
Kayla pergi bersama Faris ke sebuah restoran. Disela makan, Faris selalu bercerita mengenai kegiatan sehari-harinya dan juga tentang masa SMA dulu. Sedangkan Kayla, tampak tidak menyimak apa yang dikatakan Faris dan malah melamunkan hal lain.
"Kay, kamu kenapa? Kok kayak nggak fokus gitu?" tanya Faris, membuyarkan lamunan Kayla.
"Eh..Sorry Ris. Kamu ngomong apa tadi?".
"Kamu ada masalah ya? Mau cerita?".
"Nggak kok. Aku nggak apa-apa. Cuma agak kurang enak badan aja" ucap Kayla.
"Kamu sakit? Habis makan kita singgah beli obat ya".
"Nggak usah. Aku mau pulang aja habis ini, mau istirahat. Maaf ya, aku malah jadi buat suasana nggak enak kayak gini" ujar Kayla merasa bersalah.
"Nggak apa-apa, mungkin kamu memang butuh istirahat. Lanjutin aja makan kamu, habis itu aku anterin pulang".
"Makasih".
Entah kenapa perasaan Kayla tidak tenang. Pikirannya tertuju kepada omnya Aldo. Ia tahu itu adalah perbuatan yang salah, tapi pikirannya tentang Aldo tidak bisa hilang.
Perjalanannya bersama Faris berakhir sia-sia karena pikirannya melayang kemana-mana.
Setelah makan, Faris langsung mengantar Kayla untuk pulang ke rumah.
"Kamu beneran nggak apa-apa?".
"Beneran kok. Makasih ya udah nganterin aku pulang".
"Iya sama-sama. Nanti kalau ada waktu, kita jalan bareng lagi ya".
"Iya".
Kayla membuka pintu rumahnya. Alangkah terkejutnya ia, setelah melihat om dan tantenya sedang berciuman panas di ruang TV.
Ia dengan cepat mengalihkan pandangannya dan mencoba berjalan pelan-pelan agar tidak ketahuan. Namun percuma saja, Aldo sudah melihatnya dan segera melepaskan ciumannya kepada istrinya.
"Eh Kayla udah pulang. Kok cepat banget" ucap Tasya.
"Iya Tante, tadi cuma makan doang" kata Kayla.
"Ohh cuma makan doang. Kirain ada yang lebih gitu".
"Apa sih kamu Tasya. Kayla bukan orang yang seperti itu" bela Aldo.
"Iya tahu kok, aku kan cuma kira-kira aja. Kenapa kamu sensi banget sih, Mas" kesal Tasya.
"Maaf, saya permisi ke kamar dulu, Om, Tante" pamit Kayla.
Kayla berjalan cepat menuju kamarnya, matanya tiba-tiba terasa panas dan bulir-bulir air keluar dari sudut matanya.
"Kenapa aku jadi seperti ini? Kenapa aku sedih saat melihat mereka bahagia? Sadarlah Kayla, kamu nggak boleh menyukai om kamu sendiri" ucapnya, menyadarkan dirinya sendiri.
Ia memutuskan untuk mengganti pakaian dan menyikat gigi sebelum tidur.
Saat tengah malam, Kayla merasa sangat haus. Ia bangun dari tidurnya dan menuju ke dapur.
Saat sedang minum, dengan keadaan masih setengah mengantuk, samar-samar ia melihat Aldo telah berada dihadapannya.
Segera ia mengerjap-ngerjapkan matanya, untuk melihat apakah ia berhalusinasi atau tidak.
Benar saja, Aldo memang sudah berada dihadapannya saat ini, membuatnya sangat gugup. Matanya yang tadi masih setengah mengantuk, sekarang menjadi sepenuhnya sadar.
"Eh..Om. Mau minum juga?" tanya Kayla.
__ADS_1
"Iya" jawab Aldo.
Kayla hendak mengambil gelas baru untuk Aldo, namun Aldo memilih mengambil gelas yang berada ditangan Kayla.
"Om, itu gelas aku".
"Nggak apa-apa".
Aldo meminum air menggunakan gelas bekas Kayla. Entah kenapa ia memilih menggunakan gelas dari Kayla, dibandingkan harus menggunakan gelas baru.
"Kamu pacaran sama Faris?".
"Nggak".
"Aku kira dia sudah suka sama kamu sejak SMA".
"Iya, tapi aku belum bisa menerimanya".
"Kenapa begitu?".
Aldo menatap lekat ke arah Kayla, seakan sedang mengharapkan sesuatu.
"Karena Kayla ingin fokus kuliah, Om" ucapnya.
"Ohh begitu. Syukurlah" kata Aldo.
"Kayla pamit ke kamar dulu, Om. Permisi".
"Tunggu Kayla" tahan Aldo.
