Menikahi Om Sendiri

Menikahi Om Sendiri
Tidak Luluh


__ADS_3

Aldo dengan berat hati kembali ke rumah sakit untuk menemani Revan. Pikirannya tidak karuan karena memikirkan Kayla yang masih marah kepadanya dan ingin meminta cerai.


"Pa, Mami Kay dan Aurel mana? Kok Revan tunggu dari tadi nggak ada sih? Revan udah tanya ke Om Raffa, tapi Om Raffa nggak mau jawab" sungut Revan.


"Mami Kay lagi urusin Aurel, kan Aurel masih kecil nggak boleh dibawa kemana-mana apalagi rumah sakit" ucap Aldo, berbohong.


"Tapi aku rindu sama mereka, Pa" kata Revan, sambil cemberut.


"Nanti kalau kamu udah keluar dari rumah sakit, kita pergi jemput Mami Kay dan Aurel ya"


"Kalau gitu hari ini aja Revan keluarnya, Revan udah sembuh kok" ucap Revan, sangat bersemangat.


"Belum bisa dong. Kan Dokter belum ijinin. Udah ya, nanti aja kalau kamu udah benar-benar sembuh"


"Oh iya makasih Raffa, sudah menemani Revan" lanjut Aldo.


"Sama-sama Tuan. Maaf Tuan, apakah semuanya berjalan dengan lancar tadi?" tanya Raffa, dengan suara kecil agar Revan tidak bisa mendengarnya.


Aldo menggeleng lemah.


"Semangat Tuan. Usaha terus ya. Saya permisi dulu"


Asem banget. Kirain mau bantuin. Batin Aldo.


Raffa melanjutkan pekerjaannya di kantor. Sampai saat ini ia belum tahu kalau Laura sedang marah kepadanya. Sampai akhirnya disaat ia pulang ke rumah, rumah dalam keadaan kondisi gelap dan terlihat sunyi. Padahal biasanya Laura selalu menyambutnya saat pulang kerja.


"Laura" panggil Raffa.


Tidak ada jawaban.


Raffa memeriksa keseluruh bagian rumah, namun hasilnya nihil. Terakhir, ia memeriksa kamar tidur mereka dan menemukan Laura yang sedang duduk ditepi kasur, menatap kosong ke arah jendela.


"Laura. Kamu kenapa?"


Laura menoleh dan terlihat matanya yang sembab sehabis menangis.


"Kamu ngapain ke rumah Kiara tadi?" tanya Laura, tanpa basa basi.


"Kamu melihatnya? Aku tad disuruh Tuan Aldo untuk menjemput Kayla dan Aurel"


"Tapi kenapa aku melihatmu saling menatap dengan Kiara, Mas?"


Raffa terdiam. Ia tidak tahu mau menjawab apa.


"Kamu nggak bisa jawab? Apa kamu masih menyukainya? Aku mohon kamu jujur padaku, Mas"


Laura lagi-lagi kembali berlinang air mata.

__ADS_1


"Maafkan aku Laura. Aku tidak tahu hatiku seperti apa saat ini. Aku sudah berusaha melupakan dia, tetapi selalu saja ada sesuatu yang membuatku dipertemukan lagi dengannya. Entah seberapa kuat aku melupakannya, tapi saat bertemu, semuanya sia-sia" ucap Raffa, tertunduk lesuh.


"Kita cerai saja, Mas. Untuk apa mempertahankan hubungan tanpa didasari cinta? Meskipun aku sudah menyukaimu tapi kalau kamu belum, semuanya terasa sia-sia"


"Tapi bagaimana dengan respon orang tua kamu dan orang tuaku kalau mengetahui hal ini Laura? Mereka pasti akan sangat kecewa"


"Akan lebih mengecewakan lagi kalau mereka tau kita belum mempunyai anak karena kamu belum mencintaiku, Mas. Sudah lah, mungkin ini sudah jalan kita berdua. Mari kita cerai dan kejarlah orang yang kamu cintai itu"


"Baiklah. Tapi aku mohon, tolong izinkan aku untuk bicara baik-baik dengan kedua orang tuamu lebih dulu. Mungkin kita memang menikah karena dijodohkan, tapi kita menikah secara baik-baik dan atas persetujuan satu sama lain. Jadi biarkan aku memulangkan kamu dengan cara yang baik-baik juga" ujar Raffa.


"Iya Mas"


Laura tidak bisa menahan air matanya yang sedari tadi terus mengalir. Ada rasa sedikit tidak rela untuk berpisah, namun di satu sisi ada rasa lega yang dirasakannya karena hubungan mereka semakin jelas kenyataannya.


Memang, segala sesuatu yang dipaksakan, itu tidak akan pernah bisa berjalan dengan baik.


.


.


.


Keesokan harinya, Kiara sudah dibawa ke rumah sakit untuk melahirkan. Di dalam ruang bersalin, ia hanya ditemani oleh Ibunya yang menemaninya untuk menguatkan dirinya saat melahirkan.


