
Maaf hari ini telat update lagi ya 😔
...****************...
"Kamu kenapa teriak gitu sih Laura? Diliatin tuh sama orang-orang" ucap Faris, yang belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Kamu sendiri kenapa nggak bilang kalau bukan kamu yang nikah?"
"Loh karena bukan aku yang nikah makanya aku nggak kasih tau. Nggak mungkin dong aku nikah tanpa kasih tau kamu dan Kayla lebih dulu"
Laura terdiam. Apa yang dibilang Faris ada benarnya juga. Bodohnya lagi ia tidak mencari tahu lebih dulu tentang Faris yang benar-benar akan menikah atau tidak.
Alhasil, hatinya merasa sangat bimbang sekarang. Ingin rasanya ia membatalkan pernikahannya bersama Raffa, tapi sepertinya sangat tidak mungkin.
Raffa yang melihat hal itu hanya bisa menghela napasnya kasar. Nasi sudah menjadi bubur, percuma untuk menyesali semuanya sekarang karena mereka sudah terlanjur sah sebagai suami istri. Begitu pikir Raffa.
"Aku jadi nggak enak sama suami kamu gara-gara kamu teriak kayak gitu. Aku pergi ya. Selamat atas pernikahan kalian"
Faris berlalu pergi menuruni panggung kecil yang ditempati Raffa dan juga Laura.
Laura terus menatap kepergian Faris hingga punggungnya tidak terlihat lagi.
"Setidaknya jangan terlalu diperlihatkan kesedihan kamu. Aku seperti menjadi orang yang jahat disini" ucap Faris, tanpa menoleh ke arah Laura.
Laura mencoba menahan tangisnya dan berusaha tersenyum di depan semua orang. Padahal sebenarnya, hatinya sangatlah rapuh saat ini.
Kayla yang mendengar teriakan Laura sebelumnya, sudah merasakan ada hal yang tidak beres.
"Bee, bagaiamana dengan rumah tangga mereka nantinya ya? Aku takut rumah tangga mereka hancur, gara-gara masalah ini" ucap Kayla.
"Aku juga khawatir honey. Semoga saja hubungan mereka langgeng deh" kata Aldo.
"Iya semoga saja ya"
Kiara dimana ya? Kok aku nggak liat dia disini? Gumam Kayla.
"Ma, Kiara kemana?"
"Dia barusan kirim pesan, katanya dia lagi mau sendiri di luar" jawab Sinta.
"Ohh begitu. Baiklah, Ma" kata Kayla, sambil mengangguk.
Di luar gedung, Kiara tampak sedang duduk melamun. Ia mencoba memperbaiki moodnya dan berusaha untuk menghilangkan perasaannya kepada Raffa yang sudah sah menjadi suami Laura.
Tiba-tiba ada seorang pria berbadan tegap yang datang dan duduk disampingnya, membuatnya tersadar dari lamunannya.
"Boleh duduk disini nggak?"
"Boleh. Tapi kamu siapa?" tanya Kiara.
"Aku teman pengantin perempuan. Kebetelun terlalu panas di dalam, makanya aku kesini. Ngomong-ngomong kamu lagi hamil? Nggak baik loh ibu hamil duduk sendirian di luar"
Kiara yang baru pertama kali melihat orang yang terlalu banyak bicara, terlebih lagi ia tidak mengenal pria itu, akhirnya menjadi sedikit risih.
__ADS_1
"Maaf aku tidak mengenal kamu. Jadi sebaiknya jangan banyak pertanyaan" kata Kiara dengan dinginnya.
"Kalau begitu kenalan. Apa susahnya?" ucap sang pria dengan santainya.
Kiara yang merasa tambah tidak nyaman, akhirnya bangkit dari duduknya dan ingin beranjak pergi.
"Wajah kamu sekilas seperti temanku Kayla"
Kiara menghentikan langkahnya dan berbalik menatap ke arah pria yang masih duduk itu.
"Kamu temannya Kak Kayla?" tanya Kiara.
"Kamu mengenalnya?" pria misterius itu balik bertanya.
"Iya, aku saudaranya"
"Saudara Kayla? Aku kira dia anak tunggal"
"Sebenarnya aku adik beda ayah. Penjelasannya panjang pokoknya"
"Ohh begitu. Kenalin namaku Faris. Kamu siapa?"
Pria misterius itu ternyata adalah Faris. Ya, setelah mengucapkan selamat kepada Laura dan Raffa, dia memutuskan untuk berjalan-jalan ke luar untuk sekedar jalan-jalan. Namun, tidak sengaja matanya menangkap sosok Kiara yang terlihat sama dengan Kayla, sedang duduk di bangku panjang, disamping gedung pernikahan.