"Kenapa, Om?".
"Bisakah kamu melupakan kejadian waktu itu? Dan tolong, jangan canggung lagi" pintah Aldo.
"Iya".
Lagi-lagi ia tidak dapat menahan air matanya. Dadanya terasa sesak. Aldo menyuruhnya melupakan kejadian waktu itu, yang sama sekali tidak mungkin bisa dilupakannya.
1 minggu kemudian
Kayla sedang makan siang di sebuah restoran bersama sahabatnya Laura.
Tiba-tiba ia merasa mual dan juga kepalanya pusing saat sedang makan.
"Kamu kenapa Kay? Kok akhir-akhir ini muka kamu pucat banget sih. Sering mual juga" ucap Laura.
"Nggak tahu, La. Tiba-tiba ngerasa mual dan pusing aja".
"Kita ke Dokter aja ya?".
"Nggak usah, nggak apa-apa. Aku minum obat pasti sembuh kok" tolak Kayla.
Hoeeek
Kayla kembali merasa mual, saat ia berdiri hendak ke kamar mandi, tiba-tiba kepalanya terasa sangat pusing, dan akhirnya ia pingsan.
Laura yang terkejut melihat Kayla pingsan, langsung meminta tolong ke orang-orang disekitarnya untuk membantu membawa Kayla ke rumah sakit terdekat.
Saat ini Laura sudah berada di rumah sakit. Ia tengah menunggu dokter memeriksa kondisi Kayla.
"Semoga Kayla nggak kenapa-kenapa" ucapnya penuh harap.
Beberapa saat kemudian, Dokter keluar dari ruangan.
__ADS_1
"Dok, gimana kabar sahabat saya? Dia nggak apa-apa kan?".
"Tidak apa-apa, Ibu Kayla hanya butuh istirahat. Tapi, disini tidak ada suaminya ya?" tanya Dokter.
"Suami? Dia belum nikah, Dok" kata Laura, merasa heran.
"Mohon maaf. Tapi, setelah saya periksa, Ibu Kayla sedang hamil dan usia kandungannya sudah 2 minggu"
"Apa? Hamil, Dok? Nggak mungkin. Siapa yang hamilin?".
"Maaf, saya tidak tahu siapa yang hamili".
"Eh, iya juga ya. Maaf, Dokter".
"Saya sudah bisa lihat kondisi Kayla sekarang?" lanjut Laura.
"Sudah, silahkan".
"Terima kasih Dokter".
Laura langsung masuk kedalam ruangan dan menemukan Kayla yang menatap kosong ke arah langit-langit ruangan.
"Kay, aku udah dengar semuanya dari dokter. Kamu mau cerita nggak? Siapa ayah dari anak kamu?" tanya Laura, dengan lembut.
"Laura, aku harus gimana? Aku nggak mungkin kasih tahu ayah anak ini kalau aku hamil. Aku..".
Kayla menghentikan perkataannya, ia takut untuk melanjutkannya lagi.
"Aku kenapa? Nggak apa-apa ngomong aja, aku akan coba bantu kamu, sebisa aku".
"Ak hamil anak Om Aldo" lirih Kayla.
"Apa? Om Aldo, Om kamu?".
Laura tidak mempercayai apa yang didengarnya, ia sangat terkejut mengetahui anak yang dikandung sahabatnya ternyata adalah anak dari Aldo.
"Kenapa bisa Kay? Dan sejak kapan?".
Kayla mulai menceritakan awal mula kejadiannya dan bagaimana akhirnya ia bisa hamil seperti saat ini.
"Kamu baru ngelakuin seminggu yang lalu? Terus kenapa bisa usia kandungannya 2 minggu?".
"Kata Dokter, dihitung dari terakhir kali aku datang bulan. Jadi usianya saat ini 2 minggu" ujar Kayla.
"Ohh gitu. Kalau gitu kita harus bilang ke Om Aldo".
"Jangan. Nanti kalau Tante Tasya tahu gimana?".
"Jangan sampai Tante Tasya tahu dulu. Setidaknya sekarang, Om Aldo harus tahu, biar dia tanggung jawab".
"Apa aku gugurin aja ya?".
"Gila kamu. Jangan Kay. Banyak orang yang ingin punya anak tapi nggak bisa, terus kamu disini mau gugurin? Pokoknya nggak boleh".
"Terus gimana sekarang?".
"Aku telfon Om Aldo, biar nanti dia kesini sekarang juga".
Laura langsung menelepon Aldo dan mulai menceritakan semuanya.
Aldo yang sedang berada di ruangan rapat, langsung menjatuhkan hp nya. Keadaan yang tidak diinginkannya pun terjadi.
Apa yang harus aku lakukan sekarang? Batinnya.
__ADS_1