
Kayla dan Aldo telah sampai di rumah sakit. Mereka akan bertemu dengan dokter kenalan Aldo untuk memeriksakan kandungan Kayla.
"Ibu Kayla, silahkan masuk" kata perawat, mempersilahkan untuk masuk.
"Ayo bee"
Kayla merangkul lengan Aldo dan bersama-sama masuk ke dalam ruangan praktek sang dokter.
"Selamat pagi Dokter" sapa Aldo.
"Selamat pagi Pak Aldo, silahkan masuk"
Aldo mempersilahkan Kayla untuk duduk lebih dulu, kemudian disusul olehnya.
"Bagaimana kabarnya Ibu Kayla? Terakhir kali saya melihat Anda waktu masih kecil, tidak terasa sekarang sudah besar saja"
"Iya Dokter, saya baik-baik saja. Terima kasih sudah bertanya" kata Kayla, sambil tersenyum.
"Pak Aldo sendiri bagaimana kabarnya? Pasti baik-baik saja kan? Sudah mau punya anak lagi nggak mungkin kalau nggak baik" ucap sang dokter, bercanda.
"Dokter bisa aja. Tapi itu memang benar sih" kata Aldo, sambil tertawa.
"Baik, sekarang akan saya cek kandungan Ibu Kayla. Silahkan berbaring, Bu"
"Baik, Dok"
Dokter mulai mengecek kandungan Kayla dan melihat kondisi janin di arah monitor.
"Bisa dilihat Pak Aldo, Bu Kayla, kondisi janinnya baik-baik saja dan ini saatnya berita yang ditunggu-tunggu"
"Maksudnya jenis kelaminnya, Dok? Apa bayinya perempuan?" tebak Aldo.
"Benar sekali. Jenis kelaminnya perempuan. Selamat Bu Kayla, Pak Aldo" kata Dokter.
"Anak kita jadinya sepasang, bee. Laki-laki dan perempuan. Aku senang banget" Kayla memeluk tubuh Aldo begitu erat. Ia memang sangat menginginkan anak perempuan, begitu pun dengan Aldo.
Saking senangnya, Aldo langsung mengangkat tubuh Kayla ala bridal style, kemudian menghujani istrinya itu dengan ciuman bertubi-tubi.
Dokter yang berada di depan mereka langsung merasa memalingkan wajah melihat adegan romantis keduanya.
"Bee ada Dokter, turunin aku"
Kayla memukul pelan bahu Aldo, agar mau menurunkannya dari gendongan.
"Ups maaf, aku senang banget soalnya. Maaf ya, Dok" ucap Aldo, cengengesan.
Aldo segera menurunkan Kayla dari gendongannya.
"Sudah biasa liat yang kayak gini. Santai saja Pak Aldo"
Kayla dan Aldo menjadi salah tingkah, mendengar perkataan sang dokter.
Setelah selesai memeriksakan kandungan, Aldo langsung mengantarkan Kayla terlebih dahulu ke kampus.
Selama di dalam mobil, kedua pasutri itu menjadi semakin lengket.
"Bee, kira-kira Revan senang nggak ya kalau adiknya perempuan?"
"Aku yakin dia pasti senang kok"
"Aku nggak sabar pengen kasih tau dia"
__ADS_1
"Kita akan kasih Revan sama-sama, saat kamu pulang dari kampus nanti, hon"
"Iya bee" ucap Kayla, tersenyum senang.
Mereka sangat bahagia sampai akhirnya wajah keduanya sudah semakin dekat satu sama lain. Aldo mulai memiringkan kepalanya bersiap-siap untuk mencium bibir Kayla, tetapi tiba-tiba hpnya berdering, menggagalkan ciuman mereka.
"Duh siapa lagi sih ini"
Ia merogoh hpnya dari saku celana dan ternyata yang menghubunginya adalah asistennya Raffa.
"Siapa bee?" tanya Kayla.
"Raffa" jawab Aldo.
"Ayo diangkat dulu. Siapa tau penting"
Aldo mulai menjawab panggilan telepon Raffa, kemudian terdengar suara dari seberang.
Mohon maaf Tuan sudah mengganggu. Apakah saya boleh minta izin untuk keluar sebentar?
Mau kemana memangnya? Kamu tau kan ini masih jam kerja, tidak ada yang boleh keluyuran kemana-mana.
Maaf Tuan, tapi saya hanya ingin mengantarkan Kiara sebentar saja ke Dokter kandungan, untuk memeriksakan kehamilannya. Apa tetap tidak boleh?. Tanya Raffa.
Aldo belum menjawab. Jika sudah menyangkut adik dari Kayla, tentu saja ia harus mengizinkannya.
Baiklah kamu boleh menemaninya. Tetapi habis itu langsung balik ke kantor, karena saya akan segera ke kantor sedikit lagi.
Baik Tuan. Terima kasih.
Kayla terus menatap ke arah Aldo, penasaran dengan apa yang dibicarakan suaminya.
"Katanya dia mau nganterin Kiara ke rumah sakit untuk ngecek kandungan"
"Oh iya ya, kandungan aku dan Kiara kan hampir sama. Nanti aku mau mampir ke rumah Kiara ya, bee" kata Kayla.
"Iya, honey. Nanti kita sama-sama ke sana"
.
.
.
Di tempat lain, Raffa baru saja mengantarkan Kiara untuk memeriksa kandungan. Jenis kelamin yang dikandung Kiara ternyata adalah laki-laki.
