
Kiara yang sedang berbicara dengan Raffa di luar rumah, sama sekali tidak menatap mata mantan pacarnya itu.
Ia takut saat mata mereka bertemu, hatinya akan kembali luluh kepada Raffa.
"Tolong liat aku Kiara"
"Nggak. Cepat bilang apa maksud kedatangan kamu ke sini?"
"Aku sudah bercerai dengan Laura. Selama 4 bulan ini aku berusaha untuk mencintainya. Aku pikir akan lebih mudah untuk mencintainya saat dia sudah mulai mencintaiku lebih dulu. Tapi ternyata sangat susah, Kiara. Laura tidak ingin menunggu lebih lama lagi dan aku belum juga bisa mencintainya. Padahal aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menceraikannya, tapi ternyata hati aku tidak bisa berbohong. Aku benar-benar tidak bisa menyukainya sebagai pasangan"
"Kamu bayangkan bagaimana sakit hatinya Kak Laura melihat kamu yang langsung mengejar aku setelah perceraian kalian. Kamu benar-benar keterlaluan, Kak"
"Lalu aku harus bagaimana? Aku takut kamu diambil orang lain. Kamu adalah orang pertama yang bisa membuat aku jatuh cinta lagi, setelah sekian lama aku trauma untuk mencintai orang baru. Aku tidak mudah menyukai seseorang dan melupakan seseorang, Kiara. Perasaan aku selalu tersiksa selama ini. Aku benar-benar sangat mencintai kamu" lirih Raffa.
Kiara memberanikan diri menatap mata Raffa. Benar saja, hatinya langsung terasa lemah saat melihat pria di depannya. Ada rasa rindu yang sangat besar dirasakannya selama ini, tetapi ia tidak berani mengungkapkannya.
"Orang tuamu akan sangat membenciku, Kak. Semua orang juga akan menganggap aku lah yang merusak rumah tangga kalian"
"Aku tidak peduli perkataan orang-orang Kiara"
"Kamu tidak peduli tapi aku peduli. Apalagi aku punya anak, Kak. Mari kita berhenti bahas ini untuk sekarang. Kepalaku jadi pusing memikirkan masalah ini"
"Baiklah" kata Raffa, tertunduk lesu.
Kembali dengan keadaan di dalam rumah. Suasana di ruangan itu mulai memanas.
"Daddy? Apa maksudnya ini Kayla? Kamu diam-diam sudah menikah dengan orang lain?"
"Bu..."
"Maaf, tapi kamu siapa ya?" potong Dirga.
"Kamu yang siapa? Aku ini suami sah Kayla" bentak Aldo.
"Ohh suami Kayla yang nggak bertanggung jawab dan malah ninggalin istri dan anaknya ya?"
"Kamu cerita semuanya ke laki-laki ini? Sebenarnya dia siapa Kay?" tanya Aldo, mulai meninggikan suaranya.
"Mas jangan teriak, Aurel jadi nangis gara-gara kamu" balas Kayla, dengan membentak.
__ADS_1
"Aku tanya dia siapa Kayla? Tolong jawab aku"
"Dia Dirga, teman aku dari kecil"
"Dirga? Rumah kamu di seberang kan? Anak yang punya penyakit jantung itu" ujar Aldo.
"Wah Anda ternyata tau betul siapa saya ya. Wajah Anda juga tidak asing. Apa sebenarnya Anda adalah keluarga Kayla yang telah menjadi suaminya saat ini?" tanya Dirga, tersenyum sinis.
"Kalau memang iya kenapa? Jangan pernah menemui istri dan anakku lagi. Ingat satu hal lagi, jangan pernah menganggap diri kamu ayah dari anakku atau aku akan buat penyakit jantung kamu itu kembali kambuh" ancam Aldo.
"Suami kamu ternyata tidak semenakutkan yang aku pikiran ya Kayla. Untuk seorang pengecut seperti dia seharusnya dia bisa sadar diri dan bukan malah mengancam orang seperti ini. Tapi ya sudah lah, aku pamit dulu ya. Besok aku datang lagi untuk mengambil rotinya"
"Aku akan membawanya kembali pulang jadi berhenti kamu ke sini!"
"Aku sudah bekerjasama dengannya jadi sudah menjad hakku untuk mengambil apa yang aku perlukan"
"Berapa biaya untuk memutuskan kerjasama kalian? Aku akan bayar semuanya jadi berhenti menemui Kayla" ucap Aldo, mencoba menahan emosinya.
