Menikahi Om Sendiri

Menikahi Om Sendiri
Pengejaran


__ADS_3

Flashback on


Seluruh media memberitakan tentang kelahiran anak Aldo dan Kayla. Ya, karena Aldo dikenal sebagai pengusaha sukses dan juga belum lama ini berita pernikahannya dengan Kayla sangat menggemparkan, membuat popularitasnya semakin meningkat.


Tasya yang melihat keluarga Aldo selalu diberitakan di manapun merasa sangat geram.


"Kenapa mereka harus bahagia terus sih? Aku ingin melihat mereka hancur" teriak Tasya.


Tiba-tiba disaat ia merasa kesal, bel rumahnya berbunyi.


"Siapa lagi sih?" kesal Tasya, sambil membuka pintu.


Ternyata yang datang adalah Andre, ayahnya sendiri.


"Ngapain kesini?"


"Papa punya rencana bagus"


"Alah paling gagal lagi. Udah pergi aja sana" usir Tasya.


"Kamu mau dapat duit nggak?"


Pertanyaan Andre seketika membuatnya tertarik.


"Duit? Mau lah. Gimana caranya?" tanya Tasya.


"Kita culik Revan" jawab Andre.


"Apa? Papa sudah gila ya? Revan anak aku. Nggak mungkin aku culik anakku sendiri"


"Dengar Tasya, kita cuma pura-pura aja. Intinya, kalau Aldo tidak mau memberikan kita berdua duit, kita ancam Revan akan kita jual"


"Mas Aldo mana percaya yang kayak gitu. Dia juga tau Revan bukan anak kandungnya, jadi pasti dia biasa aja kalau kita ambil Revan"


"Kamu ini ngebantah mulu. Ikuti aja. Ini pasti berhasil. Mau dapat duit nggak?"


"Iya aku ikut jadi gimana?"


Andre mulai memberitahukan rencananya dan memutuskan untuk langsung ke rumah sakit, tempat Kayla melahirkan.


Saat itu, kebetulan sekali Revan sedang bermain sendiri di luar.


"Ini kesempatan kita. Ayo" ajak Andre.

__ADS_1


Tasya mulai memanggil Revan dari jarak yang agak sedikit jauh. Revan yang melihat ada Mama dan Opanya, tidak mau beranjak dari duduknya. Karena tidak mendapat respon dari Revan, dengan cepat Andre langsung menghampiri, kemudian menggendong Revan dan membawanya pergi.


Flashback off


Aldo yang tidak dapat mengejar mobil yang dikendarai Andre, mendadak mulai frustasi. Ia segera menghubungi pihak kepolisiam untuk mencari tahu keberadaan mereka. Untung saja tadi Aldo sempat melihat plat nomor mobilnya.


Setelah menelepon, ia ingin kembali ke rumah sakit. Namun, dilihatnya orang-orang membawa Tasya masuk ke dalam rumah sakit juga, karena sudah penuh dengan darah.


Rasa kesal di hati Aldo tetap tidak membaik, meskipun ia melihat mantan istrinya yang sudah tidak berdaya.


"Kamu memang pantas mendapatkannya" ucap Aldo.


Saat kembali ke dalam ruangan inap Kayla, Aldo melihat Sinta dan Kiara sudah berkumpul di sana.


Masih dengan perasaan emosi, Aldo langsung menuju ke arah Kayla yang sedang menangis.


"Kenapa kamu tidak bisa menjaga Revan sebentar saja?" teriak Aldo tiba-tiba.


Kayla yang masih menangis, mendadak kaget dan bingung dengan sikap Aldo kepadanya.


"Bee, aku sudah jaga dia. Aku juga mengawasi dia main, tapi saat aku menaruh Aurel di tempat tidurnya, Revan langsung menghilang. Aku baru melahirkan bee, jadi tidak bisa mengejar mereka" ujar Kayla.


"Seharusnya kamu tidak usah memberikan izin Revan berada di luar. Kamu tau kan Andre dan Tasya yang bejat itu, mereka tidak kenal takut demi mendapatkan uang"


"Aakkkkhhh" teriak Aldo sambil menendang pintu dan berjalan keluar ruangan.


Kayla yang baru saja melihat Aldo semarah itu padanya, merasa sangat kecewa. Padahal dia berusaha menjaga Revan sebaik mungkin, tetapi Aldo tidak mengerti dengan keadaannya yang harus menjaga 2 anak disaat yang bersamaan.