Kiara sangat bersyukur telah mengetahui jenis kelamin bayinya. Namun, seketika raut wajahnya berubah memikirkan usianya yang masih sangat muda yaitu baru berusia 16 tahun.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Raffa.
Raffa memang tidak malu-malu lagi untuk memanggil Kiara dengan sebutan sayang.
"Nggak kok. Aku cuma sedih aja harus hamil di usia begini. Aku juga terpaksa harus home schooling deh sekarang, karena perut aku udah semakin gede"
Kiara tertunduk lesu. Jika kebanyakan orang seusianya masih memikirkan cita-cita. Berbeda dengan hidupnya yang seakan sudah tidak ada artinya lagi untuk menggapai semua itu. Tentu saja dia juga merasa bersalah karena kebodohannya mempercayai mantannya dulu, sampai dia rela keperawanannya direnggut.
Melihat pacarnya yang bersedih, Raffa mengambil tangan Kiara dan mulai menggenggamnya agar bisa lebih tenang.
"Mungkin aku belum lama mengenal kamu Kiara. Tapi aku sudah yakin untuk menikahi kamu. Aku berencana untuk menikahi kamu sebelum anaknya lahir. Jadi, aku mau mengenalkan kamu ke orang tua aku sekarang" ujar Raffa, terdengar sangat tulus.
"Apa? Sekarang? Tapi kan kamu harus balik kerja lagi, Kak"
__ADS_1
"Soal Tuan Aldo itu gampang. Dia pasti bisa mengerti kalau ini semua menyangkut kamu. Jadi bagaimana? Kamu mau kan ketemu dengan orang tua aku?"
"Baiklah kalau begitu. Aku mau" kata Kiara.
Raffa tersenyum senang, kemudian mencium punggung tangan Kiara. Ia melajukan mobilnya menuju ke rumah, untuk mengenalkan Kiara kepada orang tuanya.
Mobil berhenti di sebuah rumah yang tidak terlalu besar dan memiliki sebuah halaman, dengan kolam ikan disebelah kirinya.
Kiara merasa gugup saat keluar dari mobil. Dirinya takut orang tua Raffa tidak akan menerimanya yang tengah mengandung saat ini. Akan tetapi, Raffa terus menerus menenangkannya dan berkata semua akan baik-baik saja, membuat hati Kiara mulai sedikit lebih tenang dari sebelumnya.
Tok tok tok
"Assalamualaikum Mama, Papa"
"Waalaikumsalam" sahut seseorang dari dalam rumah.
Ceklek
Pintu rumah terbuka dan keluar lah wanita paruh baya dari dalam rumah.
"Mama, apa kabar?"
"Raffa? Ya ampun kamu ini kenapa sudah jarang ke rumah? Mentang-mentang sudah tinggal di apartemen jadi jarang kunjungin orang tuanya sendiri"
"Maafin aku ya, Ma. Oh iya kenalin ini Kiara dan Kiara kenalin ini Mamaku namanya Mama Beka" ucap Raffa mulai saling mengenalkan keduanya.
"Halo Tante. Nama saya Kiara"
Kiara ingin berjabat tangan dengan Beka, namu Beka tidak menyambut uluran tangan Kiara dan malah fokus melihat ke arah perut Kiara yang besar.
"Siapa dia Raffa?"
"Ini pacarku, Ma. Aku berencana untuk menikahi dia secepatnya" ucap Raffa, to the point.
"Dan dia sedang hamil? Kamu hamilin anak orang?"
"Bukan Ma. Aku nggak mungkin kayak gitu"
"Terus kenapa dia perutnya buncit? Kalau bukan karena kamu hamilin dia, berarti kemungkinan lainnya kamu mau tanggung jawab ke orang yang sudah hamil diluar nikah. Jadi yang mana posisi kamu saat ini?" tanya Beka.
"Yang kedua, Ma" jawab Raffa.
"Tapi aku benar-benar menyukainya kok. Aku ingin menikahi dia. Mama kan bilang aku harus segera menikah. Umur aku juga sudah nggak muda lagi. Jadi ayo kita bicarakan di dalam dulu ya, jangan di luar kayak gini" lanjutnya lagi.
"Tidak boleh. Kamu tidak bisa membawa perempuan nggak benar masuk ke dalam rumah ini, apalagi ingin menikahinya. Kamu bisa dapat yang lebih baik dan juga yang masih perawan Raffa. Perempuan nggak jelas seperti dia nggak cocok untuk kamu, apalagi wajahnya kelihatan masih anak-anak. Pasti nggak didik orang tuanya, makanya dia bisa hamil"
Deg
Kata-kata yang dilontarkan Beka seakan menusuk-nusuk Dada Kiara begitu dalam. Sakit, itulah yang dirasakannya. Ia masih menerima kalau hanya dirinya yang disalahkan. Namun, saat mendengar orang tuanya juga ikut terseret, Kiara tidak tahan lagi.
Ia langsung pergi dari rumah itu tanpa pamit. Air mata yang sedari tadi ditahannya, seakan lolos dari pelupuk matanya.
"Tunggu Kiara"
Raffa ingin mengejar, namun ditahan oleh Beka.
"Jangan pergi kamu"
"Mama benar-benar keterlaluan. Setidaknya sambut dia dengan baik dong. Masalah Mama suka atau tidak, itu kan bisa dibicarakan nanti. Aku kecewa sama Mama"
Raffa tetap pergi mengejar Kiara dan tidak mendengarkan perkataan ibunya yang melarangnya untuk pergi.
__ADS_1