Menikahi Om Sendiri

Menikahi Om Sendiri
Tentang Laura


__ADS_3

Ini dia cerita Laura, yang kalian tunggu-tunggu 😂


Selamat membaca ❤


Jangan lupa like, vote, rate5 untuk mendukung karya author ya, terima kasih.


...****************...


POV Laura


Sakit hati? Tentu saja iya. Aku harus menjadi seorang janda di usiaku yang masih sangat muda. Tetapi aku beruntung, setidaknya harta yang paling berharga didiriku belum direnggut oleh mantan suamiku dulu.


Ah, mantan suami. Memikirkannya saja seakan aku tidak mau lagi.


Aku merasa seperti tidak pernah menikah sebelumnya. Seakan-akan aku hanya putus dar seorang pria setelah berpacaran selama 4 bulan.


Jika ditanya keadaan keluargaku bagaimana, tentu saja mereka merasa sangat kecewa. Terlebih lagi Ayahku yang sudah sakit-sakitan yang sangat mengharapkan seorang cucu. Sayangnya, takdir harus berkata lain.


Aku mungkin tidak ditakdirkan bersama Raffa, pria yang sudah mulai aku cintai. Tetapi aku yakin, suatu saat nanti aku akan mendapat suami yang tepat.


.


.


.


Hari dimana hatiku masih merasakan sakit karena kegagalan rumah tangga yang aku alami, hujan pun ikut turun di hari itu seakan-akan ikut merasakan sakit yang aku alami saat ini.


Aku tersenyum samar, memikirkan apakah aku harus bersyukur dengan keadaan ini atau tidak. Aku duduk di halte bis, bukan untuk menunggu bis lewat. Melainkan hanya ingin duduk, menatap ke arah butiran hujan yang terus turun membasahi jalanan.


Setelah cukup lama termenung, aku merasakan ada seseorang yang duduk di sebelahku. Aku pun menoleh dan terkejut melihat Faris, teman SMA ku dan juga orang yang pernah aku sukai kurang lebih 5 tahun lamanya.


"Ngapain kamu di sini?" tanyaku, saat melihatnya.


"Lagi mandangin hujan kayak kamu" jawabnya.


"Aneh banget. Kamu nggak bawa kendaraan? Ngapain mandangin hujan di sini? Nggak ada kerjaan ya?" aku bertanya bertubi-tubi.


Jantungku terasa berdetak sangat cepat saat melihatnya dengan jarak dekat. Aneh, padahal aku sangat yakin sudah melupakan dia selama ini.


"Kamu kok cerewet banget ya dari dulu? Aku cuma pengen duduk, nggak boleh? Ya udah aku pergi"


"Tunggu. Duduk lagi. Maaf aku terlalu banyak tanya" kataku, menahannya untuk kembali duduk.


"Kamu sendiri kenapa kelihatan sedih di sini? Suami kamu mana? Lagi berantem?"

__ADS_1


"Aku sudah cerai kok dari seminggu yang lalu. Dia belum bisa mencintaiku selama 4 bulan pernikahan kami. Dia masih mencintai mantannya"


"Memangnya sehebat apa sih mantannya? Lebih kerenan kamu Laura. Suami kamu aja yang nggak tau milih"


"Mantannya Kiara, adiknya Kayla"


"Apa? Serius kamu? Pantesan aja" ucapnya, mulai cemberut.


Aku tahu, dia pasti masih menyukai Kiara.


"Kamu masih menyukai Kiara ya? Gimana hubungan kamu dengan dia? Aku kira kalian lagi dekat"


"Sudah nggak lagi. Dia sudah mengabaikan semua pesan dan telfon aku. Sepertinya mereka memang masih saling menyukai. Kenapa ya, laki-laki itu harus suka lebih dulu, sedangkan perempuannya sangat susah ditaklukan"


"Nggak kebalik tuh? Laki-laki yang susah ditaklukan. Buktinya aku sudah 2x menyukai seseorang tapi tidak pernah terbalaskan"


"Siapa yang satu lagi?"


"Kamu"


Aku terkejut dengan ucapanku sendiri. Mulut ini serasa ingin dijahit agar tidak berkata secara spontan seperti itu lagi.


"Selama ini kamu menyukaiku?"


"Berhenti lah membahasnya. Itu sudah lama terjadi"


Benar-benar sudah gila, pikirku. Bisa-bisanya selama ini dia mengira itu hanya gosip.