"Hahaha. Kamu pikir aku nggak punya uang hah? Ini bukan masalah ganti rugi. Tapi masalah istri kamu masih mau nggak balikan sama kamu?"
Ucapan Dirga benar-benar membuat Aldo semakin emosi dan hendak memukulnya. Beruntung saja saat itu Raffa langsung datang dan menahan bosnya.
"Tuan, sebaiknya jangan buat masalah lagi" kata Raffa, mengingatkan.
Raffa menatap ke arah Kiara seperti sedang mempertanyakan siapa itu Arkan. Namun, Kiara malah membuang muka dan tidak menggubris Raffa.
"Kamu benar-benar tidak mau pulang, Kay?" tanya Aldo sekali lagi.
"Aku sudah nyaman tinggal di sini, Mas"
"Kalau begitu kita tinggal di kota ini saja ya. Nanti aku akan beli rumah mewah dan aku akan mengajak Revan juga ke sini. Jadi kita berempat bisa tinggal bersama-sama di sini. Bagaimana? Kamu mau kan?"
"Aku tidak ingin tinggal di rumah mewah. Aku sudah merasa bahagia tinggal di rumah ini walaupun tidak begitu besar"
"Tapi rumah ini terlalu kecil Kayla. Aku akan membeli rumah yang mewah untuk kita"
"Kamu aja yang tinggal di sana, Mas. Aku mau di sini bersama Aurel. Di rumah ini aku bisa merasakan kenangan saat aku kecil dulu sedangkan rumah mewah belum tentu bisa menjamin kebahagiaan, Mas" ujar Kayla.
"Kenapa jadi berubah seperti ini Kay? Apa karena laki-laki tadi?"
__ADS_1
"Berhenti mengaitkan semuanya dengan Dirga. Kamu itu harusnya sadar, kamu yang salah di sini, Mas"
"Baiklah aku minta maaf. Kita akan tinggal di sini untuk seterusnya, tapi sebelum itu, kita jemput Revan dulu ya, dia sudah sangat rindu kamu dan juga Aurel"
"Iya aku juga rindu Revan"
"Kalau aku juga dirindu atau nggak?" tanya Aldo.
"Nggak" jawab Kayla, dengan cepat.
Aldo hanya bisa menghela napas. Ternyata membujuk istrinya ini tidaklah mudah.
"Malam ini aku boleh kan tidur di sini bersama kamu honey? Dan juga anak kita"
"Nggak bisa" tolak Kayla.
"Kenapa nggak bisa?"
"Aku dan Kiara tidur sekamar dengan anak-anak kami. Jadi kamu dan Raffa tidur di kamar lain, Mas"
"Apa? Tapi kan aku suami kamu. Masa harus tidur dengan dia sih" kesal Aldo.
"Terus kamu mau Kiara tidur dengan Raffa yang bukan muhrim begitu?"
"Raffa biar tidur di hotel aja, yang penting kita tidur bareng"
"Nggak boleh. Kamu tidur dengan Raffa, aku dan Kiara. Tidak ada bantahan" ucap Kayla.
"Baik aku akan ikut kemauan kamu, honey. Tapi bisakah aku menggendong Aurel? Aku sudah sangat rindu dengannya"
Kayla memberikan Aurel untuk digendong oleh Aldo. Bagaimana pun juga Aldo merupakan ayah kandung Aurel, sudah sepantasnya kalau ia mengizinkan putrinya itu untuk digendong ayahnya.
Baru saja Aldo menggendong Aurel, tiba-tiba Aurel langsung menangis saat melihat wajah Aldo.
"Kenapa dia menangis seperti ini? Cup cup sayang, ini Papa nak"
Aldo mencoba menghibur Aurel yang terus menangis. Namun, tetap tidak berhasil juga.
"Sini Aurel aku gendong aja. Baru kali ini dia nangis digendong orang lain, biasanya juga nggak. Pasti karena dia tau kalau Papanya itu nggak peduli, makanya dia menangis"
__ADS_1
Aldo hanya bisa terdiam saat melihat Kayla mengambil Aurel dari gendongannya.
"Sabar ya, Tuan. Inilah nasib kita sebagai pejuang cinta" ucap Raffa, sambil menepuk bahu Aldo.