya, terkait perjodohan yang dilakukan ibunya. Ia benar-benar tidak ingin menerima perjodohan ini.


"Ma, tolong batalin perjodohan itu. Aku sukanya ke Kiara" ucap Raffa.


"Tidak. Perjodohan akan tetap dilanjutkan. Kalian akan menikah minggu depan" kata Beka.


"Apa? Tapi aku tidak mencintainya, Ma. Dia juga sudah punya orang dicintainya, begitu juga aku. Papa juga nggak setuju dengan perjodohan yang Mama lakukan sekarang kan?" tanyanya kepada sang ayah yang sedari tadi diam saja.


"Begini Raffa, kamu akan segera berumur 30 tahun. Papa nggak mau di umur kamu yang 30 tahun kamu masih belum nikah juga. Papa mengerti kamu mencintai wanita itu, tapi apa kamu siap bertanggung jawab atas anak yang sedang dikandungnya? Dia bukan anak kamu Raffa. Papa takut kamu yang akan disalahkan kalau sampai anak yang dikandung wanita itu bermasalah" ujar Bagas, yang merupakan ayah dari Raffa.


"Dengar itu apa kata Papa kamu. Kami sebagai orang tua hanya mau yang terbaik untuk kamu. Kamu orang yang sukses, tidak pernah berbuat aneh kepada wanita lain, dan selalu tekun. Terus ujung-ujungnya kamu dapat wanita yang nggak benar kayak gitu? Mama nggak mau Raffa. Dua Kakak perempuan kamu menikah dengan baik-baik, terus kamu anak laki-laki satu-satunya yang kami miliki, malah memilih wanita yang nggak baik? Mama tau ibunya juga pernah jadi istri siri pria yang sudah menikah kan? Dan kakaknya juga hamil diluar nikah, ditambah sekarang dianya sendiri hamil diluar nikah. Kamu sudah lihat betapa hancurnya keluarga itu? Jadi Mama tetap pada keputusan Mama"


"Mama jangan bicara sembarangan. Bagaimana pun juga Kiara adalah adik dari istri Tuan Aldo" bela Raffa.


"Terus kenapa kalau dia adik dari istri bos kamu? Apa bos kamu ingin memecat kamu padahal semuanya memang benar kenyataan? Jangan mencari alasan apa-apa lagi Raffa. Mama sudah siapkan semuanya. Sebaiknya sekarang kamu pergi jemput Laura dan ajak dia jalan-jalan, biar kalian jadi lebih dekat sebelum hari pernikahan kalian yang sudah semakin dekat"


Raffa menatap ke arah ayahnya, berharap mendapatkan pembelaan. Namun, sepertinya ayahnya juga menyetujui perkataan ibunya.


Dengan langkah gontai, ia akhirnya menuruti permintaan ibunya dan mulai menghubungi Laura untuk mengajaknya keluar.


Ia berencana untuk membicarakannya lebih dulu dengan Laura, siapa tau pernikahan mereka bisa saja dibatalkan.


Raffa sudah berada di depan rumah Laura saat ini. Setelah mengirimkan pesan kepada Laura, tidak lama kemudian Laura tampan keluar dari dalam rumah dan masuk ke mobil.


"Maaf agak lama"


"Nggak apa-apa" ucap Raffa, tanpa memandangi wanita disebelahnya itu.


"Kamu pasti mau membicarakan tentang perjodohan kita kan?"


"Iya. Aku harap itu bisa dibatalkan"


"Aku juga berharap begitu. Tapi sepertinya itu tidak mungkin terjadi" kata Laura.


Raffa menginjak rem secara mendadak, setelah mendengar ucapan Laura.


"Kenapa nggak mungkin?"


"Papa aku sudah sakit-sakitan. Dia minta aku untuk segera menikah. Jadi aku nggak mungkin buat dia sakit hati lagi dengan menolak perjodohan ini" ucap Laura.


"Tapi kita nggak saling mencintai. Apa kamu mau menikah tanpa ada rasa cinta?"


"Aku tau. Aku juga nggak mau. Tapi kalau kamu di posisi aku, kira-kira apalagi yang harus aku perbuat? Aku belum bisa membahagiakan orang tua aku. Satu-satunya yang membuat mereka senang, hanyalah melihat aku menikah"

__ADS_1


"Tapi aku menyukai Kiara, saudara Kayla"


"Aku tau itu. Aku juga sudah memendam perasaan ke teman aku sejak SMA. Tapi dia menyukai orang lain. Aku sudah pernah tanya apakah perasaannya sudah berubah, tapi dia menjawab belum" kata Laura, sambil tersenyum miris.


"Apa orang yang kamu sukai adalah orang yang menyukai Kayla?"


"Darimana kamu tahu aku menyukai Faris?"


"Ohh jadi namanya Faris. Kamu kan pernah bilang, kalau kamu menyukai orang yang menyukai sahabat kamu sendiri" ucap Raffa.


"Iya aku menyukainya" lirih Laura.


Hening


Tidak ada lagi percakapan diantara mereka saat ini. Keduanya terlihat sedang berpikir, apa yang harus dilakukan selanjutnya dengan hubungan mereka.