"Sabar sayang. Aldo pasti hanya lagi emosi makanya dia marah kayak gitu" ucap Sinta, berusaha menenangkan.


"Iya Kak. Yang sabar ya" kata Kiara, yang merasa kasihan melihat Kayla terus menangis.


Saat ini Aldo sedang menuju ke tempat Tasya dirawat. Ia melihat Tasya yang sudah sadar, namun seperti orang yang sedang sekarat.


"Dimana Revan?" tanya Aldo, tidak memperdulikan Tasya yang sudah sekarat.


"Mas, ka..mu da..tang" ucap Tasya terbata-bata. Kondisinya semakin buruk saat ini.


"Nggak usah banyak bicara kamu. Dimana Revan?" teriak Aldo.


"Mas, ak..ku nggak tau"


"Kamu cepat bicara atau selang yang membantu pernapasan kamu aku cabut sekarang juga. Ingat ya Tasya, meskipun kamu mati pun aku tidak peduli. Kamu dan ayahmu memang pantas mati!"

__ADS_1


"Mas, ma..af. Ak..ku sa..lah. Ini se..mua ide Pa..pa. Ak..ku min..ta ma..af, Mas"


Nafas Tasya tersengal-sengal saat berbicara, sampai akhirnya di ucapan terakhirnya, nafasnya langsung tercekat seketika.


"Re..van di..bawa ke..."


Belum selesai berbicara, Tasya sudah menghembuskan napasnya untuk yang terakhir kali. Aldo yang melihat itu langsung berteriak histeris.


"Kamu belum boleh mati sekarang Tasya, jawab dulu dimana kalian menyembunyikan Revan. Bangun Tasya"


Dokter dan perawat langsung membawa Aldo keluar dari ruangan dan segera memeriksa keadaan Tasya.


"Revan kamu dimana nak? Mama dan kakek kamu memang bejat! Papa tidak akan memaafkan mereka sampai kapanpun" racau Aldo.


Dokter dan perawat yang tadi memeriksa keadaan Tasya pun keluar dari ruangan.


"Maaf Pak. Apakah Bapak keluarga dari pasien yang baru saja meninggal di dalam?" tanya Dokter.


"Bukan. Dia cuma mantan istri saya. Saya tidak peduli dengannya" jawab Aldo, kemudian berlalu pergi.


Ia memutuskan untuk mencari keberadaan Revan sendirian, karena merasa belum ada informasi dari kepolisian.


"Dimana kamu nak? Papa takut kamu kenapa-kenapa"


Aldo sudah mencari-cari hampir ke seluruh tempat yang ia ketahui tentang Andre maupun Tasya. Namun, hasilnya nihil.


Saat ia merasa mulai putus asa, tiba-tiba hp nya berdering. Dilihatnya nomor tidak diketahui, menghubunginya.


*Halo. Siapa ini?


Aldo menantuku. Bagaimana kabarmu? Saya tidak perlu berbasa basi lagi kan? Revan ada disini bersama saya. Kamu tau kan apa yang harus kamu perbuat untuk mendapatkan anakmu kembali?


Andre *******! Kembalikan Revan. Dia cucumu sendiri, kenapa kamu tega berbuat seperti ini demi uang hah*?. Teriak Aldo.


*Uang memang di atas segalanya. Jadi serahkan saja uangnya, lalu kamu boleh mengambil Revan.


Kamu pikir aku bodoh? Pasti kamu tidak akan semudah itu memberikan Revan padaku. Asal kamu tau, Tasya sudah meninggal gara-gara ide bejatmu!


Terserah. Akan saya kirimkan alamatnya dan serahkan uangnya ke alamat itu. Ingat, kamu tidak boleh menghubungi polisi atau saya tidak segan-segan akan membunuh Revan*.


Sambungan telepon langsung dimatikan oleh Andre, membuat Aldo semakin panik. Pasalnya, pria itu tidak punya hati nurani sama sekali. Bahkan anaknya yang meninggal pun tidak diperdulikannya sama sekali.


Setelah mendapat alamat yang dikirimkan Andre, tanpa pikir panjang Aldo segera menuju ke alamat itu.

__ADS_1


Tunggu Papa Revan. Papa akan menyelamatkanmu. Apapun yang terjadi.


__ADS_2