Setelah perjuangannya yang cukup panjang, dikarenakan usianya yang masih sangat belia yaitu berumur 17 tahun, akhirnya Kiara melahirkan putra kecilnya yang diberi nama Kenzo Mahendra. Mahendra sendiri diambil dari marga Ayah Kiara.


"Iya dong seru banget. Apalagi nanti kan kita mau tinggal ke kota lain" kata Kiara.


Mendengar hal itu, Sinta dan juga Rian menjadi sedih, karena kedua anaknya akan meninggalkan mereka.


"Mama jangan sedih dong. Kan nanti Mama dan Papa bisa datang ke tempat kami"


"Tapi kalian mau kerja apa disana nak? Kalian kan punya anak yang masih kecil dua-duanya. Terus tempat tinggal kalian disana gimana?" tanya Sinta, mengkhawatirkan kedua putrinya itu.


"Kebetulan orang tua angkatku pernah memberikan aku rumah disana. Rencananya kami berdua akan membuka toko roti disamping rumah. Aku sudah membicarakan ini sebelumnya dengan Kiara dan dia setuju" ujar Kayla.


"Iya aku setuju. Mama dan Papa tenang aja ya" sambung Kiara.


"Baiklah kalau begitu. Jadi kapan kalian pergi?"


"3 hari lagi mungkin" kata Kiara.


"Apa? Kenapa cepat banget?" kaget Rian dan juga Sinta.


"Kan kotanya nggak terlalu jauh. Kita cuma pakai kereta doang kesananya jadi nggak masalah"


"Kamu yakin Dek? Kamu baru lahiran loh" ucap Kayla.

__ADS_1


"Yakin Kak. Tenang aja. Aku benar-benar mau memulai kehidupan aku yang sebenarnya disana"


Sinta dan Rian hanya bisa menyemangati mereka dan berdoa agar semuanya bisa berjalan dengan lancar.


Saat ini Kiara sedang menyusui Kenzo dan tampak asyik bercerita dengan Kayla yang baru saja menidurkan Aurel.


"Jadi gimana kamu sama Faris? Dia tau nggak kalai kamu mau lahiran hari ini?" tanya Kayla.


"Nggak. Aku lebih suka kayak sekarang, ngurusin anak aku sendiri tanpa memikirkan pasangan" jawab Kiara.


"Iya sih. Aku juga kayak gitu kok. Daripada mikirin Mas Aldo yang nggak jelas, mending aku urusin Aurel aja. Aku pengen sih jenguk Revan, tapi melihat sikap Mas Aldo, aku jadi malas pergi kalau ada dia"


"Hahaha Kak Aldo memang keterlaluan sih. Umurnya aja yang tua, tapi sifatnya kayak anak muda labil banget"


"Iya ngalahin aku labilnya" ucap Kayla.


Kiara tertawa mendengar ucapan Kakaknya yang terdengar sangat kesal.


Tidak terasa, hari sudah malam. Sinta dan Rian memutuskan untuk menemani Kiara di rumah sakit, sedangkan Kayla dan Aurel pulang ke rumah.


Kayla memilih pulang untuk naik taksi agar tidak merepotkan Ayah tirinya untuk mengantarkannya pulang. Sesampainya di rumah, Kayla kaget melihat ada rangkaian bunga yang sangat besar berada di depan pintu rumah.


Ia mencari-cari kalau saja ada kartu yang terselip dibalik bunga itu. Benar saja, ada satu buah kartu disana.


Lantas Kayla langsung membuka dan mulai membacanya.


Dear, Istriku Kayla dan Putriku Aurel


Maafkan aku sudah menjadi suami dan ayah yang buruk bagi kalian. Tolong maafkan aku dan jangan sampai kita bercerai honey. Aku tidak bisa hidup tanpa kamu, aku mohon maafkan aku.


Kayla sempat tersentuh membaca surat itu. Namun, dengan cepat Kayla menyadarkan dirinya.


"Aku nggak boleh cepat tersentuh. Ini pasti cuma gombalan Mas Aldo aja, biar aku cepat luluh. Aku nggak akan maafin dia. Aku harus benar-benar membuat dia sadar lebih dulu. Maaf Mas, tapi kamu yang lebih dulu memulai semua pertengkaran ini"


Kayla mengambil bunga itu dan langsung membuangnya ke tempat sampah yang berada di depan rumah.


Mata-mata Aldo yang sudah mengintai dari kejauhan langsung melaporkan apa yang dilihatnya kepada Aldo.


Malam Tuan. Nyonya Kayla membuang bunga yang Tuan berikan.


Apa? Kamu yakin dia sudah membaca kartunya?


Iya Tuan. Tapi sepertinya Nyonya Kayla tidak tersentuh sama sekali.


Baiklah. Kamu boleh pergi dari tempat itu.


Aldo mematikan sambungan teleponnya dan melemparkan hp nya lagi. Beruntung, kali ini hp nya terlempar di atas sofa sehingga tidak rusak untuk kesekian kalinya.

__ADS_1


__ADS_2