"Terserah lah. Mungkin cuma kamu saja yang berpikir seperti itu"


"Jangan marah-marah dong, nanti kita jodoh"


Deg!


Perkataan Faris benar-benar berhasil membuat wajahku bersemu merah.


"Wajah kamu kenapa jadi merah gitu? Hahaha kayak tomat"


Dia menertawai wajahku. Benar-benar membuatku sangat malu.


"Eh nggak terasa hujan sudah berhenti ternyata. Aku pergi dulu ya"


"Kamu pulang naik apa?"


"Naik mobil. Aku parkir di ujung sana mobil aku. Mobil kamu juga ada di sana kan?"

__ADS_1


Aku terkejut. Bagaimana dia bisa tahu tentang mobilku. Padahal aku tidak pernah membahasnya sejak tadi. Jangan-jangan dia bisa berada di sini karena telah mengikutiku sejak tadi.


"Nggak mau balik bareng? Jangan menghayal sendirian dong, nanti kesurupan loh" ucapnya, sambil tersenyum.


Aku pun ikut tersenyum karena ucapannya. Apakah hatiku benar-benar sudah bisa melupakan Raffa dan kembali ke Faris? Entahlah, aku bahkan belum memahami perasaanku sendiri.


"Iya aku ikut"


Aku mengikutinya dari belakang. Entah mengapa aku senang melihat punggungnya saat berjalan.


Aku memandangi pelangi yang muncul sehabis hujan. Apakah itu artinya aku akan bahagia setelah mengalami kesedihan atas kegagalan rumah tanggaku sebelumnya? Entahlah. Tapi aku berharap itu akan terjadi nantinya.


Sesampainya di parkiran, aku melihat Faris belum masuk ke dalam mobilnya dan seperti terlihat sedang berpikir. Jadi, karena merasa penasaran aku pun bertanya padanya.


"Kamu kenapa, Ris? Kok nggak masuk?"


"Hmmmm...Kamu mau nggak kapan-kapan kita makan bareng? Jarang-jarang kan kita ngobrol kayak gini lagi"


"Boleh juga ide kamu. Aku setuju. Nanti kamu hubungi aku aja. Masih punya nomorku kan?"


"Masih dong. Makasih ya. Aku pergi dulu"


Aku mengangguk dan menatap kepergiannya dengan senyum yang terukir di bibirku.


Selanjutnya, aku memutuskan untuk pulang ke rumah. Kesenanganku ternyata hanya sesaat saja, sesampainya di rumah aku melihat Ibuku yang terus-terusan marah tidak jelas. Setiap hari dia selalu seperti ini, setelah aku bercerai dengan Raffa.


"Baru pulang kamu? Darimana saja? Nanti kamu dikatain orang-orang karena keseringan keluar. Ingat, kamu itu statusnya sudah janda Laura. Dekat orang lain sedikit, langsung jadi bahan gosip"


Aku hanya bisa mendengus kesal. Merespon perkataan Ibuku hanya akan membuat masalah semakin panjang dan Ayahku akan semakin sakit lagi. Jadi, aku memilih untuk diam dan mendengar keluhannya setiap harinya.


"Kamu itu kalau diajak ngobrol respon dong. Jangan diam doang. Kamu pikir Mama patung?"


"Iya, Ma. Maaf. Tadi aku cuma keluar sebentar, terus hujan deh. Jadi aku tunggu sampai hujannya reda"


"Kan kamu naik mobil"


"Iya tapi aku..."


"Masuk saja ke kamar kamu Laura. Jangan berdebat lagi dengan Mama kamu dan sebaiknya kamu diam, Tyas"


Aku langsung menuruti perkataan Ayahku dan langsung masuk ke dalam kamar. Miris memang, dimata Ibuku, seorang janda hanya akan menjadi bahan gosip jika dekat dengan pria manapun.


Jujur saja itu menyakiti perasaanku. Tapi aku harus bagaimana lagi, membantah perkataannya tidak akan menyelesaikan masalah.


Di dalam kamar, aku mengambil foto pernikahanku bersama Raffa dan juga foto kelulusanku saat bersama Kayla dan juga Faris.

__ADS_1


Aku menatap kedua foto itu secara bergantian. Aku ingin mencari tahu, sebenarnya hatiku merasa lebih berdebar-debar pada foto yang mana. Anehnya, aku merasa getaran yang berbeda pada kedua foto yang sedang aku pegang itu.


Sama-sama terasa sakit, begitu lah rasanya.


__ADS_2