"Begini saja, aku akan menemani kamu menemui Faris dan aku akan membantu kamu untuk berbicara tentang perasan kamu yang sebenarnya. Kalau dia juga menyukai kamu, maka kita bisa batalkan pernikahan kita. Bagaimana?" saran Raffa.


"Kalau ditolak gimana?" tanya Laura.


"Maka pernikahan kita akan tetap dilanjutkan" jawab Raffa.


"Baiklah aku setuju"


Mereka berdua segera mengunjungi rumah Faris. Sesampainya di depan rumah, terlihat rumah itu sudah kosong seperti tak berpenghuni.


"Kamu yakin disini rumahnya?" tanya Raffa.


"Ternyata kamu stalker ya"


"Apaan sih, orang cuma nggak sengaja lihat kok" kata Laura.


Laura turun dari mobil dan tampak celingak celinguk dari depan pagar.


"Jangan kayak gitu dong. Nanti disangkanya kita mau nyuri lagi" ucap Raffa.


"Ih cerewet banget sih. Udah diam aja Om eh Kak" kata Laura, cepat-cepat memperbaiki perkataannya.


Tiba-tiba, ada salah seorang warga yang menghampiri mereka.


"Mohon maaf, kalian lagi cari tuan rumahnya ya?"


"Eh iya Pak. Dimana ya kira-kira?" tanya Laura..


"Setahu saya mereka sudah pindah ke luar negeri beberapa hari yang lalu. Katanya anak laki-lakinya udah mau nikah"


"Anak laki-laki? Apa yang mau nikah namanya Faris?"


"Sepertinya begitu"

__ADS_1


Deg, detak jantung Laura seperti hilang sesaat. Dirinya hanya bisa terdiam, tidak bisa berkata apa-apa.


Belum sempat dirinya mengungkapkan perasaannya, pria yang disukainya itu malah sudah mau menikah.


Raffa yang melihat itu menjadi tidak tega dan langsung menarik Laura kedalam pelukannya.


"Jangan menangis. Mungkin ini berat untuk kamu, begitu juga denganku. Tentang perjanjian kita tadi, aku akan melanjutkan pernikahan kita"


Laura terkejut, kemudian melepaskan pelukan Raffa dari tubuhnya.


"Kiara bagaimana?"


"Aku sudah putus dengan dia, melalui perantara Mamanya. Dia tidak ingin bertemu denganku" lirih Raffa.


Laura hanya diam. Tidak ada yang bisa dilakukannya saat ini. Hatinya masih terlalu sakit, saat mengetahui orang yang dicintainya akan menikah.


Setelah menerima perjodohan itu, beberapa hari kemudian undangan pernikahan mereka sudah tercetak.


Kayla dan Aldo sudah mendengar beritanya. Di satu sisi Kayla senang sahabatnya Laura akan segera menikah, tetapi di sisi lain dia merasa sedih karena adiknya Kiara tidak jadi menikah. Namun, apa boleh buat, semua adalah hak dan pilihan mereka masing-masing. Kayla hanya bisa menyemangati adiknya, agar tidak larut dalam kesedihan.


Raffa memutuskan untuk mengantarkan undangan ke rumah Kiara secara langsung. Ia juga sudah rindu melihat wajah Kiara yang sudah beberapa hari tidak pernah ditemuinya. Ia juga ingin mengucapkan salam perpisahan yang terakhir untuk Kiara.


Saat tiba di rumah Kiara, Raffa mengetuk pintu rumahnya dengan sedikit keraguan.


Tidak lama kemudian, pintu terbuka dan muncullah orang yang selama ini dirindukannya, yaitu Kiara.


"Eh Kak Raffa. Ada apa?"


Wajah Kiara tersenyum menyambut kedatangan Raffa. Tetapi ia tahu, perempuan di depannya ini sedang menahan tangis.


"Aku mau kasih ini"


Raffa menyodorkan undangan pernikahannya dengan Laura kepada Kiara.


"Ohh oke. Makasih ya. Aku kira aku nggak diundang" ucap Kiara, tertawa kecil.


Entah kenapa tertawanya tidak terlihat lucu bagi Raffa. Seakan-akan Kiara saat ini memang sedang menyembunyikan kesedihannya.


"Kamu mau datang?"


"Pasti. Kan aku diundang. Ngga mungkin nggak datang"


"Kiara apa aku bisa.."


"Boleh berhenti bicara dan pergi aja?" potong Kiara.


"Kenapa begitu?"


"Aku tidak mau kamu bicara lagi. Nanti aku jadi nggak bisa lupain kamu. Sekali lagi selamat ya"

__ADS_1


Kiara langsung menutup pintu rumah dengan cukup kencang. Dari balik pintu, tubuhnya merosot ke lantai. Bibirnya mulai bergetar dan akhirnya tangisnya pun pecah.


Raffa yang masih berada di luar rumah dapat mendengar suara tangisan Kiara. Orang yang berhasil membuatnya membuka hati, malah tidak bisa berjodoh dengannya saat ini. Sungguh takdir yang aneh, tapi itulah yang terjadi. Segala sesuatu yang kita harapkan, belum tentu bisa kita miliki.


__ADS_2