
Sebelum masuk ke ceritanya author ingin berterima kasih kepada para readers yang bahkan membacanya sudah dengan emosi karena terbawa suasana 😂
Semoga kedepannya author akan semakin giat lagi dalam menulis ✨
Happy Reading ❤
...****************...
Mendengar suara tangisan Kayla dan juga Aurel si lantai atas, membuat Sinta dan Rian berlari ke atas dan masuk ke dalam kamar disusul oleh Kiara yang berada di belakang.
Dilihatnya Kayla yang sudah menangis sesegukan di lantai dan Aurel yang menangis di atas tempat tidur.
"Ya Allah nak. Kamu kenapa?" kaget Sinta.
Ia mulai menghampiri anaknya itu dan memeluknya. Sedangkan Kiara mencoba menenangkan Aurel.
"Aku minta cerai ke Mas Aldo, Ma" ucap Kayla, masih menangis sesegukan.
"Kenapa kamu minta cerai? Karena dia nggak mau ketemu kamu dan Aurel?"
"Bukan, Ma. Tapi dia telfon aku dan malah menyalahkan aku. Dia juga bilang kalau aku ngga perlu nyuruh-nyuruh Mama untuk mengirim sms ke dia. Padah aku nggak pernah nyuruh kayak gitu, Ma"
"Keterlaluan suami kamu. Padahal tadi Mama hanya inisiatif sendiri untuk sms dia biar kalian bisa secepatnya bicarakan baik-baik masalah kalian. Tapi yang ada hubungan kalian malah semakin buruk kayak gini. Mama minta maaf kalau sudah memperburuk keadaan kalian"
"Nggak Ma. Mama nggak salah. Mas Aldo aja yang sudah berubah sekarang. Aku benar-benar muak dengan semua sifat dia yang kekanak-kanakan itu. Mulai dari aku melahirkan, Mas Aldo sudah menyalahkan aku terus. Aku nggak bisa tinggal diam lagi sekarang" ujar Kayla.
"Terus selanjutnya kamu mau gimana nak? Kamu yakin mau cerai?" tanya Rian yang sedari tadi diam.
"Iya, Pa" jawab Kayla, sangat yakin.
"Mama harap kamu jangan sampai cerai sayang. Ingat, ini cobaan yang harus kamu hadapi di dalam rumah tangga kamu. Jangan sampai kamu goyah dan membuat kamu harus memilih jalan cerai. Ingat Aurel sayang, dia masih membutuhkan sosok figur seorang ayah" ucap Sinta, menasehati.
"Aku nggak peduli lagi, Ma. Mas Aldo benar-benar keterlaluan. Dia bahkan tadi tidak menanyakan kabarku dengan Aurel apakah baik-baik saja atau tidak. Kalau memang dia tidak mau menceraikan aku, aku akan pergi dari kehidupan dia meskipun belum bercerai"
"Kamu mau pergi kemana? Kamu disini saja nak" kata Sinta.
"Nggak, Ma. Aku mau pergi jauh dari dia. Meskipun hanya di luar kota, setidaknya itu lebih baik daripada harus satu kota dengan dia dan kami tidak pernah di tengok. Biarkan Mas Aldo sadar sendiri, kalau dia sudah menyia-nyiakan aku dan juga Aurel" ucap Kayla.
__ADS_1
"Apa setelah melahirkan aku bisa ikut dengan Kakak? Aku juga mau berusaha hidup merantau dan menghasilkan uang sendiri meskipun tanpa suami"
Ternyata Kiara juga tertarik dengan keinginan Kayla yang ingin pergi jauh.
"Apa? Kenapa dua-duanya anak Mama mau pergi ninggalin Mama? Nggak, pokoknya Mama nggak setuju" tolak Sinta.
"Iya Papa juga. Nanti kalau kalian kenapa-kenapa gimana? Dan juga, di rumah ini akan sunyi nantinya" tambah Rian.
"Papa, Mama, biarkan aku dan Kak Kayla pergi merantau bersama dengan anak-anak kami. Kami janji kok akan memberikan kabar ke kalian" ujar Kiara.
"Iya itu benar dan aku juga mohon untuk Mama dan juga Papa agar tidak memberitahukan semua rencana ini kepada Mas Aldo"
Sinta dan Rian saling pandang, berat rasanya untuk meninggalkan kedua anak perempuan mereka pergi ke kota lain. Namun, semua keputusan tetap ada pada Kayla dan juga Kiara.
