Menikahi Om Sendiri

Menikahi Om Sendiri
Aurelia Arsyila Febrian


__ADS_3

4 bulan kemudian


Hari ini merupakan hari kelahiran bayi mungil yang sudah dinanti sejak lama oleh Aldo maupun Kayla. Ya, hari ini Kayla akan segera melahirkan. Ia sudah berada di rumah sakit bersalin sejak tadi malam dan pagi ini sisa menunggu kedatangan Dokter yang akan membantunya dalam proses bersalin.


"Bee sakit banget" lirih Kayla sambil meremas tangan Aldo.


"Iya honey, yang kuat ya. Aku akan selalu ada disamping kamu. Dokternya sebentar lagi akan datang, tunggu ya" kata Aldo, mencoba menenangkan.


Di dalam ruangan itu, memang hanya ada Kayla dan juga Aldo. Aldo terus menyeka keringat yang bercucuran dari kening Kayla dan menggenggam erat tangan istrinya sambil sesekali diciumnya.


Di luar ruangan, sudah ada Sinta, Rian, Kiara dan juga Revan yang menunggu.


"Oma, adik bayinya masih lama ya keluarnya?" tanya Revan kepada Sinta.


"Sebentar lagi ya. Kan masih nunggu dokternya dulu"


"Memangnya Dokter yang ngeluarin adik bayi dari perut Mami Kay? Revan kira Papa yang keluarin. Soalnya Papa pernah bilang, Mami Kay bisa hamil karena Papa" ucap Revan dengan polosnya.


"Duh Mas. Gimana ngejelasinnya ini?"


Sinta meminta bantuan suaminya, agar bisa menjelaskannya pada Revan.


"Iya Revan. Papa kamu memang yang buat, tapi untuk keluarinnya adik bayinya, Papa kamu nggak bisa" ujar Rian.


"Kenapa begitu?"


"Karena Papa kamu bukan superman" ucap Rian secara asal.


Mendengar hal itu, Kiara hampir saja tertawa dan Sinta malah memukul lengan suaminya.


"Anak kecil dibohongin. Gimana sih"


"Loh, memangnya kamu mau kalau aku jelasin yang sebenarnya ke Revan? Nggak kan?"


"Ohh jadi Dokter itu superman ya? Luar biasa. Kalau begitu nanti pas udah besar, Revan mau jadi Superman. Biar bisa bantuin banyak orang" ucap Revan, tersenyum senang.


"Nah bagus itu. Opa setuju" kata Rian.


"Gimana? Berhasil kan?" bisik Rian ke telinga Sinta.


"Iya. Mas memang jago deh" puji Sinta.


Kiara yang melihat keharmonisan kelaurganya tersenyum singkat. Namun, senyumnya hilang, memikirkan kondisinya yang sebentar lagi akan melahirkan juga.


Jika kakaknya mempunyai suami yang bisa memberikan semangat saat melahirkan, berbeda dengannya yang harus berjuang sendiri saat melahirkan nanti.


Kiara memang belum berani membuka hatinya kembali. Dirinya masih takut akan gagal kembali, maka dari itu ia lebih memilih sendiri. Meskipun sebenarnya ia tahu, selama ini Faris terlihat seperti terus mendekatinya.


Bagaimana keadaan Kak Raffa ya? Apa dia bahagia dengan pernikahannya? Semoga saja dia selalu bahagia. Batin Kiara.


Dokter telah datang dan akan segera melakukan proses persalinan kepada Kayla. Proses lahiran pertama kali yang akan dihadapi Kayla saat ini yaitu melahirkan normal.


Setelah menunggu beberapa menit, suara tangisan bayi mulai terdengar dari dalam ruangan.

__ADS_1


Sinta yang sedang menunggu di luar ruangan, langsung mengucapkan rasa syukurnya, atas kelahiran cucu pertamanya.


Tidak lama kemudian, keluarlah Dokter dan para perawat disusul oleh Aldo.


"Gimana nak Aldo? Semua baik-baik saja?" tanya Sinta.


"Alhamdulillah baik, Ma. Aku juga sudah mengadzani Aurel" jawab Aldo.


"Aurel? Jadi nama anak kalian Aurel?"


"Iya. Nama Aurel itu atas saran Revan" kata Aldo sambil mengelus kepala Revan.


"Jadi nama panjang adik Aurel siapa, Pa?" tanya Revan, penasaran.


"Namanya Aurelia Arsyila Febrian"


"Wah namanya bagus. Revan suka. Revan bisa liat Aurelnya, nggak?


"Bisa dong. Ayo semuanya. Silahkan masuk" ucap Aldo, mempersilahkan masuk.


Revan yang sedari tadi tidak sabar ingin melihat Aurel, langsung menuju ke arah Kayla yang sedang menggendong adiknya itu.


"Mami, Revan mau liat wajah Aurel"


"Kamu mau liat sayang? Ayo sini naik ke atas"


Kayla menepuk ranjangnya yang masih luas untuk diduduki oleh Revan.


Tidak butuh waktu lama, Revan langsung naik dan duduk di atas ranjang.