"Kiara"
"Nama yang cantik. Kebetulan banget ya kita mengenal orang yang sama. Kamu yakin hanya mau berdiri disitu saja? Nggak mau duduk lagi?" tawar Faris.
Kiara menerima tawaran Faris dan kembali duduk disebelahnya.
"Nggak kok. Aku bareng orang tua aku kesini. Lalu ada juga Kak Kayla dan suaminya datang"
"Terus suami kamu?" tanya Faris.
Mendengar kata suami, Kiara mendadak berubah menjadi sedih. Ia kembali teringat dengan sang mantan kekasih. Siapa lagi kalau bukan Raffa.
"Maaf kalau aku agak lancang. Kamu nggak perlu jawab kalau kamu nggak mau" ucap Faris, memahami kesalahannya dengan melihat perubahan wajah Kiara.
"Iya"
Hanya itu yang diucapkan Kiara. Saat ini ia benar-benar tidak ingin menceritakan lagi tentang kehamilannya kepada pria lain. Ia juga belum berniat untuk membuka hati kepada siapapun, karena dirinya masih trauma dengan hubungannya yang baru saja gagal.
Hp milik Kiara bergetar, ia memeriksa hpnya dan ada satu pesan masuk dari ibunya.
Setelah mengecek pesan, ia menoleh ke arah Faris dan pamit untuk pergi.
"Aku permisi dulu ya. Keluargaku sudah mencariku" kata Kiara
"Baiklah. Senang bertemu denganmu Kiara" ucap Faris, sambil tersenyum.
Kenapa aku melihat Kayla pada diri Kiara? Mereka memang sangat cocok menjadi saudara. Kalau saja Kiara belum menikah, mungkin aku akan mendekatinya. Sayang sekali, sepertinya dia juga sudah menikah karena sedang hamil saat ini. Batin Faris.
Pertemuan singkat di malam itu, membuat Faris cukup terbayang-bayang.
__ADS_1
.
.
.
Kayla yang baru saja pulang dari acara pernikahan Raffa dan juga Laura, terlihat kelelahan sesampainya di rumah.
"Revan, langsung tidur ya. Jangan lupa cuci tangan dan kaki sebelum tidur" ucap Aldo kepada anak kesayangannya itu.
"Siap, Pa"
Kayla yang masih kelelahan, duduk di sofa ruang keluarga, dengan bersandar ke bantalan sofa sambil menutup mata.
"Kamu kenapa honey? Capek ya?" tanya Aldo.
"Iya bee, capek banget. Kaki aku juga sakit banget sekarang. Apalagi perut aku udah semakin besar kayak gini" jawab Kayla.
"Mau aku urut nggak? Aku nggak tega lihat kamu kelelahan"
"Iya mau" ucap Kayla dengan nada manja.
Aldo duduk disebelah Kayla, lalu mengangkat kedua kaki Kayla ke atas pahanya, kemudian mulai mengurutnya.
"Gimana? Enak nggak?"
"Enak bee. Sakitnya udah mulai berkurang. Makasih ya"
"Makasih doang?"
"Terus apalagi?" tanya Kayla, bingung.
"Bayar dengan ini dong" tunjuk Aldo ke arah bibirnya.
Seketika Kayla langsung mengerti apa yang diinginkan Aldo.
"Oke. Tapi cium aja ya"
"Ngga janji" kata Aldo dengan nada menggoda.
Ia segera mendekat ke arah Kayla dan mulai mencium bibirnya dengan penuh nafsu.
Kayla yang sudah merasakan akan ada adegan lebih panas yang akan berlanjut, berniat ingin menghentikan ciuman mereka.
"Lanjut ya honey. Aku benar-benar merindukan sentuhan kamu" bisik Aldo dengan nada berat, sedang menahan nafsunya yang tertahan.
Tidak ingin berdosa kepada sang suami, akhirnya Kayla mengiyakan dan setuju dengan permintaan Aldo.
Senang telah mendapat izin, Aldo langsung mengangkat tubuh Kayla dan membawanya ke dalam kamar.
"Jangan cepat capek ya. Sepertinya akan sedikit lebih lama mainnya" ucap Aldo, menggoda istrinya.
"Bee, jahat banget" rengek Kayla.
__ADS_1
Aldo hanya tertawa dan tetap melanjutkan langkahnya menuju kamar.