"Baiklah kalau begitu. Mama nggak bisa paksain kalian untuk tetap di sini karena semua keputusan ada pada kalian. Kalian akan pergi nanti pada saat Kiara sudah melahirkan kan?"
"Iya, Ma" kata Kayla.
"Mama pasti akan sangat rindu kalian dan cucu-cucu Mama" ucap Sinta, dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Rian yang melihat kedua anak dan juga istrinya menangis, menjadi bingung.
"Kok jadi nangis berjamaah. Mending main bareng Aurel aja. Sini sayang sama Opa. Kamu jangan ikutan nangis ya kayak Oma, Mama, dan Tante kamu" ujar Rian, sambil menggendong Aurel.
.
.
.
Aldo yang baru saja mendengar kata cerai yang dilontarkan oleh Kayla di telepon tadi, merasa sangat kaget.
"Apa-apan itu, kenapa dia semudah itu berkata ingin cerai? Malah dimatikan lagi teleponnya. Arrrggghh" kesal Aldo, sambil mengacak-acak rambutnya.
Sebaiknya aku menemui Kayla untuk meminta penjelasan. Aku akan menyuruh suster untuk menjaga Revan sebentar saja. Gumam Aldo.
Saat ia ingin pergi menemui Kayla, tiba-tiba Aldo mendengar suara Revan mulai berbicara.
__ADS_1
"Pa..pa" panggilnya.
Sontak saja Aldo menghentikan langkahnya dan berbalik badan menghadap ke arah Revan.
"Revan, kamu sudah sadar sayang? Tunggu Papa panggil Dokter ya" ucap Aldo sangat senang.
Niatnya untuk menemui Kayla, akhirnya diurungkannya. Ia sangat senang melihat Revan yang sudah sadar dari komanya.
Setelah Dokter memeriksa kondisi Revan, Dokter menyatakan kalau Revan sudah mulai membaik dan tidak ada kerusakan pada organ tubuhnya sama sekali.
"Alhamdulillah untung kamu baik-baik saja nak" ucap Aldo, sambil menggenggam tangan Revan.
"Mami Kay dan Aurel dimana, Pa? Kok mereka nggak ada"
Aldo terdiam, ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia tidak mungkin menceritakan kondisi yang terjadi antara dirinya dan Kayla sekarang kepada Revan yang baru saja siuman.
"Ehhmm..Nanti Papa hubungi mereka ya untuk ke sini. Sekarang Revan mau makan apa? Biar Papa pesan online"
"Nggak mau. Revan maunya Mami Kay dan Aurel. Suruh mereka ke sini Papa" rengek Revan.
Tidak tega melihat Revan yang terus merengek, akhirnya Aldo mencoba menghubungi Kayla kembali. Tetapi sayang, nomor Kayla tidak aktif.
Kok nggak aktif sih. Batin Aldo.
Akhirnya, Aldo memutuskan untuk menyuruh Raffa agar menemui Kayla saat ini. Raffa yang mendapat tugas seperti itu, ingin sekali menolaknya. Apalgi saat dia mendengar bahwa Kayla tinggal di rumah Mamanya saat ini. Otomatis dia akan bertemu dengan Kiara.
"Maaf Tuan, apa saya bisa menjaga Revan saja? Lalu nanti Tuan saja yang langsung bicara dengan Nyonya Kiara. Soalnya saya tidak enak harus jadi perantara, Tuan"
"Jangan alasan kamu. Bilang aja kalau kamu nggak mau ketemu Kiara. Sudah pergi sana, ini perintah!" tegas Aldo.
Terpaksa, Raffa pergi ke rumah Kiara dengan perasan tidak tenang. Entah kenapa hatinya seperti tidak siap untuk bertemu mantan pacarnya itu.
Saat sampai di depan pintu rumah Kiara, Raffa terus berdoa agar yang membukakan pintu untuknya bukanlah Kiara.
Sayang, doanya tidak terkabulkan. Kiara lah yang membukakan pintu untuknya. Seketika mereka saling menatap tanpa berbicara sedikit pun selama beberapa detik. Mereka tidak sadar, dari kejauhan Laura melihat semuanya.
"Kenapa kamu datang ke rumah itu, Mas? Ternyata benar, kamu belum bisa melupakan Kiara" lirih Laura.
__ADS_1