"Iya sayang, kan baru lahir. Jadi masih merah wajahnya. Cantik kan? Kakaknya juga ganteng kok, wajar dong adiknya cantik" kata Kayla.


Revan terus memperhatikan adik mungilnya itu dan tersenyum senang.


"Mama sangat senang kamu sudah lahiran nak. Sebentar lagi, Kiara juga udah mau lahiran. Mama senang liat kalian berdua bisa berjuang sampai sejauh ini. Hamil itu tidak mudah, apalagi melahirkan. Semua butuh perjuangan. Mama salut sayang" ucap Sinta, menangis terharu.


"Jangan nangis, Ma. Aku juga senang banget, karena sekarang aku sudah menjadi ibu dengan dua orang anak. Meskipun masih muda, aku tetap merasa bersyukur. Makasih juga Mama sudah banyak bantuin aku selama aku hamil"


"Sama-sama sayang"


Aldo sedang mengobrol dengan Rian, sedangkan Kiara yang tidak punya teman bicara, mulai mendekati Sinta dan Kayla yang sedang mengobrol.


"Selamat ya Kak. Akhirnya Kakak melahirkan dengan selamat. Aurel sangat cantik"


"Makasih Dek. Kamu juga sebentar lagi akan melahirkan kan? Kamu harus semangat ya, jangan gugup atau merasa takut. Yakinlah semua akan berjalan dengan lancar nantinya"


"Iya Kak. Itu pasti" kata Kiara sambil tersenyum.


"Apa aku boleh menggendongnya? Aku ingin mencoba menggendong bayi, biar nanti pas lahiran aku jadi terbiasa" lanjutnya lagi.


"Iya boleh kok. Kemarilah, Kakak akan menunjukkannya"


Kayla mulai mengajari Kiara memegang bayi dengan benar, kemudian Kiara mengikuti semua arahan Kayla dengan baik, dan kini dia tengah menggendong Aurel.

__ADS_1


"Wah, kamu belajar darimana Kay?" tanya Sinta, takjub.


"Mas Aldo yang ajarin. Kan dia udah pernah urus Revan waktu kecil" ujar Kayla.


"Ohh begitu. Mama keluar sebentar ya, mau ke kamar mandi"


"Iya Ma" ucap Kayla dan Kiara berbarengan.


"Mami, apa Revan juga sudah boleh gendong Aurel?"


"Belum boleh sayang. Aurel kan masih bayi. Nanti kalau udah agak gede, baru Revan boleh gendong"


"Yaaah, pasti masih lama ya?" tanyanya dengan wajah cemberut.


"Ngga juga kok. Pokoknya kalau udah agak besar, Mami akan kasih Revan untuk gendong. Oke?"


"Siap Mami. Revan udah nggak sabar deh"


Kayla tersenyum, kemudian beralih menatap ke arah Kiara yang tengah menggendong Aurel. Sekilas terlihat wajah sedih Kiara yang tidak bisa ditutupinya saat ini.


"Kamu kenapa Dek?"


"Hah? Kenapa Kak? Nggak apa-apa kok" ucap Kiara, berusaha untuk tersenyum.


Kayla kembali menoleh ke arah Revan dan meminta anaknya itu untuk main game di sofa. Setelah Revan sudah tidak berada di dekat mereka lagi, Kayla mulai berbicara.


"Kamu pasti lagi mikirin Raffa ya?"


"Nggak kok, Kak"


"Kakak tau kamu masih suka dia, Kiara"


"Nggak Kak. Aku nggak mungkin menyukai orang yang sudah beristri"


"Kalau begitu siapa yang kamu pikirkan? Faris?"


"Nggak juga. Aku nggak peduli dengannya Kak. Dia bukan siapa-siapa"


"Kenapa kamu nggak terima dia? Apa kamu takut akan gagal lagi? Orang tuanya sangat baik loh. Kakak yakin mereka akan menerima kamu apa adanya" ujar Kayla.


"Aku tidak mau berurusan dengan laki-laki lain, Kak. Aku hanya ingin fokus ke anakku saja. Aku tidak peduli dengan mereka semua"


"Tapi kamu.."


"Kak, bisa nggak sih sekarang nggak usah bahas tentang itu? Aku nggak mau ingat mereka lagi" bentak Kiara.


Ia memberikan Aurel kepada Kayla, kemudian mulai berjalan ke luar.


Aldo dan Rian yang melihat hal itu, menjadi bingung.


"Kiara kenapa honey?"


"Nggak tau. Mungkin dia marah ke aku"

__ADS_1


Kayla merasa bersalah telah berkata seperti itu kepada Kiara, padahal sebenarnya niatnya baik. Kayla sudah mengenal sejak lama orang tua Faris. Bahkan saat di awal kehamilan, Faris pernah berniat untuk menikahinya dan sudah disetujui oleh orang tuanya juga. Namun, sepertinya Kiara sama sekali tidak mengerti maksud baik dari Kayla. Emosi yang menguasai Kiara, tidak mampu lagi menahannya untuk mendengar penjelasan Kayla lebih lanjut.


__ADS_2